
Riana dan Seno sudah tiba di Bandung. Mereka menyewa hotel berbeda kamar.
Sesudah beristirahat sebentar mereka langsung berjalan bersama menuju ke beberapa tempat wisata daerah Bandung.
Seno bahagia sekali. Ini baru pertama kali dirinya pergi berdua bersama Riana.
Biasanya mereka kadang bersama Nadia atau teman-teman kampus.
Seno berjalan di samping Riana, "Riana, aku senang sekali bisa mempunyai waktu berdua dengan kamu tanpa ada gangguan."
Riana tersenyum kecil lalu berkata, "Aku hanya ingin membalas semua hal yang telah kamu lakukan kepada aku selama ini. Anggap saja ini adalah hadiah kecil untuk kamu, Seno Aji."
Seno Aji melihat Riana tersenyum, "Senyum kamu manis sekali. Aku ingin sekali melihat senyuman kamu itu setiap hari."
Riana menghela nafas, "Susah sekali bila ini keinginan kamu. Sebentar lagi hanya akan ada senyuman Lala yang kamu lihat."
Setelah hari beranjak sore sebenarnya Riana sangat lelah namun Seno tampaknya tidak ingin mengakhiri kebersamaan mereka dengan cepat.
Seno bertanya kepada Riana yang sedang membetulkan tali sepatunya, "Kamu suka matahari terbenam, bukan ?"
Riana mengangguk, "Suka."
"Kita lihat ya ke pantai."
Walaupun lelah Riana mengiyakan ajakan Seno.
Seno mengambil kunci motor yang tergeletak di meja restoran tempat mereka makan.
"Ayo Riana, kita segera berangkat!"
Riana tetap tersenyum walau letih, "Semangat sekali kamu."
Seno menarik tangan Riana agar segera berjalan.
Merekapun berboncengan menuju pantai.
"Bagaimana, Riana?" Seno bertanya setelah mereka tiba di tempat yang di inginkan.
"Indah." Riana menjawab singkat sambil tersenyum ketika melihat matahari sedang menuju peraduannya.
"Kita buat foto bersama ya."
Tak lama Seno pun meminta tolong kepada wisatawan lain untuk memotret mereka.
Seno dan Riana bermain pasir dan ombak seperti anak kecil. Mereka tertawa dan berlari saling berkejaran.
Seno berhasil menangkap Riana dan memeluknya, "Riana, maukah kamu menjadi milikku? Aku sangat mencintai kamu. Dari dulu hanya kamu yang aku cintai."
Riana yang tadinya berontak seketika langsung terdiam, "Seno, kamu tahu itu tidak mungkin. Kamu selalu aku anggap kakakku yang selalu melindungi diri ini. Rasanya sulit sekali mengubah perasaan ini menjadi cinta kepada seorang kekasih. Apalagi sebentar lagi kamu akan menikah dengan Lala, tolong lupakanlah aku yang tak pantas menerima cinta kamu yang luar biasa ini."
Seno mengusap pipi Riana yang basah terkena air, "Aku sangat menginginkan kamu, Riana."
Tak tahu mengapa sulit sekali rasanya menerima perlakuan Seno yang mencintainya.
"Kita kembali ke hotel ya, beristirahat." Pinta Riana.
Seno merasa tak senang.
"Seno..." Riana menyadarkan Seno yang sedang melamun.
__ADS_1
"Iya." Seno hanya menjawab secara singkat.
Riana dan Seno segera pergi menuju parkiran.
"Riana, kita mampir dulu di toko pakaian, baju kita basah."
Riana mengangguk.
Seno melihat ke arah tubuh Riana yang basah, "Kenapa akhir-akhir ini kamu selalu memakai pakaian yang terlalu besar untuk diri kamu, Riana? Bahkan aku lihat kemeja yang kamu kenakan seperti pakaian pria. Apa kamu sengaja membeli yang seperti itu?"
Riana bingung untuk menjawabnya, "Cepatlah Seno! Aku sudah kedinginan."
Riana mencoba mengalihkan agar tidak menjawab pertanyaan yang di ajukan oleh Seno.
"Ya sudah, kita harus segera membeli pakaian."
Seno mengajak Riana ke sebuah butik yang ada di dekat tempat wisata itu.
Seno memilihkan beberapa pakaian untuk Riana.
"Satu saja Seno, untuk apa sebanyak itu ? Kita tidak mungkin lama berada disini karena harus kuliah."
Seno menatap Riana, "Aku akan membawa kamu pergi sejauh-jauhnya untuk aku jadikan milikku, Riana." Seno berkata dalam hati.
"Seno!" Riana menyadarkannya.
Seno menggeleng, "Kali ini aku sedang tidak mau menerima penolakan dari kamu."
Riana bisa apa, "Tampaknya Seno berubah seperti pria galak itu yang selalu memaksakan kehendaknya, eh..mengapa aku malah memikirkan pria galak tak tahu malu itu. Rasanya otak ini sudah terkontaminasi oleh racun sambel ayam geprek."
"Riana, mengapa kamu melamun ?" Seno menarik tangan Riana yang sedang melamun.
"Oh, ayo kita balik ke hotel."
Sampai juga mereka di lobi hotel.
Seno memeluk Riana yang sedang berjalan, Riana terkejut dengan perilaku Seno yang tidak seperti biasanya, "Seno, jangan seperti ini !"
Namun Seno tidak melepasnya malah semakin mempererat dan mendekatkan tubuh mereka berdua. Mereka seperti sepasang kekasih sekarang.
Tiba di lift yang sepi, Seno juga memegang erat tangan Riana.
Tak ingin melepasnya sedikitpun. Seno mengusap pipi Riana. Riana mulai merasa risih. Ini bukan Seno seperti yang Riana kenal.
Untung saja tidak lama mereka berada di dalam lift.
Riana langsung menuju ke kamarnya, Seno agak sedikit tertinggal, "Riana, ini baju kamu."
Seno menyerahkan tas belanja yang dia bawa.
"Terima kasih, Seno. Aku masuk dulu." Ujar Riana.
"Ya." Jawab Seno singkat.
Riana hendak menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang kotor setelah seharian bepergian.
Dia ingin merendam dirinya di bathtub yang ada. Rasanya Riana perlu berlama-lama berendam.
Baru saja Riana menaruh tas dan menyiapkan handuk tiba-tiba Seno membuka pintu kamar hotel.
Riana terkejut, "Seno!" Riana marah Seno seperti itu.
__ADS_1
Seno mendorong Riana hingga ke pojok tembok, "Riana, aku bilang tadi sangat menginginkan kamu, hari ini jadilah milikku seutuhnya."
"Apa maksud kamu? Seno sadarlah, kita hanya seorang sahabat!"
Seno tak mendengarkan Riana lagi, "Hanya dengan cara seperti ini aku bisa memiliki kamu, dan membuat aku bertanggung jawab menikahi kamu."
Riana berontak keras karena di peluk Seno dalam keadaan seperti itu, "Kamu harus menikahi Lala untuk menolong keluarga kamu, ingat itu Seno!"
Riana mulai berteriak.
Suara pintu di dobrak keras sekali.
Ternyata Lala beserta beberapa bodyguardnya yang mendobrak pintu kamar hotel.
Mereka mendengar teriakan Riana.
"Seno!"
Seno menoleh karena kegiatannya terganggu oleh Lala.
Lala memerintahkan bodyguardnya untuk menarik Seno yang sedang memeluk Riana.
Seno memberontak.
Lala menyuruh tiga bodyguard untuk menjaga Seno.
Lala melihat Riana yang masih memakai kemeja basah langsung tersenyum jahat.
"Kamu tahu Seno, sewaktu aku menyeret dan membawa perempuan murah ini pergi dari kampus apa yang aku lakukan?"
Lala tertawa jahat, "Aku menyuruh para bodyguard untuk menikmati tubuhnya."
Seno berteriak, "Kurang ajar kamu! Perempuan jahat! Tidak akan aku maafkan kamu!"
Lala tertawa makin keras, "Bukankah kamu juga tadi ingin berbuat kurang ajar seperti itu kepada perempuan ini?"
Lala mendekati Seno, "Kamu itu milikku, hanya milikku. Ingat sayang, kamu hanya milikku!"
"Dan kamu lihat, agar kamu bisa mencintai aku, tampaknya aku harus menyingkirkan benalu yang ada di hati kamu, yaitu perempuan itu!" Lala menunjuk ke arah Riana yang sedang menangis.
Lala melanjutkan tertawanya, "Dan kamu! Seno Aji kesayangan aku. Kamu harus lihat bagaimana para bodyguard yang nakal itu menghancurkan masa depan wanita kesayangan kamu itu!"
Lala tertawa keras.
"Apakah kalian mau?" Tanya Lala sambil terus tertawa kepada bodyguardnya.
Mereka mengangguk bersama.
"Kurang ajar kamu, Lala!" Seno merasa bersalah kepada Riana.
Lala mendekati Seno, "Kita lihat saja, sayang.."
Dua bodyguard yang bertubuh besar mulai mendekati Riana.
Suara salah satu bodyguard Lala yang sedang berjaga di pintu masuk karena terkena sambutan dari para bodyguard Ranto.
Seketika Lala dan Seno menoleh.
Angga langsung memerintah para bodyguard untuk menangkap mereka semua. Termasuk Lala.
"Amankan Riana!" Perintah Ranto kepada bodyguardnya untuk menangkap bodyguard Lala.
__ADS_1
😎Follow dee.reeana.24 ✍️