Cinta Itu Berat

Cinta Itu Berat
Chapter 32 ( Terimakasih Cinta )


__ADS_3


Beberapa hari ini Ranto selalu menyuruh Angga untuk menyelesaikan pekerjaan di kantor. Ranto mengerjakan bagian tugas pentingnya lewat gadget.


Ranto mengatakan kepada Angga akan mengikuti jadwal perkuliahan Pascasarjana yang tinggal sedikit lagi selesai, padahal yang sebenarnya kegiatan Ranto lebih banyak mengikuti Riana.


Angga sebenarnya mengetahui hal itu, namun dia membiarkan saja sahabatnya itu menikmati masa-masa indah bersama kekasihnya.


Bila dahulu di kampus ada Riana pasti ada Seno namun sekarang berbeda, di mana ada Riana berarti di situ ada Ranto.


Sedangkan Seno di larang ke kampus oleh keluarganya. Seno di kurung di rumahnya tanpa adanya akses untuk keluar rumah sampai hari pernikahan dengan Lala yang sedang dipersiapkan.


Ranto mengikuti Riana bahkan sampai ke dalam ruangan. Untung saja dosen di kampus sana sudah mengenal Ranto sebagai asisten beberapa dosen karena kecerdasan otaknya yang di atas rata-rata dalam pelajaran.


Ranto terkadang meminta izin kepada dosen yang sudah dia kenal agar diperbolehkan masuk ruangan menemani Riana.


Sebagai gantinya dia akan sukarela membantu dosen itu dalam menyelesaikan tugas mengajar mereka dan menambah kuota penerimaan karyawan di perusahaan yang di pimpin olehnya khusus untuk mahasiswa dan mahasiswi alumni kampus mereka.


Apalagi Ranto sekarang sedang membuka perusahaan baru sebagai modal yang disiapkan untuk pernikahannya dengan Riana.


Riana sedang duduk ditemani Ranto di sebelahnya, dosen yang di tunggu belum juga datang.


Ranto menggenggam tangan Riana dan menciumnya lembut , "Riana sayang, nanti sesudah mata kuliah ini kita langsung ke kantor. Aku ada rapat hari ini dengan beberapa CEO perusahaan rekanan. Lalu sore hari kita akan menghadiri seminar karena aku diundang menjadi pembicara di sana hari ini."


Riana tersenyum, "Baiklah, tapi nanti kamu harus membantu aku mengerjakan tugas dari dosen."


Ranto menarik Riana ke dalam dekapannya, "Bayarannya mahal, Riana."


Riana mengusap lengan Ranto yang cukup berotot, "Kamu bermaksud hitungan dengan aku ?"


Ranto tertawa kecil, "Sudah pasti, sayang ! Aku ini pengusaha. Apapun pasti akan aku perhitungkan."


Riana mendorong Ranto pelan ingin keluar dari dekapannya, "Ya sudah ! Jika memang seperti itu berarti aku tidak bisa ikut dengan kamu ke kantor. Aku harus mengerjakan tugas tersebut di perpustakaan kampus."


Ranto menggeleng, "Tidak boleh ! Kamu harus selalu bersama aku !"


Riana cemberut manja, "Bagaimana aku bisa membayar kamu untuk membantu mengerjakan tugas dari dosen bila bayarannya mahal ?"


Ranto tersenyum lalu mengusap bibir Riana dengan tangannya, "Bayar aku dengan ini !"


Riana mencubit pinggang Ranto, "Rasakan itu!"


Ranto tertawa kecil sambil mengusap pinggangnya yang terkena cubitan Riana, "Kamu itu kelinci manis rasa macan."


Teman-teman Riana yang melihatnya hanya bisa teriak histeris dengan kemesraan mereka.


Para mahasiswi yang suka dengan Ranto juga banyak namun tidak berani mendekat karena Ranto terlalu dingin bila didekati. Beberapa di antara mereka sekarang ada memasang wajah masam karena iri dengan Riana.


Eko yang menyukai Riana ketika melihat kemesraan mereka berdua langsung spontan bernyanyi, "Harusnya aku yang di sana.


Harusnya aku yang kau cinta dan bukan dia.."


Nyanyian itu langsung di sambung oleh Yuli dan Desi yang mengagumi ketampanan Ranto, mereka kompak bernyanyi dari kursinya, "Jadikan aku yang kedua.


Buatlah diriku bahagia."


Salma, Titi dan Elma yang sama-sama menyukai Ranto juga tidak mau kalah, mereka ikut menyumbangkan nyanyian untuk mengungkapkan isi hati seperti soundtrack film di sebuah stasiun televisi kenamaan itu, "Ku menangis.


Membayangkan.


Betapa kejamnya dirimu pada diriku."


Tidak lama Pak Ibnu, dosen yang akan mengajar datang ke ruangan itu dan menghentikan segala keributan yang awalnya disebabkan oleh Riana dan Ranto.


Pak Ibnu melihat Ranto yang duduk di sebelah Riana, "Ranto !"


Ranto yang di panggil oleh Pak Ibnu langsung menjawab, "Hadir, Pak."


Pak Ibnu membuka kacamatanya, "Masih kurang puas kamu kuliah program S-1 di kampus ini ?"


Ranto tersenyum kecil mengerti maksud sindiran dari Pak Ibnu, "Sudah puas, Pak."

__ADS_1


"Lalu kenapa kamu masih saja di kelas ini dan mengikuti salah satu mahasiswi bapak yang cantik itu ?" Pak Ibnu mengarahkan matanya kepada Riana yang sedang menyiapkan buku.


Ranto yang ditanya segera menjawab, "Iya, Pak Ibnu. Saya ini sedang bertugas menjaga calon ibu dari anak-anak saya, Pak !"


Perkataan Ranto kembali mengundang keriuhan di ruangan itu.


Pak Ibnu menaruh telunjuk di mulut sebagai tanda agar mereka tidak ribut sendiri, "Sampai kapan kamu kurang kerjaan seperti itu ? Bukannya kamu harus mengurus perusahaan yang kamu miliki untuk masa depan ?"


Ranto tersenyum kecil kepada Pak Ibnu, "Ini bukan kurang kerjaan, Pak. Ini adalah prioritas utama saya untuk masa depan selain perusahaan." Ujarnya sambil menyentuh tangan Riana dengan lembut dan menatapnya penuh cinta.


Pak Ibnu lalu mengeluarkan materi perkuliahan, "Kalau begitu kamu jangan terlalu dekat posisi duduknya dengan Riana !"


Ranto berhenti tersenyum tidak mengerti dengan Pak Ibnu, mantan dosennya itu saat mengambil program studi S-1, "Kenapa tidak boleh, Pak ?"


Pak Ibnu meletakkan materi perkuliahan yang sudah dibuatnya di atas proyektor, "Karena Riana adalah mahasiswa kesayangan saya !"


Seketika isi ruangan menjadi riuh oleh gelak tawa karena perkataan dosen mereka itu.


Setidaknya itu mengurangi ketegangan mereka karena akan menghadapi mata kuliah yang Pak Ibnu ajarkan.


Ranto tersenyum kecil menanggapi Pak Ibnu, mantan dosennya yang humoris namun rajin memberi tugas, "Masa saya harus bersaing dengan senior seperti bapak ?"


Pak Ibnu mulai menyalakan monitor, "Saya siap bersaing dengan kamu. Walaupun kalah dari segi materi, namun bila soal ketampanan, saya dan kamu perbandingannya sebelas dua belas."


Gelak tawa kembali memenuhi ruangan itu, mendengar percakapan antara Pak Ibnu dengan Ranto.


Amir yang menyukai Riana dan merasa kalah dari Ranto segera memberi komando kepada rekan-rekannya sesama mahasiswa untuk meneriakkan yel-yel semangat kepada dosennya, "Go.. Pak Ibnu.. Go..!


Seisi ruangan kompak mengikuti.


Andri juga tidak mau kalah, "Ibnu-Riana Go..!"


Mahasiswa dan mahasiswi yang kurang hiburan itu mengikutinya dengan kompak.


Riana hanya tersenyum kecil menghadapi kejadian itu. Riana tidak tahu harus berkata apa, karena Ranto memang tidak memberinya kesempatan untuk melakukan kegiatan sendiri. Harus selalu bersama.


Setelah mengikuti perkuliahan kini mereka berdua di antar supir menuju ke arah perusahaan yang berada tepat di tengah kota diikuti beberapa bodyguard tepat di belakang mereka.


Riana menjawab, "Aku mau minum, tapi susah karena tangan kita seperti ini."


Ranto tersenyum lalu mengambil botol minum untuk Riana, "Ini, aku yang membukanya saja. Kamu hanya cukup memberi perintah."


Riana tersenyum sedikit, "Aku bisa sendiri, sayang !"


Ranto tertawa namun langsung berhenti, "Sayang ? Coba katakan lagi, tampaknya terdengar bagus bila kamu yang mengatakannya. Aku merasa dunia ini berhenti sebentar ketika sedang mendengarnya."


Riana malah terdiam, dia merasa mulutnya selalu tidak memiliki sinkronisasi dengan otak namun malah selalu sinkron dengan isi hatinya yang penuh dengan nama Ranto. Itu membuat malu Riana.


Ranto memegang wajah Riana dengan lembut, "Kamu tidak mau mengatakannya lagi ?"


Riana yang masih diam lalu menggeleng lemah sambil mengatakan, "Tidak mau."


Ranto membantu Riana merapihkan rambutnya yang sedikit berantakan.


Mereka sudah tiba di depan kantor Ranto yang lokasinya berada di tengah kota.


Ranto menggenggam tangan Riana ketika sudah berada di luar mobil, "Bagaimana Riana ? Apa kamu masih tidak mau mengatakan apa yang aku perintahkan tadi ?"


Riana memajukan bibirnya sedikit tanda protes, "Bila aku bilang tidak mau saat ini apakah kamu akan melakukan hukuman kamu yang sesuka hati itu di sini dan saat ini juga saat kita berada di depan kantor kamu yang penuh dengan karyawan ?"


Ranto mencium tangan Riana yang berada dalam genggamannya, "Kamu pikir aku tidak berani melakukannya, Riana ?"


Riana tertawa kecil, "Tentu saja kamu tidak akan berani. Memangnya mau ditaruh di mana muka kamu bila seperti itu ?"


Ranto mendekati tubuhnya dengan tubuh Riana, beberapa karyawan yang tengah berada di lobi gedung tersebut memperhatikan Bos mereka yang tengah bersama seorang wanita itu.


Ranto menaruh rambut yang jatuh di wajah Riana ke samping telinga Riana, "Jadi..?"


Riana menatap Ranto yang menggantungkan kalimatnya, "Jadi apa ?"


Ranto perlahan mendekati wajah Riana, "Jadi, kamu masih tidak mau mengulang kata-kata kamu yang tadi aku perintahkan ?"

__ADS_1


Riana yang sekarang merasakan hembusan nafas Ranto di wajahnya menjadi panik, dia takut Ranto berani melakukan hukuman kepada dirinya yang membantah perintah pria galak yang berada di hadapannya sekarang, "Baiklah. Sayang."


Ranto tersenyum kecil melihat kelinci kecilnya ketakutan seperti itu, "Coba ulangi lagi, aku tidak mendengarnya ?"


Riana mengulang kembali perkataannya, "Sayang."


Ranto tersenyum, "Terdengar indah bila kamu yang mengatakannya, Riana."


Angga yang baru turun dari lantai atas melihat kerumunan beberapa orang karyawan di lobi, "Ada apa ini, mengapa kalian tidak bekerja malah berkerumun seperti ini ?"


Mereka langsung menoleh dan menundukkan kepala begitu mendengar suara Angga.


Angga melihat ke arah pandangan para karyawan yang sedang berada di lobi, dan seketika mulutnya bergumam, "Bos, kamu memang selalu merepotkan aku !"


Angga dan para bodyguard langsung mengadakan razia gadget, dia tidak mau ada rekaman Ranto dan Riana yang sedang di mabuk asmara itu.


Beberapa orang karyawan yang melihat itu dikumpulkan oleh Angga saat itu juga sebelum mulut mereka berbicara, "Bila kalian masih ingin mempunyai masa depan cerah maka sebaiknya kalian tutup rapat mulut kalian ! Tidak boleh menceritakan apa yang kalian lihat siang hari ini kepada siapapun juga ! Termasuk kepada sesama karyawan dan keluarga kalian. Bila aku mendengar di lain hari ada berita yang tidak menyenangkan di telinga maka masa depan kalian dan keluarga kalian akan berakhir cukup sampai di sini. Kalian mengerti !"


Mereka kompak menjawab, "Mengerti, Bos."


Angga yang baik hati itu menghela nafas, "Anggap saja siang hari ini kalian sedang beruntung bisa menonton drama Korea secara Live."


Mereka langsung mengangkat kepala mereka yang menunduk dari tadi begitu mendengar perkataan Angga. Ada senyum kecil menghiasi bibir mereka.


Angga tersenyum sedikit, "Lupakan drama Korea siang hari ini. Cukup tadi kalian menontonnya tanpa harus kalian share, mengerti !"


"Siap, Bos !" Mereka lalu membubarkan diri untuk melanjutkan kembali pekerjaan mereka. Tanpa ada yang membicarakan drama Korea yang baru saja mereka lihat.


Angga menghampiri Ranto yang masih saja merasa dunia miliknya dan Riana, semua orang hanya penyewa bulanan, "Masih lama, Bos ?"


Ranto mencium kening Riana, "Kamu ini kerjanya mengganggu saja !"


Angga menarik nafas kesal, "Haruskah aku membeli sebuah pulau di luar negeri agar kalian bisa bebas melakukan apa saja tanpa harus merepotkan diriku ini ?"


"Boleh !" Jawab Ranto sambil menarik tangan Riana untuk memasuki kantornya meninggalkan Angga yang harus mengatur kedatangan para CEO rekanan perusahaan baru milik Ranto.


Sebentar lagi perusahaan baru itu akan Go Publik.


Angga lalu menyuruh bodyguard untuk menambah pengamanan untuk para CEO dari perusahaan rekanan yang datang. Mereka sedang dalam perjalanan.


Angga menyusul Ranto ke atas. Dia harus menyiapkan berkas-berkas perusahaan baru dengan baik. Perusahaan yang akan menanjak tinggi tanpa ada campur tangan dari keluarga Ranto.


Setibanya di ruangan Ranto langsung mengusap kepala Riana dan memeluknya, "Kamu istirahat dulu di sini, aku akan masuk ke ruang rapat dan itu cukup lama. Aku sudah menyuruh sekretaris untuk membelikan kamu makan siang dan kamu harus menghabiskannya sebelum aku tiba ! Kerjasama kali ini akan membuat perusahaan baru milikku akan langsung Go Publik. Perusahaan ini untuk kamu, Riana."


Riana yang berada dalam pelukan Ranto mendengarnya, "Untuk apa kamu ingin membuat perusahaan lagi dan memberikannya kepada diriku ? Bukankah perusahaan yang ini sudah besar dan banyak cabangnya di mana-mana ?"


Ranto tersenyum kecil lalu mencium pipi Riana dengan lembut, "Ini sebagian sahamnya adalah milik keluarga. Jadi aku ingin memberikan istriku hasil jerih payah aku sendiri."


Riana mengulang perkataan Ranto, "Istri ?"


Ranto menatap Riana, "Kamu harus menjadi istriku secepatnya, Riana. Aku harus memiliki dirimu secepatnya."


Riana melihat ke dalam mata Ranto, "Aku bingung harus berkata apa dengan dirimu."


Ranto tersenyum, "Sekarang kamu istirahat saja dulu ya ! Rapat akan segera di mulai."


Riana tersenyum, "Iya, semangat !"


Ranto senang Riana memberikan kata-kata semangat.


Ranto tersenyum, "Aku menyukai dirimu yang seperti ini."


Riana menutup wajahnya dengan kedua tangan, "Sebenarnya aku malu untuk melakukannya."


Ranto membuka tangan Riana, "Aku yang kamu cintai ya ?"


Riana mengangguk, "Aku sangat mencintai kamu."


Ranto tertawa kecil, lalu mendekap Riana, "Terima kasih sudah memperbolehkan aku untuk mencintai kamu, dan terima kasih sudah mencintai diriku dengan segala kekurangan ada."


💘💘♥️♥️

__ADS_1


Follow ✍️ dee.reeana.24


__ADS_2