
"Ayo, kamu ikut aku! Aku akan menyelamatkan kamu dari kemarahan istri kamu itu." Angga beranjak dari duduknya.
"Yakin?" Ranto sudah lelah sekali, tubuhnya pegal semua karena tidur di sofa.
"Bila kamu mengikuti aku maka aku jamin kamu akan ditarik oleh Riana ke dalam kamar tanpa harus memohon." Angga mencoba memberi semangat.
"Bagaimanapun juga kamu belum menikah, jadi mana mungkin kamu akan berhasil membantu aku." Ranto merasa sangsi.
Angga berpikir sebentar, "Aku akan membantu kamu melihat Riana memakai lingerie dan bergelayut mesra di tangan kamu, bagaimana? Apa kamu tertarik?"
"Lebih baik mencoba daripada tidak sama sekali. Lagi pula tawaran itu langsung masuk ke otak ini." Ranto bersemangat kembali.
Mereka menuju mobil Angga.
Angga mengeluarkan kamera untuk merekam, yg tapi sebelumnya dia memberi arahan.
"Kita akan berpetualang sedikit. Dan aku akan merekam semua kegiatan kamu." Angga menghubungi para pengawal untuk mempersiapkan segalanya, mengamankan bos besar mereka yang akan banyak menghadapi masalah.
"Petualangan apa?" Ranto menjawab dengan malas.
Angga melihat ke arah sahabatnya yang kurang bersemangat ini, "Petualangan kecil, kamu hanya perlu mengambil bunga segar untuk istri kamu yang sedang marah itu."
Ranto tertawa, "Lalu kamu merekam dan memperlihatkan kepada Riana?"
"Tepat sekali dan aku yakin dia akan terkesan dengan kegiatan kamu." Angga membersihkan kameranya terlebih dahulu.
Ranto menggeleng, "Ini tidak akan berhasil, Angga. Ini bukan petualangan yang disukai oleh istriku. Hanya sekedar kegiatan membeli bunga, aku tidak mau menghabiskan waktu berharga yang aku miliki hanya dengan kegiatan seperti ini!"
Ranto ingin berlalu pergi namun Angga menahannya, "Kamu yakin tidak mau melihat Riana memakai lingerie seksi?"
Angga masih mencoba agar Ranto bersemangat.
"Aku mau tapi kegiatan ini....." Ranto tidak bisa meneruskan kalimatnya karena Angga memotong kalimatnya.
"Kita akan mengambil bunga, bukan membelinya!" Angga merasa kesal.
"Mengambil?" Ranto kurang mengerti.
"Tepat sekali." Angga menarik Ranto agar masuk ke mobilnya.
Lalu dia menghubungi para pengawal pribadi yang sudah disiapkannya dari tadi, "Kalian bersiap ya! Aku tidak mau ada hal membahayakan yang bisa terjadi nanti!" Angga memberi arahan melalui sambungan telepon.
__ADS_1
Ranto mulai khawatir, "Apa kegiatan ini berbahaya?"
Angga mengangguk, "Sedikit."
Ranto menarik nafasnya, "Baiklah. Lagipula aku tidak bisa apa-apa lagi menghadapi Riana. Mencoba petualangan seperti dirinya mungkin ada baiknya."
Angga menepuk bahu sahabat kesayangannya itu, "Percayalah kepadaku, sahabat. Kita akan membuat istrimu yang memohon pelukan hangat darimu."
Ranto menatap sahabatnya yang sedang menyetir itu, "Aku selalu percaya kepada kamu, Angga."
Angga mengacungkan jempol untuk menanggapi Ranto.
Setelah perjalanan cukup melelahkan, mereka tiba di sebuah kaki gunung.
"Baiklah. Kita mulai sekarang!" Angga turun dari kendaraannya dan berkoordinasi dengan para pengawal.
"Aku harus naik gunung, Angga?" Ranto terkejut.
"Apa kamu lupa bahwa kita akan berpetualang. Inilah petualangan yang cocok."
Ranto melihat ke arah pegunungan yang menjulang tinggi dihadapannya, "Kita sudah lama tidak naik gunung, Angga. Terakhir sewaktu kita baru menjadi mahasiswa."
Angga berdiri di samping Ranto, "Saat kita berjanji akan selalu menjaga, mendukung dan melindungi "
Ranto ingat kejadian itu, kejadian saat Angga jatuh dari tebing di saat cuaca buruk terjadi dan mereka terpisah dari rombongan pendaki.
Mereka mengalami kejadian tak mengenakkan waktu lampau.
Angga terpisah dari para pendaki karena ingin mengambil bunga edelweiss untuk kekasihnya saat itu. Dan terpeleset karena cuaca buruk tiba-tiba datang. Para pendaki tidak ada yang berani menyusul untuk mencari Angga.
Mereka memilih menunggu di base camp sampai cuaca membaik, tapi tidak dengan Ranto.
Dia berangkat sendiri untuk mencari Angga, sahabat kesayangannya itu di tengah cuaca buruk.
Angga yang sudah tidak kuat lagi memegang ranting pohon akan terjatuh ke dalam jurang dalam, namun sebuah tangan kekar menarik tangannya di tengah guyuran hujan besar.
Ranto datang tepat waktu.
Dia segera mendirikan tenda untuk Angga yang sudah mengalami hipotermia bahkan hampir mengalami kematian.
Memberikan seluruh pakaian hangatnya untuk Angga. Tak lupa bekal makanannya diberikan untuk Angga.
Setelah cuaca membaik sedikit, dia menutup tubuh Angga dengan jas hujan miliknya karena tas milik Angga sudah jatuh ke dalam jurang.
__ADS_1
Ranto yang kedinginan itu menggendong tubuh Angga untuk turun dari puncak gunung.
Angga mengalami cedera serius pada kakinya dan harus cepat ditangani.
Disaat itulah Angga berjanji tidak akan pernah meninggalkan sahabatnya ini walaupun nyawa taruhannya, seperti Ranto yang mempertaruhkan nyawanya untuk Angga.
Lama Angga memeluk Ranto menatap gunung, mengenang masa lalu.
"Kamu yakin bila aku mengambil sedikit bunga edelweiss di gunung maka Riana akan berbaik hati denganku?" Ranto memastikan lagi tindakannya kali ini.
Angga mengangguk.
Ranto tertawa kecil, "Bukankah dulu bunga yang berhasil kamu bawa turun dengan mengorbankan diri sudah membuat kamu patah hati?"
Ya.
Kekasih Angga ketahuan berselingkuh saat Angga hendak memberikan bunga yang dipetiknya mempertaruhkan nyawa.
"Tak perlu diingatkan!" Angga tak suka kejadian itu.
Ranto semakin tertawa, "Itu berarti dia bukan jodoh kamu. Dan Tuhan sudah baik menunjukkan seperti apa pacar kamu itu."
Ranto memakai jaket yang diberikan oleh Angga, "Bukankah mengambil edelweiss itu dilarang, Angga?"
Angga mengangguk, "Benar. Tapi siapa yang bilang aku menyuruh kamu mengambil bunga edelweiss yang tumbuh liar?"
"Jadi?" Ranto meminta penjelasan.
"Karena kekasihku berselingkuh, aku membayar penduduk di sini untuk menanam bunga langka itu dan itu namanya aku membudidayakan bunga edelweiss. Bunganya sudah aku letakkan di daerah yang mudah kamu ambil. Tenang saja, Riana tidak akan tahu." Angga juga memakai jaketnya.
Para pengawal yang juga akan ikut mendaki gunung melakukan hal yang sama.
"Untuk apa kamu menanamnya, Angga?" Ranto mengganti sepatunya dengan sepatu khusus para pendaki.
"Untuk kuberikan kepada kekasih baruku tanpa harus bersusah payah untuk mengambilnya." Angga memerintahkan kepada para pengawal untuk membawa persediaan.
Ranto memakai topi juga menyiapkan dirinya.
Angga mengirim email sebentar untuk menyelesaikan pekerjaannya.
"Kamu tahu sahabat, wanita itu adalah makhluk sederhana namun paling sulit untuk dimengerti. Bila kita ada selalu di sampingnya, dia merasa bosan. Namun bila kita menjauh sebentar maka dia akan marah merasa tak diperhatikan. Mungkin sedikit bermain ke alam,akan membuat pikiran kamu cerah dan tak melakukan hal yang aneh seperti membeli banyak mobil sebagai 'hadiah kecil' yang malah menyebabkan Riana semakin marah." Angga memandang ke atas gunung.
Angga mulai merekam kegiatannya bersama Ranto, dia memberikan kamera kepada salah satu pengawal.
__ADS_1
"Aku mengerti bahwa Riana tidak menyukai barang mahal namun aku hanya ingin memberikan sesuatu kepada Riana sebagai tanda cintaku yang sangat besar. Apa itu salah, Angga?"
Angga memberitahukan kepada pengawal untuk mulai mengirimkan rekaman itu kepada Riana sehingga dia bisa mendengar apa isi hati suami kesayangannya.