Cinta Itu Berat

Cinta Itu Berat
Chapter 02 ( Sambel Ayam Geprek )


__ADS_3


Riana menjalani hari-harinya dengan baik sekarang.


Semuanya terlihat indah.


Riana merasa menjadi bidadari yang sedang berjalan di jembatan pelangi, atau seperti nonton konser girlband yang namanya "Merah Jambu Hitam " kelas VVIP yang tiketnya gratis. Pokoknya bahagia.


Tak pernah ia sebahagia ini.


Theo. Nama yang membuat Riana senyum-senyum sendiri.


Terkadang sering bernyanyi untuk mengungkapkan isi hatinya pada dunia.


Seperti hari ini, Riana yang sedang berjalan di koridor lingkungan kampusnya berdendang dengan suaranya yang berat dan merdu.


Dia selalu merasa mirip Selena Gomez, dan iya Riana memang wanita yang bersuara emas.


"La..la..la..la..." Suara Riana membelah kesunyian kampusnya di pagi hari.


Gubrak... Suara jatuh.


"Aduh..."


Suara laki-laki.


Riana mendongakkan kepalanya sedikit.


"Ya Tuhan, nikmat apa ini, pagi-pagi lihat cowok tampan seperti pangeran. Bila seperti ini maka anak Bu Lisna yang gantengnya satu RT kalah telak, cowok ini gantengnya satu kabupaten eh salah ini ganteng satu provinsi. Sudah tubuh atletis, dagu berbelah, gaya keren, bibirnya itu ......." Batin Riana.


"Halo..! Bila jalan dipakai matanya, jangan digadaikan ! " Bentak laki-laki itu.


Riana tersentak.


"Biasa saja Pak ! Pagi-pagi mulutnya sudah pedas, bisa halus sedikit Pak !"


Riana ikut emosi, padahal niatnya mau meminta maaf.


"Kamu rupanya mempunyai hobi membuat emosi ya, berjalan serasa jalanan ini milik pribadi, bagus sekali hobinya !" Emosi tingkat dewa rupanya pria itu.


"Sekalian saja kamu buat kampus ini sertifikatnya atas nama kamu." Timpal laki-laki itu lagi.


"Iya, besok aku mau ke notaris, mau balik nama kampus ini !"


Riana gemas, "Kenapa Pak ? Saya manis ya, sampai terpana seperti itu," Tanya Riana sambil tersenyum sinis.


"Apa ? Yang benar saja, mulut tidak punya rem, otak terkontaminasi polusi."


Laki-laki itu berkata sambil berlalu pergi meninggalkan Riana yang sedang mencerna tiap kata yang di dengarnya dari si lelaki itu.


Setelah sadar bahwa laki-laki itu mengejeknya maka langsung saja Riana berteriak.


"Dasar ! Cowok bermulut pedas, sudah seperti sambel ayam geprek saja yang level sepuluh, Pak !" Riana berteriak dan sedikit terdengar oleh laki-laki itu.

__ADS_1


Dia sedikit menoleh dan tersenyum sinis melihat Riana.


"Si tampan rasa sambel ayam geprek." Riana tersenyum kesal.


Riana pun pergi sambil menahan kesal di hati.


Begitu sampai di kelas, dibantingnya tas yang dari tadi bersemayam dipunggung Riana, "Kesal !" Teriaknya keras.


"Berisik Riana !" Suara Nadia sahabat Riana.


Riana menoleh ke belakang, terlihat Nadia sahabatnya sedang berdandan merapihkan alis mata yang berantakan, "Nadia, aku sedang kesal, benar-benar kesal." Riana menuju ke meja Nadia.


"Kenapa kamu kesal, Riana?" Tanya Nadia.


"Pagi-pagi aku sudah sarapan sambel ayam geprek level sepuluh." Sahut Riana.


"Ada yang jual ayam geprek pagi-pagi seperti ini ?" Tanya Nadia heran.


"Lagipula bukannya kamu suka malas kalau di suruh sarapan." Sambung Nadia lagi.


"Bukan ayam geprek itu, Nadia. Tadi aku bertemu cowok bermulut pedas, cocok bila aku bandingkan dengan sambel ayam geprek level 10." Riana menjelaskan.


"Ada ya cowok yang mulutnya seperti sambel ?" Nadia tertawa kecil.


"Tadi aku menemukannya satu, makhluk langka yang sepertinya harus di lestarikan."Riana membayangkannya.


"Memangnya komodo ?" Sahut Nadia yang sedang mengolesi bibirnya dengan lipstik, maklum dia harus pagi-pagi ke kampus untuk mengantarkan keripik buatan Riana dan dirinya ke kantin kampus.


Mereka membuatnya bersama, namun untuk tugas mengantarkan ke kantin kampus mereka melakukan secara bergantian, dan hari ini giliran Nadia.


Jadi mereka menganggap kampus rumah kedua, karena lebih enak di kampus yang memakai AC daripada di rumah sewa yang hanya memakai kipas angin.


Datang paling pagi, pulang paling akhir.


Mereka membuat keripik seminggu sekali pada hari Jumat dan lanjut di hari Sabtu.


Maklum mereka bukan berasal dari keluarga sultan.


Mereka harus mencari tambahan uang saku untuk bertahan hidup.


Beruntungnya mereka berdua adalah anak beasiswa dari pemerintah sehingga bisa berkuliah dengan nyaman.


"Mulutnya pedas, tapi wajahnya lumayan tampan." Riana melanjutkannya.


"Dasar kamu, Riana ! Anak Bu Lisna juga tampan, masih jomblo lagi."


"Kalau dia itu level lima saja tingkat ketampanannya, tapi yang ini tampannya satu provinsi." Kata Riana sambil menyenggol tangan Nadia yang dari tadi sibuk mengolesi lipstik.


"Tadi alis, sekarang lipstik berantakan, kamu sengaja ya ?" Nadia pura-pura kesal lalu membuat berantakan rambut Riana yang indah.


Tak tinggal diam Riana juga membuat berantakan rambut Nadia yang panjang.


Mereka berlarian di dalam ruangan seperti anak-anak, beruntungnya belum terlalu banyak penghuni kampus yang datang.

__ADS_1


Setelah lelah tertawa mereka berhenti, karena masing-masing tidak sanggup lagi untuk mengejar.


"Kenapa tidak minta nomor telepon pria itu?" tanya Nadia.


"Nomor apa ? Nomor telepon laki-laki tampan rasa sambel ayam geprek ? Aku tidak akan mau walaupun dia memberikannya."


"Jangan seperti itu, siapa tahu sebagian tulang rusuk dia adanya sama kamu." Nadia tertawa sambil memperingatkan Riana.


"Ya, mulutnya bagus sekali ya Ibu Camat." Riana berkata dengan nada menyindir.


Nadia tergelak, "Siapa yang tahu jodoh kita siapa."


Lalu Nadia menyambung lagi kata-katanya, "Lumayan bila jodoh, setiap hari kamu bisa makan sambel ayam geprek, kesukaan kamu."


"Baiklah kalau begitu, aku juga berharap agar kamu berjodoh dengan Nathan, anak fakultas kedokteran yang kamu katakan culun itu."


Sekarang Riana yang tertawa.


Nadia cemberut, "Riana, kamu jahat sekali mulutnya."


Riana mencubit pipi Nadia, "Nathan itu sebenarnya tampan juga, pintar, lagipula dia adalah anak orang berada. Kamu saja yang cita-citanya adalah menjadi jomblo abadi."


Nadia tersenyum, "Bukan jomblo abadi, tapi aku adalah jomblo berkualitas tinggi."


Nadia tertawa bersama Riana.


"Kasihanilah dia Nadia, dia suka sama kamu sudah lama, tidak kenal lelah." Saran Riana.


"Aku sedang fokus sama karir." Seloroh Nadia.


Riana tertawa, "Karir artis kamu ?"


Nadia mencubit lengan Riana, "Punya sahabat bukannya mendukung."


"Aku akan selalu mendukung kamu, Nadia. Lagipula muka kamu lumayan untuk menjadi artis." Sahut Riana.


Nadia melotot, "Apa ? Sekedar lumayan ? Aku itu cantiknya maksimal."


Nadia menyombongkan diri.


Riana mengalah, "Terserah kamu, Nadia."


Nadia mencubit Riana. Mereka berlarian kembali, padahal penghuni kampus lainnya mulai berdatangan.


Mereka hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan dua wanita pintar dan cantik itu.


"Riana, aku lelah mengejar kamu." Ujar Nadia.


"Bila kamu lelah tidak perlu mengejar Riana, karena sudah ada aku yang selalu mengejar cinta kamu, Nadia ." Suara Nathan yang mengunjungi gadis incarannya itu seketika menghentikan kegiatan mereka berdua.


"Apa kabar Nathan ?" Sapa Riana.


Nathan tersenyum manis.

__ADS_1


😊😊😊😊😊😉😉


Follow Instagram 📝✍️ dee.reeana.24


__ADS_2