
Riana masuk ke dalam kantornya di iringi tatapan para pegawai, tidak pernah ada bodyguard Ranto yang mengantar masuk wanita ke ruangan Bos, kecuali melemparnya keluar.
Riana melihat Ranto sedang berbicara dengan Angga. Bodyguard itu menyuruh Riana duduk di sofa lalu mereka langsung menunggu di luar.
"Angga, kamu periksa kembali berkas yang akan kita bawa! Tunggu aku sebentar di lobi, nanti aku akan turun sendiri. Tidak usah kembali ke ruangan aku lagi!" Ranto memberi perintah.
Angga melihat Riana yang sedang duduk tampak takut dimarahi, seperti anak kucing kecil di pojok sofa.
Angga menghampiri Riana sebentar, "Tidak perlu takut. Ranto memang galak, namun itu semua dilakukan untuk melindungi kamu, Riana."
Riana menatap Angga, "Iya. Terima kasih, Kak Angga sudah mengingatkan."
Angga segera keluar ruangan.
Ranto memanggil Riana agar mendekat ke kursinya.
Riana menaruh tasnya, dia lalu bangkit menghampiri Ranto.
Ranto segera menarik Riana duduk di mejanya. Lalu menggenggam kedua tangan Riana dan menciumi tangan Riana.
"Aku harus membuang bakteri yang Seno yang bawa dan menempel di tangan kamu." Lalu dilanjutkan kembali mencium tangan Riana berkali-kali.
Ranto menatap Riana, "Mengapa hobi kamu membantah dan protes ?"
"Sepertinya itu memang hobi aku." Riana pasrah saja menjawab pertanyaan tersebut.
"Sudah kubilang, Seno pasti akan terus mengejar kamu. Haruskah aku ikut bila kamu sedang ada kelas?" Ranto memeluk Riana dengan erat.
"Tidak usah, kamu harus bekerja. Aku bisa menjaga diri. Cukup bodyguard kamu saja." Riana menolak.
Ranto tampak tidak suka, "Mereka tidak diperbolehkan masuk ruangan, sementara Seno akan terus seperti itu."
Riana terdiam, "Aku tidak ingin merepotkan."
Ranto berkata lagi, "Aku usahakan untuk tetap bekerja walaupun berada di samping kamu. Lagipula ada Angga yang akan membantu aku."
Riana menolak, "Tidak usah. Aku..."
"Aku tidak menerima bantahan, Riana sayang!"
Ranto melonggarkan ikatan dasi miliknya.
Ranto keluar ruangan menggandeng tangan Riana, sekretarisnya memberikan hormat. Karyawan lain melakukan hal yang sama.
Di lift, Ranto merapihkan rambut Riana dengan tangannya. Sambil sesekali mencium harum rambut Riana.
Angga sudah menunggu Ranto di lobi terlalu lama.
Ranto keluar dari lift bersama Riana sambil berpegangan tangan.
Angga yang menunggu mereka lama mengeluh, "Apa harus selalu lama bila kalian berdua?"
__ADS_1
"Riana kekasihku, Angga. Aku selalu ingin menghabiskan waktu berdua saja." Ranto mengajak Riana masuk ke dalam mobil.
Angga kesal, "Lebih baik Riana dengan aku saja, lebih cocok bila kami bersama."
"Kamu suka dengan Riana?" Ranto terlihat tidak suka.
"Kasihan Riana! Selalu kamu kurung seperti burung dalam sangkar." Seru Angga.
Ranto ingin marah namun Riana menghalangi, dia sekarang yang menarik tangan Ranto.
"Aku lapar." Riana mencari alasan.
Ranto segera masuk ke dalam mobil yang sudah siap. Dia menyuruh Angga masuk ke mobil di belakangnya bersama bodyguard. Rupanya Ranto masih marah dengan Angga.
"Riana, nanti kamu makan siang sendiri dulu. Aku mau rapat sebentar dengan rekan bisnis di sebuah restoran. Kamu tunggu saja di sana. Aku sudah siapkan ruangan VVIP untuk kamu." Ranto memberi arahan.
"Kamu jangan marah lagi dengan Kak Angga, dia hanya kasihan kepadaku yang terus menerima hukuman dari kamu." Riana berkata manja sambil merapihkan jas yang digunakan Ranto.
Dada Ranto berdebar saat Riana manja seperti itu, "Iya, baiklah. Demi kamu."
Riana memeluk Ranto senang, "Janji ya, kamu tidak marah lagi dengan Kak Angga."
Ranto tersenyum, "Dengan satu syarat."
"Apa?" Riana mengusap dada Ranto.
"Serahkan hatimu hanya untukku." Ranto mengusap rambut Riana dengan sayang.
Ranto senang mendengarnya, "Berarti tidak akan ada peluang pria lain untuk memiliki kamu, Riana. Walau itu Angga yang baik hati sekalipun!"
Ranto mendekap erat tubuh Riana.
Sepanjang perjalanan menuju lokasi, mereka menikmati kebersamaan di antara mereka berdua sehingga tidak ada suara yang terdengar.
Angga sesungguhnya senang bila sahabatnya yang galak itu sedang berbahagia.
Tiba di restoran, Ranto membawa Riana terlebih dahulu menuju ke ruang VVIP yang sudah di pesannya melalui pintu khusus.
Lalu setelah memastikan Riana nyaman barulah dia dan Angga menuju ke rekan bisnisnya yang sudah menunggu bersama sekretarisnya.
Selama rapat, sekretaris Pak Hadi yang bernama Sisil terus saja menatap Ranto. Dia membuka kancing bajunya sedikit agar lebih terlihat indah.
Angga dan Ranto tetap fokus pada pembicaraan kerjasama mereka.
Selesai menandatangani semua berkas, mereka memeriksa kembali semuanya.
Sisil mendekatkan posisi duduknya ke dekat Ranto, "Apa ada yang kurang jelas, Pak Ranto?"
Ranto menggeleng, "Tidak ada."
Sisil masih berusaha, "Saya akan senang hati membantu Pak Ranto untuk menjelaskan semua berkas ini bila di perlukan."
Angga mengangguk sambil sedikit tersenyum sekedar menghormati, "Kami sudah memahami semuanya."
__ADS_1
Pak Hadi menawarkan, "Sisil akan saya kirim ke perusahaan Pak Ranto untuk membantu selama proyek ini berlangsung."
Ranto terdengar tidak menyukainya, "Maksud Pak Hadi sebagai pengawas?"
Pak Hadi tadi sudah berjanji kepada Sisil yang merupakan keponakannya untuk membantu mendekatkan Sisil dengan Ranto yang sudah lama menjadi incarannya, namun Ranto tidak pernah menanggapi.
"Bukan, tapi sekedar membantu sebagai perwakilan saya yang akan keluar kota dalam waktu dekat. Hanya selama proyek ini berlangsung." Pak Hadi berhati-hati mengeluarkan perkataannya.
Semua pengusaha tahu bila salah bicara dengan Ranto maka bisnis akan selesai.
Ranto banyak berpikir, "Aku harus mempersiapkan perusahaan baru yang akan membutuhkan dana tidak sedikit. Untuk membuat perusahaan baru itu cepat besar maka proyek ini tidak boleh gagal hanya karena masalah Sisil yang genit itu. Perusahaan baru itu untuk masa depanku bersama Riana. Baiklah, semua ini demi Riana."
Pak Hadi bertanya kembali, "Bagaimana?"
Ranto mengangguk, "Kamu urus saja!"
Angga yang memahami pemikiran Ranto juga tampak pasrah namun tidak senang. Dia juga mengetahui maksud Pak Hadi dan Sisil.
"Baiklah, cukup sampai disini. Kami ada jadwal lain." Ujar Angga yang juga tidak ingin berlama-lama.
"Saya langsung ikut dengan Pak Ranto ya." Sisil senang dan langsung menyentuh tangan Ranto.
Ranto menarik tangannya, "Tidak bisa. Saya ada urusan lain. Kamu besok bisa datang ke kantor saya langsung." Ranto bangkit dari duduknya dan menyalami Pak Hadi.
Pak Hadi menarik nafas, "Susah menaklukkan Pak Ranto dan Angga. Padahal Sisil sangat cantik."
Pak Hadi segera pergi dengan Sisil.
Ranto mengajak Angga untuk masuk ke ruangan VVIP di mana Riana berada.
"Yakin, kamu memperbolehkan aku masuk? Bukankah kamu ingin makan siang berdua dengan Riana ?" Angga bingung dengan sikap sahabatnya, tadi dia marah karena Angga turut campur soal Riana.
"Yakin. Riana menyuruh agar aku meminta maaf dan tidak marah-marah lagi dengan kamu, sahabatku." Ranto merangkul Angga.
"Jadi, ini demi Riana?" Angga tertawa kecil.
Ranto melihat Angga, "Tidak juga sih, aku sadar kamu sudah banyak membantu aku mulai dari nol sampai seperti ini. Tidak mengenal kata lelah. Dan tidak marah bila aku sedang emosi. Satu lagi, selalu menyelesaikan semua masalahku dengan baik."
Angga tersenyum, "Aku menganggap kamu adalah keluarga. Kita sama-sama saling membantu."
"Sahabat." Ucap mereka bersama.
"Tapi...." Angga menggantung kalimatnya.
Mereka sudah tiba di depan ruang VVIP.
"Tapi apa, Angga ?" Ranto penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh Angga.
Angga tersenyum melanjutkan kata-katanya, "Tapi aku menyukai Riana."
💠💠😘😘💠💠
Follow Instagram 📝✍️ dee.reeana.24
__ADS_1