Cinta Itu Berat

Cinta Itu Berat
Chapter 03 ( Kenyataan )


__ADS_3


Hari Minggu seperti ini Riana sedikit bersantai.


Tugas kuliah sudah di kerjakan oleh Riana, lalu pekerjaan membuat keripik juga sudah selesai di kerjakan bersama Nadia.


Mereka hanya tinggal tahap memasarkan saja. Bahkan sebagian dari keripik itu merupakan barang pesanan dari teman-teman mereka di kampus.


Keripik mereka memang enak dan sudah terkenal, mereka juga aktif menawarkan melalui media sosial.


Walaupun Riana sedang santai, dia tetap fokus pada gadget di tangannya.


Penjualan keripik mereka secara online juga termasuk kategori yang lumayan bahkan hasilnya sudah bisa untuk menabung.


Nadia sedang merawat dirinya dengan berbagai perawatan pribadi. Bulan depan dia ada jadwal syuting untuk sebuah iklan.


Nadia memang mengambil pekerjaan sampingan seperti itu. Dengan wajah yang cukup menarik, Nadia mempunyai modal masuk dunia hiburan walaupun masih termasuk kategori merintis.


"Riana, bagaimana perkembangan hubungan kamu dengan Theo ? Bukannya kalian sudah mengetahui perasaan masing-masing, aku kira kalian bakal menjalani hubungan seperti sepasang kekasih, tapi aku perhatikan hubungan kalian tidak ada kemajuan yang berarti ya?" Tanya Nadia.


Riana diam.


Tidak lama kemudian dia menghela nafas, "Iya, hubungan aku dengan Theo tidak ada kemajuan yang berarti, padahal terakhir kami bertemu serasa dunia adalah milik kami dan kamu cuma sewa."


Nadia melempar bantal kecil yang ada disampingnya, mendengar perkataan terakhir Riana.


"Aku bertanya serius."


Riana tertawa kecil, "Aku bingung dengan Theo. Aku hubungi nomor teleponnya tidak pernah aktif. Di sosmed juga tidak ada jejak sama sekali. Bahkan aku lihat rumahnya seperti tidak berpenghuni. "


Nadia terdiam melihat sahabatnya yang sedang bersedih.


Mereka sama-sama sudah tahu akan karakter pribadi masing-masing, jadi bila ada yang bersedih atau sedang gembira, mereka bisa saling merasakan.


"Riana, kamu sudah mencoba bertanya kepada semua teman-temannya yang kamu kenal ? Mungkin mereka mengetahui apa yang disembunyikan oleh Theo, bukannya dari dulu Theo itu cowok yang selalu tertutup. Orang seperti itu biasanya tampak berbahagia di depan orang lain namun memendam kesedihan sendirian. Siapa yang mengetahuinya."


Nadia memberikan masukan, bukan sekedar menghibur. Nadia juga mengenal Theo dari dulu.

__ADS_1


"Mungkin aku harus menemui beberapa temannya, kemarin aku mencoba menghubungi salah satu temannya lewat sosmed namun belum dibalas. Terlalu lama menunggu balasan dari mereka, rasa penasaran aku mulai memberontak. "


Setelah berkata demikian Riana menarik nafas dalam-dalam, seperti sedang memendam beban yang sangat berat.


Dia memang memendam rasa terhadap Theo terlalu lama.


"Bagaimana bila aku antar, mau hari ini atau lain hari ?" Nadia bertanya penuh perhatian.


"Baiklah, nanti siang kita akan mencari penjelasan tentang semua hal dari cinta aku yang tertunda." Riana tersenyum pada Nadia.


Nadia tersenyum saja mendengarnya, "Seperti judul sinetron."


Riana beranjak dari tempatnya, "Aku bersiap dulu ya, nanti kita ke rumah temannya Theo yang aku kenal."


Nadia menganggukkan kepalanya tanda setuju.


Dan disinilah mereka sekarang.


Di rumah Danu, teman Theo yang Riana kenal, tidak banyak memang yang Riana kenal, tapi mungkin Danu adalah kunci untuk Riana menemukan Theo.


"Tidak perlu repot-repot Danu, kami ke sini hanya ingin bertanya mengenai Theo, terakhir aku bertemu dia bulan lalu. Tapi setelah itu aku sulit menghubunginya. Padahal sewaktu aku bertemu terakhir kalinya, dia sempat memintaku untuk menghubunginya. Tapi kenyataannya sampai hari ini nomor yang diberikannya tidak aktif. Kira-kira kamu tahu kenapa bisa seperti itu? Apa teleponnya hilang atau apa ? Aku tidak ingin berspekulasi sendiri."


Danu diam, tampak gelisah, " Memang waktu kamu terakhir bertemu, Theo tampak bahagia atau bagaimana ? Apa dia menceritakan tentang dirinya atau tidak?"


Riana merapihkan rambut panjangnya, "Dia bahagia, malah terlalu bahagia. Kita bernostalgia tentang masa lalu. Namun dia tidak menceritakan sesuatu tentang dirinya selain bilang kalau dia baik-baik saja."


"Sebenarnya sepengetahuan aku dari dulu Theo sering terlibat masalah dengan keluarganya. Dia sulit menghadapi papanya yang selalu memaksa dan menekan dia, terkadang dengan kekerasan. Theo memang tidak menceritakannya kepadaku, namun tanpa sengaja aku melihat sendiri bagaimana perlakuan keluarganya. Ibu tirinya, juga selalu membuat masalah yang nanti pada akhirnya hanya Theo yang di salahkan." Danu menjelaskan panjang lebar.


"Mengapa aku tidak mengetahui hal tersebut sampai ke sana, yang aku lihat Theo sekarang lebih dewasa." Riana tampak bingung.


Danu menghela nafas, "Coba kamu ke alamat ini. Ada namanya, dan orang ini adalah merupakan teman akrab Theo. Dia yang mengetahui apa yang terjadi dan dia bisa menjelaskan semua tentang Theo kepada kamu. Bila dia tidak bisa di temui di rumah, ini nomor teleponnya, cobalah untuk membuat janji temu. Sepertinya dia tidak akan mau bila menjelaskan melalui telepon, dia juga sulit menerima telepon dari nomor tidak di kenal. Aku saja sulit menghubunginya."


Danu berkata seperti itu sambil menyerahkan selembar kertas catatan kecil berisi nama dan alamat seseorang di lengkapi nomor telepon.


Riana menerima sekaligus membacanya, "Baiklah Danu, aku harus ke sana untuk menemuinya."


"Ya sudah, hati-hati Riana, banyak orang yang tidak senang melihat Theo bahagia." Danu berpesan.

__ADS_1


Riana mengernyitkan dahinya, "Iya, terimakasih atas informasinya. Aku harap orang ini mau membantuku."


Mereka lalu pamit undur diri. Riana mengetik sesuatu melalui aplikasi gadgetnya untuk mencari petunjuk arah sesuai alamat yang di berikan.


Riana menjalankan motornya secara perlahan, karena Nadia tidak suka bila Riana melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi.


"Riana, ada apa ya tadi Danu berpesan seperti itu ? Memangnya Theo punya banyak musuh atau bagaimana ? " Tanya Nadia.


"Aku tidak mengerti, Nadia. Tapi bila orang berpesan pasti mengandung banyak arti." Riana berkata sambil setengah berteriak, karena mereka naik motor, jadinya suara Riana terkadang terbawa angin.


"Baiklah, kalau seperti itu kita memang harus berhati-hati. Serta harus siap dengan segala kemungkinan yang terjadi." Ujar Nadia juga setengah berteriak.


"Kamu dukung aku ya, aku butuh dukungan kamu, Nadia. " Pinta Riana.


"Cuma kamu yang aku punya, Nadia ." Riana berkata dalam hati.


"Tenang saja, Riana. Aku selalu ada."


"Baiklah, kita berpetualang, Nadia. Dimulai dari sekarang ! Pegangan yang erat." Riana mulai menambah kecepatan motor sportnya.


Nadia segera berpegangan erat sambil mengelus dada, " Menyesal aku bilang selalu mendukung kamu, Riana." Batin Nadia.


"Pelan saja, Riana !" Nadia berteriak lalu mencubit pinggang Riana.


"Ya."


Akhirnya Riana menurunkan sedikit kecepatan motor miliknya.


Ketika di lampu merah, mereka berhenti. Riana merasa kegerahan lalu membuka helm.



Seorang laki-laki yang berada dalam mobil mewah terkejut saat melihat Riana membuka helm.


" Cantik." Gumam pria tersebut.


Follow me 📝✍️ dee.reeana.24

__ADS_1


__ADS_2