Cinta Itu Berat

Cinta Itu Berat
Chapter 36 ( Bidadari Di Sungai )


__ADS_3


Angga menghubungi Ranto, memberi laporan bahwa bodyguard yang tersebar di area kampus melihat keberadaan Riana di perpustakaan.


Ranto melihat Riana yang sedang duduk di depan laptopnya dengan memakai kacamata, semakin bertambah kecantikan Riana.


Ranto langsung duduk di samping Riana, "Sayang, kamu sedang apa?"


Riana tidak menoleh dan tidak menjawabnya, dia kelelahan sesudah mengejar dosen untuk menyerahkan beberapa tugas yang diberikan.


Ranto tidak menyerah, dia mencium pipi Riana dari arah samping, "Kita makan siang ya, kamu terlihat sedikit pucat."


Riana masih belum menjawabnya.


Ranto lalu mematikan laptop Riana.


Riana kesal sekali, "Kenapa kamu matikan?"


Ranto tersenyum, "Kamu tidak menjawab."


Riana kembali menyalakan laptop miliknya, namun Ranto mengambilnya secara paksa dan membawanya pergi.


Riana terpaksa mengikuti Ranto, karena laptop dan flashdisk miliknya dibawa oleh kekasihnya yang galak itu, "Kembalikan! Aku harus menyelesaikan tugas aku!"


Ranto tidak menghiraukan, dia tetap membawa laptop Riana.


Riana sudah terlalu lelah akibat begadang semalaman, dia juga belum makan. Riana tidak kuat lagi mengejar Ranto yang setengah berlari membawa laptop miliknya.


Riana duduk di lantai lalu menyenderkan kepalanya yang pusing, menekuk kedua kaki untuk menopang kepalanya yang diletakkan di atas lutut yang agak tinggi.


Riana meneteskan air matanya, "Bagaimana dengan beasiswa aku? Tinggal sedikit lagi perjuangan aku mendapatkan cita-cita aku."


Ranto yang merasa Riana tidak mengikuti segera berbalik, dia mendapati Riana duduk di lantai sambil meletakkan kepalanya di atas lutut, "Maafkan aku, sayang." Ranto langsung mendekap Riana.


Ranto mendengar tangisan Riana yang pelan, lalu dia mengusap kepala Riana perlahan, "Kamu menangis?"


Riana diam saja.


Ranto mengangkat Riana dalam gendongannya, lalu membawanya ke arah mobilnya yang di parkir.


Di dalam mobil Ranto melihat Riana masih menangis dalam dekapannya, "Maafkan aku, ya."


Riana mengusap air matanya, dia tidak boleh menyerah, masih ada waktu setengah jam lagi untuk mengumpulkan tugas itu, "Kembalikan laptop milikku!"


Ranto tersenyum, "Jadi kamu menangis karena aku mengambilnya?"


Riana berniat mengambilnya, namun Ranto menahannya. Riana kesal sekali, "Bila kamu masih menahan laptop itu aku akan marah sekali!"


Ranto bingung, "Memangnya kenapa sayang?"


Riana menarik nafas, "Karena kamu, aku kehilangan beasiswa. Nanti aku tidak bisa mendaftar program studi Pascasarjana bila tidak menyerahkan tugas hari ini, kenapa kamu mempersulit diriku ini?"


Ranto tertawa, "Aku mencintai kamu, Riana. Semua hal tentang kamu adalah prioritas utama untuk aku. Ini ! Aku sudah menyelesaikannya untuk kamu. Sekarang kamu bisa langsung menyerahkannya kepada dosen saat ini juga."


Ranto menyerahkan flashdisk ke tangan Riana.


Riana tidak percaya, "Benarkah, ini berisi tugas kuliahku yang sudah selesai?"


Ranto mengangguk, "Apakah kamu memaafkan aku?"


Riana menggeleng, "Aku masih marah!"


Ranto mendekati wajah Riana, "Benarkah?"


Ranto mencari tahu dengan caranya sendiri.


Ranto mengecup kening Riana erat, "Aku sudah tahu jawaban sebenarnya, Riana sayang."


Riana hanya diam dan mengambil kembali flashdisk yang jatuh karena pengkhianatan tangan Riana yang lebih memilih Ranto daripada memegang flashdisk tersebut.


"Aku harus mengantarkannya segera ke dosen." Ujar Riana.


Ranto dan Riana bergandengan tangan menuju ruang khusus dosen di lantai lima.


Pak Muklis masih sibuk meneliti tumpukan tugas dari para mahasiswa penerima beasiswa. Bila mereka mengerjakannya dengan baik tugas kali ini maka jalan mereka untuk meraih beasiswa Pascasarjana akan sangat mudah.


Riana menyerahkan tugasnya, "Ini, tugas saya, Prof."


Pak Muklis menerima flashdisk tersebut, lalu memeriksanya terlebih dahulu, "Ini bagus sekali, Riana. Sepertinya kamu masuk daftar urutan pertama penerima beasiswa Pascasarjana."


Riana terkejut, "Benarkah?"


Pak Muklis lalu menyimpan flashdisk tersebut, "Kamu bersiap saja, sepertinya saya bisa mencarikan beasiswa yang lebih bagus lagi daripada yang kemarin saya tawarkan."


Riana tersenyum senang, "Terima kasih, Prof."


Pak Muklis tersenyum, lalu dia melihat Ranto yang dari tadi sedang membalas email dari rekan bisnis di samping Riana, "Kamu sedang apa, Ranto?"


Ranto menoleh lalu tersenyum pada Pak Muklis, salah satu dosen Pascasarjana kampus itu, "Siang, Prof."


Pak Muklis tersenyum melihat mahasiswa kesayangannya itu, "Saya bertanya, kamu sedang apa di sini?"


Ranto memegang tangan Riana, "Menemani calon istri."


Pak Muklis tertawa, "Kamu yang galak dan suka semaunya sendiri bersama Riana yang baik hati ini?"

__ADS_1


Ranto mengangguk, "Saya pria yang dia cintai, Prof."


Pak Muklis geleng-geleng kepala, "Mungkin Riana sedang khilaf."


Ranto menarik tangan Riana menjauh dari Professor kesukaannya itu, "Nanti bisa berubah pikiran calon istri saya bila berbicara terlalu banyak dengan Professor."


Pak Muklis hanya tertawa melihat tingkah salah satu mahasiswa kebanggaannya yang mengharumkan nama kampus dan banyak berjasa dalam menerima alumni dengan IPK terbaik di perusahaan miliknya.


Riana menaruh kepalanya di bahu Ranto, sekarang mereka menuju ke arah kantor.


Ranto senang Riana sudah tidak marah, "Riana sayang, kita makan dulu ya."


Riana mengangguk, "Iya."


Sesampainya di restoran mewah Riana dan Ranto segera memesan makanan. Riana tampak mengantuk.


Ranto mengusap lembut rambut Riana, "Kamu makan dulu ya!"


Riana hanya mengangguk.


Ranto menyuapi Riana yang tampak malas makan, "Sekali lagi, ya!"


Riana yang sudah kekenyangan menolaknya, "Ini sudah melebihi porsi makan aku."


Ranto mengangguk, "Jadi, apa kata mereka setelah makan makanan milik kamu waktu itu?"


Riana bingung, "Mereka siapa?"


Ranto mencium pipi Riana, "Karyawan aku yang kamu ajak memberontak untuk makan siang?"


Riana langsung tersenyum, lalu membuka salah satu aplikasi WhatsApp yang terdapat grupnya itu, dan terlihat dia berkirim pesan sambil sesekali tersenyum, "Kita langsung ke kantor kamu?"


Ranto menjawabnya, "Iya, kenapa? Apakah kamu sudah rindu ingin bermain dengan mereka, Riana sayang?"


Riana mengangguk, "Mereka menyenangkan."


Ranto senang, "Kalau begitu mereka semua akan aku ajak ke perusahaan baru yang aku buat untuk dirimu."


Riana senang sekali, "Terima kasih, sayang ."


Ranto mengecup rambut Riana, "Apa saja untuk membuat kamu bahagia, sayang Riana."


Ranto menatap Riana, "Kenapa kamu diam saja, Riana sayang?"


Riana bingung mengatakannya, "Boleh aku memesan makan siang lagi untuk mereka?"


Ranto senang memiliki kekasih yang baik hati seperti Riana, "Bayarannya mahal, Riana sayang. Bahkan urusan pembayaran tugas kuliah kamu saja masih belum membayarnya."


Riana mencubit pinggang Ranto, "Ya, sudah. Aku akan mengajak mereka makan di warteg dekat kantor kamu. Nanti aku ke sana bersama mereka ya?"


Riana, "Baiklah."


Ketika mereka sampai di kantor, Riana langsung menghampiri meja Susi yang bekerja sebagai resepsionis, "Halo, Susi." Riana menyapa Susi dengan ramah.


Susi senang sekali mendengar suara Riana yang renyah itu, "Selamat siang, Bu Riana. Apa kabar?"


Riana memeluk Susi, "Kabar baik, nanti kita berkumpul di sini ya ! Kumpulkan teman-teman grup kita. Aku sudah siap dalam melaksanakan misi kita, lokasi awal di warteg dekat kantor sini saja. Aku sudah minta izin Bos, jadi tenang saja ya!"


Susi mengerti, "Siap, laksanakan, Bu Riana!"


Riana tersenyum senang lalu bersalaman khas grup mereka.


Ranto yang sedang menunggu Riana berbincang dengan karyawannya itu tersenyum lalu bertanya kepada Riana yang kini sudah berada di sampingnya, "Petualangan apa yang sedang kamu rencanakan kali ini, Riana sayang?"


Riana tersenyum, "Rahasia."


Mereka sudah sampai lift, Ranto bertanya, "Masih tidak mau memberitahu aku apa yang akan kamu lakukan bersama grup Bolang kamu?"


Riana menoleh, "Haruskah?"


Ranto mencium tangan Riana, "Harus."


Riana tertawa kecil, "Kamu selalu memaksa ya, sayang. Tapi aku agak lama makan siang dengan mereka karena aku ingin berbincang dengan mereka. Aku minta izin, ya?"


Ranto mengangguk, "Hari ini mereka bawahan kamu, Riana sayang."


Riana sekarang sudah ada di warteg depan bersama grupnya, "Pemberontak Bos Galak."


Riana bertanya kepada Susi, "Susi, apa kamu sudah memesannya sesuai perintah aku?"


Susi menjawab dengan tegas, "Siap, Bu Riana."


Riana lalu memerintahkan beberapa anggota grupnya tetap berada di warteg itu untuk mengecoh para bodyguard agar mereka merasa Riana masih berada di dalam warteg karena para bodyguard itu hanya berada di luar warteg tersebut.


Lalu dia dan anggota lainnya berangkat melalui pintu belakang warteg untuk menyelesaikan misi mereka hari ini yang sudah Riana perintahkan di chat grup tersebut.


Akhirnya tiba mereka di kawasan kumuh, Riana menyuruh anggota grup yang membawa makanan yang mereka bawa untuk dibagikan kepada mereka yang sudah mengantri.


Riana yang lelah duduk di sebelah Kinan, "Kamu sudah menghitung dengan benar sembako yang akan kita bagikan, Kinan?"


Kinan menjawab teman petualangannya itu, "Sudah, Bu Riana. Tadi nasi bungkus dari warteg depan sudah semuanya dibagikan. Sekarang Pak Hadi sedang mengatur barisan untuk membagikan sembako kepada mereka, Bu Riana."


Riana tersenyum senang, "Terima kasih, Kinan. Misi kita kali ini berhasil."


Kinan senang berada dekat dengan Riana, "Ibu Riana, saya senang sekali bisa berkenalan dengan ibu yang baik hati ini."

__ADS_1


Riana menoleh, "Tidak takut dipecat oleh Bos Ranto?"


Kinan menggeleng, "Kita nanti buka usaha baru saja bila memang dipecat oleh bapak."


Riana senang, "Iya. Aku senang bisa bekerjasama dengan kalian."


Mereka membagikan sembako dengan lancar, namun mereka kehujanan jadi harus berteduh dahulu untuk sementara waktu menunggu hujan reda.


Riana melihat kerumunan orang sedang mengarahkan pandangannya arah sungai, "Ada apa, Pak?"


Sementara itu Ranto baru selesai memberi arahan kepada para manajer yang akan ditempatkan di perusahaan barunya. Dia melihat Riana belum ada di ruangannya.


"Angga, hubungi bodyguard Jojo untuk membawa Riana ke sini. Dia sudah terlalu lama berada di warteg itu."


Angga segera menghubungi Jojo, kepala pengawal Riana, "Apa? Aku tidak mau tahu, cari sampai dapat!"


Ranto gusar mendengar Angga berteriak kepada Jojo melalui telepon selulernya, "Ada apa, Angga?"


Angga terdiam, "Riana dan sebagian karyawan hilang. Hanya beberapa yang masih berada di dalam warteg."


Ranto menggebrak meja, "Bisa tidak mereka menjadi bodyguard!"


Angga melihat GPS, "Apa Riana hari ini tidak mengenakan pakaian kamu sewaktu pergi?"


Ranto menggeleng, "Aku belum sempat memberikannya."


Ranto dan Angga langsung menuju ke warteg dekat kantor mereka, "Di mana kesayanganku!"


Ranto membentak karyawannya yang tidak sedikitpun mau bicara dengan Ranto.


Angga menarik sahabatnya itu keluar sebentar dari warteg untuk bersiasat menghadapi grup Bolang Cantik, "Pimpinan mereka saat ini adalah Riana. Mereka akan setia kepada Riana dengan cara menutup mulut mereka seperti yang diperintahkan oleh Riana. Tampaknya Riana sudah merencanakan petualangan kali ini dengan matang. Bicara mengenai keselamatan Riana baik-baik dengan mereka, aku yakin mereka akan mengutamakan keselamatan Bolang cantikmu itu sebagai pimpinan mereka."


Ranto mengerti, "Baiklah,"


Angga dan Ranto menemui mereka kembali ke dalam warteg, "Kalian tahu mengapa aku memberi banyak pengawalan untuk pimpinan grup kalian itu?"


Mereka menggeleng. Tanda tidak tahu.


Ranto berbicara dengan nada suara yang pelan walaupun dia sebenarnya sedang kesal, "Karena banyak bahaya mengintai dirinya. Dia pernah di culik oleh sebagian orang yang tidak menyukainya. Jadi penting baginya untuk mendapatkan pengawalan. Kalian tidak mau bukan bila pimpinan kalian yang cantik dan baik hati itu harus menghadapi bahaya sendirian? Kalian mengerti?"


Pak Ridwan yang bertugas sebagai kepala team di warteg lalu angkat bicara, "Bu Riana menyuruh kami menunggu di sini sampai dia kembali. Dia bersama Kinan dan anggota lainnya sedang membagikan makanan siap saji dan sembako serta sedikit uang yang kami kumpulkan kepada orang yang yang kurang beruntung di daerah belakang perkantoran ini."


Ranto mengerti, "Baiklah, terima kasih atas kerjasamanya. Kami akan mencari Riana. Kalian kembali ke kantor!"


Pak Ridwan menahan Ranto, "Tapi, Bu Riana menyuruh kami menunggu di sini ."


Angga sebenarnya ingin tertawa, namun ditahannya, "Ya sudah, kalian menunggu Bolang Cantik, pimpinan kalian yang sedang berpetualang itu!"


Ranto dan Angga mencari Riana ke area pemukiman kumuh yang ditunjukkan oleh Pak Ridwan.


Ranto dan Angga serta para bodyguard mencari Riana.


Ranto melihat beberapa warga masih berkumpul di pos hansip berlindung dari guyuran hujan yang masih menetes walau tinggal sedikit.


Mereka memegang sembako serta amplop berwarna coklat, "Itukah warga yang diberikan bantuan oleh kesayangan aku, Angga?"


Angga melihat ke arah yang ditunjuk oleh Ranto, "Ayo, kita tanyakan kepada mereka."


Angga bertanya kepada salah satu dari mereka yang sedang membuka amplopnya, "Apakah kalian melihat rekan kami yang memberikan sembako kepada kalian hari ini?"


Warga yang ditanya tersenyum, "Riana?"


Ranto tersenyum, bahkan mereka tahu nama kekasihnya itu.


Warga lain menjelaskan, "Riana sudah 6 tahun lalu semenjak dia SMA selalu rutin ke sini setiap bulan membawa beberapa teman sekolahnya saat SMA dan saat kuliah membawa teman mahasiswanya yang semuanya orang kaya namun kali ini membawa pasukan karyawan."


Angga terkejut, "Aku tidak mengetahui perihal ini. Tampaknya Riana tidak ingin kebaikannya di ketahui orang banyak."


Ranto tersenyum bangga dengan kekasihnya itu, "Aku tidak salah pilih calon istri bukan?"


Angga mengacungkan jempol, "Riana yang terbaik."


Ranto bertanya kepada warga, "Jadi, kemana perginya sekarang kesayangan saya, Pak?"


Warga itu tertawa, "Jadi, kamu pria galak kekasih Riana. Dia sering bercerita banyak tentang pria yang dicintainya setengah mati yaitu kamu."


Ranto tersenyum lebar, "Dia bercerita tentang diriku?"


Warga itu menganggukkan kepalanya, "Riana tadi pulang lewat pinggir sungai di depan kampung ini. Dia mengatakan masih harus membagi sembako di area sekitar sana."


Ranto segera mengajak Angga mencari Bolang Cantiknya yang sedang berpetualang. Hujan sudah mulai reda.


Angga melihat warga berkerumun di pinggir sungai, "Ada apa, Pak?"


Salah seorang warga yang berkerumun menjawab, "Kami sedang melihat bidadari."


Ranto tertawa, "Sejak kapan bidadari ada di pinggir sungai seperti ini?"


Lalu warga itu menunjuk ke arah sungai, "Itu di sana. Bidadari dari surga yang sedang menyelamatkan seorang bocah yang terbawa arus sungai karena terpeleset."


Ranto dan Angga mengarahkan pandangannya ke arah yang ditunjuk.


Dan seketika Ranto berteriak panik, "Riana!"


💘♥️💘♥️💘

__ADS_1


Follow Instagram 📝✍️ dee.reeana.24


__ADS_2