Cinta Itu Berat

Cinta Itu Berat
Chapter 46 ( Tanda Terima Kasih )


__ADS_3


Angga meletakkan berkas itu dihadapan Kinan, "Menikahlah denganku! Aku menyukaimu semenjak kamu tiba di perusahaan ini dan sampai detik ini perasaan itu tidak pernah berubah bahkan menjadi lebih menyukai kamu. Sangat menyukai kamu, Kinan. Aku sangat menyukai kamu dengan semua yang ada di diri kamu. Semuanya tanpa terkecuali."


Kinan terdiam sambil menatap mata Angga, rekan kerjanya itu, mencoba mencari kejujuran dan ketulusan di dalam sana.


Angga meraih kedua tangan Kinan hingga berkas yang dipegangnya terjatuh, "Aku hanya orang sibuk yang sayang dengan sahabatku dan mengurus segala keperluannya hingga tidak sempat untuk meraih cintaku selama ini. Aku hanya bisa menyukai, menyayangi dan mencintaimu dari jauh. Memantau segala hal yang dilakukan oleh calon ibu dari anak-anakku, yaitu kamu, Kinan."


Kinan mulai meneteskan air matanya, "Angga...."


Angga mengusap air mata di sudut mata Kinan dengan lembut, "Sekarang, aku senang sahabat aku itu sudah ada yang mengurus semua keperluannya dan hanya memerlukan bantuan dari aku sedikit saja. Aku rasa inilah saat yang tepat untuk meraih cinta yang selama ini aku simpan baik-baik dan aku jaga tanpa melihat cinta dari wanita lain."


Kinan malah makin terisak, "Angga...." Hanya itu yang bisa Kinan ucapkan.


Angga menekuk satu kakinya dan menggunakan lututnya sebagai tumpuan sambil memegang tangan kanan milik Kinan, "Aku mencintai kamu, Kinan Raharja. Sangat mencintai kamu dengan segala kelebihan dan kekurangan kamu. Menikahlah denganku yang hanya bisa menawarkan segudang cinta untuk mengarungi kehidupan sampai kita menua nanti."


Kinan mengangguk, "Aku bersedia menerima segudang cinta yang kamu tawarkan itu. Aku juga memiliki segunung cinta untuk kamu, Angga. Semenjak kamu sering menolongku menghadapi bos yang juga sahabatmu yang galak itu."


Angga mencium tangan Kinan dengan lembut dan langsung berdiri memeluk Kinan dengan erat, "Apa kamu mau aku menyiapkan pernikahan kita dalam semalam, Kinan?"


Kinan memukul pelan dada Angga, "Aku bukan Riana!"


Angga tertawa, "Tentu saja bukan, bila kamu Riana dan aku memeluk seperti ini, sudah habis aku oleh sahabat aku yang galak itu."


Angga dan Kinan saling tersenyum sambil menyelesaikan pekerjaan yang ada. Tak lama para anggota grup sudah datang dan membantu mereka.


Sementara itu di apartemen sepasang kekasih...


"Sayang, kamu makan dulu ya. Tadi aku sudah memesan makanan." Ranto mengusap lembut pipi Riana.


Riana yang sedang memeluk Ranto menjawabnya, "Kamu pasti memesannya sangat banyak."

__ADS_1


Ranto meraih gadgetnya di atas meja, "Aku ingin kamu sehat, Riana."


Ranto membaca beberapa pesan penting, salah satunya dari Angga. Dia mendekap erat tubuh Riana sesudah membaca pesan itu.


Riana yang belum berpakaian itu bertanya, "Ada apa sayang, kenapa kamu seperti itu?"


Ranto mengusap rambut Riana dengan sayang, "Angga sedang memindahkan berkas-berkas ke perusahaan baru. Keluarga aku sudah mengetahui soal pernikahan ini dan marah dengan cara menarik semua hal yang berkaitan dengan perusahaan."


Riana membalas pelukan Ranto, "Maafkan aku, bila karena menikah dengan aku maka keluarga kamu menjadi marah."


Ranto mengusap lembut tangan Riana yang mengusap dadanya, "Aku sudah memikirkannya, aku hanya menginginkan kamu tidak mau yang lain, Riana. Aku tidak akan mau menerima wanita yang dijodohkan oleh keluarga aku. Hanya kamu, Riana. Hanya kamu yang aku mau." Ranto mendekap erat wanita kesayangannya itu.


Riana merasa bersalah, "Tapi aku membuatmu bangkrut."


Ranto tertawa miskin, "Aku membangun perusahaan baru yang jauh lebih besar daripada itu, Riana. Dan itu atas nama kamu. Semua properti dan harta aku sudah aku alihkan menjadi atas nama kamu. Aku ini sekarang hanya pria miskin, Riana. Apakah kamu tidak suka pria miskin seperti aku ini?"


Riana membuka selimut yang menutupi tubuhnya, "Suamiku yang miskin! Aku rela memberikan semuanya hanya padamu, terimalah tanda terima kasihku padamu yang telah mengorbankan segalanya untuk diriku yang sekarang kaya raya. Aku akan selalu mencintai kamu." Riana langsung menghampiri suami tampannya itu dan membuat siang hari yang panas semakin panas sampai mereka bermandikan keringat di ruangan yang dingin.


Ranto tersenyum kecil melihat istrinya yang sekarang kaya raya itu tertidur karena kelelahan. Dia menyukai permainan istrinya di hari pertama mereka menikah. Melayani dirinya sampai dia jatuh tumbang sendiri. Tak percuma rasanya mengorbankan semuanya demi mendapatkan wanita seperti Riana.


"Semua sudah siap sore ini, tinggal kamu serahkan saja semuanya. Aku sudah berada di perusahaan baru sekarang membawa semua hal yang penting." Angga menjawabnya.


Ranto tersenyum sedikit, "Baiklah. Kita berjuang lagi, Angga!"


Angga yang sedang bersama Kinan tersenyum sambil menjawab telepon dari sahabatnya itu, "Tapi yang pasti kita berjuang bukan dari nol!"


Ranto tertawa kecil, "Baiklah, kalau begitu aku ralat kata-kata yang baru saja aku ucapkan. Kita melesat Angga hingga ke batas cakrawala!"


Angga tertawa di seberang sana, "Tentu saja itu yang benar, melesat tinggi!"


Ranto menarik nafasnya sebelum mengucapkan sesuatu, "Dalam semalam, Angga!"

__ADS_1


Angga tersenyum kecut sekarang, "Kamu ini!"


Ranto tertawa bersama Angga di sambungan telepon.


"Bagaimana, Riana? Aku tidak mendengar suaranya." Angga menanyakan kabar Riana.


Ranto melihat ke arah istrinya yang sedang tertidur pulas, "Dia sedang tidur."


Angga tertawa, "Aku yakin kamu tidak membuatnya bisa tidur dari semalam. Kamu terlalu menginginkannya."


Ranto menjauh sedikit takut Riana terbangun, "Ya, aku terlalu menginginkannya. Sampai tidak punya keinginan lagi selain dirinya. Aku terlalu mencintainya, Angga."


Angga mengerti sahabatnya itu, "Kalau begitu, jaga dia agar dia selalu tetap berada di sisi kamu. Beri dia cinta yang kamu punya. Dan ingat jangan buat dia menangis!"


"Laksanakan!" Ranto bercanda.


Angga mengingat satu hal, "Kamu sekarang adalah seorang pria miskin apa Riana tahu akan hal itu?"


"Dia sudah tahu, aku sudah tidak punya apa-apa. Aku miskin dan dia kaya raya. Tapi dia malah menyerahkan banyak cinta kepadaku tadi." Ranto mengingat kegiatannya dengan Riana.


"Banyak cinta?" Angga tidak mengerti.


Ranto menjawabnya, "Iya. Dia menyerahkan dirinya beserta seluruh kemampuannya sebagai seorang istri sampai dia kelelahan."


Angga kini mengerti maksud sahabatnya itu, "Habis Riana sama kamu bila dia menyerahkan dirinya sendiri. Tanpa dia harus menyerahkan dirinya kamu pasti menghabisinya."


"Sudahlah. Kamu ini belum menikah, Angga. Tidak boleh berbicara seperti ini!" Ranto mengingatkan.


"Aku juga akan menikah secepatnya." Angga memberitahu.


Ranto menggoda Angga, "Siapa wanita yang sedang khilaf itu?"

__ADS_1


Angga tertawa mendengarnya, "Kinan, anak buah kamu."


Ranto sekarang yang tertawa, "Dia bukan anak buah aku, Angga. Dia anggota grup istriku. Bisa repot meminta izinnya. Sebaiknya kamu persiapkan dirimu menghadapi istriku!"


__ADS_2