Cinta Itu Berat

Cinta Itu Berat
Chapter 53 ( Lagu Cinta Untukmu )


__ADS_3

Angga mulai pendakian saat itu juga


Riana yang menerima kiriman pesan untuk membuka kiriman video begitu terkejut, "Sayang!"


Dia meneteskan air mata melihat kekasih halalnya mencarikan bunga yang dipetik langsung dari gunung tanpa menggunakan uang.


Hadiah kecil.


Suaminya sedang mencari hadiah kecil untuk dirinya. Kalau sudah seperti ini bagaimana dia bisa pergi kuliah ke luar negeri meninggalkan suami yang begitu mencintainya.


Riana menghubungi Kinan sambil terus melihat video yang disiarkan secara langsung oleh Angga. Tampak di sana, suaminya sangat menikmati kebersamaan dengan Angga.


"Kinan, kamu lama sekali!" Riana menyambut Kinan yang datang cepat.


Padahal Kinan sudah sangat cepat.


Tampaknya Kinan sama seperti Angga, yang harus banyak bersabar menghadapi pasangan yang begitu repot akan cinta yang mereka miliki.


"Kamu sudah membeli semua perlengkapan naik gunung yang terbaik sesuai pesanku?" Riana menarik tangan Kinan yang penuh belanjaan.


"Sudah. Ini semuanya." Kinan meletakkan tas belanjaannya yang banyak.


Riana mengeluarkan semuanya, "Baiklah. Ayo kita bersiap, Kinan!"


Kinan yang masih lelah karena baru saja datang tampak terkejut, "Maksudnya?"


"Kamu itu kenapa tidak mengerti!" Riana tampak sibuk menyiapkan semua bekal dan peralatannya.


Kinan hanya menatap Riana yang sedang sibuk, "Saya memang tidak mengerti, Bu Riana."


Riana menatap Kinan, "Mulai sekarang kamu panggil saya dengan nama saya saja, Kinan!"


"Baik, Bu...." Kinan menjawab


"Riana. Hanya Riana!" Riana membentak Kinan.


Emosi karena melihat suaminya pergi naik gunung tidak mengajaknya.


"Jadi, saya mesti berbuat apa, Riana?" Kinan masih merasa bingung.


"Pakailah ini, kita akan menyusul kekasih kita yang sudah meninggalkan kita, Kinan!"


"Memangnya pergi kemana, bos besar?" Kinan mengganti pakaiannya dengan pakaian khusus pendaki gunung.


"Ini." Riana memberikan gadget terbarunya.


Kinan melihat video siaran langsung itu, dan langsung berteriak, "Angga!"


Riana tertawa, "Reaksi yang sama dengan diriku."


Kinan mempercepat persiapannya, bahkan lebih cepat dari Riana.


Riana menjadi heran, "Kenapa kamu terburu-buru seperti itu, Kinan?"


Kinan menahan emosinya, "Angga pernah cerita kalau dia hampir terjatuh dari gunung karena hendak mengambil bunga edelweiss untuk mantan kekasihnya. Dan dia kemarin baru bertemu dengan mantan kekasihnya itu."


Riana memegang tangan Kinan, "Tahan emosi kamu, Kinan. Kamu cemburu."

__ADS_1


Kinan mengangguk, "Sangat cemburu."


Riana bingung bagaimana cara menenangkan Kinan.


"Sudahlah. Ayo kita berangkat." Riana tampak sudah bersiap.


Riana memakai salah satu mobil barunya hadiah kecil dari suaminya yang kurang kerjaan itu.


"Kinan, pantau terus kegiatan mereka!" Riana memberikan perintah sambil menyetir.


"Mereka sedang membuat tenda untuk bermalam. Lalu kita sampai di sana jam berapa, Riana?"


"Diam, duduk dan awasi mereka!" Riana dalam mode bossy.


Kinan mengangguk, "Siap...Bu Bos!"


Riana menginjak pedal gas dalam-dalam untuk memaksimalkan kecepatan kendaraan mewah bertenaga kuda itu.


Kinan hanya bisa berdo'a dalam hati.


Dan Kinan seketika ingin cepat menikah.


"Angga, kamu makanlah ini! Aku buatkan ini khusus untuk kamu." Ranto memberikan semangkuk mie rebus kepada Angga.


Angga tersenyum, "Baiknya sahabat aku."


"Aku adalah sahabat terbaik kamu, jadi kamu harus bersyukur memiliki sahabat seperti aku ini." Ranto makan mie rebus dengan lahap.


"Yakin, kalau kamu adalah sahabat terbaik aku?" Angga tersenyum meledek.


"Satu-satunya dan terbaik!" Ranto tertawa.


Mie rebus di mangkuk plastik Ranto sudah habis, "Aku tahu kalau aku adalah sahabat yang paling banyak merepotkan kamu, Angga."


Ternyata selama ini Ranto menyadari perbuatannya yang sering merepotkan Angga.


"Maaf dan terimakasih."


Kata singkat dari Ranto membuat mie rebus terasa pedas hingga membuat air mata Angga menetes.


Ranto langsung meledek Angga, "Cengeng!"


Angga mengacungkan jari tengahnya, "Awas kamu! Suami takut istri!"


Mereka tertawa berdua .


Salah.


Bukan berdua.


Banyak pengawal Ranto yang ikut.


Puluhan orang.


"Angga, kira-kira Riana seperti apa ya jika memakai lingerie?" Ranto mulai memetik gitar.


Angga tertawa, "Yang pasti sexi."

__ADS_1


"Jangan membayangkan istriku!" Bentakan suami posesif.


"Kenapa bertanya kepada aku jika tak ingin aku membayangkannya!" Angga tak habis pikir dengan sahabatnya ini.


"Sudahlah! Kamu berisik!" Ranto mulai berkonsentrasi.


"Apa kita masih direkam?" Ranto bertanya.


Angga mengangguk, "Masih dan siaran langsung."


Ranto menarik nafas menghadapi ide sahabatnya ini, "Riana.... terimalah lagu ini sebagai wujud rasa cinta aku kepada kamu... aku tak tahu lagi mesti bicara dengan kamu, tapi yang pasti aku sangat mencintai kamu sepenuh hatiku dan segenap jiwaku.. terimalah ini sebagai hadiah kecil dari aku, suami kamu.... aku cinta kepada kamu, Riana...istri kesayanganku."


Ranto melantunkan lagu penyanyi terkenal,


"Terimalah lagu ini.... dari orang biasa...tapi cintaku padamu luar biasa.... aku tak punya bunga.....aku tak punya harta.......yang ku punya hanyalah hati yang setia...tulus padamu..."


Terdengar tepuk tangan keras dari arah pepohonan.


Pengawal Ranto langsung waspada.


Ranto meletakkan gitarnya, "Siapa di sana?"


Riana dan Kinan serta kelompok pendaki gunung yang dipaksa oleh mereka untuk menuntun mereka berdua lewat jalan tercepat langsung keluar dari pepohonan.


Ranto sungguh tidak menyangka, "Riana!"


Angga juga tak kalah terkejutnya, "Kinan!"


"Jadi...apa lagu itu kamu nyanyikan khusus untuk aku?" Riana mendekati suaminya yang memakai jaket tebal.


Ranto mengangguk sambil tersenyum penuh cinta, "Tentu saja sayang, aku bernyanyi khusus untuk kamu, wanita yang aku cintai sepenuh...."


Kalimat Ranto langsung terpotong oleh hisapan bibir Riana yang langsung menerjangnya tanpa memperdulikan sekitar.


Sebagai suami yang sedang dihukum, tentu saja Ranto tak melewatkan kesempatan emas ini.


Dia langsung membalas hisapan itu sambil memeluk istrinya penuh rasa rindu. Menyalurkan rasa cinta lewat hisapan bibir masing-masing.


Para pendaki, Kinan, Angga dan para pengawal langsung balik badan..


Angga mengajak mereka untuk membuat api unggun yang baru...


Tenda pun sudah dipindahkan karena tampaknya akan ada banyak suara desahan laknat dari dalam tenda Ranto dan Riana yang akan mengganggu pendengaran mereka malam ini.


"Sayang..." Riana mulai membuka kancing jaket milik suaminya lalu mengelus bulu halus yang tumbuh di dada suaminya itu.


Ranto yang sedang menciumi tubuh istri menjadi lebih bergairah, "Riana... Apa kamu tahu akibatnya jika melakukan ini kepada diriku?" Ranto memegang tangan Riana yang mengusap bulu dadanya.


Riana yang sedang bahagia karena mendengar pernyataan cinta dari suaminya ditambah hadiah lagu langsung mengangguk, "Kita buat keponakan yang banyak biar Angga dan Kinan menjadi tambah repot sayang.." Riana mengatakan itu sambil melepas jaketnya menunjukkan suatu balasan hadiah untuk suaminya.


"Riana.." Senjata Ranto langsung siap berperang.


"Apa kamu suka balasan hadiah dari aku, Sayang?" Riana menciumi wajah suami kesayangannya itu.


Ranto menelan ludah melihat Riana memakai lingerie berwarna putih sesuai warna kesukaannya, "Suka..kamu terlihat sexi, Riana..oh sayang...aku sudah tidak dapat menahannya."


Angga benar.

__ADS_1


Desahan laknat terdengar dari dalam tenda biru itu.


Dan Angga harus bermain gitar bergantian dengan para pengawal sepanjang malam agar desahan itu tidak terdengar dengan jelas oleh para pendaki gunung yang mengantar Riana dan Kinan.


__ADS_2