Cinta Merah Jambu

Cinta Merah Jambu
Sebuah Pengakuan


__ADS_3

Pagi itu Yuli membocorkan jauh ke sosok yang sudah dikenal selama ini, mas Bagus dan Dina melintas penuh mesra dengan tas berisi sayuran belanja mereka di pasar tradisional. Wajah dan senyum mereka membiaskan kesegaran aura-aura pengantin anyar. Aura mereka membiaskan bayang-bayang cumbu rayu semalam, yang kini menyelinap begitu saja dalam angan. Bayang-bayang itu menyayat perih hati Yuli yang sedang terbakar api kecemburuan. Meski setahun yang lalu Yuli juga pernah mengalami peristiwa malam pertama dengan mas Budi suaminya di hotel tepi pantai. Tapi ketika Yuli melihat kemesraan Mas Bagus dengan Dina, Yuli seakan begitu berat merelakan mas Bagus untuknya. Kata-kata indah mas Bagus dalam suratnya masih berbekas keyakinan hanya Yuli lah yang selama ini masih mas Bagus nantikan. Seberkas mereka di balik sinar mata Yuli terbesit pengakuan, tiada pernah Yuli miliki rasa cinta serta rindu selain cinta dan rindu kepada mas Bagus yang selama ini masih bersemayam. Mata Yuli tiba-tiba terasa hangat, tak terasa air mata pun jatuh menetes di pipi. Waktu seolah begitu cepat berlalu sehingga mas Bagus begitu cepat mencari pengganti. Yuli suka tak percaya dengan semua kenyataan yang terjadi begitu saja, walaupun mas Bagus belum mendengar pengakuan cinta tersembunyi. Tak mungkin secepat itu mas Bagus menjadikan Yuli sebagai kenangan mimpi. Rindu di hati kini mengganggu lamunan Yuli, hingga ia ingin memanggil mas Bagus agar ia mau kembali tapi mulut Yuli mendadak terkunci. Pelukan terakhir penuh dendam ketika mas Bagus hadir dalam pernikahan, air mata cinta mengalir penuh rasa haru serasa baru kemarin mas Bagus masih bersamanya. Sepeda motor yang mas Bagus kendarai kini telah hilang di balik rimbun pepohonan meninggalkan Yuli yang terbakar api cemburu.


Keesokan hari mentari bersinar lagi, ramai para pedagang dan pembeli yang memenuhi pasar membuat Yuli terpaksa jalan kaki untuk menuntun sepeda mini dengan keranjang berisi sayur selepas belanja untuk keperluan dapur pagi. Sesosok pria tampan duduk di atas motor yang bersandar di area parkir depan pasar itu tak berkedip memandangi Yuli dari kejauhan. Pesona cantik wanita berkulit kuning langsat dengan bulu mata lentik itu hadirnya memang kerap mengundang rasa kagum setiap pria yang memandangnya. Wanita itu terus saja melangkah meninggalkan keramaian pasar, semakin dia mendekati bibir jalan. Pria yang duduk di atas motornya semakin dibuatnya terkesima. Bentuk tubuh dan gaya jalannya masih sama seperti yang dulu, ranum wajahnya kian memancar sinar kematangan Yuli sebagai kaum hawa. Bagus yang masih tak berkedip di atas motor yang bersandar itu kian berdebar jantungnya kala Yuli kian mendekat ke bibir jalan di sampingnya. Keramaian dan lalu-alang banyaknya manusia di teras pasar dan kendaraan umum yang melintas di jalan raya, membuat Yuli tak menyadari kalau sepasang mata mas Bagus sedari tadi sedang memperhatikan dirinya.


Ketika Yuli menghentikan langkah dan bersiap diri untuk kayuh sepeda, tiba-tiba seseorang memanggil namanya. "Yuli... bagaimana kabarnya?" panggil mas Bagus dari kejauhan.

__ADS_1


Yuli kesiap menoleh ke sumber suara, tampak mas Bagus tersenyum manis menyapa dirinya. "Eh... mas Bagus... saya kira siapa?" ucap Yuli diiringi senyum mengembang di bibir manisnya.


"Alhamdulillah kabar saya baik mas." lanjut Yuli berucap.


"Kok ke pasar sendirian... kenapa dek Yuli tidak minta diantar saja sama suami?" tanya Bagus lagi.

__ADS_1


"Oh begitu...." ucap Bagus diselingi angguk paham.


"Lama tak jumpa dengan dek Yuli... kini disaat kita jumpa kembali, wajah dek Yuli makin tambah cantik." puji mas Bagus jujur.


"Ah, mas Bagus ini bisa saja." jawab Yuli sipu.

__ADS_1


"Sudah ya mas, Yuli balik dulu." pamit Yuli seiring kayuh sepeda pergi. Bagus mengangguk pelan seiring senyum mengembang melepas Yuli untuk kembali.


Lima belas menit kemudian, Dina istrinya kini datang menghampiri mas Bagus yang duduk menanti di area parkir motornya. Tas berisi keperluan dapur, Bagus taruh di atas tangki motornya. Motor King yang mereka tumpangi kini melaju meninggalkan keramaian pasar, angin pagi menerpa tubuh mereka dari kesegaran. Dina duduk di belakang punggung mas Bagus yang kekar, tangan Dina melingkar erat. Pipinya sandar di punggung mas Bagus yang hangat, kesegaran yang mas Bagus berikan semalam masih melekat dalam benak. Motor yang mas Bagus kendarai terus melaju, ulas senyum perjumpaan dengan Yuli menjadi rahasia mereka di saat bulan madu.


__ADS_2