
Pada seratus hari masa kepemimpinan Yuli sebagai kades, dia lalu mulai membangun tempat wisata. Dalam proses pembangunan tempat wisata desa, ada saja krikil-krikil kecil yang cukup mengganggu konsentrasi Yuli dalam bekerja. Hal tersebut disebabkan adanya suara-suara dari beberapa warga yang menganggap keputusan Yuli membangun waterpark/wisata desa adalah kurang tepat adanya. Mereka mengatakan “di pelosok desa seperti ini, mana ada orang yang mau berwisata.”
Meski nada miring dari mereka kerap menggema, namun Yuli tetap tenang dalam menanggapi cibiran sebagian warga. Bagi Yuli, keputusan hasil musyawarah bersama anggota BPD dan tokoh-tokoh masyarakat untuk membangun ekonomi di desa, harus tetap dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Kerja dan kerja adalah cara terbaik Yuli untuk menjawab keraguan sebagian warga.
Satu tahun kemudian
Di tahun pertama kepemimpinan Yuli sebagai kepala desa, integritas Yuli sebagai kepala desa mulai tampak di mata khalayak warga. Dua buah kolam renang untuk anak-anak dan dewasa yang dikelilingi aneka wahana permainan berhasil ia bangun dengan sangat indahnya. Destinasi wisata baru tersebut, kini menjadi ujung tombak Bumdes untuk mendongkrak pertumbuhan perekonomian desa.
Seiring waktu, destinasi wisata desa tersebut, kian ramai dikunjungi para wisatawan dari berbagai daerah lainya. Dan membludaknya wisatawan mengunjungi wisata desa, biasanya terjadi pada setiap akhir pekan yakni sabtu, minggu dan saat hari libur sekolah. Moment akhir pekan dan hari libur nasional tersebut seolah menjadi masa panen bagi Bumdes, sebab pada hari tersebut banyak sekali wisatawan yang mengunjungi wisata desa. Selain pemotor, banyak juga rombongan mobil dan bus yang membawa rombongan siswa-siswi sekolah taman kanak-kanak, sekolah dasar dan menengah juga berlibur ke tempat wisata tersebut.
__ADS_1
Harga tiket masuk wisata desa sebesar Rp.10.000;00 (sepuluh ribu rupiah) per orang, rupanya menjadi alternatif pilihan warga masyarakat dari desa lain berbondong datang berwisata di wisata desa. Trik dengan tarif tiket cukup murah, rupanya berhasil menyedot para wisatawan berjubal memenuhi wisata desa.
Akumulasi hasil dari penjualan tiket masuk ke tempat wisata, tiket parkir kendaraan, dan penjualan minuman dan makanan ringan di toko dan kantin-kantin milik Bumdes pun kian berlipat-lipat hasilnya. Di tahun pertama sejak dibukanya tempat wisata, laporan akhir tahun Bumdes sudah menghasilkan uang sisa hasil usahanya sebesar lima ratus juta. Sebuah hasil yang cukup memukau bagi desa yang baru merintis Badan Usaha Milik Desa lewat jalur wisata desa.
Alokasi sisa hasil usaha Bumdes sebesar 500 juta tersebut, 20 persen untuk pemerintah desa, 10 persen untuk fakir miskin, dan 30 persen untuk pengurus dan karyawan Bumdes, 30 persen untuk penambahan modal Bumdes, 10 persen sebagai dana cadangan dan pendidikan.
Mengingat Bumdes ingin mengembangkan jenis usaha baru, maka Yuli selaku kepala desa dengan legowo kemudian mengembalikan dana shu sebesar 20 persen tersebut kepada Bumdes. Dukungan Yuli kepada Bumdes rupanya tidak berhenti sampai disitu, ia bahkan siap menggelontorkan dana dari pemerintah desa untuk membuka cabang baru usaha Bumdes berikutnya.
Hal demikian tidak lepas dari peran Galih sang ketua Bumdes yang cukup pandai dalam mengatur mekanisme sewa. Dalam strategi sewa stand pujasera tersebut, Galih menerapkan strategi cukup jitu yakni: Setiap pedagang di pujasera dikenai uang sewa sebesar Rp. 100.000;00 (seratus ribu rupiah) per bulan. Dan sewa harian sebesar Rp. 15. 000;00 (lima belas ribu rupiah) untuk tiap pedagang yang berjualan di stand tersebut. Tapi bila pedang tersebut libur atau cuti berjualan, maka mereka tidak dikenai biaya sewa harian.
__ADS_1
Dengan model sewa tersebut, Bumdes malah bisa meraup keuntungan dua kali lipat dibandingkan dengan cara penyewaan stand pujasera secara tahunan.
Sebagai ketua Bumdes, Galih tidak hanya memikirkan soal keuntungan untuk desa semata, tapi ia juga memikirkan agar pujasera selalu ramai dikunjungi oleh para pembeli. Galih juga menerapkan strategi nonton film bersama di pelataran pujasera setiap akhir pekan sekali. Dalam hal ini Galih memanfaat proyektor dan layar lebar milik desa.
Selain film masa kini up to date saja yang Galih putar setiap minggunya, Galih juga kadang memutar film dengan tema perjuangan untuk membangkitkan para pemuda untuk selalu cinta akan bangsa dan tanah air Indonesia. Pada waktu-waktu tertentu, para pemuda dan warga juga cukup antusias menonton bola, baik kejuaraan Asian Games, la liga, copa bahkan piala dunia. Strategi yang Galih terapkan rupanya cukup berhasil, hingga para pedagang di pujasera pun bisa meraup hasil dua bahkan tiga kali lipat tiap kali ada festival nonton bareng tersebut.
Bumdes dengan ikon wisata desa dan pujasera, selain mampu meningkatkan pendapatan ekonomi desa, juga banyak menyerap tenaga kerja. Dan dengan terus meningkatnya program Bumdes, maka pemuda dan pemudi desa pun banyak yang bekerja di tempat wisata di bawah naungan Bumdes.
Meski tergolong baru, kaum ibu-ibu rupanya cukup lihai menjadi pedagang di pujasera. Apalagi ada banyak ragam pilihan menu makanan di pujasera yang mereka tawarkan, mulai dari soto, bakso, nasi bebek, nasi goreng, nasi pecel, sate kambing dan ragam minuman es coklat, kopi dan susu yang ditawarkan kepada para pengunjung yang ada. Dengan aktivitas perniagaan tersebut, perekonomian warga desa pun mulai meningkat tarafnya.
__ADS_1
Desa Sumber Balong kini kian ramai bak kota kecil dengan geliat kegiatan ekonomi di pujasera. Setiap pukul tiga sore hingga malam hari, semua lapak dagang di pujasera selalu dipadati oleh para pembeli. Hal demikian tidak lepas dari koordinasi ketua Bumdes kepada para pedagang agar mereka mau menjual menu makanan berbeda di pujasera. Banyaknya varian menu makan sesuai selera yang ditawarkan kepada para pengunjung, penjual di lapak pujasera pun hidup rukun tanpa adanya persaingan berarti.