
Sore itu, dengan ditemani mas Juni, Yuli mengunjungi kedua orang tuanya di Perumahan Puri Asri. Kedatangan mereka adalah untuk bersilaturahmi sekaligus minta doa restu perihal majunya Yuli sebagai calon kepala desa.
Setelah sejenak saling melepas rindu, Yuli lalu menyampaikan maksud kedatangannya kepada kedua orang tuanya. Mulanya bapak dan ibu terkejut sekaligus merasa ragu akan kemampuan anaknya yang hendak maju untuk mencalonkan diri sebagai calon kepala desa. Tapi setelah mereka mendengar keterangan dan alasan dari Yuli dan mas Juni, kedua orang tua Yuli pun akhirnya merestui keinginan Yuli tersebut.
"Sebagai ketua Badan Permusyawaratan Desa, mas Juni tentu dapat membantu mengarahkan Yuli dalam menentukan langkah untuk meraih segala asa demi kemajuan desa." Batin bapak dan Ibu Yuli.
Kehadiran Yuli dan mas Juni, kian menambah akrab saja antara bapak dengan mas Juni sang menantu. Mereka tampak akrab sekali dalam obrolan layaknya anak dan orang tua kandung saja. Sementara ibu, masih asik bercengkerama dalam canda dengan kedua cucunya yakni Putri Kusuma Aprilia dan Najwa Dwi Anjeli.
Setelah mendapat izin dan doa restu dari kedua orang tuanya, Yuli lalu izin kepada mas Juni untuk mengunjungi Lili dan Nana sahabat karibnya di komplek 'D' Perumahan Puri Asri.
"Jangan terlalu lama loh dik," pesan mas Juni kepada Yuli.
"Iya cuma sebentar mas," jawab Yuli.
Yuli lalu mengayunkan langkah.kaki menuju ke rumah Nana yang berjarak sekitar 70 meter dari blok 'C' tersebut. Sebentar melangkah, kini Yuli sudah tiba di pelataran rumah Nana di blok 'D'. Kedatangan Yuli yang tanpa kabar dan tiba-tiba tersebut, membuat Nana cukup terkejut.
“Oh My God..! Yuli, bagaimana kabarnya!” sambut Nana exited.
“Alhamdulillah, baik,” jawab Yuli sambil cipika-cipiki.
“Ayo, silahkan masuk,” ucap Nana seiring senyum mengembang dan melebarkan pintu rumah untuk Yuli.
“Monggo silahkan duduk,” lanjut Nana dengan senyum yang masih awet merekah di bibirnya.
“Bagaimana kabarnya Yuli? wah, makin tambah cantik saja kamu sekarang,” ucap Nana beruntun sesaat setelah Yuli duduk di sofa.
“Alhamdulillah, baik Na, kamu juga makin tambah cantik Nana.” jawab Yuli.
“Kamu sendiri, bagaimana kabarnya, lancar bisnis kue nya?” lanjut Yuli.
“Alhamdulillah, kabar saya juga baik Yul, bisnis kue nya juga lumayan,” jawab Nana.
“Sebentar ya,” ucap Nana sambil ngloyor ke dapur dan sebentar kemudian, Nana sudah kembali dan meletakkan tiga gelas orange juice di atas meja.
__ADS_1
“Ayo silahkan diminum orange juicenya Yul,” ucap Nana mempersilahkan.
“Lo, minumnya kok tiga?” timpal Yuli heran.
“Sebentar, biar saya panggilkan mbak Lili, dia pasti kaget melihat kamu disini.” ucap Nana sambil ngloyor menuju ke rumah Lili.
Tak lama kemudian, Nana kini sudah kembali bersama Lili sahabatnya, mereka kini bercengkrama dalam canda penuh tawa ria bak masa-masa sekolah SMA.
Nuansa keceriaan yang baru tercipta, mampu menghilangkan segala penat yang melanda Lili dan Nana sebagai seorang janda. Biar hidup mereka sudah berkecukupan harta, tapi sebagai single parents, Lili dan Nana juga kerap merindukan kembali akan canda dan kasih sayang dari sang suami yang telah lama tiada.
Kehadiran Yuli sahabat lama, ternyata mampu mencairkan kebekuan jiwa mereka yang sedang lara. Saling sapa dengan sahabat yang sudah sekian lama tak saling jumpa, mampu menciptakan canda dan tawa hingga membuat suasana menjadi ceria.
"Ini, ada sedikit oleh-oleh buat kalian,” ucap Yuli sambil menyerahkan 2 kantong plastik berisi buah mangga.
“Oalah…, kok ya repot-repot segala, pakai dibawain oleh-oleh juga, terima kasih lo Yul.” ucap Lili dan Nana.
“Ya, sama-sama. Kebetulan, kemarin lusa mang Ali petik buah mangga di halaman belakang rumah.” sahut Yuli.
“Ngomong-ngomong, katanya kamu sekarang sudah menikah lagi Yuli, apa benar?” lanjut Nana.
“Iya betul, saya sekarang sudah menikah dan punya suami lagi.” jawab Yuli sambil tersenyum.
“Lah mana suamimu, kok tidak diajak kesini?” tanya Lili tegun, seolah ada perasaan khawatir dalam benaknya.
“Suamiku, lagi menemani bapak di rumah,” jawab Yuli.
“Dengan kamu menikah lagi, apa kamu tidak khawatir, bila nanti tidak mendapat tunjangan honor (alm. mas Bagus) dari pemerintah?” tanya Nana yang sedari tegun dalam duduknya.
“Soal honor tunjangan alm mas Bagus, biarlah buat Diyah Ayu Pitaloka dan Najwa Dwi Anjeli, anak saya dan almarhum mas Bagus.” jawab Yuli.
“Ya walaupun katanya seorang janda dari pegawai negeri yang kemudian menikah lagi, itu katanya tidak akan mendapat honor tunjangan almarhum suami, tapi mau bagaimana lagi? Lah wong saya juga masih butuh kasih sayang dari pria sebagai suami.
Misalkan ada peraturan pemerintah yang melarang seorang janda pegawai negeri itu tidak boleh menikah lagi, kok ya rasanya kurang adil juga? Sebab, kita ini kan masih muda, anak-anak kita juga masih butuh perhatian, didikan dan kasih sayang dari sosok seorang bapak juga.” lanjut Yuli.
__ADS_1
“Berarti, kamu sudah siap menerima resiko, bila nanti tidak lagi mendapat honor/tunjangan alm suami?” tanya Lili.
“Siap, tidak siap, ya harus siap, soalnya saya mau maju mencalonkan diri sebagai kepala desa.” jawab Yuli keceplosan.
“What?! kamu mau mencalonkan diri sebagai kepala desa?!” ucap Nana dan Lili terkejut.
“Iya mbak Lili, mbak Nana, insya allah bulan depan, saya akan maju untuk mencalonkan diri sebagai calon kepala desa. Maka dari itu, saya minta doa dan dukungan dari mbak Lili dan Nana untuk saya yang akan maju sebagai calon kepala desa.” sahut Yuli.
“Wah gila kamu Yuli, apa kamu bisa?” tanya Nana sambil nyengir dan geleng-geleng kepala.
“Ya maka dari itu, Lili dan Nana doakan saya dong,” jawab Yuli sambil nyengir.
“Wah.. wah…, hebat kamu Yuli!” puji Lili dan Nana bersamaan seiring senyum bangga mengembang.
“Dapat ide dari mana sih, kok sampai kamu punya keinginan untuk maju dan mencalonkan diri sebagai calon kepala desa?” tanya Lili.
“Begini ceritanya,” Yuli lalu menceritakan sebab-sebab dirinya berminat untuk maju sebagai calon kepala desa.
“Oh…, jadi pak Seno selaku kepala desa yang dulu menjadi saingan almarhum mas Budi (suami pertama Yuli) ternyata lebih mementingkan diri, dari pada kepentingan masyarakat to.” ucapan Lili dan Nana paham.
“Bagus lah kalau memang Yuli sudah memantapkan diri untuk mengabdi di masyarakat, kami sebagai teman akan selalu mendukung dan mendoakan Yuli. Semoga niat mbak Yuli untuk mencalonkan diri sebagai kepala desa, diberi tuhan jalan kemudahan dan kesuksesan.” ucap Lili.
“Amin,” ucap Nana dan Yuli bersamaan.
"Sudah ya, saya tidak bisa lama-lama disini, sebab saya khawatir nanti anak sayang malah menangis," Pamit Yuli kepada Nana dan Yuli.
"Tapi kita masih kangen nih Yuli?" ucap Nana
"Lain kali disambung, dan kalau kalian ada waktu, sekali-sekali main dong ke rumahku," Sahut Yuli.
"Insa allah, lain waktu kami pasti main ke rumah kamu," Ucap Lili dan Nana saat hendak melepas kepergian Yuli sahabat semasa SMA.
"Oke, saya tunggu kedatangan kalian," ucap Yuli seiring senyum perpisahan yang sama-sama mengembang di bibir tiga sekawan tersebut.
__ADS_1