
Usai mas Bagus melaksanakan sholat isya 4 rakaat sendiri, ia lalu melangkah masuk menuju ke kamarnya Yuli sang istri. Begitu ia membuka kamar yang tak terkunci, seketika aroma harum wangi semerbak menerpa diri. Kamar berukuran cukup jembar dengan ranjang besar dan aneka hiasan dinding yang ada, membuat hati mas Bagus seketika terasa seperti sedang memasuki peraduan seorang putri raja.
Yuli yang cantik jelita bak boneka barbie, tampak sudah memejamkan mata dengan bantal guling dalam pelukan.
Entah sudah tidur atau pura-pura tidur, sebab Yuli (pengantin baru) itu masih sama-sama canggung karena diliputi rasa grogi.
Sementara Mas Bagus sudah melepas dan menggantungkan sarung juga baju kokonya di gantungan baju yang menempel pada dinding kamar, lalu mendekat dan duduk disisi Yuli yang terbaring di atas ranjang.
Sedetik kemudian, ia sudah mengangkat kedua tangan seraya berdoa sebelum memulai pertempuran. "Allahumma jannibna syaithon wa janibni syaitona fima rozaqtana waqina adzabannar." usai berdoa, mas Bagus lalu mengusapkan kedua telapak tangannya ke muka (wajahnya).
Mas Bagus lalu mencium kening Yuli sang istri yang sejak mula terpejam kedua bola mata indahnya.
__ADS_1
"Mas," ucap Yuli seraya membuka mata, saat menyadari kecupan pertama yang begitu empuk menggetarkan jiwa tiba-tiba mendarat di keningnya.
Mas Bagus hanya tersenyum, ia lalu mendaratkan ciuman berikutnya di pipi kanan dan pipi kiri Yuli sang bidadari.
Meski di awal pemanasan Yuli agak kelabakan karena mendapat serangan yang begitu mendadak, tapi ia masih sempat membaca doa juga sebelum serangan itu berlanjut lebih jauh dan lebih dalam lagi ke titik pertahanan terakhirnya.
Mas Bagus lalu meraih selimut tebal yang tergeletak di sisi ranjang kasur persis di samping Yuli yang terbaring pasrah seolah tak berdaya. Setelah menutup tubuh mulus Yuli, mas Bagus lalu mematikan lampu kamar dan menggantinya dengan lampu meja yang lebih temaram menambah indahnya romansa malam pertama.
Malam pertama yang begitu indah tak terkira, membuat mereka merasakan kesegaran manisnya madu yang baru direguknya. Tak ada malam yang indah melebihi indahnya malam disaat mereka berbulan madu di malam pengantin baru bersama bidadari yang selama ini menjadi pujaannya. “I love you sayang,” ucap mas Bagus kepada Yuli yang telah mempersembahkan harkatnya untuk suami tercinta.
Setelah membersihkan badan, kini Yuli kembali melingkarkan pelukannya di tubuh suami yang terbaring tak berdaya di sampingnya.
__ADS_1
Biarpun kehadiran mereka sama-sama bukan yang pertama (mereka sama-sama pernah membina rumah tangga), tapi kebersamaan mereka di awal malam setelah sah mengucapkan ikrar janji suci di depan penghulu, merupakan awal segalanya.
Malam pertama mereka, bak malam pertama pengantin baru antara bujang dan perawan saja, bahkan lebih indah dan lebih manis dari madu mongso yang belum pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Seperti petani yang memiliki banyak pengalaman dalam mengelola hasil kebun tanaman mereka. Buah hasil panen di kebun mereka (baik buah mangga, pisang, jambu bahkan kelapa muda) bila dimasukkan dalam karung goni/diimbu terlebih dahulu selama tiga hari maka rasa buahnya akan matang sempurna. Rasa buahnya lebih nikmat, manis sempurna terasa menggigit di lidah para penikmatnya.
Yuli yang selama ini hidup seorang diri sebagai janda, kini di awal malam pertamanya terasa kembali bak perawan saja. Kesepian yang dulu kerap menghinggapi malam-malamnya, kini mendadak berubah bahagia bak di hari lebaran saja.
Kesetian diri menjaga harkat seorang wanita, seumpama manusia yang telah menjalankan puasa ramadhan selama tiga puluh hari lamanya, saat hari lebaran tiba seumpama malam pertama sebagai pengantin saja, kebahagiaan pernikahan pun menyingsing di depan mata.
Mas Bagus pun seolah seperti sang kesatria yang baru turun gunung dari tempat pertapaannya, kekuatan dan kedigdayaannya, mampu membawa Yuli terbang lagi ke angkasa raya.
__ADS_1
Mas Bagus dan Yuli yang sekian lama hidup menduda dan menjanda mempertahankan harkat diri sesuai tuntunan agama yang menjadi pedoman hidup. Kini setelah mereka menikah melepas masa lajangnya sebagai duda dan janda, mereka seolah menikmati kembali masa bulan madu seperti perawan dan bujang saja.