Cinta Merah Jambu

Cinta Merah Jambu
Dia Datang


__ADS_3

Baru satu hari cinta mas Bagus dan Yuli kembali terikat, cincin permata biru yang tersemat di jari manis Yuli selaksa obat disaat mereka terpisah oleh jarak. Sehari saja tak melihat wajah mas Bagus, rindu di hati Yuli kian terasa kuat sehingga ia merasa waktu dan hari yang ada serasa berjalan sangat lambat. Jeda waktu satu minggu terasa lebih lama, sebab Yuli sedang menanti sebuah janji dari mas Bagus yang akan datang melamar dirinya dengan sebuah pinangan.


Di tempat lain, mas Bagus juga mengalami hal yang sama, mas Bagus yang baru mendapatkan cinta lamanya kembali, kini kian tak sabar menanti waktu untuk segera bisa datang ke rumah orang tua Yuli untuk meminang Yuli sang kekasih hati


Setelah tali kasih mas Bagus dan Yuli menyatu kembali, keesokan harinya, mas Bagus langsung mengunjungi kedua orang tuanya di desa. Kedatangan mas Bagus kali ini, selain untuk bersilaturahmi kepada orang tua, juga untuk meminta doa restu kepada mereka.


Setibanya mas Bagus di kediaman orang tua, ia disambut dengan ceria oleh ibu, bapak, adik dan kerabat keluarga. Setelah antar anak dan orang tua itu saling bertanya tentang kabar dan melepas rindu, mas Bagus lalu menyampaikan maksud kedatangannya yang tersimpan dalam benak kepada ibu dan bapak. Kedua orang tua mas Bagus, menyambut dengan sukacita maksud mas Bagus yang hendak menikah dengan Yuli mantan kekasihnya yang kini berstatus sebagai janda.


“Alhamdulillah, setelah dua tahun menduda, akhirnya nak Bagus bertemu kembali dengan seorang wanita sebagai calon istri.” ucap ibu sambil tersenyum.


"Itulah yang namanya jodoh nak Bagus, kalau sudah jodoh tak akan kemana, buktinya kamu dan dia kini saling bertemu juga, walaupun dia berstatus janda." ucap ibu lagi.


Bapak dan mas Bagus hanya bisa tersenyum saat mendengar ucapan ibu yang terasa menggelitik benaknya.


Mereka dengan senang hari memberi restu kepada mas Bagus yang ingin membina rumah tangga lagi untuk yang kedua kali. “Semoga dalam membina rumah tangga nanti, nak Bagus mendapat ridho dari tuhan, sehingga bisa hidup bahagia sepanjang masa.” doa ibu dan bapak yang diamini oleh mas Bagus dengan mantap sekali.


Setelah mendapat doa restu dari kedua orang tua, mas Bagus pun bisa pulang ke rumah dengan perasaan lega hati. Doa restu dari orang tua, membuat mas Bagus kian mantap saja untuk menyongsong masa depan bersama Yuli yang tinggal sebentar lagi.


Satu minggu kemudian.


Pagi itu, Dewi dan kedua orang tua mas Bagus dari desa kini sudah tiba di rumahnya mas Bagus dengan membawa aneka jajanan khas desa.


“Walah, ibu kok repot-repot segala sih bikin aneka jajan khas desa.” ucap mas Bagus kepada ibunya.


“Ya hanya jajan ini yang bisa ibu buat sebagai pelengkap bawaan kita, saat hendak datang ke rumah Yuli untuk melamar dia sebagai calon istri.” jawab ibu polos.


“Masa ibu bawa sekantong beras dan jagung dari kampung saat berkunjung ke rumah nak Yuli, kan tambah kurang pantas toh?” ucap ibu lagi.


“Maksud saya, soal jajan kan bisa saya beli di toko atau pasar-pasar terdekat, jadi ibu tidak perlu repot-repot bikin jajan segala.” ucap mas Bagus sambil tersenyum kepada ibunya.


“Kalau nak Bagus hanya membawa buah tangan hasil beli dari toko atau pasar, nanti ibu kan tidak bisa merasakan kesan indahnya sebuah lamaran.” jawab ibu lagi.


“Oh...,” ucap mas Bagus mengangguk paham.


Pukul sembilan pagi, mas Bagus, kedua orang tua dan Dewi adiknya lalu berangkat menuju ke rumah orang tuanya Yuli di komplek perumahan Puri Asri. Tiga puluh kemudian, mas Bagus dan keluarga akhirnya sampai juga di kediaman orang tua Yuli.


Saat melihat mas Bagus datang, Yuli yang telah lama duduk menanti, hampir saja langsung berlari kemudian meloncat ke atas pangkuan perut mas Bagus, bak seorang yang sedang memeluk pohon pinang dalam lomba memanjat di hari perayaan kemerdekaan atau agustusan yang penuh dengan kesemangatan. Tapi perasaan malu yang begitu halus menyelubungi jiwa Yuli, mampu menepis kuatnya kangen dan rindu yang bersemayam, sehingga Yuli dapat mengendalikan segala rasa lewat senyuman dan kata sambut penuh kemesraan.


“Mas,” ucap Yuli mesra sekali, saat ia menyambut tangan kekar mas Bagus sang pujaan untuk bersalaman, sedetik kemudian Yuli lalu salim cium tangan juga kepada ibu dan bapak.


“Eh Dewi tambah cantik saja sekarang,” ucap Yuli kepada Dewi yang mencium tangan Yuli sebagai calon kakak ipar.


Dewi tersenyum kecil saat bersalaman dengan Yuli yang menyambut dengan kata pujian sehingga mampu menciptakan suasana keakraban diantara calon adik dan kakak ipar.

__ADS_1


“Monggo silahkan duduk.” lanjut Yuli kepada mereka.


Mereka lalu duduk di kursi ruang tamu, dengan aneka kue yang terpampang di atas meja yang sengaja disiapkan sebagai suguhan untuk mereka.


Baru saja mereka duduk, sedetik kemudian Nana, LIli, Joko dan mas Irfan kini tiba di rumah Yuli menyusul mereka dengan membawa aneka kue pesanan mas Bagus sebagai hantaran lamaran.


“Sorry nih agak telat,” ucap Nana sambil tersenyum.


“Santai..., Belum dimulai kok acaranya.” ucap mas Bagus sambil tersenyum saat menyalami keempat sahabatnya yang baru tiba.


Kedua orang tua Yuli kini sudah keluar untuk menyambut mereka yang baru datang dan duduk di balai tamu yang cukup jembar.


“Eh nak Bagus sudah datang,” ucap Ibu sambil menyalami mereka.


“Iya bu, kami baru saja tiba,” ucap mas Bagus saat menyalami kedua calon mertua.


“Monggo silahkan dimakan kuenya,” lanjut ibu sambil membuka beberapa tutup toples di atas meja.


Kedua calon besan kini sudah duduk bersama di balai tamu dengan suasana cukup syahdu biru.


Setelah mereka berbasa-basi sejenak, lalu bapaknya mas Bagus menyampaikan maksud kedatangannya kepada mereka.


“Nyuwun sewu (permisi), kepada bapak dan ibu selaku orang tua dari mbak Yuli, maksud kedatangan kami kesini, yang pertama adalah untuk bersilaturahmi kepada bapak dan ibu sekalian. Dan yang kedua, kami selaku dari orang tua nak Bagus Saputra bermaksud untuk melamar nak Yuli sebagai calon istri untuk mas Bagus anak kami. Sekiranya bapak dan ibu berkenan dan merestui, kami mohon untuk diterima lamaran kami ini.” ucap Pak Adam (orang tua dari mas Bagus) kepada kedua orang tua dari mbak Yuli.


“Terima kasih kami sampaikan, atas kehadiran bapak dan ibu juga kerabat keluarga dari nak Bagus sekalian. Kami juga sangat bergembira sekali atas kehadiran nak Bagus dan keluarga yang pada pagi hari ini telah sudi untuk datang ke gubuk kami ini, untuk melamar anak kami yang bernama Yuli. Adapun mengenai maksud kedatangan bapak ibu sekalian, yang berhak untuk menjawab adalah Yuli sendiri, kami selaku orang tua hanya bisa mewakili untuk menyampaikan jawaban dari Yuli anak kami.” ucapnya.


Setelah berkata demikian, bapak kemudian menoleh ke wajah Yuli yang sedari tadi tampak tertunduk malu-malu kucing karena grogi.


“Nak Yuli, setelah kamu mendengar maksud kedatangan mas Bagus dan kedua orang tuanya kesini, apakah kamu mau menerima lamaran mereka?“ tanya bapak kepada Yuli.


Yuli yang sejak mula kepalanya tertunduk menatap lapisan keramik, kini mulai sedikit diangkat, dengan sedikit melirik ke bapak, Yuli pun kemudian berucap sebagai bentuk jawab.


“Nggeh kulo purun (ya, saya mau) pak,” ucap Yuli sambil melirik dan menganggukkan kepala kepada bapak yang duduk di sampingnya.


Melihat Yuli melirik dan menjawab dengan kata ‘mau’ alias menerima lamaran dari mas Bagus, keempat sahabatnya pun saling sikut dan tersenyum saat melihat pemandangan kikuk Yuli di hadapan mereka.


“Baiklah nak Bagus dan bapak, ibu sekalian, setelah mendengar jawaban dari Yuli anak kami, maka kami selaku orang tua dari nak Yuli, menyatakan menerima lamaran atau pinangan nak Bagus.” jawab pak Zaenuri (Nuri) kepada mereka.


Mendengar jawaban dari Yuli dan juga keluarganya, maka mas Bagus dan kedua orang tuanya pun merasa lega dan gembira.


“Alhamdulillah,” ucap bapak, ibu, mas Bagus dan juga keempat sahabatnya kompak bersama-sama.


Adapun mengenai kelanjutan acara berikutnya, baik mengenai hari dan tanggal pernikahan mereka berdua, kami minta kalau bisa jeda waktu pernikahan mereka dengan hari lamaran ini, jangan terlalu lama.

__ADS_1


“Mengingat anak kita juga sudah sama-sama dewasa, bagaimana kalau pernikahan mereka disegerakan saja dalam minggu ini juga.” lanjut pak Nuri kepada mas Bagus dan kedua orang tuanya.


Mendengar kata ‘Dewasa,’ mas Joko kemudian berbisik kepada istri dan juga kedua sahabat di sampingnya, “Dewasa, (Gede dawa rosa),” ucapnya.


Mendengar mas Joko bercanda, Nana, Lili dan mas Irfan jadi ngikik menahan tawa kaku dalam perutnya.


“Ssst, jangan keras-keras ketawanya” ucap Nana sambil nyengir mengingatkan sahabatnya.


“Alhamdulillah, apa yang telah bapak sampaikan kepada kami, itu sependapat dengan pemikiran kami juga. Kami sangat setuju bila pernikahan nak Bagus dan nak Yuli itu dilangsungkan dalam minggu ini juga.” jawab pak Adam kepada kedua orang tua Yuli.


“Dan karena kedua calon pengantin ini sama-sama menyandang status yang sama (janda dan duda), bagaimana kalau pernikahan mereka ini cukup dilangsungkan di depan penghulu saja, tanpa perayaan sebuah pesta.” saran pak Nuri kepada mereka.


Kedua orang tua mas Bagus, mengangguk sangat setuju dengan masukan saran dari kedua orang tua Yuli. “Baik pak, kami sangat setuju sekali dengan pendapat dari pak Nuri, memang bila kita melihat kedua calon pengantin ini (Bagus dan Yuli), juga tampaknya sudah tidak sabar lagi untuk segera menikah, jadi alangkah baiknya bila minggu depan saja, mereka berdua segera kita nikahkan." jawab bapak Adam kepada kedua orang tuanya Yuli.


“Ibarat buah durian yang telah disimpan dalam karung goni selama tiga hari, buah tersebut kini sudah matang dan menebarkan aroma harum wangi, jadi sudah siap untuk dinikmati oleh mas Bagus yang sudah tidak sabaran lagi.” ucap pak Adam sambil melirik kepada mas Bagus anaknya.


Mendengar ucap canda dari bapaknya mas Bagus yang cukup menggelitik jiwa, kontan semua sahabat mas Bagus yang ada di samping mereka langsung tertawa ngakak semua.


Sementara mas Bagus dan mbak Yuli sebagai calon pengantin, hanya mesem-mesem dengan senyum kecil yang tersirat di bibir mereka.


Sebenarnya Yuli ingin berteriak exited mengucap ‘Asik…!’ menyalurkan kata bahagia, tapi naluri malu seorang wanita mampu menutupi gelora jiwa yang sedang membara dalam dadanya.


Malu bagi seorang wanita seumpama perisai baja yang mampu menepis segala senjata tajam dari lawan saat mereka berhadapan di medang perang. Meski saat itu Yuli sangat gembira dan ingin meluapkan kata gembira, ia pun bisa mengendalikan rasa dengan seluas senyum kikuk yang menyeringai di bibir manisnya.


“Belah duren mas Bagus,” bisik mas Joko sambil tersenyum kepada mas Bagus yang duduk di kursi depannya.


Irfan, Lili dan Nana pun jadi ngikik menahan tertawa lagi mendengar canda mas Joko yang berbisik kepada mas Bagus yang duduk di kursi depan mereka.


"Jadi untuk nak Bagus, hari sabtu pukul 09.00 pagi, harus sudah sampai di rumah ini dengan membawa surat pengantar nikah dari desa dan keluarga atau salah satu kerabat yang mewakili keluarga sebagai saksi dalam pernikahan nak Bagus dan nak Yuli nanti." ucap bapak Nuri kepada mas Bagus sebagai calon menantunya.


"Siap pak." jawab mas Bagus sambil menganggukkan kepala.


Kedua keluarga besar itu akhirnya sepakat untuk melangsungkan pernikahan anak mereka pada sabtu depan atau kisaran waktu satu minggu lagi.


Sesi selanjutnya adalah istirahat dan ramah tamah. Yuli dan bik Wati lalu menyuguhkan nasi soto ke atas meja untuk semua tamu yang ada. Lili dan Nana pun ikut bangkit dan melangkah menuju ke dapur untuk membantu Yuli dan bik Wati dalam menyuguhkan menu makanan soto yang ada. Seiring canda yang ada, mereka lalu menikmati hidangan soto panas yang terasa lezat dan nikmat.


Setelah melamar Yuli sebagai calon istri untuk mas Bagus, keluarga mas Bagus kemudian pamit undur diri untuk kembali ke rumahnya. Seiring senyum mengembang, mereka akhirnya melepas kepergian mas Bagus dan Calon besan yang akan datang dan bertemu lagi pada sabtu depan pas hari dan waktu pernikahan mereka.


Sementara tetangga, yang ikut menjadi saksi bersatunya cinta mas Bagus dan mbak Yuli kembali, kini mulai tersenyum membisikkan kabar bahagia antar tetangga lainnya.


"CLBK (Cinta lama bersemi kembali)," ucap mereka sambil tersenyum ikut merasakan bahagia.


"Meski mereka janda dan duda, tapi serasinya bak bujang dan perawan saja." ucap tetangga lainnya seiring gurau dan tawa renyah mereka.

__ADS_1


__ADS_2