
Setelah operasi usus buntu dan perawatan di rumah sakit selama lima hari, kini perkembangan kondisi kesehatan bapaknya Yuli mulai pulih kembali. Siang itu, dokter dan tim kesehatan pihak rumah sakit, juga sudah memberi izin kepada bapak dan Yuli untuk kembali ke rumah mereka. Setelah mengurus keperluan administrasi yang ada, Yuli, Aris dan ibu pun segera berkemas untuk persiapan kepulangan mereka. Yuli tersenyum lega sambil menanti kedatangan mas Bagus yang akan menjemput kepulangan mereka.
Sementara di tempat lain, Bagus tampak baru keluar dari kantor dinasnya setelah seharian ia bekerja. Selesai berdinas, mas Bagus langsung menuju ke rumah sakit untuk menjemput orang tuanya Yuli yang akan kembali ke rumah mereka. mas Bagus yang masih mengenakan seragam tentara tampak begitu gagah penuh wibawa, dan setelah lima belas menit ia menempuh perjalanan, akhirnya mas Bagus sampai juga di rumah sakit. Sejenak ia melepas kacamata hitamnya, lalu membuka pintu mobil innova dan melangkah sahaja menuju ke kamar bapaknya Yuli yang ada di ruang tengah sana.
Sepuluh menit kemudian, Yuli yang sudah lama menunggu kedatangannya di teras kamar, kini tiba-tiba jantungnya berdebar-debar kencang saat melihat dari jauh sosok mas Bagus yang baru tiba. Mas Bagus yang tampan kini melangkah sahaja penuh karisma menuju ke arahnya. Penantian Yuli yang sudah cukup lama akan kedatangan mas Bagus, kini terasa ingin diundur waktunya atau kalau bisa mas Bagus tidak usah datang saja. Aura sinar wibawa dan ketampanan mas Bagus begitu menyilaukan mata Yuli, sehingga ia merasa tidak sanggup untuk memandangnya. Kalau boleh memilih sebenarnya Yuli ingin berlari masuk ke dalam kamar bapaknya daripada harus memandang kedatangan sang arjuna pujaanya. Yuli begitu kikuk saat langkah mas Bagus kian mendekat ke arahnya, sama seperti kikuknya Siti Zulaikha saat memandang pesona Yusuf yang begitu terang bak purnama. Yuli cukup beruntung juga, karena saat itu ia tidak sampai terkencing di tempat duduknya.
“Hai… sudah siap?” Sapa mas Bagus kepada Yuli yang tertunduk memandang keramik dengan jantung dag-dig-dug bak dentuman puluhan petasan di hari pesta.
“Su… su... sudah mas,” jawab Yuli terbata-bata karena grogi yang ada.
“Kalau begitu, mari kita kemasi barang-barang bawaan yang ada ke dalam mobil,” ucap mas Bagus mencairkan suasana.
Sebentar kemudian Yuli sudah masuk ke dalam kamar untuk memberitahukan kedatangan mas Bagus yang menjemput orang tuanya. “Ayo Ris, kita kemasi barang-barang yang ada ke dalam mobil.” ucap Yuli kepada adiknya.
Aris langsung sigap mengemasi barang-barang yang ada menuju mobil mas Bagus yang terparkir di area parkiran sana. Sementara, Ibu, Yuli dan mas Bagus yang menenteng sebuah tas di tangannya, juga melangkah sahaja mengiringi bapak yang didorong oleh perawat dengan kursi roda.
Aris sudah duduk di kursi belakang, sementara bapak dan ibu duduk di kursi tengah mobil innova, “Ayo silahkan dek Yuli.” ucap mas Bagus sambil membuka pintu depan untuk Yuli yang masih berdiri canggung di sampingnya.
Yuli menoleh ragu ke wajah mas Bagus yang membukakan pintu mobil untuknya, ”Ayo silahkan masuk,” ucap mas Bagus meyakinkan Yuli untuk segera masuk dan duduk di kursi mobilnya.
“Saya duduk disini mas?” tanya Yuli ragu.
“Ya iyalah dek... kalau kamu tidak duduk di kursi ini, lalu kamu mau duduk dimana?” ucap mas Bagus sambil tersenyum.
“Oalah mas… orang saya ini biasa naik mobil oplet, lah kok sekarang malah disuruh duduk di kursi depan mobil mewah ini, tidak ah mas Bagus, lebih baik Yuli duduk di kursi belakang saja bareng Aris.” ucap Yuli sambil membalikan badan untuk melangkah menuju pintu tengah yang masih terbuka.
“Eh... eh... eh… di kursi belakang itu sudah penuh dengan barang bawaan yang ada dek Yuli,” ucap mas Bagus sambil meraih tangannya.
Yuli kembali menatap wajah tampan mas Bagus, “Yuli tidak tawar dengan AC mas, nanti kalau Yuli muntah di mobil, malah bisa mengotori mobil bagus ini mas,” ucapnya
“Iya dede cantik, biar nanti AC mobilnya mas Off deh,” jawab mas Bagus sambil menggandeng tangan empuk Yuli cukup lama.
Saat mas Bagus membimbing Yuli duduk di kursi mobil, tangan lembut Yuli yang mas Bagus pegang terasa sangat empuk dan halus selembut sutra seolah mengalirkan setrum yang membuat gerak jantungnya tiba-tiba berdetak cepat seperti deburan ombak samudra.
__ADS_1
Mas Bagus terkesima sejenak seiring harum wangi bunga menyelinap lewat indera penciumannya saat ia memandangi putih mulus leher Yuli di depan matanya. Setelah Yuli duduk di kursi, mas Bagus lalu menutup pintu dan melangkah sigap menuju setir kemudi mobilnya.
Kala mas Bagus sudah duduk di samping Yuli sambil memegang setir kemudi mobilnya, Yuli kian merasa tersanjung saja. Yuli duduk anggun di kursi bak dewi kayangan, sinar mata indahnya menatap jauh kedepan memandang alam sekitar dan juga awan. Saat mas Bagus tersenyum sambil melirik pandang ke wajah cantik Yuli, jiwa Yuli seolah terbang di atas awan, melayang penuh sanjung dan bahagia.
Mesin mobil innova kini sudah menyala, sementara mas Bagus tampak santai sambil mengenakan kacamata hitamnya, sejenak ia melirik lagi ke Yuli di samping nya “Sudah dek, kita berangkat ya?” ucapnya.
Mereka saling beradu pandang sejenak dengan mesem manis Yuli yang masih tersirat di bibirnya. “Sudah mas,” jawab Yuli grogi.
Lirikan mata mas Bagus dari balik kacamata hitamnya sungguh sangat menarik hati melebihi karisma tatapan kesatria Zorro yang menaiki kuda hitam kekar yang membuat hati Yuli dag-dig-dug tak beraturan kesana-kemari.
Sebentar kemudian mobil yang mas Bagus kemudikan, kini melaju pelan meninggalkan area parkiran menyusuri ramainya jalan raya.
Mobil yang mereka tumpangi terus melesat mulus bak anak panah yang lepas dari busurnya menyusuri jalan raya menuju sasaran nan jauh di sana.
“Wah ternyata enak ya naik mobilnya mas Bagus, terasa empuk dan mulus, tidak seperti mobil oplet yang biasa Yuli tumpangi setiap hari.” ucap Yuli membuka suara.
“Ah sama saja dek, mobil itu ya hanya sarana sebagai kepanjangan dari kaki untuk memenuhi kebutuhan manusia dari sekian tuntutan yang ada.” jawab mas Bagus merendah.
“Kalau itu sih Yuli juga tahu mas,” ucap Yuli lagi.
“Wah perkataan mas Bagus seperti ceramah pak ustad saja yang selalu menghibur orang yang tidak berpunya.” ucap Yuli sambil tersenyum.
“Hidup di zaman antah-berantah seperti sekarang ini, orang bisa tertawa, juga sudah merupakan anugerah dari tuhan yang sangat luar biasa loh dek.” lanjutnya.
“Wah kok tambah dalam makna ucapannya mas?” ucap Yuli lagi.
“Ya tidaklah dek, cuman disaat-saat seperti sekarang ini, kan sebagian orang sudah banyak yang lupa sehingga mereka kadang mau menghalalkan segala macam cara, demi dapat mengumpulkan pundi-pundi uang agar bisa membeli sebuah sarana yang disebut dengan mobil ini dek.” ucap mas Bagus lagi.
“Mereka seolah lupa, betapa mahalnya anugerah tuhan yang disebut dengan kaki yang justru lebih mahal dari mobil atau apapun juga, iya kan dek?” lanjutnya.
“Kok mas Bagus bisa sepuitis ini perkataannya, sejak kapan sih mas Bagus mendapat ilmu tentang surasa ini?” tanya Yuli.
“Sejak aku sadar, kemudian saya meminta maaf kepada kamu dulu dek.” jawabnya.
__ADS_1
Jantung Yuli tiba-tiba terasa mak jleb, teringat peristiwa masa lalu, dan juga tentang mimpi buruk itu. “Sudah lenyapkah pohon duri yang ada di balik dada mas Bagus yang pernah Yuli lihat dalam mimpinya dulu?” batin Yuli.
Sering endap tanya hati Yuli yang tersembunyi, tak terasa mobil yang mereka tumpangi kini sudah sampai di depan rumah bapaknya Yuli di blok ‘C’ perumahan Puri Asri.
“Alhamdulillah akhirnya kita sampai juga,” ucap mas Bagus sambil menghentikan laju mobilnya di pelataran rumah sederhana.
Mereka lalu turun dari mobil dan melangkah pelan untuk masuk ke dalam rumah orang tua Yuli yang cukup indah nan sahaja.
“Silahkan duduk mas,” ucap Yuli kepada mas Bagus.
“Terimakasih dek Yuli, waktu sudah malam, dan sebaiknya mas langsung kembali ke rumah saja.” jawabnya.
“Apa dek Yuli tidak pulang ke rumah sekalian, biar malam ini saya bisa mengantar dek Yuli untuk kembali, toh jalan yang akan kita lewati juga searah, jadi kita bisa sekali jalan.” tawar mas Bagus lagi.
“Jangan mas, rumah saya itu ada di desa diujung bukit sana, jalannya juga rusak dan berlubang-lubang, nanti mas Bagus malah tambah kasihan karena susah payah mengantar saya.” jawab Yuli.
“Justru saya lebih senang datang ke desa-desa dek, meski kondisi jalannya rusak dan berlubang-lubang, daripada di kota-kota malah banyak lubang yang berjalan-jalan.” ucap mas Bagus bercanda.
Yuli memandang sejenak wajah tampan mas Bagus, kemudian ia pun tersenyum sipu sambil memandangi lapisan tanah pelataran rumahnya.
“Alah mas Bagus ini pandai juga kalau bercanda.” ucap Yuli seiring senyum yang masih tersisa di bibir manisnya.
Mungkin satu sampai dua hari ini, saya akan tinggal di rumah orang tua dulu hingga kondisi kesehatan bapak benar-benar pulih kembali mas, setelah bapak sehat, baru Yuli akan kembali ke rumah. terang Yuli kepada mas Bagus.
“Wah dek Yuli memang benar-benar anak yang solehah.” puji mas Bagus.
Yuli hanya tersenyum simpul saat mendengar pujian dari mas Bagus, “Ya itu sudah merupakan kewajiban dari seorang anak kepada orang tua mas.” ucapnya.
“Baiklah dek, kalau begitu, saya pamit pulang dulu, dek Yuli jaga kesehatan ya.” pesan mas Bagus kepada Yuli.
Sekali lagi senyum wanita cantik bernama Yuli yang masih berdiri di hadapan mas Bagus itu, kini mengembang indah sekali, baki kelip bintang di angkasa yang berkelip membisikan rasa kepada bintang-bintang yang ada di sekelilingnya.
“Hati-hati di jalan mas, sekali lagi, terimakasih banyak atas bantuan mas Bagus kepada kami.” ucap Yuli melepas kepergian mas Bagus.
__ADS_1
Sering senyum mengembang di bibir manis Yuli, mas Bagus pun berlalu dengan mobilnya meninggalkan rumah orang tua Yuli. Malam itu, langit biru tersenyum lagi mengantar dua insan yang sedang tertaut rasa cinta dan rindu bersemi indah mewangi.