Cinta Merah Jambu

Cinta Merah Jambu
Kepak Sayap


__ADS_3

Setelah jumat bersih (kerja bakti di warung sederhana milik Yuli), keesokan harinya kini mentari di ufuk timur tersenyum menampakkan sinarnya menyapa alam, menjadikan ceria hati setiap insan menjelang akhir pekan. Sinar mentari terasa hangat seiring senyum mang Ali dan bik Wati mengembang menyambut hari permulaan mereka bekerja kembali setelah satu bulan lebih lamanya mereka istirahat. Pagi itu, warung sate sederhana milik Yuli di tepi perempatan jalan dekat pasar tradisional tampak bersih dan kinclong mengkilap memikat setiap mata yang melihat.


Di dapur, Bik Wati tampak sibuk memasak gulai kambing muda khasnya yang sangat lezat, aroma sedap gulai yang hampir matang itu menyebar mengikuti angin yang bergerak. Sementara di beranda warung, mang Ali yang sedang memasukan potongan daging kambing muda ke dalam tusuknya juga tampak ceria sambil menirukan gema lirik lagu dangdut “Sembako Cinta” lewat salon speaker yang tergantung di pojok atas warung sederhana tempatnya bekerja. Saat Mang Ali berdendang menirukan lirik lagu tersebut, badannya kerap ikut bergoyang menikmati indahnya syair lagu yang menggema menghibur jiwa siapa saja yang mendengarnya.


Sembako Cinta.


Kawan kau tahukah yang membuat resah. 


Siang malam hati gundah hai karena cinta. 


Agar tiada resah dan bertambah mesra, yang diperlukan hanyalah hai sembako cinta.


Sembilan bahan pokok didalam bercinta.


Jangan kurang satu.


Bisa kurang mesranya.


Agar tiada resah dan bertambah mesra


Yang diperlukan hanyalah hai sembako cinta.


Satu, harus setia; dua, ada cemburu; tiga, pengertian; empat, ada rindu.


Lima, banyak pujian; enam, sering dua-an; tujuh, perhatian.


Lapan, sembilan, manja dan sayang….


Melihat tingkah lucu mang Ali yang selalu ceria menirukan dendang syair lagu yang menggema, Yuli yang sedang mengelap puluhan piring dan sendok di atas meja pun jadi ikut tersenyum kaku menahan otot perut karena menahan lucu.


“Sate tiga puluh tusuk kang.” ucap tiga orang pembeli yang datang.


“Oke siap pak.” jawab mang Ali penuh semangat.


Mang Ali lalu membakar puluhan tusuk sate kambing muda di atas bara arang, kepulan asap aroma sedap sate yang ia bakar terbang bersama udara. Setiap orang yang melintas di sekitar jalan raya pasti akan melintas pandang kepada mang Ali yang sedang mengipasi arang untuk membakar sate kambing yang menebar aroma sedap ke seantero lingkungan.


“Minumnya apa pak?” tanya bik Wati kepada tiga orang pembeli yang sudah duduk di kursi warung makan.


“Es teh tiga bu,” jawab salah satu pembeli kepada bi Wati.


Sebentar kemudian, bik Wati sudah datang menyuguhkan tiga gelas es teh, tiga piring nasi panas, dan tiga mangkok gulai kambing di atas meja mereka. Tak lama berselang, mang Ali pun datang menyuguhkan tiga piring sate kambing dan sambal kecap pedas khas daerah Tegal di atas meja.


Tiga orang pembeli itu, lalu melahap hidangan lezat di atas meja mereka. Mereka begitu menikmati hidangan lezat tersebut, sehingga tak ada satu butir nasi di piring dan gulai di mangkok yang tersisa, semua bersih karena memang lezatnya makanan yang ada. Usai mereka makan, dua orang pria lalu menyalakan rokok yang terjepit di sela jari tangan mereka, sementara seorang pria yang berpenampilan agak parlente melangkah untuk membayar makanan kepada Yuli yang duduk di belakang meja kasir. Mata pria tersebut tidak berkedip saat melihat kecantikan wajah Yuli yang bersinar sejuk bak rembulan di malam purnama.


“Terimakasih pak,” ucap Yuli sambil menyerahkan beberapa lebar uang kembalian kepadanya.


“Oh ya sama-sama mbak,” kesiap jawab laki-laki tersebut yang terpesona akan kecantikan Yuli yang luar biasa. Yuli hanya tersenyum simpul atas salah tingkah laki-laki yang berlalu kikuk dari hadapannya.


Hari sabtu kliwon, suasana pasar tradisional memang lebih ramai dibanding dengan hari-hari lainnya, sebab area lapang pasar sebelah selatan dipadati para penjual dan pembeli hewan (kambing, ayam dan aneka burung peliharaan) musiman yang sudah membudaya sejak lama. Pukul sepuluh hingga pukul dua siang, biasanya para pembeli yang didominasi puluhan saudagar hewan tersebut pasti singgah di warung sate milik Yuli yang sudah menjadi langganan mereka.


“Waktu sudah menunjukan pukul sembilan, tapi Mbak Nana dan Lili yang sudah berjanji akan datang untuk membantu Yuli, masih belum datang juga.” batin Yuli.


Tak lama berselang suara sepeda motor datang memasuki pelataran warung sate sederhana nan indah bersahaja. Tampak Nana yang di bonceng mas Joko suaminya kini turun dari motornya disertai senyum mengembang menyapa mang Ali yang sedang memasukan potongan daging kambing ke dalam tusuk bambu di tangannya.


“Wah mbak Nana, akhirnya datang juga.” sapa mang Ali seiring senyum yang mengembang di bibirnya.


“Iya dong mang Ali, khan kemarin aku sudah janji.” jawab Nana sambil tersenyum ramah kepada mang Ali.

__ADS_1


Sebentar kemudian tampak Lili dan mas Irfan suaminya kini menyusul datang di belakang Nana. “Kok lama mbak Lili?” tanya Nana kepada Lili yang baru tiba.


“Wah mas Joko main ngebut saja nyetir motornya, pantas saja kami yang mampir sejenak di pom untuk beli bensin jadi ketinggalan jauh olehnya.” jawab Lili sambil tersenyum.


“Dijemput jam berapa nanti?” tanya Joko kepada Nana istrinya.


“Jam tiga sore saja mas.” jawab Nana yang telah bersepakat dengan Lili di sebelahnya.


Joko dan Irfan lalu meluncur kembali dengan motor mereka menuju ke kolam pancing di dekat hutan jati tepi jalan raya tak jauh dari perkampungan warga. Memancing ikan adalah hobi mereka untuk mengisi waktu luang yang ada.


“Wah akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga,” sambut Yuli kepada kepada kedua sahabatnya.


“Pasti dong...,” jawab Nana dan Lili sambil tersenyum ceria.


“Ayo silahkan masuk,” ucap Yuli kepada kedua sahabatnya.


Lili dan Nana lalu masuk mengikuti Yuli ke dalam warung sate sederhana yang mirip restoran mini istimewa.


Baru sebentar mereka bercakap-cakap sambil melihat tayangan di layar lebar televisi yang ada, pembeli kini runut berdatangan memadati warung sederhana. Lili dan Nana langsung ikut sigap untuk membantu bik Wati menyuguhkan menu makanan pesanan mereka. Sementara mang Ali yang dibantu Aris adiknya Yuli juga kewalahan membakar puluhan sunduk sate diatas bara arang yang merah merona.


 Ramai para pembeli yang datang ke warung sate sederhana milik Yuli, membuat Lili dan Nana ikut merasakan senang juga. “Alhamdulillah, hari ini para pembeli banyak yang datang, sehingga saya ikut kewalahan saat membantu bi Wati menyuguhkan menu hidangan.” ucap Nana kepada Yuli.


“Alhamdulillah Nana, kebetulan juga hari ini momennya memang pas dengan pangsa pasar hari ini, kan ada kliwonan (istilah pasar hewan musiman).” jawab Yuli sambil tersenyum ceria.


“Wah pantas saja, hari ini banyak sekali para saudagar hewan yang singgah untuk makan.” ucap Nana paham.


“Iya dong Nana, pangsa pasar itulah salah satu faktor yang membuat omset dagangan bisa naik dan laris terjual.” ucap Yuli lagi.


“Selain sabtu kliwonan, hari apa saja yang biasanya membuat para pembeli ramai berdatangan di warung sate ini Yuli?” tanya Lili kemudian.


“Selain itu, biasanya di setiap awal bulan (tanggal muda), warung kami juga ramai para pembeli, kan mereka habis gajian.” lanjutnya.


“Ah Yuli ini bisa saja ngomong tanggal muda segala,” sambung Nana seiring senyum mengembang.


“Eh iya loh Nana, mereka kan yang suaminya pegawai kantoran tiap awal bulan dapat gajian sih.” jawab Yuli lagi.


“Oh, iya yah.” sahut Nana paham.


“Sudah mbak Lili, mbak Nana, ayo istirahat dulu dan makan, kasihan dari pagi sibuk terus melayani pembeli yang terus berdatangan.” ucap Yuli kepada kedua sahabatnya.


“Baiklah Yuli, kalau begitu kami sholat dzuhur dulu, habis itu baru kita makan.” jawab Nana dan Lili seiring langkah mereka menuju mushola di sebelah warung sederhana.


Pukul dua siang, Yuli, Lili dan Nana kini makan bersama di sela istirahat siang mereka.


“Wah pantas saja banyak pembeli yang datang ke warung ini Yuli, gulai dan satenya terasa lezat mantap!” puji Nana sambil mengangkat jempol tangan setinggi bahunya.


“Betul, memang mantap pedas, bumbunya meresap, enak dan lezat menjadikan gulai dan satenya terasa menggigit di lidah.” sahut Lili.


“Ayo jangan sungkan-sungkan, silahkan tambah lagi nasinya.” ucap Yuli kepada kedua sahabat karibnya.


“Sudah cukup Yuli, kami sudah cukup kenyang dengan porsi yang ada.” jawab mereka.


Pukul tiga sore, Joko dan Irfan kini datang lagi ke warung sederhana untuk menyusul Lili dan Nana istri mereka.


“Mang Ali, aku pesan sate satu kodi.” ucap Joko kepada mang Ali.


“Siap mas,” jawab mang Ali sigap.

__ADS_1


Sebentar kemudian, kini mereka bersiap untuk kembali ke rumah mereka di perumahan Puri Asri nan jauh di sana. Yuli tak lupa membungkus dua kantong plastik sayur gulai kambing dan sate kambing sebagai oleh-oleh untuk Lili dan Nana. Aris lalu mencantolkan gulai dan sate ke stang stir sepeda motor mereka.


“Terima kasih yah Aris,” ucap Joko sambil meletakan satu lembar uang seratus ribu rupiah untuk membayar pesanan satu kodi sate di meja depan tempat mang Ali dan Aris berada.


“Tidak usah mas Joko,” tolak Yuli kepada mas Joko.


“Tidak apa-apa Yuli, kan kami juga beli.” ucap Nana seiring senyum saat hendak meninggalkan Yuli di warung sederhananya.


Seiring senyum yang masih mengembang, Lili dan Nana lalu pamit pergi dengan sepeda motor yang dikemudikan oleh suami mereka.


Tiga puluh menit kemudian, Irfan dan Lili kini sudah sampai di rumah mereka. “Loh mana mas Joko dan Nana, kok mereka belum tiba?” tanya Irfan kepada Lili istrinya.


“Wah ya saya tidak tahu mas, habis tadi di jalan raya mas Irfan itu cukup kencang menyetir sepeda motornya, pantas saja mereka ketinggalan jauh di belakang kita.” jawab Lili kepada suaminya.


Sementara di tempat lain, tanpa sepengetahuan Irfan sahabatnya, Joko memang sengaja singgah sejenak di rumah mas Bagus sahabatnya.


“Ini ada oleh-oleh dari Yuli.” ucap mas Joko kepada mas Bagus yang menyambut merek di ruang tamu rumahnya.


Mas Bagus tertegun sejenak saat menerima satu kodi sate dari mas Joko sahabatnya. “Masa sih Yuli mau mengirim satu kodi sate buat saya?” batin Bagus dalam tegunnya.


“Ah jangan bercanda kamu mas Joko.” ucap mas Bagus setengah percaya kepada mas Joko sahabatnya.


“Bukan ms Bagus, itu sate memang dari warungnya mbak Yuli yang sengaja mas Joko beli baut oleh-oleh untuk mas Bagus.” jawab mbak Nana apa adanya.


“Buset dah, hampir saja saya percaya dengan ucapannya.” ucap mas Bagus kepada Nana dan mas Joko sahabatnya.


Mas Joko langsung terpingkal-pingkal tertawa saat melihat respon dari mas Bagus yang mempercayai candaannya.


“Hampir saja jantung saya tadi copot mas Joko.” sahut mas Bagus seiring senyumnya.


Mas Joko kian terpingkal-pingkal mendengar ucapan mas Bagus sahabat karibnya.


“Sudah yah mas Bagus, kami langsung balik ke rumah dulu untuk istirahat, soalnya seharian penuh tadi saya menunggu Nana bersama Yuli di warung sederhananya.” pamit mas Joko.


“Loh kok buru-buru amat sih mas Joko, apa tidak sebaiknya kita minum kopi dulu disini?” tawar mas Bagus kepada sahabatnya.


“Sudah lain kali saja mas Bagus, soalnya sudah sore nih.” jawab mas Joko.


Joko dan Nana lalu pamit kepada mas Bagus untuk melanjutkan perjalan kepulangan mereka.


“Terimakasih loh mas Joko, sudah sempat mampir ke rumah saya.” ucap mas Bagus kepada Mas Joko dan Nana.


“Ya sama-sama Mas Bagus.” jawab mas Joko seiring senyum mengembang saat hendak meneruskan perjalanan untuk kembali ke rumah mereka.


Sementara mas Joko dan Nana kembali melanjutkan perjalanan pulang ke rumahnya, mas Bagus pun langsung menyantap sate oleh-oleh dari mas Joko sahabatnya. Mas Bagus begitu lahap menyantap nikmatnya sate lezat dan sepiring nasi di meja tengah rumahnya.


“Wah enak sekali ternyata rasa satenya,” batin mas Bagus sambil membayangkan wajah cantik Yuli yang tiba-tiba hinggap dan menari-nari di benaknya.


“Bidadari itu ternyata tidak hanya sekedar cantik, tapi pandai memasak juga rupanya.” Tegung mas Bagus mengenang kembali senyum manis Yuli yang alami seperti gulali.


“Kau memang cantik Yuli, dulu, hari ini dan nanti, kau tetap selalu cantik Yuli.” puji mas Bagus melamunkan sosok Yuli sang bidadari.


“Ayah kok dari tadi senyum-senyum sendiri.” tegur Dyah Ayu Pitaloka putri semata wayangnya.


“Oh tadi ayah teringat kelucuan Om Joko dan tante Nana yang bercanda, jadi kebayang lagi deh kelucuan mereka.” jawab mas Bagus kepada putrinya.


Hari sabtu, mas Bagus memang selalu menjemput Dyah Ayu Pitaloka dari rumah Nenek ke rumahnya. Minggu Sore mas Bagus mengantar kembali Dyah Ayu ke rumah nenek, sebab senin pagi ia harus masuk sekolah taman kanak-kanak di kampung neneknya.

__ADS_1


__ADS_2