
Satu tahun kemudian, ketekunan Yuli mengelola warung sate sederhana kini membuahkan hasil. Warung sate sederhana seluas 84 meter persegi (7 x 12 meter) yang dijadikan agunan pinjaman uang di bank swasta untuk modal calon kepala desa dulu, kini berhasil Yuli selamatkan dari ancaman sitaan bank. Semua hutang Yuli berhasil dilunasi meski dengan cara mencicil setiap bulan.
Flashback
Tidak mudah memang berjuang demi kelangsungan hidup Yuli selama satu tahun ini, bila akhir bulan dan uang hasil simpanan dari berjualan di warung sederhana yang akan digunakan untuk membayar setoran kredit di bank masih kurang, maka Yuli harus pinjam dulu kepada tetangga atau teman lainnya. Beruntung juga ada Aris yang selalu membantu kerja di warung setiap hari minggu atau hari libur sekolahnya. Selain itu, Yuli juga memiliki dua orang karyawan yang baik dan cukup mengerti akan kesulitan yang dihadapi Yuli majikannya. Kadang mang Ali dan bik Wati rela menerima separuh honor tiap bulan, adapun kekurangan honornya dibayar bulan berikutnya. Kini setelah satu tahun berjuang dengan berjualan sate, akhirnya Yuli bisa bernafas lega.
Next
Sore nanti Yuli mesti berangkat lagi ke rumah sakit untuk menunggu bapaknya yang sedang dirawat di rumah sakit. Sudah dua hari ini Yuli bermalam di rumah sakit untuk menemani bapak yang sedang sakit di rumah sakit.
Malam kali ini terasa lain dari biasanya, sebab ada Lili dan Nana juga suami mereka yang datang menjenguk bapaknya yang sedang sakit. Meski ada yang janggal sebab mas Bagus juga turut serta bersama mereka menjenguk bapak, tapi Yuli coba bersikap biasa dan memendam rasa jengkel kepada mas Bagus yang masih mengendap di dalam benaknya.
“Eh kalian tahu kabar dari siapa, kok sampai tahu kalau bapakku sedang dirawat di rumah sakit?” tanya Yuli sambil menyalami sahabatnya.
“Kebetulan kemarin ada tetangga yang cerita, katanya bapak kamu sedang sakit dan sudah dua hari ini di rawat di rumah sakit, ya mumpung besok pagi mas Irfan dan mas Joko libur, jadi kami sempatkan datang untuk menjenguk.” jawab Nana.
Selain menyalami mereka, Yuli akhirnya bersalaman juga dengan mas Bagus, kedua tangan insan yang pernah merajut cinta ini, kini canggung saling bersalaman di hadapan keempat sahabatnya.
Memang rumah orang tua Yuli di blok ‘C’ cukup dekat dengan rumah Lili dan Nana di blok ‘D,’ perumahan Puri Asri, jadi wajar saja kalau mereka tahu kabar sakitnya bapak.
Sedangkan Yuli, setelah menikah, ia ikut pindah ke rumah suami di desa, selama ini Aris-lah yang selalu memberi kabar tentang keadaan orang tuanya.
Setelah mereka menjenguk bapak yang terbaring di kamar rumah sakit, Irfan, Joko dan Bagus lalu meninggalkan mereka untuk minum kopi di warung depan dekat dengan jalan raya.
Lili dan Nana kini bisa lebih santai ngobrol bersama Yuli di teras kamar tanpa ada mas suami mereka dan mas Bagus di sampingnya.
Satu jam kemudian, Bagus, Irfan dan Joko sudah kembali ke dalam rumah sakit untuk menemui Yuli, Lili dan Nana.
“Ayo dek kita pamit, sudah malam nih.” ucap Joko kepada Nana istrinya.
“Ayo,” jawab Nana singkat.
Mereka lalu pamit kepada bapak yang terbaring di kamar dengan selang infus yang menyalurkan nutrisi makanan lewat jarum infus di tangannya.
“Sudah ya mbak Yuli, kami pamit dulu,” ucap mereka.
“Terimakasih banyak atas kedatangan kalian semua malam ini,” ucap Yuli kepada sahabatnya.
__ADS_1
“Ya sama-sama Yuli.” jawab Lili dan Nana seiring senyum yang mengembang di bibir mereka.
Yuli lalu mengantar sahabatnya sampai ke tempat parkiran sepeda motor mereka, sementara Lili dan Nana kembali bersama suami mereka, mas Bagus malah ikut melambaikan tangan atas kepergian mereka meninggalkan rumah sakit.
Yuli kesiap sekejap melihat mas Bagus tak ikut serta pulang bersama keempat sahabatnya tersebut.
“Ms Bagus tak ikut pulang bersama mereka?” tanya Yuli kemudian.
“Tidak dek Yuli, biar saya pulangnya nanti saja, toh hari juga masih sore.” jawab mas Bagus kalem saja.
Yuli hanya diam mendengar jawaban mas Bagus, mereka lalu melangkah masuk kembali ke dalam rumah sakit menuju tempat bapak dirawat di dalam kamarnya.
Sepanjang perjalanan sejauh 200 meter menuju ke kamar bapak dirawat, tak ada kata yang terucap dari bibir mereka, mereka hanya diam dan saling canggung dengan jiwa mereka.
Yuli memang tidak ingin bicara dengan mas Bagus yang malam ini tidak ia kehendaki ada disisinya. Yuli malah lebih senang seandainya mas Bagus tadi turut serta pulang bersama keempat sahabatnya. Tapi apa boleh dikata dengan jawaban mas Bagus yang ada, Yuli pun hanya bisa diam dan tak berani mengusirnya.
Setibanya mereka di kamar tempat bapak dirawat, Yuli pun langsung masuk ke dalam kamar untuk menemani bapaknya yang terbaring lemah dengan selang infus di tangannya.
Sementara Yuli masuk ke dalam kamar untuk menemani bapak, mas Bagus pun duduk di teras depan kamar menemani Aris dan Ibu yang sedang berbincang-bincang santai di teras beralaskan karpet sederhana.
“Kelas VII mas Bagus.” jawabnya.
“Dapat rangking berapa di kelas?” lanjutnya.
“Rangking lima mas.” jawab Aris kepada mas Bagus.
“Wah hebat juga ya Ris?” ucap mas Bagus memuji.
Aris hanya tersenyum mendengar pujian dari ms Bagus yang duduk di sampingnya.
“Rangking lima kok hebat, yang hebat itu ya rangking satu, dua atau tiga, itu baru namanya anak hebat.” sambung ibu sambil tersenyum.
Mendengar ucapan ibu, Aris dan mas Bagus hanya tertawa saja. “Ya belum toh bu… nanti kalau Aris lebih rajin lagi belajarnya, ia pasti bisa juga meraih rangking satu atau dua di kelasnya.” bela mas Bagus kepada Aris di sampingnya.
“Wah kayaknya berat mas, soalnya teman-teman di kelasnya Aris itu anaknya pintar-pintar semua.” ucap Aris kepada mas Bagus.
“Tak ada yang tidak mungkin Ris, asal Aris gigih belajar, mas yakin Aris pasti bisa meraih peringkat satu atau dua di kelasnya.” suport mas Bagus kepada Aris.
__ADS_1
Malam semakin larut, canda tawa Aris dan mas Bagus yang tadi Yuli dengar kini sepi tak ada suara. “Mungkinkah mas Bagus sudah pulang ke rumahnya?” batin Yuli sesaat setelah ia terbangun dari tidurnya.
Yuli lalu melangkah mendekati pintu, ia lalu membuka pintu kamar tersebut dengan pelan. Setelah pintu kamar terbuka, tampak mas Bagu dan Aris sudah terlelap dalam tidurnya. “Loh mas Bagus ternyata belum pulang!” kesiap batin Yuli.
Sementara nyamuk-nyamuk malam kini banyak yang menggigit kaki dan tangan mereka yang begitu lelap dalam tidurnya.
Yuli lalu melangkah ke kamar mandi yang ada di pojok sebelah kiri deretan kamar tersebut. Selepas dari kamar mandi dan hendak kembali masuk ke kamar, Yuli ingin sekali untuk mengusir nyamuk-nyamuk tersebut dari tangan dan pipi Aris adiknya, tapi dia khawatir nanti mas Bagus akan terbangun dari tidurnya. Yuli pun terpaksa mengurungkan niatnya dan membiarkan saja nyamuk-nyamuk itu menggigit kulit Aris dan mas Bagus di sampingnya. Yuli lalu kembali masuk ke dalam kamar dan tidur lagi menemani ibu yang terlelap di atas tikar lipatnya.
Malam kian merambat pelan, tapi mata Yuli sulit terpejam. Mas Bagus yang rela menamani malamnya di rumah sakit dengan puluhan nyamuk yang menggigit kulitnya, kini membayang lagi di benak Yuli. Hati Yuli kini tersentuh rapuh, melihat kerelaan mas Bagus tidur di atas tikar dengan Aris melewati malam yang ada.
Malam semakin larut, namun mata Yuli belum bisa terpejam juga, ingin rasanya Yuli membuka pintu kamar kembali untuk melihat wajah mas Bagus yang terlelap dalam tidurnya, tapi ia khawatir nanti mas Bagus terjaga dan melihat dirinya. Yuli pun membiarkan saja bayang-bayang mas Bagus bermain di dalam khayalnya. Seiring waktu berputar Yuli pun akhirnya tertidur juga di sela bayang-bayang mas Bagus yang selalu menggoda.
Saat waktu subuh tiba, Yuli terbangun dari tidurnya, ia lalu membuka pintu kamar untuk menuju ke kamar mandi mushola dan melaksanakan sholat subuh berjamaah bersama pengunjung di rumah sakit yang ada. Sementara di teras depan kamar, tampak mas Bagus dan Aris masih pulas dalam tidurnya.
Sekembalinya Yuli dari mushola, tampak mas Bagus sudah tidak ada lagi disisi Aris yang masih terlelap dalam tidurnya. “Sudah pulang kah mas Bagus?” batin Yuli.
“Yuli, tadi mas Bagus sudah pamit kepada ibu dan juga bapak untuk kembali ke rumahnya.” ucap ibu sekembalinya Yuli ke dalam kamarnya. “Dia itu sosok pemuda yang baik ya nak, hingga mau menemani kita malam ini.” lanjut ibu lagi.
“Oh,” ucap Yuli tegun sekedar saja.
Pagi ini yuli mesti cepat untuk kembali ke warungnya untuk mempersiapkan segala keperluan dagangnya. Yuli harus ke pasar, belanja segala keperluan dapur untuk warungnya.
“Ya sudah bu, Yuli pamit pulang dulu, nanti sore selesai berjualan, Yuli nanti balik kesini lagi bu.” pamit Yuli kepada ibunya.
“Ya sudah nak, hati-hati ya dijalan.” pesan ibu kepada Yuli anaknya.
Yuli lalu melangkah gugup menuju ke jalan raya untuk menunggu mobil angkot yang ada. Tak lama kemudian, mobil angkot pun datang membawa Yuli dan penumpang lainya menuju ke tempat tujuan mereka.
Sementara dari dalam warung kopi, mas Bagus sedari tadi mengawasi dan memperhatikan Yuli yang sedang gugup untuk segera kembali ke rumahnya. Ingin rasanya mas Bagus untuk mengantar Yuli untuk kembali ke rumahnya, tapi Bagus merasa Yuli masih marah dengan dirinya, sehingga Bagus pun mengurungkan niatnya.
Mobil angkot yang membawa Yuli dan para pedagang lainnya terus melaju cepat menyusuri jalan raya di pagi yang masih buta menuju ke pasar tradisional di depan sana.
Sementara mas Bagus yang mengendarai sepeda motornya sengaja melaju tak jauh dari belakang mobil angkot yang ditumpangi oleh mereka. Dinginnya angin pagi pasti membuat siapa saja akan kedinginan dengan suasana pagi yang ada. Mas Bagus terus saja melajukan sepeda motornya dengan akting kedinginan yang memang pas dengan suasana.
Dari balik kaca gelap mobil angkot yang Yuli tumpangi, Yuli kesiap tegun dengan kondisi ms Bagus dengan tangan kiri menutupi dada memeluk bahu atas kanannya. “Kasihan sekali mas Bagus sampai kedinginan begitu.” batin Yuli.
Tiga puluh menit kemudian, saat mobil angkot yang ditumpangi Yuli hendak menepi di jalan raya depan pasar, mas Bagus baru mempercepat laju sepeda motornya untuk mendahului angkot tersebut. Mas Bagus tersenyum tipis dengan keberhasilan aktingnya selama tiga puluh menit yang lalu.
__ADS_1