Cinta Merah Jambu

Cinta Merah Jambu
Mediator


__ADS_3

Pendaftaran calon kepala desa di desa Sumber Balong tinggal menunggu waktu sekitar satu bulan lagi. Suasana desa Sumber Balong kian hangat dengan pemberita politik yang menjadi perbincangan warga setiap saat. Perseteruan cukup seru, kali ini terjadi di pedukuhan Balong. Hal demikian terjadi disebabkan oleh kesalahpahaman politik antara kedua calon dari pedukuhan Balong.


Kabar tentang majunya mas Bakti, rupanya membuat mas Amin yang sudah lebih awal hendak mencalonkan diri sebagai kades, merasa terusik. Perkembangan politik yang sangat cepat perubahannya, rupanya tidak mudah dimengerti oleh mereka yang masih awam. Padahal yang namanya politik, pagi ini berkata ‘A’, nanti sore bisa berubah menjadi ‘Z’ atau sebaliknya. Kecamuk hangat antara mas Bakti dan mas Amin yang hendak maju mencalonkan diri sebagai calon kepala desa, membuat Maulana melangkah untuk meredam suasana di antara mereka berdua.


Satu sisi, Lana adalah kakak iparnya mas Bakti, di sisi lain, Lana juga temannya mas Amin. Sebenarnya Lana merasa ragu akan terpilihnya mas Bakti atau pun mas Amin bila mereka nanti benar-benar mencalonkan diri sebagai calon kepala desa. Tapi karena ambisi ingin menjadi kepala desa, mereka tetap ngotot ingin maju sebagai calon kepala desa.


Mas Bakti yang memiliki bengkel sepeda motor sekaligus toko onderdil/sparepart perlengkapan sepeda motor, memang layak untuk mencalonkan diri sebagai kepala desa.


“Namun bila mau berpikir secara jernih, ngapain juga mas Bakti yang sudah mapan secara ekonomi mau mencalonkan diri sebagai kepala desa? Daripada menghamburkan-hamburkan uang untuk mencalonkan diri sebagai kepala desa, kan alangkah lebih baik uang tersebut digunakan untuk memperbesar toko onderdil sepeda motornya.” batin Lana.


Sementara mas Amin yang sudah mulai merangkak dalam bisnis usaha pembuatan tempe di desa, juga begitu ngotot untuk maju mendaftarkan diri juga. Padahal bila mau bersabar, mas Amin yang usianya lebih muda dari mas Bakti, tentu bisa menunda keinginannya tersebut. Bersabar sejenak selama enam tahun, untuk kemudian mencalonkan diri sebagai kepala desa pada periode berikutnya.


Posisi Lana cukup netral, sebab meski Lana adalah kakak iparnya mas Bakti, tapi kartu penduduk Lana sudah pindah ikut bersama istri. Lana yang kebetulan sedang mudik lebaran di kampung pun bisa leluasan memberi saran kepada mas Amin sahabatnya.


“Na, pulang kampung kapan, kok baru kelihatan?” tanya Amin ketika Lana sedang duduk di teras rumah Mujad sahabatnya.


“Kemarin Min, dua hari sebelum lebaran.” jawab Lana.


“Pulang kampung sendiri, apa sama anak dan istri?” tanya Amin.


“Sama istri dan tiga anak saya Min.” jawab Lana.


“Naik bus, apa kereta?” tanya lagi Amin.


“Naik kereta Min, lebih nyaman sebab hanya sekali jalan kemudian turun di stasiun terdekat dengan desa kita.” jawab Lana.


“Rencana mau menetap tinggal di kampung, apa kembali lagi ke kota Mojo?” tanya Amin.


“O tidak Min, paling satu minggu tinggal di kampung, habis itu nanti kembali lagi ke Mojo, sebab kemarin saya beli tiket keretanya juga dua sekaligus, satu tiket untuk mudik dan satu lagi tiket untuk kembali.” jawab Lana.


“Min, ngomong-ngomong katanya kamu mau maju mencalonkan diri sebagai kades, apa betul?” tanya Lana.


“Ah kata siapa?” jawab Amin sambil nyengir.


“Kebetulan, kemarin saya mendengar selentingan dari warga, katanya kamu mau maju mencalonkan diri sebagai kades.” sahut Lana.

__ADS_1


“Ya Insyaallah, kalau tuhan mengizinkan, sebab saya memang sudah lama berencana untuk maju mencalonkan diri sebagai kades.” ucap mas Amin.


“Apa tidak sebaiknya tahun depan saja Min, maaf loh Min, saya ngomong seperti ini bukan karena saya ini kakak iparnya mas Bakti. Tapi menurut hemat saya, alangkah lebih baiknya bila dari pedukuhan Balong ini, calon kades yang hendak maju, itu salah satu orang saja dulu.” saran Lana.


“Tidak Na, saya tetap akan maju mencalonkan diri sebagai calon kades, sebab dari awal (beberapa bulan yang lalu) mas Bakti itu sudah bilang ke beberapa warga, bahwa dirinya tidak akan maju sebagai calon kades, tapi entah mengapa, disaat waktu pendaftaran kades sudah dekat, mas Bakti malah menyatakan diri hendak maju sebagai calon kades.” jawab mas Amin.


“Barangkali bisa diundur, ya sebaiknya mas Amin daftar kadesnya periode berikutnya saja, toh mas Amin kan masih muda, masih punya banyak waktu untuk mengatur strategi. Sebab saya juga tidak ingin, nanti kedepannya ada permusuhan antara mas Bakti dan mas Amin.” ucap Lana.


“Tidak bisa Na, sebab antara saya dan mas Bakti, itu lebih dulu saya yang sudah menyatakan diri untuk maju sebagai calon kades.” sahut 1amin


“Oh begitu min, kalau memang tekad kamu sudah bulat untuk maju sebagai calon kades, saya harap untuk kedepannya nanti tidak terjadi permusuhan antara kamu dan Bakti. Saya sebagai teman hanya bisa mengingatkan, demi kebaikan kamu dan Bakti. Sebab walaupun saya kakak iparnya mas Bakti, saya juga kan tidak punya hak pilih dalam pemilu disini, toh beberapa hari lagi, saya juga akan kembali ke Mojo.” terang Lana.


“Ya terimakasih atas masukan sampean Na, tapi maaf, tekad saya untuk maju mencalonkan diri sebagai calon kades memang sudah bulat.” ucap Amin.


“Oke Min, sudah malam, saya pamit pulang dulu, jangan lupa, tetap jaga persaudaraan diantara sampean dan Bakti.” pesan Lana kepada Amin di akhir perbincangan malam selepas isya.


"Ya, kalau soal persaudaraan tetap akan kami jaga, toh dalam pemilu nanti, warga juga yang akan menentukan siapa yang akan menang." sahut Amin.


"Siiip!" ucap Lana sambil mengangkat jari jempol tangan setinggi dada.


Bakti memang adik iparnya, dan Amin juga sahabat semasa kecil dengan Maulana, tapi kurangnya jiwa sosial yang ada membuat Lana merasa pesimis, bila kedua orang tersebut nanti akan terpilih menjadi kepala desa.


Maulana kadang juga cukup tergelitik bila menyaksikan mereka yang kurang peka terhadap kehidupan warga di sekitar, mendadak menjadi orang paling dermawan kepada warga saat menjelang pemilu kades di desa.


Ambisi ingin dipilih oleh warga untuk menjadi kepala desa, membuat mereka mendadak dermawan penuh maksud tersembunyi dibalik sikapnya.


Ya mungkin itulah serpihan warna sebuah kehidupan, sehingga muncul istilah ada udang di balik batu.


Soal menang kalah dalam sebuah pemilu, itu sudah biasa. Yang terpilih belum tentu sebagai pemenang. Dan yang tak terpilih, juga belum tentu sebagai pihak yang kalah.


Sebab inti dari semua yang ada, adalah bagaimana kita bisa bermanfaat untuk sesama. Sebab sebaik-baik manusia, adalah yang paling banyak memberi manfaat kepada manusia lain.


Bisa saja orang yang dermawan mendadak menjelang pemilu kades di desa, nanti akan terpilih sebagai kepala desa, sebab udang dibalik batunya juga cukup besar.


Sementara orang yang tabiatnya memang dermawan, kadang kalah modal sehingga tidak terpilih, karena kue politiknya kecil.

__ADS_1


Atau yang terjadi malah sebaliknya, hal demikian tentu kembali kepada warga masyarakat yang akan memilih mereka.


Namun, sebuah Kemenangan tetap ada di pihak orang yang benar-benar tulus.


Kemenangan calon kades yang mendadak dermawan dengan kue politiknya yang besar, biasanya akan berimbas kesengsaraan bagi warga untuk masa waktu 6 tahun kedepan.


Hal demikian mengingatkan kita kepada sejarah Guru Bangsa yakni Almarhum KH. Abdurrahman Wahid yang terpilih sebagai Presiden ke 4 Negara Indonesia. Modal beliau saat maju mencalonkan diri sebagai calon presiden pada tahun 2000, adalah kepercayaan masyarakat.


Sehingga begitu Gus Dur terpilih menjadi presiden lewat sidang umum MPR, beliau menyatakan dengan lantang: Ini adalah kemenangan kita bersama! Kemenangan seluruh rakyat Indonesia!


Memang sudah menjadi rahasia umum, sebelum Gus Dur terpilih menjadi presiden pun, perjuangan beliau adalah membela mereka kaum yang lemah dan tertindas.


Begitu beliau terpilih menjadi presiden, Gus Dur bak superhero yang tak pernah lelah memperjuangkan NKRI dari ancaman bahaya separatis dan perpecahan di wilayah NKRI. Dan itu berhasil, NKRI tetap utuh berdiri sampai saat ini.


Ancaman perpecahan dan separatis itu mencuat sejak runtuhnya masa kekuasaan Orde Baru yang ditandai dengan lengsernya presiden Soeharto yang telah berkuasa selama 32 tahun dan terjadinya krisis moneter berkepanjangan sejak tahun 1999.


Pada masa peralihan orde baru ke era reformasi kepemimpinan Presiden Soeharto berakhir dan diganti oleh presiden berikutnya yakni presiden **. Habibi. Ditahun yang sama yakni tahun 1999, Presiden **. Habibie mengadakan referendum di Timor-Timur yakni Provinsi ke 27 NKRI. Hasil referendum adalah lepasnya Timor-Timur dari wilayah NKRI.


Pertengahan tahun 2001 Presiden Gus Dur yang tengah mengerahkan segenap energi untuk menjaga kedaulatan NKRI dan pemberantasan korupsi, kemudian dilengserkan oleh lawan-lawan politiknya.


Setelah 18 bulan menjadi presiden Gus Dur pun turun keprabon, namun sejarah kembali terukir. Lawan politik Mantan Presiden Gus Dur banyak yang masuk bui karena melakukan tindak pidana korupsi, selebihnya menjadi gelandangan politik yang menjadi cibiran rakyat tiada henti.


Ketulusan dan keikhlasan Gus Dur dalam berjuang membenahi NKRI tetap bersinar bak permata penuh aji. Hingga kini Pusara Almarhum Gus Dur tetap banyak yang menziarahi.


Gus Dur pun mendapat gelar kehormatan sebagai Bapak Bangsa. Sebagai Kusuma Bangsa, Gus Dur kini telah tenang disisi tuhannya. Gus, jasamu akan selalu dikenang oleh setiap generasi. Teladan dan Ilmumu tetap bersinar sebagai permata aji bagi generasi.


Maulana yang kala itu masih duduk di kelas tiga SMA, ikut menjadi saksi carut marutnya kerusuhan pada tahun 1998 dan era Reformasi pada tahun 1999 lewat pemberitaan di media televisi.


Satu tahun kemudian, saat Maulana baru satu tahun menjadi mahasiswa di sebuah Universitas Swasta di Jawa Timur, Maulana pun aktif mengikuti perkembangan politik lewat media cetak maupun media televisi hingga terpilihnya Gus Dur sebagai Presiden ke 4 NKRI.


Setelah Gus Dur turun keprabon, di waktu berbeda sejak tahun 2002-2004 beliau sempat tiga kali hadir di kampus dalam rangka seminar dan bedah buku Revolusi Budaya karya Musa Asy'ari dan dalam rangka mewisudah mahasiswa pada tahun 2003-2004.


Meski Maulana dan sekian mahasiswa di kampus sempat bertatap muka dengan Gus Dur, tapi Maulana tidak sempat sungkem dan cium tangan kepada beliaunya Gus Dur.


“Semoga Berkah dan Teladan yang pernah beliau ajarkan kepada kami, akan tetap mengalir di sanubari kami.” batin Maulana.

__ADS_1


Lana terus melangkahkan kaki menuju ke rumahnya, soal majunya Bakti dan Amin, biarlah Lana memantaunya dari jauh, sebab tiga hari lagi ia mesti balik lagi ke Mojo bersama anak dan istri.


__ADS_2