
Hari minggu suasana warung sate sederhana cukup ramai dipenuhi pembeli yang ada, sehingga membuat Yuli cukup kecapean juga. Sore itu Yuli mesti kembali lagi ke rumah sakit untuk menemani ibu dan bapak di rumah sakit. Selesai mempersiapkan semua perbekalan yang ada, Yuli lalu bergegas menuju ke rumah sakit.
“Mang Ali dan Bik Wati saya berangkat dulu ya,” pamit Yuli kepada sepasang suami istri yang menjadi pembantu setianya.
“Iya mbak, hati-hati dijalan.” ucap mang Ali dan bik Wati bersamaan.
Lima menit kemudian, “Walah bu e, ini selimut dan kain mbak Yuli di atas kursi, kok bisa sampai ketinggalan bu e…!” teriak mang Ali saat baru masuk ke dalam warung sederhana.
“Wah kok bisa pak’e… ini pasti gara-gara mbak Yuli terlalu buru-buru berangkat ke rumah sakitnya pak’e.” jawab bi Wati sambil mendekat ke mang Ali suaminya.
“Terus ini bagaimana toh pak’ e… mbak Yuli juga sudah jauh pergi dengan mobil angkotnya.” ucap bik Wati panik.
Tak lama berselang dari keseruan bik Wati dan mang Ali menyoal soal selimut dan kain milik mbak Yuli yang tertinggal di warung, tiba-tiba terdengar suara sepeda motor berhenti di depan warung tersebut.
“Selamat sore mang Ali, Apakah mbak Yulinya ada?” tanya mas Bagus kepada mang Ali.
“Wah… mbak Yuli baru saja berangkat ke rumah sakit mas Bagus,” jawab mang Ali sigap.
“Ini selimut dan kain yang akan dibawa mbak Yuli ke rumah sakit, malah ketinggalan di kursi.” ucap mang Ali lagi.
“Oh…,” ucap mas Bagus sambil menoleh ke tas karton yang tergeletak di kursi tersebut.
“Sini mang, biar saya antarkan selimut dan kain itu ke rumah sakit.” lanjut ucap mas Bagus.
“Wah kebetulan sekali kalau mas Bagus mau mengantarkan selimut dan kain ini ke rumah sakit.” kesiap jawab mang Ali ceria.
“Ya mang Ali, kebetulan aku juga ingin menjenguk bapak di rumah sakit.” ucap mas Bagus lagi.
“Kok ya bisa kebetulan begini ya mas Bagus.” ucap bik Wati sambil tersenyum dan memberikan tas karton berisi selimut dan kain kepada mas Bagus.
“Iya bik Wati, sebenarnya tadi saya mau meluncur langsung ke rumah sakit, tapi hati ini tiba-tiba ingin mampir ke tempat ini.” terang mas Bagus kepada mereka.
Mang Ali dan Bik Wati saling pandang dan tersenyum lega atas kesediaan mas Bagus untuk mengantar selimut dan kain tersebut ke mbak Yuli majikannya.
Sebentar kemudian, Mas Bagus sudah meluncur dengan sepeda motornya menyusuri jalan raya menuju ke rumah sakit umum nan jauh di sana. Mas Bagus tersenyum lagi saat menyetir sepeda motornya menyusuri jalan raya. Maksud hati ingin menjemput dan mengantarkan Yuli ke rumah sakit, tapi yang di dapat cuma selimut dan kain saja yang tertinggal di warungnya. “Wah tidak apa-apa wis, selimut dan kain ini bisa saya jadikan alasan untuk menemani Yuli lagi di rumah sakit malam ini.” batin mas Bagus sambil tersenyum ceria.
Pukul delapan malam mas Bagus akhirnya sampai juga di rumah sakit. Setelah memarkir sepeda motornya, Mas Bagus lalu melangkah sambil menenteng parcel berisi aneka buah segar dan tas karton berisi selimut dan kain menuju ke kamar bapaknya Yuli.
Dari jauh Yuli kesiap memandang mas Bagus yang datang sambil menenteng tas karton miliknya yang tertinggal di dalam warung tadi. Semakin dekat mas Bagus melangkah mendekati kamar bapaknya, Yuli yang sedang duduk di teras hanya bisa menundukan kepala sambil memandangi lantai berlapis keramik putih di bawahnya. “Ini dek Yuli ada titipan dari mang Ali.” ucap mas Bagus setibanya di hadapan Yuli.
“Terimakasih mas, kok bisa mang Ali menitipkan ini kepada mas Bagus?” tanya Yuli saat menerima tas karton berisi selimut dan kain tersebut.
“Oh… itu tadi saya kebetulan lewat di depan warung kamu, terus saya bertemu dengan mang Ali dan Bik Wati, setelah berbincang-bincang dengan mereka sejenak, mereka lalu cerita kalau tas kamu tertinggal di warung.“ ucap mas Bagus.
“Khawatir nanti malam kamu kedinginan tidur tanpa selimut, aku pun segera menyusul kamu untuk mengantarkan selimut ini.” lanjutnya
__ADS_1
Yuli tersenyum tipis bak bunga mawar yang sedang mekar indah sekali, “terima kasih mas, sudah repot-repot mengantar selimut ini.” ucap Yuli seiring sisa senyum manis yang masih merekah indah di bibirnya.
“Saya malah merasa senang bisa mengantarkan tas ini kepada dek Yuli, sebab kalau tas ini dibiarkan tertinggal di warung dan nanti malam dek Yuli tidur kedinginan, malah saya yang berdosa nanti.” jawab mas Bagus bercanda.
“Alah mas Bagus ini bisa saja bercanda.” ucap Yuli seiring senyum yang mengembang indah di bibirnya.
“Ini buahnya bawa masuk sekalian dek,” ucap mas Bagus kepada Yuli.
“Oh ini buat saya juga toh mas? saya pikir mau dikasihkan ke orang lain.” canda Yuli saat hendak masuk ke dalam kamar bapaknya yang sedang terbaring lemah dengan selang infus di tangannya.
Kali ini gantian mas Bagus yang tertawa karena Yuli mau juga bercanda dengannya.
Sebentar kemudian, “Siapa toh nak tamu yang datang?” tanya ibu.
“Ini mas Bagus ngantar selimut saya yang tadi tertinggal di dalam warung bu.” jawab Yuli sambil menaruh paket buah segar di atas meja kamar.
“Oh,” sahut ibu sambil mengangguk pelan.
“Asik buah segar,” kesiap Aris sambil meraih parcel yang tergeletak diatas meja.
Yuli lalu keluar dari dalam kamar untuk menemui mas Bagus yang masih duduk di teras sendirian.
“Bagaimana kondisi bapak saat ini dek?” tanya mas Bagus kemudian.
“Alhamdulillah, setelah menjalani operasi usu buntu, kini kondisi kesehatan bapak semakin membaik mas.” jawab Yuli datar.
“Amin,” ucap Yuli mengamini doa mas Bagus.
“Kapan bapak diizinkan untuk pulang dari rumah sakit dek?” tanya mas Bagus lagi.
“Menurut keterangan dari dokter, kalau kondisi kesehatan bapak sudah pulih kembali, mungkin besok lusa bapak diizinkan untuk pulang dari rumah sakit mas.” jawab Yuli.
“Kalau begitu, biar besok lusa saya saja yang menjemput bapak dari rumah sakit dek.” tawar mas Bagus kepada Yuli.
“Tidak usah mas, nanti malah jadi merepotkan ms Bagus saja, soalnya paman juga sudah berjanji akan menjemput bapak lusa nanti.” jawab Yuli kebaratan.
“Izinkan saya untuk menjemput bapak lusa nanti dek, agar kesalahan saya kepada Yuli bisa termaafkan oleh dek Yuli.” ucap mas Bagus setengah memohon.
“Kesalahan mas Bagus sudah saya maafkan sejak dulu mas, bagi saya yang sudah berlalu biarlah berlalu, toh setiap orang juga punya masa lalu mas.” jawab Yuli menghibur.
“Benarkah kesalahan saya, sudah Yuli maafkan?” tanya mas Bagus ragu.
“Sudah saya maafkan sejak dulu mas Bagus,” jawab Yuli mantap dan meyakinkan.
“Alhamdulillah,” ucap mas Bagus lega.
__ADS_1
“Sebagai bukti kalau dek Yuli sudah memaafkan kesalahan saya, maka izinkan saya besok lusa yang yang menjemput bapak di rumah sakit.” ucap mas Bagus lagi.
“Apa nanti tidak merepotkan mas Bagus, bukankah besok lusa merupakan hari kerja, dan mas Bagus tentu masih berdinas di kantor kan?” jawab Yuli keberatan.
“Sepulang kerja, nanti saya yang akan menjemput bapak, bagaimana dek?” tanya Bagus skakmat.
Yuli diam sesaat, lalu dia pun berucap, “baiklah, kalau memang itu keinginan dari mas Bagus.” jawabnya.
“Yes!!!” ucap mas Bagus sambil mengangkat kepalan tangan setinggi dada.
“Begitu dari tadi kek,” lanjut mas Bagus seiring senyum mengembang.
Yuli hanya bisa tersenyum, melihat kelucuan mas Bagus yang cukup girang malam ini.
“Sudah malam mas Bagus, saya pamit dulu untuk istirahat mas.” ucap Yuli kepada mas Bagus.
“Iya dek, selamat istirahat ya, semoga mimpi indah.” ucap mas Bagus seiring senyum.
Yuli hanya tersenyum, ia lalu masuk ke dalam kamar untuk menemani ibu dan bapak.
Sejenak Yuli masuk ke dalam kamar, Aris lalu keluar dan tidur di atas tikar seperti kemarin malam.
Malam ini, Bagus dan Aris tidur cukup nyenyak melewati malam, sebab besok pagi ia mesti cepat kembali untuk berdinas di kantor.
Subuh menjelang mas Bagus sudah terbangun dari tidurnya, setelah sholat subuh, lalu mas Bagus bergegas untuk kembali ke rumahnya.
Kali ini mas Bagus kembali bersama Yuli yang di bonceng dengan sepeda motornya, meski belum ada kata sepakat nyatakan cinta, tapi mereka terlihat cukup akrab juga.
Pagi itu Mas Bagus merasakan bahagia, sebab bisa sekalian mengantar Yuli untuk kembali ke rumahnya.
Saat mereka bersepeda, sebenarnya mas Bagus ingin mengatakan agar Yuli mau berpegangan dan memeluk erat perutnya, tapi mas Bagus segan, sehingga bahasa yang muncul pun sulit ditafsirkan.
Mas Bagus terus melaju cepat dengan sepeda motor kingnya, sementara tubuh Yuli yang dibonceng di belakangnya juga terasa hangat menempel di punggungnya.
Tiga puluh menit kemudian, setibanya mereka di depan warung milik Yuli.
“Kalau begitu mas langsung pulang saja ya dek?” ucap mas Bagus kepada Yuli.
“Iya mas, hati-hati di jalan.” jawab Yuli paham.
Bagus langsung melesat dengan sepeda motornya kembali menuju ke rumahnya, sebab pagi ini ia mesti masuk kantor untuk berdinas lagi.
Sementara mang Ali dan bik Wati yang melihat majikannya di bonceng oleh mas Bagus yang tampan, mereka hanya saling sikut dan mengerlingkan mata atas kedatangan mereka.
“Bu e… bos kita ternyata lagi kikuk-kikuk (jatuh cinta).” ucap mang Ali sambil nyengir saat memadukan kedua tangan seperti ayam jago sedang berhadap-hadapan.
__ADS_1
“Walah pak e kaya kita waktu muda dulu ya pak e.” jawab bik Wati sambil senyum juga.
“Bedanya kalau bapak dulu naik kerbau sambil angon, sedangkan mas Bagus naik motor.” kik… kik… kik…, tawa mang Ali.