Cinta Merah Jambu

Cinta Merah Jambu
Strategi Lawan Politik


__ADS_3

Sebelum calon kades lain bergerak untuk mencari simpati dari warga, Pak Seno malah sudah bergerak membagi-bagikan kerudung/jilbab kepada warga.


Gebrakan langkah politik pak Seno di pagi yang masih buta, membuat lawan-lawan politiknya menjadi gentar adanya. Selain masih terlalu pagi, waktu ‘H’ pemilu kades juga masih lama.


Padahal di desa Sumber Balong tersebut, gerakan membagi-bagikan kerudung atau souvenir untuk menarik simpati warga, selama ini belum pernah ada dan belum pernah terjadi di desa.


Gerakan bagi-bagi souvenir kepada warga menjelang pemilu kades, tentu akan berakibat buruk pada kemurnian demokrasi untuk masa pemilu berikutnya. Sebab makna Demokrasi, ‘dari rakyat, untuk rakyat dan oleh rakyat’ tentu bisa tereliminir akibat suap terselubung lewat tebar pesona.


Seorang pemimpin menurut pandangan umum masyarakat adalah mereka-mereka yang memiliki kemampuan memimpin masyarakat.


Seorang pemimpin yang dipilih langsung oleh masyarakat, tentu orang pilihan yang memiliki talenta politik dan sosial dalam mengakomodir kepentingan masyarakat di desa.


Bila dalam kampanye pemilu kades di desa, kemudian calon kades tersebut melakukan suap kepada warga, maka hal ini akan menyingkirkan calon lain yang memiliki banyak talenta tapi tidak memiliki harta.


Calon yang memiliki kapabilitas dan kemampuan dalam memimpin masyarakat tidak terpilih, lalu mereka yang ambisius tapi minim ilmu akan terpilih.


“Wah! kalau sebelum pemilu saja sudah main sogok kepada warga, bisa rusak ini demokrasi!” ucap salah satu pendukung mas Bakti sambil geleng-geleng kepala.


“Biarkan saja, pak Seno bergerak lebih dulu, gebrakan kita, nanti saja menjelang minggu-minggu terakhir mendekati waktu pemilu.” sahut Bakti.


Sementara pak Asrori yang sudah menjabat kepala desa dua periode sebelum pak Seno menjadi kepala desa, tampak mati kutu. Sebab antusias warga kepada pak Asro yang hendak maju sebagai calon kades, kini sudah redup.


Hal demikian karena kesalahan yang pernah dilakukan pak Asrori sendiri kepada warga pada masa periode kedua dia menjadi kepala desa.

__ADS_1


***Flashback***


Dua belas tahun yang lalu, Pak Asro pernah menjabat sebagai kepala desa di Desa Sumber Balong. Di periode pertama Pak Asro menjabat sebagai Kepala Desa, pak Asrori adalah sosok kades yang cukup ngayomi kepada warga masyarakat di desa. Sehingga pada masa pemilu kades di periode kedua, pak Asrori pun dipilih kembali oleh warga masyarakat desa.


Setelah pak Asrori terpilih kembali sebagai kepala desa di desa Sumber Balong, dengan mengalahkan pak Muladi sebagai lawan politiknya dalam pemilu kades di periode kedua tersebut, sikap pak Asro mendadak berubah drastis.


Pak Asrori yang digadang-gadang akan melakukan perbaikan di desa, ternyata bersikap sangat apatis dan seolah tidak peduli lagi kepada warga masyarakat desa.


Bila di periode pertama pak Asrori menjabat sebagai kepala desa, pintu rumahnya selalu terbuka untuk menerima warga. Tapi setelah pak Asrori terpilih kembali sebagai kepala desa di periode kedua, pak Asrori kian apatis kepada warga. Pintu rumah pak Asrori pun menjadi tertutup, dan seolah enggan untuk menerima warga masyarakat desa. Waktu pak Asrori lebih banyak dihabiskan untuk memancing di laut sebagai hobinya.


Warga masyarakat pun menjadi kecewa karena telah salah mempercayakan amanah kepala desa kepada pak Asrori di periode kedua tersebut. Warga masyarakat merasa tertipu, sebab di periode kedua pak Asrori menjabat kepala desa, ia tidak memenuhi segala janji yang disampaikan olehnya saat kampanye.


Periode kedua tersebut adalah masa terakhir pak Asro sebagai kepala desa, sebab peraturan perundang-undangan desa juga mensyaratkan hanya dua kali saja setiap kades boleh menjabat sebagai kepala desa.


Pak Asro, seperti tidak punya malu, sebab ia tetap maju mendaftarkan diri sebagai calon kepala desa.


“Kalau Pak Seno bisa membangun jalan dan gang-gang di desa, itu karena ada bantuan Anggaran Dana Desa (ADD) dari pemerintah pusat, yang pada masa kepemimpinan saya sebagai kepala desa belum ada ADD.” ucap pak Asrori beralasan untuk maju sebagai calon kepala desa pada periode kali ini.


***Next***


Mas Bakti ikut terpancing dengan gerakan pak Seno yang telah membagi-bagi souvenir kepada warga. Mas Bakti lalu ikut membagi-bagikan sembako untuk warga yang mau mendukung dirinya maju sebagai calon kepala desa.


Sementara Yuli tetap bermain cantik di belakang layar dengan memberdayakan para pedagang keliling di desa.

__ADS_1


Bu Tonah adalah pedagang tempe keliling di desa. Setiap pagi, bu Tonah selalu keliling di desa sambil menggendong wakul (wadah yang terbuat dari anyaman bambu) berisi tumpukan tempe yang akan dijual secara keliling kepada warga.


Selama musim kampanye, bu Tonah banyak menerima orderan tempe dari Yuli.


“Ini tempe, tolong nanti bi Tonah kasihkan kepada warga yang kerap membeli tempe kepada anda. Anggap saja ini sebagai bonus bagi mereka (pembeli). Bila ada warga yang kurang mampu, tolong dikasih juga.” pesan Yuli kepada Bu Tonah.


Dengan senang hati, bi Tonah melaksanakan amanah dari Yuli setiap hari jumat sekali.


Setiap hari, bi Tonah biasanya membawa 100 keping tempe. Tapi di hari jumat bi Tonah membawa 200 keping tempe. 100 keping tempe adalah milik bi Tonah yang akan dijual kepada para pembeli dan yang 100 keping tempe adalah Bonus dari Yuli untuk para lansia dan pembeli lainnya.


Bu Tonah kian mendapat banyak pelanggan, sebab setiap satu minggu sekali Bu Tonah selalu memberikan bonus kepada para pembeli.


“Ini dari Bu Yuli,” ucap bu Tonah saat memberikan bonus lembaran tempe khas desa yang dibungkus dengan daun pisang tersebut kepada para pembeli dan warga yang kurang mampu.


“Para ibu-ibu jelas sangat senang saat mereka mendapat bonus tempe dari bu Tonah. Apalagi saat musim membajak sawah, mereka akan membeli tempe cukup banyak untuk mengirim para pekerja kuli cangkul di sawah mereka.


Dengan adanya Bonus tempe dari Yuli, para ibu-ibu di kampung pun bisa menghemat sedikit uang belanja mereka.


Para lansia dan warga yang kurang mampu, yang mendapat tempe secara cuma-cuma dari Yuli, biasanya akan langsung menggoreng tempe tersebut sebagai lauk untuk sarapan mereka.


Selain bik Tonah yang berjualan tempe di Pedukuhan (dusun) Balong, ada juga bik Jumi'ah, bik Tuslah dan bik Sarah yang berjualan tempe secara keliling di dusun Turi, dusun Rejo dan dusun Cenang. Keempat orang pedagang (reseller) tempe tersebut adalah tim sukses dari mbak Yuli.


Bu Hindun sang pemilik home industri pembuatan tempe di desa Sumber Balong dan keempat orang reseller tempe tersebut di atas, juga semua warga desa, kini mendapat untung dan berkah dengan adanya pemilu kades tersebut. Detik-detik menjelang pesta demokrasi, suasana desa kian terasa hangat dengan antusias warga dalam menyambut the next calon kepala desa mereka.

__ADS_1


__ADS_2