Cinta Merah Jambu

Cinta Merah Jambu
Kerudung Hitam


__ADS_3

Setelah pemilihan dan penghitungan perolehan suara yang dilaksanakan secara langsung, umum, bebas dan rahasia oleh team panitia pemilihan umum kepala desa, Budi dan tim suksesnya lalu kembali ke rumah. Wajah mereka yang semula arogan, kini berubah menjadi haru biru menahan malu setelah menelan pil pahit sebuah kekalahan. Dua kali sudah Budi mencoba peruntungan mencalonkan diri sebagai calon kepala desa, dua kali pula ia menderita kekalahan.


Budi lalu melampiaskan semua amarah kepada puluhan orang tim suksesnya yang duduk di balai rumahnya.


“Habis sudah semua uang saya! mana bukti dari ucapan kalian yang sudah menjanjikan kemenangan di pihak saya!” bentak Budi kepada puluhan tim suksesnya.


Kang Rizal dan teman-teman tim sukses lainnya, hanya tertunduk memandangi lapisan karpet alas duduk mereka.


“Omong besar saja yang kalian umbar, tapi kosong tak ada bukti!, brakkk!!!” suara kaleng biskuit Budi banting di atas lantai balai rumahnya.


Kang Rizal dan teman-teman terkesiap kaget dengan suara keras kaleng biskuit yang tiba-tiba saja dibanting oleh mas Budi di hadapan mereka.


“Kau kalah lagi Budi!” ratap Budi sambil memukul-mukulkan telapak tangannya pada dinding tembok di hadapannya.

__ADS_1


“Pergi kalian semua, pergi!!!” bentak Budi kepada puluhan tim suksesnya yang duduk sila di lantai ruang tamu rumahnya.


Kang Rizal dan teman-teman lainnya, lalu pergi meninggalkan rumah mas Budi tanpa ada sepatah kata yang terucap dari mulut mereka. Mereka melangkah lesu, menahan rasa malu akibat derita kekalahan di pihak mereka.


Berbulan-bulan lamanya, mas Budi dan orang-orang tim suksesnya tak menampakkan diri di khalayak warga masyarakat desa. Meski Rizal dan teman-teman tim sukses lainnya kerap melintas di jalan desa, tapi sapaan mereka kepada warga yang ada, hanya sekedar saja.


Bias rasa malu Rizal dan kawan-kawan dalam timnya masih tampak jelas di raut wajah mereka akibat derita kekalahannya mas Budi yang mereka junjung dalam pemilihan umum di desa.


Siang itu, Budi duduk termenung seorang diri di kursi balai tengah rumahnya, wajahnya haru biru dengan segurat otot tegang di pelipis keningnya. Rumah mas Budi yang dulu ramai dikunjungi para tamu dan warga desa saat menjelang pemilu di desa, kini sepi bak kuburan saja.


Kini disaat mas Budi menderita kekalahan dalam pemilihan umum kepala desa, tak satupun dari warga simpatisannya yang sudi mendatangi rumahnya. Budi menahan pusing di kepala, ia lalu merebahkan badan di ranjang balai tengah rumahnya. Budi lelap dalam tidur ditengah kekecewaan dan penat yang melanda jiwanya.


Menjelang akhir waktu sholat Zuhur, Yuli istrinya lalu membangunkan mas Budi untuk melaksanakan shalat. “Pak, ayo bangun, sudah hampir habis loh waktu sholat Zuhurnya.” ucap Yuli sambil menggoyang-goyangkan kaki mas Budi suaminya. tak ada respon apapun dari mas Budi yang masih terpejam matanya, Yuli coba lagi untuk menggoyang-goyangkan bahu suaminya, tapi Budi juga tetap diam dalam tidurnya.

__ADS_1


Melihat suaminya diam saja, seketika Yuli teriak histeris minta tolong kepada yang ada, sedetik kemudian para tetangga sudah memadati bali tengah rumah Yuli akibat teriakan histerisnya. Melihat mas Budi tak sadarkan diri, warga pun langsung menolong mas Budi dengan membawanya ke rumah sakit.


Rizal begitu cepat mengendarai mobilnya membawa mas Budi ke rumah sakit, setibanya mereka di rumah sakit, suster langsung merujuk mas Budi ke ruang IGD. Tim dokter langsung memberikan pertolongan pertama kepada mas Budi yang mengalami penyumbatan darah di otaknya.


Dua jam kemudian, tim dokter keluar dari ruang operasi, mereka menyampaikan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya mas Budi kepada Yuli dan keluarga.


Bagai mendengar petir di siang hari, Yuli menjerit menangis lalu tak sadarkan diri di atas jasad mas Budi yang telah terbujur kaku di atas ranjang.


Sore itu juga mobil ambulan rumah sakit, mengantarkan jasad almarhum mas Budi kembali ke desa untuk disemayamkan di tempat peristirahatan terakhirnya.


Yuli yang mengenakan kerudung hitam duduk simpuh di samping makam almarhum mas Budi yang baru disemayamkan. Yuli kembali mengusap batu nisan almarhum mas Budi, “Maafkan segala kesalahan Yuli, Mas.” bisik Yuli pelan di atas makam almarhum mas Budi yang masih basah ditaburi bunga aneka warna.


Lili dan Nana yang sedari tadi berdiri di sampingnya lalu mendekat dan memapah Yuli untuk berdiri. “Sudah ikhlaskan dan doakan almarhum mas Budi, agar dia bisa tenang kembali ke alam baka.” ucap Lili dan Nana untuk menguatkan hati Yuli sahabatnya.

__ADS_1


Lili dan Nana lalu membimbing Yuli yang sembab kedua bola matanya, untuk kembali ke rumah Yuli yang sedang dirundung duka. Di usianya yang masih muda, Yuli harus menjadi janda karena ditinggal mati suaminya. “Sini sayang.” ucap Nana kepada Putri Kusuma Aprilia anak semata wayang Yuli dan almarhum mas Budi ke dalam pangkuannya.


__ADS_2