Cinta Merah Jambu

Cinta Merah Jambu
Berlibur ke Pantai


__ADS_3

Pagi itu suasana desa nampak cerah disinari mentari yang tersenyum di ufuk timur menyapa alam marcapada menebar pesona keindahan sempurna. Sementara di jalan setapak desa, beberapa gerombol kaum buruh tampak beriringan menuju ke sawah untuk menyiangi tanaman padi milik tetangga. Seiring gerak kaki melangkah diselingi obrolan hangat, canda tawa mereka terdengar renyah membelah suasana. Perpaduan desir kesiur angin pagi dan suara gemericik air mengalir juga cuit kicau burung yang sedang mencari makan di atas rimbunan dahan pohon, maka terciptalah harmoni indah sekali.


“Lah iya, ko ya kebetulan, disaat kita hendak menyiangi tanaman padi, kok ya semalem malah turun hujan sangat lebat sekali, jadi nanti kita tidak terlalu ngotot saat menyiangi tanaman padinya, iya tidak bik?” ucap bik Sumi


“Itu namanya rizky, lah wong kita paginya mau menyiangi tanaman padi, eh.. semalam malah disirami hujan sangat lebat sekali.” timpal bik Jamilah


“Mudah-mudahan saja, rumput-rumput yang tumbuh di sela tanaman padi-nya tidak terlalu lebat, jadi kita mudah menyelesaikan pekerjaan kita nanti.” sambung bik Warti


“Seperti peristiwa yang sudah-sudah, dimusim hujan seperti ini, biasanya rumputnya juga tumbuh lumayan lebat, tapi… karena tanahnya berupa endapan lumpur, jadi… rumput pun mudah dicabutnya.” sahut bik Sumi


“Di musim hujan begini, rumput yang tumbuh, paling kebanyakan sejenis enceng gondok.” ucap bik Yati ikut menimpali.


Tak lama kemudian, di sela obrolan hangat ibu-ibu yang sedang melangkah menuruni alur jalan raya, mereka kemudian berpapasan dengan bu kades yang sedang berboncengan dengan mas Juni.


“Hi... ibu-ibu semuanya…, selamat pagi!” sapa Yuli dari atas sepeda motor yang sedang melaju di jalan raya.


“Hi…, bu kades.., selamat pagi…, mau kemana bu…!?” timpal ibu-ibu yang mendadak menghentikan langkahnya sejenak di tepi jalan raya.


“Jalan-jalan bu!” jawab Yuli seiring lambaian tangan dan senyum yang merekah indah.


“Wah… Jalan-jalan..! Asik nih..!” sahut bik Jamilah sambil tersenyum juga.


“Yuli hanya bisa tersenyum dan menganggukan kepala saat menimpali warganya yang masih berdiri di tepi jalan raya.”

__ADS_1


“Wah-wah…, mbak Yuli memang cukup beruntung sekali ya nasibnya, masih muda, cantik berwibawa, dan ia kini malah terpilih menjadi kepala desa pula.” ucap bik Warti seiring gerak kaki melanjutkan perjalanan mereka.


“Betul sekali apa yang diucapkan oleh bik Warti, mbak Yuli memang masih muda dan cantik, dan yang lebih beruntungnya lagi, ia malah sudah tiga kali menikah dengan pria-pria yang tampan-tampan pula.” sahut bik Jamilah.


“Berarti, dia sudah merasakan tiga galih asem yang berbeda dong.” ucap bik Sumi sambil cekikikan menahan tawa.


“Wah ngelantur saja bik Sumi kalau bicara.” sahut ibu-ibu sambil cekikikan menahan tawa.


Sementara mbak Yuli dan mas Juni yang berboncengan sepeda motor menyusuri jalan raya desa, kini kian jauh meninggalkan mereka. Sepasang suami istri yang baru terpilih menjadi kepala desa itu, tampak mesra di atas sepeda motor yang mereka tumpangi itu. Sepeda motor terus melaju menyusuri jalan raya, sementara tangan Yuli kian mesra melingkar di perut mas Juni.


Semilir angin pagi dan hijaunya hamparan tanaman padi di sawah, menjadi pemandangan indah tersendiri bagi sepasang sejoli yang baru menikah dan terpilih menjadi kepala desa tersebut. Mereka tak ubahnya sang Dewi dan Arjuna di atas turangga kencana yang melaju damai menyusuri jalan raya. Kebahagiaan dan keserasian mereka kerap menjadi pusat perhatian oleh siapapun yang memandangnya.


Tiga puluh menit kemudian, matahari tampak kian tinggi di atas awan, indahnya desa yang dikelilingi hamparan tanaman padi dan pepohonan juga sungai-sungai yang mengalir deras, kini telah jauh mereka tinggalkan. Sepeda motor yang mereka tumpangi kini mulai menyusuri ramainya jalanan kota. Pemandangan indahnya desa, kini berganti menjadi hilir mudik kendaraan bus, truk dan angkot yang melaju di atas mulusnya aspal jalan raya utama.


Satu jam setelah menyusuri jalanan kota, mereka akhirnya sampai juga di lokasi wisata pantai alam indah. Yuli dan mas Juni lalu istirahat sejenak di gubuk bambu bersama para pengunjung dan wisatawan lainnya yang sedang menikmati indahnya suasana. Tak jauh dihadapan mereka, tampak gulungan debur ombak saling kejar-mengejar menghempas ke tepian pantai menciptakan kedamaian jiwa.


Sementara, tawa dan canda wisatawan yang sedang berenang di tepian pantai, kian mengundang naluri Yuli dan mas Juni untuk ikut menceburkan diri berenang bersama mereka. Seiring senyum dan kode diri, mereka lalu bergabung dan berenang menikmati indahnya suasana pantai bersama wisatawan lainnya.


Tawa Yuli dan mas Juni merekah indah, kala tubuh mereka terhempas oleh ombak yang datang menerjang dengan dahsyatnya. Berkali-kali mereka mengusap kelopak mata dan bibir mereka yang terciprat hempasan air asin pantai. Seiring tawa ria, Mas Juni lalu bergumam, “dik Yuli, air lautan sebanyak ini, kok ya bisa terasa asin semua. Padahal, kalau dipikir-pikir, berapa banyak garam sih yang tuhan butuhkan untuk mengairi air lautan sebanyak ini?” ucap mas Juni sambil tersenyum.


Yuli hanya bisa tersenyum, sebab bila direnungkan, ternyata betul juga dengan apa yang baru saja mas Juni katakan.


"Tidak tahu mas, itu kan rahasia tuhan." timpal Yuli seiring senyum manis yang mengembang di bibirnya.

__ADS_1


“Tuhan memang maha kuasa, sehingga ia mampu menciptakan air di lautan sebanyak ini menjadi terasa asin semua.” lanjut mas Juni sambil tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala.


Kala mereka sedang asik bercanda, gulungan ombak besar pun datang lagi menghantam tubuh mereka. Yuli dan mas Juni terhempas lalu nyungsep bersama ombak yang menyeret mereka. Tubuh Yuli terguling-guling, hingga mengakibatkan dirinya tersedak air asin yang masuk ke dalam mulut dan hidungnya. Yuli terhuyung-huyung saat berdiri, dan kepalanya terasa pusing disertai batuk-batuk akibat kemasukan air asin. Menyadari istrinya kelelahan dan lemas, mas Juni lalu membopong tubuh Yuli ke tepi.


“jangan dibopong mas, Yuli bisa berjalan sendiri kok.” ucap Yuli sipu


“Tidak apa-apa dek, biar kita bisa cepat sampai ke tepian pantai.” jawab Juni.


“Tapi, aku kan malu, dilihat oleh banyak orang mas.” rengek Yuli manja.


“Mengapa harus malu, orang sama suaminya sendiri, kok malu?” timpal Juni.


“Malu mas, sebab nanti dikira orang, aku ini bayi mas.” ucap Yuli.


“Memang, kamu ini kan bayi, tapi…, bayi tua.” ucap mas Juni sambil nyengir.


Mendengar ucapan mas Juni yang jenaka, Yuli pun lalu tertawa lirih dan kian mengeratkan pelukan tangannya di leher dan dada mas Juni yang bidang dan kekar berambut.


Sesampainya di tepi pantai, mereka lalu istirahat sejenak di gubuk bambu milik penjual kelapa muda yang berjajar di sepanjang tepi pantai.


Semenit kemudian, mas Juni sudah memesan dua buah kelapa muda kepada pedagang yang ada. Dan segarnya air buah kelapa muda menjadi teman dikala mereka lelah dan dahaga.


Lima belas menit setelah istirahat, mereka lalu pun melanjutkan perjalan mereka selanjutnya ke kebun binatang. Di kebun binatang inilah, mereka bisa melihat dan menjumpai aneka jenis burung dan hewan-hewan yang hampir punah di alam raya. Keindahan burung-burung dan hewan-hewan langka yang masih terjaga di kebun binatang tersebut, menjadi wakil tersendiri bagi Yuli dan mas Juni yang selama ini hanya bisa melihat dari tayangan televisi.

__ADS_1


Taman wisata berikutnya yang menjadi jujugan Yuli dan mas Juni, yakni wahana permainan yang menguji adrenalin para wisatawan yang ada. Tornado, Roller Coaster, Hysteria dan permainan lainya menjadi hiburan terindah disaat mereka menikmati wisata.


Saat sore menjelang, Yuli dan Juni lalu menyudahi rekreasi mereka. Sepeda motor yang mereka tumpangi, kini bergerak lurus menuju tempat penginapan yang ada di sebelah barat jalan raya. Tangan Yuli kian erat melingkar, sementara kepalanya sengaja ia sandarkan di bahu mas Juni yang hangat bak permadani. Sepuluh menit kemudian, mereka akhirnya tiba di hotel melati nan indah berseri. Yuli termenung sejenak, sementara mas Juni sudah melangkah ke kantor lobi untuk memesan sebuah kamar tempat mereka bermalam. Sebentar kemudian, mas Juni sudah kembali sambil membawa sebuah kunci. “Ayo dik, kita istirahat.” ucap mas Juni kepada Yuli. Yuli mengangguk pelan, ia lalu melangkah mengiringi mas Juni menuju ke kamar peristirahatan di lantai dua.


__ADS_2