
Yuli tidak ingin mengalami nasib yang sama seperti Galih yang hanya dijadikan boneka oleh pak kades sebagai ketua Badan Usaha Milik Desa (Bumdes). Apa artinya dengan program pemerintah pusat yang ingin memajukan ekonomi dan kesejahteraan di setiap wilayah pedesaan dengan program Bumdes nya tersebut? Sebab sebaik apapun program pemerintah pusat dengan program brilian Bumdes, tapi bila pemerintah di tingkat desa tidak serius melaksanakan program Bumdes tersebut, ya percuma! Yang ada, hanya sebatas program simbolik, yang ujung-ujungnya Bumdes hanya dijadikan sebagai lahan subur untuk melakukan korupsi dan memperkaya diri pak Seno saja.
Selama program Bumdes ini ada, memang banyak juga Bumdes di desa-desa lain yang berkembang baik dan menjadi icon ekonomi di desa. Tapi, bila berkaca pada pengalaman masa kepengurusan mas Galih sebagai ketua Bumdes di desa Sumber Balong tersebut, maka maju mundurnya Bumdes di desa, juga sangat bergantung kepada kepemimpinan kepala desanya.
Bila kepala desa memahami arti penting sebuah Program Bumdes untuk kemajuan ekonomi di desa, maka Bumdes pun akan tumbuh dan berkembang baik di desa tersebut, demikian juga sebaliknya.
Setelah Yuli mendapat informasi cukup jelas dari mas Galih, maka untuk mengantisipasi hal-hal yang pernah mas Galih alami selama menjabat sebagai ketua Bumdes, Yuli pun menahan diri untuk menerima tawaran dari pak Seno tersebut.
Sebab, Yuli juga merasa khawatir, bila dirinya mau menerima tawaran dari pak kepala desa untuk menjadi ketua Bumdes, maka bukan tidak mungkin Yuli juga akan mengalami nasib yang sama seperti mas Galih juga.
Setelah Yuli tidak muncul ke balai desa untuk menanyakan informasi seputar dunia Bumdes kepada pak kepala desa, maka pak kades kemudian mengangkat Rico sebagai ketua Bumdes berikutnya. Rico yang dulu menjabat sebagai bendahara Bumdes, kini naik menjadi ketua Bumdes.
__ADS_1
Pak Seno sebagai kepala desa, dan Rico menjadi ketua Bumdes dan pemilik agen E-Warong Barokah Jaya sebagai tempat pengambilan bantuan sembako atau Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) untuk warga miskin di desa.
Flashback
Padahal Bantuan Pangan Non Tunai, pertama kali turun ke desa, pada bulan April tahun 2017, itu ditangani oleh unit perdagangan Bumdes dengan nama Agen E-Warong Mekar Jaya. Karena Bumdes juga baru berdiri, jadi untuk sementara waktu agen E-Warong Mekar Jaya, ditangani oleh tiga pengurus Bumdes (Galih, Rico dan Fitri).
Dengan beroperasinya unit perdagangan Bumdes, Galih lalu mulai menata strategi untuk menghidupkan unit-unit usaha Bumdes lainnya. Galih terus fokus untuk menghidupkan program Bumdes dengan unit usaha yang sudah tersusun rapi di dalam AD/ART Bumdes.
Bumdes yang baru terbentuk pada awal bulan Maret tahun 2017 itu ibarat bayi yang baru beberapa bulan lahir ke dunia. Ibarat Bayi yang baru bisa merangkak, ketika Bumdes memerlukan tenaga relawan untuk menduduki beberapa unit usaha Bumdes, Galih cukup kesulitan mencari tenaga relawan lainnya. Apalagi pak Seno selaku kepala pemerintahan di desa, juga tidak mau mengeluarkan dana sebagai honor untuk pengurus Bumdes di desa.
Disaat Unit perdagangan Bumdes dengan Agen E-Warong Mekar Jaya nya baru merangkak. Satu setengah tahun kemudian, pak kades lau mendirikan Agen E-Warong pribadi dengan nama Agen E-Warong Barokah Jaya.
__ADS_1
Pelayanan dan penyaluran Bantuan Pangan Non Tunai yang semula ditangani oleh agen E-Warong Mekar Jaya, kemudian oleh pak kades dialihkan ke Agen E-Warong Barokah Jaya milik Rico anaknya.
Usaha Galih dalam mencari tiga orang pengurus untuk duduk di unit perdagangan Bumdes dengan Agen E-Warong nya pun terhenti.
Tanpa adanya pemasukan uang kas dari Agen E-Warong Mekar Jaya, yang bisa dijadikan modal untuk menghidupkan unit-unit usaha Bumdes, maka Bumdes pun tak bisa melakukan operasional usahanya.
Upaya Galih dalam mencari pengurus lain untuk mengisi unit perdagangan Bumdes dan juga unit-unit Bumdes yang ada, demi tumbuh kembangnya Bumdes sesuai dengan harapan pemerintah pusat, kini mengalami kemandekan.
Dengan beralihnya penyaluran BPNT yang semula di bawah unit perdagangan Bumdes dengan Agen E-Warong Mekar Jaya nya ke Agen E-Warong Barokah Jaya milik Rico, maka untuk bulan-bulan berikutnya Bumdes pun tidak memiliki kegiatan usaha lagi dan pemasukan uang kas dari laba penyaluran BPNT pun terhenti.
Satu tahun kemudian, karena adanya suatu sebab yang tidak bisa Galih tolerir lagi, akhirnya Galih pun terpaksa mengundurkan diri jabatannya sebagai ketua Badan Usaha Milik Desa. Dengan mundurnya Galih dari pengurus Bumdes pada bulan November tahun 2020, maka tugas Galih sebagai ketua Bumdes pun selesai.
__ADS_1