Cinta Merah Jambu

Cinta Merah Jambu
Terkenang


__ADS_3

Dengan sedikit tegun, Yuli pun melangkah mengiringi mas Juni menaiki tiap anak tangga menuju ke lantai dua. Yuli merasa tak asing dengan suasana dan bentuk bangunan hotel yang baru ia singgahi tersebut. Yang lebih mengejutkan Yuli, ternyata kamar yang mas Juni pesan, adalah tempat yang sama dan pernah ia singgahi beberapa tahun yang lalu bersama almarhum mas Budi. Angan Yuli pun tiba-tiba melayang teringat kembali akan kenangan masa silam bersama almarhum mas Budi mantan suami. Di hotel dan kamar inilah, untuk pertama kalinya Yuli akhirnya menyerahkan mahkota suci kepada almarhum mas Budi kala itu. Namun waktu kini membimbing Yuli kembali pada suasana dan tempat yang sama, tetapi bukan dengan mas Budi. Sebab orang yang bersama Yuli kali ini adalah mas Juni, suami ke tiga Yuli.


“Dek, kenapa dari tadi, wajah kamu kok terlihat murung terus, apakah kamu tidak suka dengan tempat ini?” tanya mas Juni membuyarkan tegun Yuli.


“Ah tidak mas, mungkin karena efek kecapean saja kali, kan tadi seharian penuh kita bermain di pantai.” jawab Yuli menutupi asa dalam hati.


“Kalau begitu, sebaiknya kita shalat Isya dulu, terus makan malam, habis itu baru kita istirahat, bagaimana dek?” tawar mas Juni.


“Saya menurut saja, apa kata mas Juni.” jawab Yuli seiring senyum merekah manis sekali.


Sepuluh menit kemudian, setelah mereka shalat isya dan makan malam, mas Juni lalu membaringkan badan di atas ranjang kamar. Sebentar kemudian tangan Mas Juni tampak sudah asik memainkan hape di genggaman. Yuli tampak berdiri sejenak di sisi jendela kamar sambil memandangi lalu-lalang kendaraan di jalan raya.


Suasananya hampir sama seperti keadaan beberapa tahun yang lalu, yakni indahnya malam yang dihiasi kerlip bintang dan sorot lampu aneka kendaraan seperti bus dan truk di jalan raya yang terus berlalu-lalang mengantar barang dan penumpang menuju ke tempat tujuan.


“Dek Yuli, kamu katanya capek, lah kok malah melamun disitu.” ucap mas Juni membuyarkan lamunan Yuli.

__ADS_1


“Ah tidak mas, aku cuma lagi suka saja memandangi indahnya bintang-bintang di langit, dan sorot lampu aneka kendaraan yang sedang berlalu lalang di jalan raya mas.” jawab Yuli.


Sejenak Mas Juni meletakkan hape di atas meja, ia lalu melangkah mendekati Yuli yang masih berdiri di sisi jendela kamar. Juni sibak sedikit tirai jendela agak lebar, ia ikut pula memandangi suasana di luar hotel. “Malam yang damai, dihiasi bulan sabit dan bintang-bintang dan aneka kendaraan yang berlalu lalang di jalanan.” batin mas Juni.


“Betul juga dengan apa yang baru saja kamu katakan dek, ternyata pemandangan di luar sana, memang sangat indah sekali.” bisik mas Juni.


Yuli tersenyum sambil melirik kepada mas Juni yang tiba-tiba datang dan memeluk tubuhnya dari belakang Bak adegan aktor dalam film the titanic di atas moncong kapal. Mereka berdua kini sama-sama memandangi indahnya kerlip bintang-bintang di angkasa raya. Sebentar memeluk istri, desir darah mas Juni kini tiba-tiba terasa hangat, seiring hasrat cinta mereka bergejolak.


“Sudah malam, sebaiknya kita istirahat.” ucap mas Juni sambil menuntun tangan Yuli menuju ranjang peraduan.


Setelah mematikan lampu kamar dan menyelimuti tubuh molek Yuli dengan selimut tebal aroma wangi, mas Juni lalu membaringkan tubuhnya di samping Yuli. Setelah mas Juni mengecup kening sang istri, jemari tangan mas Juni pun bergerak lincah menari menyusuri setiap lekuk tubuh Yuli yang gemulai tertutupi selimut mewangi. Tubuh Yuli kian bergelinjang, kala bibir mas Juni mulai menciumi bagian leher dan telinga Yuli yang kuning langsat dan halus mulus beraroma wangi surgawi.


Kemolekan tubuh Yuli dan aroma wangi leher mulusnya, kian membuat gairah Mas Juni berapi-api. Meski Yuli coba mengelak agar ciuman itu tidak terlalu banyak menimbulkan bekas merah di lehernya. Elakan dan geliat leher mulus Yuli malah kian membuat mas Juni bersemangat untuk mengukir tanda merah itu di leher sang istri. Yuli pun tak kuasa menahan serangan buas sang suami, dan akhirnya ia hanya bisa pasrah penuh desah mengimbangi gairah mas Juni. Tubuh Yuli kian menggelinjang penuh rasa tak bertepi, dan kala senjata pusaka mas Juni mulai menghujam benteng pertahanan diri, Yuli pun hanya bisa merem-melek dan mendesah syahdu penuh arti. Malam itu, Yuli benar-benar dibuat terbang tinggi oleh mas Juni. Mata Yuli merem-melek seiring desah panjang saat mencapai titik ******* berkali-kali. Bibir manis Yuli merekah indah penuh arti setelah merasakan pengembaraan panjang nan membahagiakan hati.


Setelah membersihkan badan di kamar mandi, mereka berdua kini berpeluk mesra di atas pembaringan kembali. Seiring ucap mesra kata cinta kepada Yuli, Mas Juni kemudian mengecup kening, dan kedua pipi Yuli. Dan Yuli pun hanya bisa membalas ucap cinta dari mas Juni dengan senyumnya yang teramat manis sekali.

__ADS_1


Seiring mata mulai terpejam dan tangan mas Juni masih menggenggam mesra tangan lembut Yuli, mas Juni pun kini terlelap di samping tubuh Yuli.


Sekilas Yuli memandang temaram suasana dalam kamar, dan ia pun terkenang kembali kepada sosok mantan suaminya yakni almarhum mas Budi. Apa yang dulu pernah ia lakukan dengan mas Budi, kini terulang kembali dengan mas Juni.


"Semoga kau bahagia di alam sana mas Budi." bisik batin Yuli. Dan sebentar kemudian Yuli pun sudah terlelap di samping mas Juni sang suami pengganti.


Saat subuh menjelang usai melewati pengembaraan nan panjang, mas Juni lalu bangun untuk mandi besar menghilangkan hadas di kamar mandi. Setelah mandi besar dan berwudhu, mas Juni lalu melaksanakan sholat subuh menghadap sang illahi.


"Dek Yuli, ayo bangun, waktu sudah pagi." ucap mas Juni mengingatkan Yuli yang masih terlelap di atas ranjang bermanjakan selimut tebal nan wangi.


Yuli menggeliatkan badannya, untuk kemudian bangun dari tidurnya yang terasa sangat lelap sekali. Dengan mengucap doa mandi junub, Yuli lalu mandi dengan air bersih dari shower hingga diulang sampai dua kali. Setelah dua kali membersihkan badan dengan air bersih dari ujung kepala hingga kaki, Yuli lalu mengulanginya kembali dengan shampo dan sabun mandi. Seperti halnya mas Juni, selesai mandi, Yuli melaksanakan sholat subuh sendiri.


Di pagi yang sejuk berselimut kabut, tubuh Yuli dan mas Juni tampak sangat segar bugar sekali. Seiring sayap mengepak indah, mereka lalu beranjak pergi dari hotel untuk kembali ke desa di ujung perbukitan sana.


Sepeda motor yang mereka tumpangi melesat cepat menyusuri lengangnya jalanan kota. Dinginnya angin pagi, membuat tangan lembut Yuli mendekap erat tubuh mas Juni. Seiring senyum bahagia, Yuli kemudian mengecup punggung mas Juni. Ia lalu menyandarkan kepalanya di atas pundak mas Juni yang telah membuatnya terbang tinggi. Alangkah indahnya dunia yang mereka rasakan saat itu. Sehingga dunia serasa hanya milik mereka berdua, sementara yang lain ngontrak.

__ADS_1


__ADS_2