Cinta Merah Jambu

Cinta Merah Jambu
Pudar Warna


__ADS_3

Rintik-rintik hujan gerimis menyiram bumi, di sebuah ruang remang-remang seorang laki-laki paruh paruh baya bernama Aki Jamplang duduk sila di depan baskom berisi air kembang. Tiba-tiba tubuh Aki Jamplang mental keras ke belakang, menyoroti angin berkekuatan tenaga dalam barusan yang datang menyerang. Tubuh laki-laki paruh baya itu tiba-tiba lemas tak berdaya, seiring batuk darah segar pun mengalir dari mulutnya. Kelebat wajah guru berjubah putih tiba-tiba mengingatkan, "Hai Ki Jamplang... jangan ulang lagi perbuatan terkutuk itu!".


Aki Jamplang laki-laki menginjak paruh baya itu tunduk merapatkan dua telapak tangan minta ampunan, kepada guru berjubah putih di hadapan.


Kelebat guru berjubah putih itu lalu melesat dan hilang di kegelapan meninggalkan tubuh Ki Jamplang yang masih tunduk minta ampunan.


Aki Jamplang adalah orang suruhan mas Bagus yang diperintah untuk mengirim sihir santet kepada Yuli hingga ia lumpuh selama berbulan-bulan.


Sementara Aki Jamplang masih megap-megap mengatur nafas seperti orang habis tenggelam dengan tangan memegang dadanya yang kesakitan, di tempat lain juga terjadi hal yang sama, Bagus yang sedang duduk di kamar persemedian, tiba-tiba tubuhnya mental hebat membentur dinding kamar. Seiring batuk dan darah segar yang keluar dari mulut Bagus, bayang wajah guru berjubah putih juga datang mengingatkan.


"Hai anak muda... jangan teruskan lagi perbuatan terkutuk berdosa itu! Segeralah minta maaf dan ampun kepada Yuli yang telah kau aniaya. Bila kau tidak segera minta maaf, maka sihir santet yang telah kau kirim ke tubuh Yuli itu, akan saya kirim balik ke dalam tubuhmu!" tutur sosok berjubah putih yang dilihat Bagus.


"Ampuni saya Mbah... ampun... saya minta maaf dan saya berjanji tidak akan mengulangi perbuatan saya ini Mbah." jawab Bagus yang terperanjat kaget dengan nafas tersengal-sengal kepada sosok orang tua berjubah putih di hadapan.


Sosok berjubah lalu melesat dari pandangan Bagus yang masih mengerang kesakitan. Bagus menyeka darah yang keluar dari mulut, dengan sedikit terhuyung-huyung ia mencoba bangkit dengan sisa tenaga yang ada.


"Siapa orang tua berjubah putih barusan yang datang dan menyerang diriku?" batin Bagus.


"Kekuatan tenaga dalam yang dimiliki oleh kakek berjubah putih itu begitu hebat, sehingga begitu mudah mengalahkan kekuatan tenaga dalam yang ku miliki." tegun Bagus sambil menggeleng seakan tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

__ADS_1


Ternyata di atas langit masih ada langit, Bagus yang merasa digdaya ternyata mudah dikalahkan oleh orang tua berjubah putih dengan kekuatan maha dahsyatnya. Seiring wajah kakek yang mengenakan jubah putih berlalu dari hadapannya, tiba-tiba Bagus sadar akan perbuatan salahnya kepada Yuli.


"Maafkan mas Bagus, dek Yuli... Mas melakukan ini karena mas tidak kuat menahan rasa cemburu. Kau telah begitu tega meninggalkan luka di hati mas Bagus, dengan pria lain pilihan orang tuamu. Sekali lagi, maafkan mas Bagus dek Yuli. Mungkin inilah takdir kita, hingga cinta yang pernah bersemi di hati kita harus berakhir dengan tidak saling memiliki." batin Bagus dalam simpul renungannya.


Badan Bagus terhuyung-huyung saat melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan badan dari sisa darah yang menempel di bajunya. Sebentar kemudian ia sudah kembali ke kamar dan berganti baju untuk istirahat di tepian malam sunyi.


Keesokan harinya, Yuli baru saja melepas kepergian Budi berangkat kerja ke pabrik. Seperti biasanya, sambil bersenandung Yuli lalu menyapu halaman rumahnya dengan sahaja. Wajahnya yang cantik putih bersih dan kerling indah matanya tampak semakin cantik sempurna. Sejak mengalami kelumpuhan selama tiga bulan, bobot tubuh Yuli malah naik 7 kilo gram dari bobot normalnya. Hal demikian malah semakin menambah kecantikan Yuli yang memiliki tinggi badan semampai, hingga setelah ia sehat kembali Yuli kini bak seorang dara sahaja. Baru saja Yuli selesai menyapu halaman dan hendak masuk ke dalam rumahnya, tiba-tiba suara sepeda motor datang dan berhenti di depan rumahnya. Yuli diam sejenak memperhatikan, mengamati siapakah gerangan orang yang baru saja datang dan berhenti di pelataran rumahnya. Pengendara motor itu lalu membuka helm yang dikenakan di kepala, Yuli kesiap kaget kala menyadari dibalik helm yang menutupi kepala orang tersebut ternyata adalah mas Bagus kekasihnya. Jantung Yuli berdebar kencang, kala mas Bagus dengan raut wajah pucat kini melangkah dan mendekati Yuli.


"Permisi... bolehkah saya masuk untuk bertamu ke rumah dek Yuli?" tanya mas Bagus dengan wajah katup seperti putri malu yang baru saja disentuh oleh tangan manusia.


"Bob... bob... boleh... mari silahkan masuk." Yuli sedikit terbata-bata jawab karena berpikir. Yuli melebarkan pintu rumahnya dan mempersilahkan mas Bagus untuk masuk dan duduk di ruang tamu.


"Tidak usah dek Yuli, saya cuma sebentar kok." jawab mas Bagus. Yuli yang hendak melangkah menuju dapur pun urung, dengan jantung masih berdebar-debar ia lalu duduk di kursi ruang tamu. Yuli dan Bagus kini saling berhadapan dengan meja yang menjadi pemisah diantara mereka berdua.


"Maaf ada keperluan apa ya, sehingga mas Bagus tiba-tiba datang ke rumah saya?" tanya Yuli membuka suara.


Bagus diam, wajahnya yang sedari tadi agak tunduk memandang lantai, kini sedikit ia angkat. "Maaf Yuli... kedatangan saya di sini adalah untuk meminta maaf kepada Yuli." ucap mas Bagus.


Yuli semakin heran dan tidak mengerti akan perkataan mas Bagus yang tiba-tiba meminta maaf kepadanya. "Maksud mas Bagus apa ya?" tanya penasaran Yuli.

__ADS_1


"Begini Yuli, saya mengaku salah. Karena rasa cinta saya kepada Yuli, selama ini saya cemburu dan sakit hati. Sehingga saya berniat untuk memisahkan diri Yuli dengan suami." ucap mas Bagus.


"Maksud mas Bagus?" kesiap Yuli.


"Saya lah orangnya yang telah membuat Yuli menderita lumpuh selama ini. Maka maafkanlah saya Yuli." ucap mas Bagus dengan penuh penyesalan.


"Mengapa kamu begitu tega melakukan hal demikian kepada saya Mas???" tanya Yuli dengan derai air mata yang tiba-tiba menetes di pipi.


"Saya khilaf Yuli... dulu sewaktu aku belum pernah menikah, kau pernah mengajak aku untuk kawin lari. Kini disaat aku sudah siap segalanya, Yuli malah cepat melupakan diriku yang terluka hati. Aku sakit hati ditinggal pergi selama ini, maafkan aku Yuli. Aku baru sadar kalau cinta tak selamanya harus saling memiliki. Sekali lagi, maafkan aku Yuli yang tak berdaya akan rasa cinta dan cemburu yang telah merobek-robek perasaan ku ini." ucap mas Bagus dengan embun di mata memohon maaf kepada Yuli.


Yuli hanya diam tanpa kata, air matanya kian deras menetes di pipi, "Mas Bagus yang dulu begitu Yuli cintai, ternyata tega dan kejam telah melukai dirinya." batin Yuli seiring isak tangis perih menyayat hati.


Bagus menyeka air mata yang sempat jatuh di pipinya, memohon maaf agar dimaafkan segala perbuatan bodohnya selama ini. Yuli tak bergeming, meski mas Bagus telah bersujud memohon ampun di hadapannya. Yuli tetap diam dengan isak batinnya.


"Itu saja yang ingin saya sampaikan, sekali lagi mas minta maaf kepada dek Yuli." ucap mas Bagus dengan titik air mata di pipi. Bagus seka lagi air mata di pipinya, ia lalu pergi meninggalkan Yuli seorang diri.


Yuli duduk diam bagai patung seorang diri dengan derai air mata yang tak pernah henti, ia tak sudi lagi untuk memandang wajah mas Bagus yang berlalu pergi.


Yuli lalu menutup pintu rumahnya dengan keras, ia kemudian berlari ke dalam kamarnya dan menangis seorang diri. Yuli tak menyangka, mas Bagus yang selama ini masih ia cintai, ternyata begitu tega melukai diri Yuli yang tidak berdaya untuk membalas permintaan mas Bagus lewat surat yang dikirimnya dua minggu lalu.

__ADS_1


Selama ini ia bersusah-susah menikmati derita di atas ranjang dengan kelumpuhan. Lebih sakit lagi, setelah Yuli tahu orang yang telah membuat luka adalah orang yang selamat ini masih bersemayam di dalam hati. Cinta Yuli kepada mas Bagus yang dulu masih terlukis indah dan bertahta di dalam hati, kini berubah warna menjadi benci tak bertepi.


__ADS_2