Cinta Merah Jambu

Cinta Merah Jambu
Cobaan Datang


__ADS_3

Kebahagiaan keluarga Budi kian lengkap sudah. Setelah Putri berusia dua tahun, ia semakin lucu dan lincah bermain mengisi hari-hari indah bersama. Ditengah kebahagiaan yang ada, tiba-tiba Yuli mengalami sakit cukup lama. Kedua kaki Yuli tiba-tiba mengalami lumpuh dan tidak bisa bergerak sama sekali. Berbagai usaha untuk menyembuhkan sakit Yuli sudah Budi tempuhi semua. Berkali-kali Budi membawa Yuli ke rumah sakit, tetapi hasil diagnosa dokter, Yuli dinyatakan sehat, tak ada penyakit sama sekali pada diri Yuli.


Selain membawa Yuli ke rumah sakit, Budi juga membawa Yuli ke pengobatan alternatif. Tetapi usaha Budi dalam mencari obat demi kesembuhan Yuli belum menunjukan hasil juga. Untuk merawat putri dan Yuli istrinya, Budi kemudian minta bantuan bik Wati tetangganya untuk merawat putri dan Yuli di saat ia sedang bekerja. Nenek Budi sudah tua, jadi beliau hanya bisa menemani putri disaat ia sedang bermain saja. Bila putri menangis, maka bik Wati akan membuatkan susu dalam botol dan segera menggendong putri hingga lelap dalam tidurnya.


Tiga bulan Yuli tidur di atas ranjang karena kakinya lumpuh tidak bisa digerakkan untuk berjalan. Tapi untuk soal makan, Yuli normal-normal saja seperti orang sehat pada umumnya. Budi tak lelah mencari obat, setiap ada informasi mengenai pengobatan mujarab, pasti Budi datangi demi kesehatan dan kesembuhan istrinya.


Orang tua Yuli merasa heran dengan cobaan yang sedang melanda Yuli anaknya. Bapak Yuli kemudian mengambil sikap untuk menghadap/silaturahmi lagi ke rumah gurunya di desa sebelah dekat langgar kuno. Setibanya bapak, guru tersenyum ramah menyambut tamu yang datang ke rumahnya. Suguhan teh hangat di atas meja melengkapi kebersamaan mereka.


"Ya silahkan diminum dulu tehnya." ucap guru kepada tamu di hadapannya.


"Baik Guru." jawab sang tamu seiring angguk, lalu ia meminum secangkir teh hangat di hadapannya. Ditemani secangkir teh sebagai suguhan, obrolan antara guru dan murid berlangsung cukup hikmat. Ia sampaikan semua keluh kesah kepada gurunya. Guru diam mendengarkan semua keluh kesah tamunya,


"Siapa nama anak kamu?" tanya Guru kemudian.

__ADS_1


"Yuli Astuti, Guru?" jawab sang tamu. Guru lalu mengambil secarik kertas dan menuliskan nama Yuli Astuti dengan huruf arab di kertas tersebut. Guru diam sesaat lalu menarik nafas panjang dan kertas di tangan itu ia selentik tiga kali dengan jari tangannya.


Guru lalu menggelengkan kepala sambil berucap, "Wah sudah keterlaluan ini.".


Tamu diam tegun dengan apa yang baru saja diucapkan oleh gurunya tadi. "Kenapa guru?" tanya murid ingin tahu.


"Rupanya ada yang ingin main-main dengan anak kamu." jawab guru.


"Besok atau lusa, kamu kesini lagi dengan membawa satu buah kelapa hijau yang baru dipetik dari pohonnya. Tapi ingat, buah kelapa yang telah dipetik itu, kamu bawa turun dari atas pohon, jangan kau jatuhkan kelapa itu ke tanah." tutur guru.


"Bagaimana Pak hasilnya?" tanya ibu setibanya bapak di rumah.


"Rupanya ada yang tidak beres dengan apa yang sudah dialami oleh keluarga anak kita. Besok pagi, Bapak mesti kembali lagi ke rumah guru dengan membawa buah kelapa hijau sesuai pesannya." jawab bapak.

__ADS_1


"Ibu jadi panik dengan apa yang baru saja disampaikan Bapak." ucap ibu.


"Sudah tidak usah panik Bu, kita berdoa saja semoga nanti anak kita cepat mendapatkan pertolongan dari yang Maha Kuasa lewat bantuan guru dengan upaya dan doanya." ucap bapak membesarkan hati istrinya.


Keesokan harinya sesuai pesan dari guru, bapak Yuli pun datang lagi ke rumah guru sambil membawa satu buah kelapa muda hijau sesuai pesanan gurunya.


Guru lalu membelah pucuk kelapa hijau dengan golok di tangannya, ia diam sejenak berkonsentrasi membaca doa. Guru meniup telapak tangan kemudian mengepal, kepalan tangan itu lalu bergerak cepat memukul buah kelapa yang sudah ia lubangi itu. Telapak tangan kanan guru masih menempel cukup lama pada lubang buah kelapa hijau di tangannya. Guru lalu menutup kembali buah kelapa itu dengan ujung buah kelapa yang sudah dipotong dengan golok tadi.


"Sudah tidak apa-apa, Insya Allah dengan pertolongan yang Maha Kuasa. Yuli akan sembuh kembali seperti semula. Cuman besok atau lusa, orang yang telah jahil dengan Yuli akan datang dan meminta maaf kepadanya. Bila orang tersebut datang untuk meminta maaf, maafkanlah dia. Dia melakukan itu karena dia lupa akan ajaran agama, bahwa menganiaya orang lain itu dosanya sangat besar." ujar guru.


"Baik Guru." jawab bapak sekalian pamit untuk kembali. Setibanya bapak di rumah Yuli, ia menyampaikan pesan dari gurunya. Yuli hanya diam mendengar pesan dari bapaknya, mereka merahasiakan apa yang telah dipesankan guru kepadanya. Yuli lalu minum air kelapa muda yang sudah didoakan oleh guru tersebut.


Seiring waktu Yuli kini mulai sembuh dari sakitnya, pelan tapi pasti ia mulai bisa berjalan sendiri dengan alat bantu tongkat di tangannya. Orang tua Yuli dan Budi suaminya kini bahagia sekali dengan mulai pulih kesembuhan kaki Yuli yang terus menunjukan perkembangan sehatnya setiap hari.

__ADS_1


Yuli tetap memendam rahasia sesuai pesan bapaknya, dalam hati kecilnya bertanya siapakah yang telah begitu tega jahat dengan dirinya. Padahal selama ini Yuli tak pernah menyakiti orang lain atau pun punya musuh dalam hidupnya. Dengan anugerah kesembuhan dari Tuhan, Yuli pun semakin rajin beribadah mendekatkan diri kepada Tuhannya.


__ADS_2