Cinta Merah Jambu

Cinta Merah Jambu
Bulan Sabit


__ADS_3

Malam itu karisma indah bulan sabit tersenyum lagi menyapa segenap jiwa-jiwa yang penat setelah siang hari mereka sibuk bekerja. Malam adalah teman, keindahan dan kedamaian yang melindungi segenap jiwa dari hiruk pikuk dan suara-suara sumbang bisik-bisik siang yang memekakkan telinga. Asmara yang Dina idamkan pernah dibayangi suasana suram, seiring awan berlalu menyisakan seliweran bisik-bisik tetangga bak komentator dalam pertandingan sepak bola. Berkat kesetiaan, doa dan keteguhan Dina mempertahankan bahtera rumah tangganya, kini mahligai indah yang telah mereka bina tercapai dalam genggaman. Mas Bagus kian mesra di tempat peraduan memanjakan Dina dengan kasih sayang. Kehadiran bayi dalam kandungan Dina yang kian membesar, membimbing bahagia jiwa dua insan dalam penantian lahirnya calon generasi keluarga.


Bagus kian tambah sayang saja kepada Dina, dia tak lagi melulu sibuk bekerja dalam instansi tentaranya, tetapi di kala senggang Bagus pun ikut turun tangan membantu Dina dalam bisnisnya. Dina kini lebih banyak istirahat di rumah menanti kelahiran anak pertamanya, untuk urusan bisnis ia cukup menyerahkan buku cash flow kepada Bagus suaminya. Bagus mampu mengembangkan sayap, bila omset penjualan tiap pekan melebihi target laba. Ia tak segan memberi bonus kepada ketiga karyawan di toko butik miliknya. Cek dan ricek buku cash flow hanya di hari libur saja, sehingga mas Bagus bisa tetap fokus pada instansi tentara dan keluarga.


Pagi hari fajar menyingsing di ufuk timur, bayi dalam kandungan perut Dina terasa bergerak hebat lain dari biasanya. "Mas... tolong antarkan saya ke rumah sakit." ucap Dina yang menahan sakit akan tendangan bayi dalam kandungan. Bagus bergegas mengantar Dina ke rumah sakit terdekat di kotanya. Bagus selalu setia mendampingi Dina dalam proses melahirkan anak pertama mereka. Betapa susahnya seorang ibu melahirkan anak dengan segenap nyawa yang menjadi taruhannya. Bagus memegang erat tangan Dina dalam menguat bayi yang hendak keluar dari dalam kandungan Dina istrinya. Berkali-kali mas Bagus mengusap keringat yang keluar dari pelipis Dina, ia begitu tak tega melihat perjuangan Dina dalam melahirkan anak pertama mereka. Seiring panik dan embun berkaca di mata Bagus, tangis bayi pun akhirnya terdengar di telinga. Dua orang suster begitu terampil dan cekatan menyambut hadirnya generasi mas Bagus dan Dina yang baru lahir ke dunia. Bagus dan Dina tersenyum lega dan bahagia tak terkira akan kelahiran putri pertama mereka.


"Silahkan pak Bagus... anda adzan dulu untuk anak pertama anda." ucap suster kepada mas Bagus yang masih memegang tangan Dina di sisinya. Mas Bagus lalu mengumandangkan adzan di telinga kanan dan iqomah di telinga kiri bayinya. Kala adzan dan iqomat itulah yang pertama kali orang tua diperdengarkan kepada tiap anak yang baru lahir ke dunia.

__ADS_1


Tiga hari kemudian, Bagus dan Dina diperkenankan untuk kembali ke rumah membawa anak pertama mereka. Ucapan selamat dan doa dari kerabat keluarga, tetangga dan teman-teman atas kelahiran anak pertama mereka mewarnai indahnya hari. Rumah mas Bagus dan Dina kian indah bak taman surga ditemani handai tolan yang menjenguk generasi baru mereka.


Minggu pagi. Irfan dan Lili juga Joko dan Nana bersama anak-anak mereka hadir ke rumah Bagus dan Dina untuk menjenguk putri pertama mas Bagus yang bernama Diyah Ayu Fitaloka. Anak dari Irfan dan Lili bernama Evan dan anak dari Joko dan Nana bernama Bekam. Evan dan Bekam hampir sama tinggi badannya, usia Evan dan Bekam sekitar empat tahun dan mereka baru saja masuk sekolah di taman kanak-kanak di desa. Keramaian di rumah Bagus kian ramai saja dengan kehadiran Evan dan Bekam yang bermain di ruang tamu menghangatkan suasana.


Kala Dina mengganti kain popok Diyah Ayu, Bekam yang menggelayut manja di pundak Nana ibunya tiba-tiba berkomentar lugu. "Bu..., kok ndin-ndine (kelamin) tidak sama dengan punya Bekam?" ucap Bekam polos. Nana yang duduk di samping Dina saat ia mengganti popok pun langsung tertawa mendengar komentar polos anaknya.


"Ya mesti saja tidak sama toh Kam... lah wong Bekam itu anak laki-laki sedangkan Diyah Ayu itu anak perempuan jadi ya tidak sama dong ndin-ndine." ucap Nana sambil tersenyum. Dina, Lili, Bagus dan semua yang ada di ruang tamu langsung ikut tertawa mendengar komentar Bekam di sampingnya. Kebersamaan mereka kian gayeng saja dengan kelucuan dan tingkah polos anak-anak mereka yang aktif bergerak, bermain membuat ramai suasana. Kehadiran Diyah Ayu Fitaloka bak diiringi taburan bunga surga, banyaknya kado dari tetangga dan handai tolan untuk Diyah Ayu kini memenuhi isi lemari di ruang tengah rumah mereka.

__ADS_1


"Awas hati-hati nak Bagus... biasanya segala fasilitas, tinggi derajat dan kekayaan yang ada sering membuat orang itu lupa diri." ucap ibunya Dina kepada mas Bagus menantunya. Bagus hanya bisa tersenyum untuk kemudian memandang lapisan keramik di bawahnya, ucapan ibu seakan mengingatkan diri Bagus akan kesombongan tersembunyi di balik pencapaian segala prestasi dunia yang baru diraih olehnya.


Dunia terus berputar membolak-balik segala suasana dengan sekejap saja, yang di atas berganti menjadi di bawah dan yang di bawah berganti menjadi di atas itu sudah sering terjadi dalam kehidupan yang ada. Seiring tahun terus berganti, Diyah Ayu Fitaloka kini sudah menginjak usia dua tahun. Perangi dan kalemnya sama persis dengan Dina ibunya. Kebahagian yang Bagus rasakan kini mendapat ujian baru dalam hidupnya. Dina yang penurut, selalu mengerti akan segala keluh kesah dan menerima mas Bagus apa adanya kini ditimpa sakit luar biasa. Dina divonis dokter mengidap kanker payudara, hari-hari Dina kini seperti bunga layu, senyum sapa dan ucapnya hanya sekedar saja. Kanker stadium tiga terus menjalar dan menggerogoti sel-sel dalam tubuh Dina. Senyum dan kecantikan Dina masih bersinar menghiasi hari-hari bersama keluarga di tengah melawan sakit yang ia derita. Segala macam prestasi dunia yang sudah mas Bagus raih, kini seakan rontok dan gugur ke bumi. Cobaan yang datang menimpa Dina, seakan mematahkan segala kedigdayaan rasa, pangkat dan fasilitas yang selama ini mas Bagus kejar dalam hidupnya.


Dua tahun Dina melawan kanker dalam tubuhnya, Tuhan yang pengasih akhirnya menjemput nyawa Dina dalam haribaannya. Dina tersenyum manis kembali kepada yang kuasa, menitipkan putri semata wayang Diyah Ayu kepada mas Bagus suaminya. Bagus hancur luluh ditinggal istri tercinta yang tak pernah mengeluh akan segala keterbatasan yang dimiliki Bagus suaminya. Jasad Dina saat ditandu ke liang lahat begitu ringan, seringan patuhnya kepada suami semasa hidupnya. Bulan kini tinggal separuh tersenyum di atas langit, menghiasi malam yang damai ditemani kelip bintang-bintang di segala penjuru langit yang syahdu biru. Bagus terpekur sujud kepada tuhan akan segala takdir yang telah Tuhan gariskan dalam hidupnya. Kehadiran teman-teman dekat mas Bagus mengucapkan belasungkawa tak mampu mengobati sedih hati mas Bagus yang telah di tinggal pergi Dina sang belahan jiwa. Hanya putri semata wayang yang menjadi penguat mas Bagus untuk melanjutkan kepingan-kepingan hidup yang masih tersisa. Kematian bak nasihat bagi setiap manusia yang masih menjalani hidup di alam dunia. Tidak ada daya dan upaya melainkan atas izin Tuhan sang maha perkasa. Darimu nyawa ini Engkau tiupkan ke dalam janin bayi usia empat bulan dalam rahim bunda hingga lahir ke dunia, kini setelah manusia melewati segala pernak-pernik di dunia. KepadaMu juga akhirnya manusia kembali kepada tuhannya.


"Yah... Ayah... Bunda dimana?" ucap Diyah Ayu sambil mengguncang-guncang pundak Bagus dalam lamunan tak bertepi.

__ADS_1


"Oh... Bunda sekarang lagi di surga bersama bidadari-bidadari jelita menunggu kedatangan kita." terang Bagus kepada putrinya


"Surga itu apa sih Yah? Surga itu tempat yang sangat indah, khusus buat anak yang rajin dan penurut seperti Diyah Ayu Fitaloka." jawab Bagus sambil memeluk putri kecilnya dengan embun di mata.


__ADS_2