Cinta Merah Jambu

Cinta Merah Jambu
Bagus Kelayu


__ADS_3

Lama sudah mas Bagus mengalami masa kelayu, semenjak ia ditinggal pergi oleh Dina ke alam baka. Dina yang sabar dan penyayang kini telah pergi meninggalkan mas Bagus untuk selamanya. Mas Bagus kini rapuh, ia seakan tak siap untuk menjalani hidup sendiri tanpa adanya Dina di sisi. Tak mudah untuk menerima kenyataan yang ada, gairah hidup pun seakan hilang begitu saja. Sekuat-kuatnya seorang tentara, begitu ia kehilangan istri belahan jiwanya, ia pun bisa rapuh seperti umumnya manusia sipil lainnya. Hari-hari mas Bagus kian hampa, dua pekan lamanya mas Bagus tidak masuk kantor untuk berdinas. Jiwa mas Bagus seolah mengawang seperti layang-layang yang putus benangnya. Sisi sayap hidupnya seolah patah sehingga ia tak bersemangat untuk menjalani hari berikutnya.


"Sudah jangan kau teruskan masa berkabung terlalu lama nak Bagus, istrimu (nak Dina) sudah sampai ke tujuan hidupnya bertemu dengan yang Maha Hidup di alam sana." tutur bapak kepada Bagus.


"Kamu harus terus berdoa, agar dia bisa tenang kembali ke pangkuan Tuhan sang Pencipta." ucap bapak mengingatkan kepada Bagus anaknya. Bagus hanya duduk termenung sendiri dengan segala ratap batin yang tersisa.


Bapak mungkin saja mudah untuk berkata demikian, tapi Bagus yang sedang duka, tidak mudah untuk menerima kenyataan yang ada. Begitu berat derita Dina selama hidupnya, sehingga setelah Dina tiada, yang ada hanya rasa bersalah dan penyesalan mas Bagus yang ingin membahagiakan Dina hingga akhir masa bersamanya.


Irfan dan Joko juga kerap berkunjung ke rumah mas Bagus untuk menghibur sahabatnya yang masih dirundung duka. Secangkir kopi dan sebungkus sigaret menjadi teman di kala Irfan dan Joko berkunjung ke rumah mas Bagus menemani malam di setiap akhir pekan.


"Sudahlah mas Bagus jangan kau sesali kepergian Dina, saya yakin Dina di alam sana sudah bahagia." ucap Irfan menghibur. Bagus hanya tersenyum berat menimpali ucapan Irfan sahabatnya. Mas Bagus kembali menyeruput kopi di hadapannya, lalu menyedot lagi sigaret yang terjepit di sela jari tangannya.


"Begini mas Irfan, yang saya sesali... disaat saya belum sempat membuat Dina bahagia... mengapa Tuhan begitu cepat memanggil Dina kembali ke pangkuannya?" terang Bagus.


"Itulah hidup mas Bagus, setiap yang bernyawa pasti ada masanya, seperti siang malam yang selalu berganti sesuai kodratnya. Dina sudah sampai pada masanya, hingga Tuhan akhirnya memanggilnya. Ikhlas-kan Dina, biar dia bisa tenang kembali ke alam baka." ucap Joko yang duduk di kursi.


"Sudah lama loh mas Bagus berdiam diri di rumah, kapan nih mas Bagus akan mulai masuk kompi untuk berdinas lagi?" tanya Irfan.


"Mungkin besok, senin pagi saya akan masuk lagi ke dinas kompi." jawab Bagus datar.


"Nah begitu dong mas Bagus, tetap semangat!" ucap Irfan sambil mengangkat genggaman tangan setinggi dada.


"Ya sudah kalau begitu, kami pamit dulu. Sampai ketemu besok di kantor." ucap Irfan dan Joko menyudahi kunjungan mereka.


Satu minggu kemudian

__ADS_1


Selepas Isya, Bagus dan Joko mengunjungi lagi tempat makam Almarhumah Dina di pemakaman umum. Selama ini bila mas Bagus kangen akan Almarhum Dina, Joko lah yang selalu menemani mas Bagus saat ia hendak berkunjung tempat makamnya istrinya. Mas Bagus dan Joko lalu meluncur dengan sepeda motornya menuju pemakaman umum di ujung desa sana. Sepuluh menit kemudian mas Bagus dan Joko sampai juga di tempat pemakaman umum rindang yang dipenuhi tanaman pohon kamboja.


Sementara mas Joko duduk menunggu di atas sepeda motor yang bersandar di tepi jalan raya, mas Bagus kemudian melangkah masuk ke area tanah pemakaman yang cukup temaram. Lampu penerang jalan yang lumayan terang di atas tiang penyangga yang berdiri kokoh di tepi jalan raya, cukup terang menerangi Joko dan lalu-lalang sepeda motor para pengguna jalan yang melintas dengan motornya.


Mas Bagus lalu duduk di sisi tempat pemakaman Dina yang masih basah bersama taburan bunga aneka warna. Selesai berdoa, mas Bagus yang masih kelayu akan kenangan bersama Dina semasa hidupnya lalu berucap sebagai kata terakhir untuk pamit, "Sudah ya dek Dina... mas Bagus pamit untuk pulang dulu, kamu baik-baik ya di alam sana, semoga segala khilaf dan dosa dek Dina diampuni semua olehnya.".


"Barangkali nanti dalam perjalanan mas Bagus ke depan, kemudian Tuhan mempertemukan mas Bagus dengan seorang wanita sebagai pengganti dari hidup dek Dina, dek Dina ikhlas kan ya." ucap mas Bagus di depan pemakaman Almarhumah Dina.


Sementara tanpa mas Bagus sadari, di atas pohon cukup tua yang tinggi besar beberapa meter di hadapannya tampak kelebat sosok bayangan putih mengawasi mas Bagus yang mengucap pamit. Tanpa mas Bagus menyadari sosok putih di atas pohon berukuran sangat besar itu terus mengawasi dirinya yang hendak melangkah pergi. Mas Bagus lalu meninggalkan area makam yang gelap temaram di payung puluhan tanaman pohon kamboja.


Sementara dari jauh, Joko yang memiliki indra ke enam dapat melihat kehadiran sosok putih yang bertengger di atas pohon tua tersebut. Joko tak berkedip, ia terus mengawasi sosok bayangan putih di atas dahan yang terus mengawasi Bagus di bawahnya.


"Ada apakah, hingga sosok bayangan putih di atas pohon itu terus mengawasi Bagus yang sedang berdoa di makam Almarhum Dina?" batin Joko


Sebentar kemudian "Ayo Mas kita pulang." ucap mas Bagus kepada Joko.


"Sudah mas Joko." jawab Bagus singkat. Mas Joko lalu mengendarai motornya untuk kembali.


"Sewaktu mas Bagus berdoa di pemakaman, suasana angin malam terasa beda mas, malam ini terasa lebih mencekam dari biasanya." ucap mas Joko sambil menyetir motornya.


"Ah... itu paling perasaan mas Joko saja, orang saya juga tidak merasakan apa-apa kok." jawab mas Bagus yang di bonceng di belakang.


"Benar loh mas... tadi sewaktu saya duduk menunggu mas Bagus di tepi jalan, bulu kuduk saya sampai merinding seolah ada sesuatu yang datang di pemakaman." tegas Joko.


"Wah iya mas Bagus... sekarang kan malam jumat, pantas saja tadi bulu kuduk saya berkali-kali merinding." lanjut mas Joko lagi.

__ADS_1


"Ah kamu ini mengada-ada saja mas Joko." jawab mas Bagus sambil tersenyum.


"Tadi waktu mas Bagus berdoa, kok cukup lama juga mas, tidak seperti biasanya hanya sebentar saja." ucap Joko lagi.


Tadi setelah saya berdoa, lalu saya mengucap pamit, "Dek Dina, barangkali nanti dalam perjalanan hidup saya kedepan, kemudian tuhan menentukan saya bertemu lagi dengan seorang wanita sebagai pengganti dari Almarhum dek Dina, dek Dina ikhlas kan ya?" ucap mas Bagus bercerita.


"Wah.., pantas saja bayangan putih itu tadi muncul." batin Joko.


"Kenapa sih mas Joko, kamu kok malah diam?" tegur Bagus kepada Joko.


"Ya tidak apa-apa mas, cuman menurut saya, kalau bisa sebaiknya mas Bagus perbanyak lagi kirim doa buat Almarhum Dina, agar dia bisa tenang kembali ke alam sana." ucap Joko menasihati Bagus sahabatnya.


"Ya sudah pasti dong mas Joko, dimanapun saya berada, saya selalu ingat dan selalu mendoakan almarhum Dina agar ia bisa tenang kembali ke alam sana dan mendapat surga dari tuhannya." ucap Bagus kepada Joko.


"Amin." ucap Joko ikut mengamini doa sahabatnya.


Mas Bagus yang sedang kelayu, baru kali ini merasakan sebuah arti kehilangan seseorang yang sangat ia cintai dalam hidupnya. Disaat sayap-sayap mengepak, tiba-tiba ia harus kehilangan sayap sebelah. Sebagai teman, Joko hanya bisa menemani Bagus yang sedang duka, agar ia tidak larut dalam kesedihan yang ada, sebab hidup dan mati setiap insan, tuhan lah yang menentukan.


"Oke mas Bagus, saya langsung kembali ke rumah saja." ucap mas Joko setibanya di rumah mas Bagus.


"Tidak duduk dan minum kopi dulu di rumahku mas Joko?" tawar mas Bagus kepada mas Joko sahabatnya.


"Lain kali saja Mas." Jawab mas Joko seiring dengan berlalunya motor meninggalkan mas Bagus di teras rumahnya.


"Oke... kalau begitu terimakasih ya?" ucap mas Bagus sambil tersenyum kepada sahabatnya yang sudah melesat pergi.

__ADS_1


"Ah, santai saja Mas. Saya duluan." pamit Joko dengan menarik gas sepeda motornya.


__ADS_2