
Keesokan harinya, Deni Indra melakukan anjangsana ke warga pendukungnya di Rt. 02 dusun Balong.
Saat sambutan, Deni Indra cukup berapi-api menyampaikan pentingnya sebuah bukti daripada sekedar kata janji.
Meski warga pendukung Indra tak sebanyak pendukung Yuli, tapi semangat Indra menggugah dan meyakinkan pendukungnya terdengar sangat mantap di telinga.
“Intinya, jadikan saya dulu sebagai kepala desa! Soal pembangunan desa, kemajuan ekonomi dan lain-lain, itu akan saya buktikan kalau saya sudah menjadi kepala desa!” ucap Indra.
“Ya betul!” sahut warga pendukung dari mas Indra sambil mengepalkan tangan, seolah mereka tak sabar lagi untuk meraih sebuah kemenangan dalam Pemilu Kades nanti.
“Ada perbedaan tipis antara Pilkades dan Pil KB?" ucap Indra.
"Nek pilkades? kalau jadi, lali!, Tapi, Nek Pil KB? Kalau lali?, malah Jadi! (Dalam Pilkades, seorang calon kades kalau sudah jadi kades, mereka biasanya terus lupa kepada warga, tapi Pil KB, kalau suami istri lupa minum pil nya, maka biasanya terus jadi/hamil).” terang Indra.
Hadirin yang semula serius, kini mencair tawa saat mendengar canda dari mas Indra.
"Hadirin sekalian yang saya hormati,
Maka dari itu, saya tidak mau muluk-muluk mengumbar janji dalam kampanye pilkades ini. Intinya jadikan dulu saya sebagai kepala desa, soal ini dan itu yang berkaitan dengan pembangunan dan kemajuan desa, akan saya buktikan semua kalau saya sudah menjadi kepala desa!” ucap Indra di akhir sambutannya.
“Siap!!!” jawab pendukung mas Indra kompak.
***
Sementara di Rt. 01 dusun Rejo , pak Seno pun cukup antusias menyampaikan pidato dihadapan para pendukungnya juga.
"Bapak, ibu, pemuda, pemudi dah hadirin sekalian yang saya hormati." ucap pak Seno.
“Ibarat anak sekolah, saya tentu memiliki kekurangan di bidang ini dan itu. Tapi dengan pengalaman saya sebagai mantan kepala desa, maka kekurangan saya, akan saya perbaiki pada periode kali ini.
Ibarat kata, periode kemarin adalah masa sekolah atau masa pembelajaran bagi saya, jadi pada periode kali ini adalah masa praktek saya untuk melengkapi segala kekurangan saya pada periode kepemimpinan saya kemarin.” ucap Pak Seno
“Bapak, ibu hadirin sekalian yang saya hormati,
Misalnya, sampean mau piknik ke Jogja atau ke Bali. Kalau sampean disuruh naik bus, kira-kira sampean akan memilih bus yang disopiri oleh sopir bus yang sudah berpengalaman, apa bus yang disopiri oleh sopir yang baru belajar?” tanya pak Seno.
“Bus yang disopiri oleh sopir yang sudah berpengalaman!” jawab hadirin kompak.
“Kita tentu akan lebih memilih bus yang disopiri oleh seorang sopir yang sudah berpengalaman, sebab resiko kecelakaan atau menabraknya bus tersebut, tentu sangat kecil bila dibandingkan dengan bus yang disopiri oleh sopir yang masih baru." terang pak Seno.
“Hadirin yang duduk melingkar di balai rumah pak Minto tersebut mengangguk-anggukan kepala, mereka paham dengan penjelasan dari pak Seno yang memang cukup masuk ke dalam logika mereka.
Maka dari itu, hadirin sekalian yang saya hormati.
Saya yang sudah berpengalaman memimpin di desa, tentu lebih paham celah-celah mana yang bisa menarik bantuan dari pemerintah pusat untuk memberikan bantuan di desa kita ini.
Sebab kalau seorang kepala desa tidak pandai-pandai menarik simpati pemerintah di atasnya, maka bantuan tersebut akan diberikan ke desa lain yang kadesnya cukup gesit dalam mengajukan proposal untuk pembangunan di desa mereka.” ucap Pak Seno.
Masuk akal juga penjelasan dari pak Seno, sehingga para pendukungnya pun membenarkan ucapan pak Seno tersebut.
***
Di Dusun Cenang, mas Bakti juga melakukan kampanye perdananya.
__ADS_1
"Bapak, Ibu hadirin yang saya hormati." ucap mas Bakti
Alhamdulillah, pada kesempatan Pemilu Kades kali ini, saya bisa ikut meramaikan pemilu kades di desa kita ini.
Ada beberapa hal yang menyebabkan saya berani untuk maju mencalonkan diri sebagai calon kepala desa di desa Sumber Balong ini, salah satunya adalah:
1. Kebetulan ada beberapa warga\, bisa dibilang cukup banyaklah warga yang datang ke rumah saya. Mereka datang memberi masukan sekaligus dorongan moril kepada saya untuk maju mencalonkan diri sebagai calon kepala desa.
Saya tidak akan menyebutkan nama siapa saja yang datang ke rumah saya tersebut, yang jelas, orang-orang tersebut sekarang ada di dalam barisan kita.
2. Saya lihat\, perkembangan ekonomi dan pembangunan di desa kita belum maksimal. Hal demikian bisa kita lihat dari beberapa fasilitas umum yang belum tersentuh oleh pemerintah desa.
3. Saya selaku generasi muda\, apalagi bapak saya juga pernah menjadi sebagai kepala desa pada masa orde baru\, merasa terpanggil untuk memperjuangkan desa kita\, agar desa kita menjadi lebih maju dalam segala bidang. Baik di bidang pembangunan\, pertanian\, peternakan\, perdagangan dan juga bidang-bidang yang lainnya.
Hadirin tersenyum sekaligus merasa bangga dengan apa telah yang disampaikan mas Bakti di hadapan mereka.
Bapak ibu hadirin yang saya hormati,
Pada kesempatan kali ini, saya mengucapkan banyak terima kasih atas kehadiran bapak ibu sekalian dalam rapat perdana kali ini. Dengan bersatunya bapak, ibu hadirin sekalian pada malam hari ini, itu sudah menunjukan akan semangat perjuangan bapak, ibu hadirin sekalian yang ingin adanya perubahan di desa kita.” ucap mas Bakti.
“Setuju!!!” Sahut hadirin kompak.
“Hadirin sekalian yang saya hormati, dan saya banggakan.
Marilah kita rapatkan barisan, kita singsingkan lengan baju, untuk menjaga persatuan ini demi dapat meraih cita-cita kita demi membangun desa.
Sebab hanya dengan kita bersatu, maka segala pekerjaan yang berat akan menjadi ringan.
Bapak, ibu hadirin yang saya hormati.
Namun demikian apalah artinya saya seorang diri tanpa bantuan dan dukungan bapak-bapak dan ibu-ibu hadirin sekalian. Maka dari itu, marilah kita bahu-membahu, bekerjasama untuk mengajak warga lain, agar mereka mau bersatu untuk mendukung kita.
Sebab, dengan semakin banyak warga yang ikut bergabung dalam barisan kita, maka cita-cita kita untuk membangun desa, akan mudah terwujud nantinya." ucap Mas Bakti.
Warga pendukung mas Bakti, kini paham akan pentingnya sebuah persatuan demi dapat mewujudkan pembangunan di desa. Warga pendukung mas Bakti tersebut, siap untuk mencari masa dan menggandeng warga lain, agar mereka ikut bergabung dalam gerbong politik bersama Mas Bakti.
***
Setelah tiga minggu lamanya mereka melakukan kampanye terbuka, maka jadwal berikutnya adalah mereka melakukan pengambilan gambar atau simbol yang akan dicoblos warga masyarakat pada pemilu kades nanti.
Sesuai jadwal, Jumat pagi, suasana balai desa sangat ramai sekali warga bersama calon kades mereka. Pagi itu, masing-masing calon kepala desa hadir bersama pendukung setianya di Balai Desa Sumber Balong. Mereka sangat antusias sekali mengawal jagoan mereka yang hendak mengambil gambar yang akan dicoblos saat pemilu kades nanti.
Dua jam kemudian, setelah mereka mengambil gambar yang dipilih secara acak di dalam box kaca, maka panitia pilkades mengumumkan perolehan gambar tersebut.
1. Pak Seno\, memperoleh gambar Kelapa
2. Pak Asrori\, memperoleh gambar Padi
3. Pak Deni Indra\, memperoleh gambar Kacang
4. Pak Bekti Wibowo\, memperoleh gambar Jagung
5. Yuli Astuti\, memperoleh gambar Ketela
__ADS_1
Selesai prosesi pengambilan gambar, masing-masing calon kepala desa pun kembali ke rumah mereka dengan dikawal oleh para pendukung mereka.
Mereka merasa bangga dengan perolehan simbol gambar tersebut, sebab gambar 'Kelapa' yang pak Seno dapat, sangat sesuai dengan mimpi dan wangsit dari dukun yang menjadi rujukan pak Seno tersebut.
Gambar buah 'Kelapa', seolah menjadi simbol akan kemenangan pak Seno dan para pendukungnya pada pemilu kades nanti.
Kata 'Kelapa' pun mereka acak balik menjadi 'Kepala' yang berarti kemungkinan besar, pak Seno akan terpilih kembali menjadi 'Kepala' desa.
Demikian tafsir asal dari pak Seno dan para pendukungnya akan simbol gambar buah kelapa yang pak Seno dapat tersebut.
Senyum optimis pak Seno dan para pendukungnya selalu merekah indah di bibir, sebab pak Seno dan pendukungnya merasa paling pantas menjadi the next kepala desa di desa Sumber Balong tersebut.
***
Pak Asro juga merasa bangga karena memperoleh gambar seikat padi.
Padi itu, makanan pokok yang paling disukai oleh seluruh lapisan warga masyarakat.
Semakin berisi buah padi, maka akan semakin merunduk. Artinya seorang yang berilmu itu akan semakin bijak dalam menghadapi dan memecahkan segala persoalan. Tidak sombong dan selalu andap asor seperti pribadi pak Asrori yang murah senyum dan andap asor di depan warga.
***
Bakti yang mendapat gambar tongkol buah Jagung, juga merasa bangga sekali.
Sebab, Ja itu artinya Hadir atau datang, dan Gung, artinya yang Agung. Jadi, ‘Jagung’ itu artinya Telah datang Calon Kepala Desa yang Agung. Siapakah calon pemimpin desa yang agung tersebut, dialah Bakti Wibowo.
***
Yuli yang mendapat gambar ‘Ketela,’ juga sangat bahagia. Sebab ‘Ketela’ itu artinya jelas. Jadi, Yuli nanti yang jelas-jelas akan menjadi the next kepala desa.
***
Indra yang memperoleh gambar kacang, juga sangat gembira. Sebab, Kacang adalah makanan yang paling disukai oleh seluruh warga. Apalagi kalau ada secangkir kopi di atas meja, maka diskusi pun akan awet dan bisa bertahan lama. Semakin lama bersama, maka persatuan akan semakin kuat adanya.
Moto: ‘Ini kacangku!’ yang digaungkan oleh Indra dan para pengikutnya pun semakin santer di telinga warga.
***
Simbol gambar yang mereka dapat, mereka tafsirkan sesuai dengan selera dan naluri yang sedang membiak di dalam dada. Sehingga makna dibalik simbol gambar tersebut, membuat mereka merasa bangga.
Tafsir tentang simbol gambar yang mereka dapat, boleh saja dimaknai sesuai selera mereka masing-masing. Tapi siapakah yang akan menjadi pemenang dalam pemilu kades nanti, itu masih menjadi misteri dan tanda tanya.
Sore hari, masing-masing tim sukses dari 5 orang calon kades di desa Sumber Balong tersebut, kini saling berlomba-lomba menempelkan poster gambar jagoan calon kades mereka di dinding dan pintu rumah-rumah warga.
Bahkan di dinding depan setiap rumah warga, kadang sampai tertempel tiga gambar poster calon kepala desa.
Disetiap dinding rumah warga, di sebelah kiri rumah tersebut ditempeli gambar ‘Kelapa’ dengan No. 1 dan dibawah gambar kelapa tersebut bertuliskan nama ‘Seno’. Sementara di dinding sebelah kanan, melekat juga poster kertas dengan gambar ‘Ketela’ dengan No. 5 atas nama ‘Yuli’. Di daun pintu, melekat poster gambar ‘Jagung’ dengan No. 4 atas nama ‘Bakti W’.
Poster bergambar aneka buah dan nama calon kepala desa, kini menjadi pemandangan yang menghiasi lingkungan desa. Kemana mata warga desa memandang, pasti mereka akan menemukan poster yang menempel di seantero tempat strategis yang ada di desa Sumber Balong tersebut.
Optimisme dari calon-calon kepala desa sebelum pemungutan suara berlangsung, memang sama kuatnya. Sebab mereka sama-sama berambisi ingin terpilih dan menjadi kepala desa.
Kemungkinan dan prediksi siapa yang akan terpilih, jelas sudah terlontar dari calon-calon kades dan para pendukung mereka. Semua masih imbang suaranya, sebab mereka semua merasa layak dan pas menjadi the next kepala desa di desa Sumber Balong tersebut.
__ADS_1