Cinta Merah Jambu

Cinta Merah Jambu
Bersatu Meraih Asa


__ADS_3

Bak berdendang berdua di taman surga loka. Betapa indahnya bulan madu yang menghiasi hari-hari indah masa berkesan dalam pernikahan antara mas Juni dan mbak Yuli.


Wajah mas Juni tampak lebih segar berseri, setelah menikah dan punya istri. Dan penampilan mas Juni pun kian lebih rapi dan tampak lebih muda lagi. Senyum dan bias sinar tatap mata mas Juni terbersit kebahagiaan akan keindahan dan manisnya madu pernikahan yang baru direguk di malam yang dingin sepi.


Demikian pula Yuli sang bidadari yang selama ini menjadi pujaan para lelaki, setelah disunting oleh mas Juni, Yuli kian tampak cantik berseri bak bunga yang mekar di pagi hari.


Yuli janda muda nan sukses dalam dunia usaha, kini dipersunting oleh mas Juni sang guru muda yang memiliki banyak talenta. Meski mereka sudah sama-sama dewasa, tapi setelah menikah, mereka lebih serasi bak raja dan permaisuri.


Semerbak harum bulan madu terpancar di wajah sepasang pengantin baru yang telah mengikrarkan janji suci untuk selalu setia sampai akhir nanti.


Sepasang pengantin baru itu, kini merasakan indahnya malam dan dunia serasa hanya milik mereka berdua. Ciuman, pelukan mesra mas Juni membuat Yuli kian tersanjung ke atas awan.


Disaat mereka berbulan madu, mereka juga sempat berdiskusi mengenai pencalonan kepala desa yang kian senter menjadi sorotan warga.


“Mas Jun, apa tidak sebaiknya sampean saja yang maju untuk mencalonkan diri sebagai kepala desa?” ucap Yuli.


“Selama ini yang menjadi sorotan dan pantauan masyarakat, adalah sampean dek Yuli yang akan maju sebagai calon kepala desa. Jadi sampean yang harus maju membuktikan diri, tampil untuk menyambut dukungan warga.” jawab mas Juni.

__ADS_1


“Tapi, saya ini kan perempuan mas?” sahut Yuli.


“Ya tidak apa-apa toh dek Yuli, bukankah istilah atau semboyan emansipasi wanita juga sudah didengungkan sejak lama oleh R.A Kartini.” jawab mas Juni.


“Betul mas, tapi soal pengalaman dan wawasan, antara saya dan mas Juni, kan lebih berpengalaman mas Juni yang sudah lama berkiprah di desa sebagai ketua BPD.” ucap Yuli.


“Saya ini sudah terlanjur mencintai dunia saya sebagai tenaga pendidik, sebab dengan mengabdikan diri sebagai guru, saya bisa mengamalkan ilmu kepada para siswa di sekolah.


Saya akan sangat bangga, bila melihat anak didik saya kemudian menjadi orang yang sukses dan menjadi pejabat yang lebih tinggi dari saya.


Sebab guru itu seperti neraca atau timbangan yang bisa mengukur berat ringanya emas dan permata. Bukankah, kesuksesan murid sebagai pejabat atau bisnisman, tidak lepas dari peran guru juga yang telah mendidik mereka.


Biarlah saya berjuang di belakang layar sebagai guru, ketua BPD, petani dan takmir masjid di desa, dan mendukung kamu semampu saya nanti.” ucap mas Juni.


Yuli tersenyum mendengar dukungan dari mas Juni suaminya, seiring anak-anak lelap dalam tidurnya. Yuli lalu menyeduhkan dua telur dan madu untuk mas Juni suami tercinta. Setelah membuatkan minuman berenergi untuk suaminya, mereka lalu bergandengan tangan menuju ke kamar peraduan untuk memadu kasih penuh bahagia. Berdoa dan memanjakan Yuli dengan sentuhan lembut saat melakukan pemanasan juga sangat berguna, untuk membimbing istri melayang ke angkasa raya. Berkali-kali Yuli dibuat mendesah mencapai titik ******* oleh mas Juni yang perkasa.


Sebab selama hidup menjanda, Yuli kerap ingat rupa tapi lupa rasa, kini setelah menikah, ia pun bisa merasakan sesuatu yang dulu hanya sebatas bayangan dalam lamunan dan kesendirian. Seperti terbangun dari mimpi, Yuli pun kini bisa melihat dan merasakan anunya mas Juni yang mampu memberikan kesegaran luar biasa setelah batinnya mengalami kemarau cukup panjang. Syukur berkali-kali terucap, semoga pernikahannya dengan mas Juni sang bujang adalah pernikahan yang terakhir dalam hidup Yuli.

__ADS_1


Pagi hari, kembali mereka tampil bugar bak kembang yang telah disiram air hujan semalam. Sementara beberapa teman guru di sekolah juga kerap bercanda dengan mas Juni.


“Hebat yah pak Jun, baru menikah langsung dapat dua orang anak sebagai momongan” canda pak Untung sambil cekikikan.


“Ah, jangan berisik, biar menikahi janda, tapi kan rasanya masih gurih dan empuk juga” jawab pak Juni sambil nyengir.


“Angge-angge orong-orong, ora melu nggawe melu momong,” ucap bu Tuti sambil tertawa.


“Biar dapat janda, tapikan masih bisa di bolak-balik seperti nggoreng ketela.” timpal Juni sambil nyengir juga.


“Jambu alas, manis rasane, biar rondo lawas, tapi enak rasane,” ucap pak Ruri kepala sekolah ikut menimpali.


Mas Juni hanya tersenyum mendengar canda dari teman-teman guru di sekolah. Sebab cinta dan sayang mas Juni kepada Yuli tak berbatas. Seumpama pemenang sayembara yang mendapatkan hadiah permata penuh aji. Sekian banyak pria yang menaruh simpati kepada Yuli, tapi akhirnya mas Junilah yang berhasil menyunting Yuli sebagai istri.


Mas Juni dan Yuli akan terus memegang janji untuk selalu hidup semati, suka dan duka akan mereka hadapi bersama. Canda dan gurau dari teman dan tetangga hanya sekedar saja, sebab yang lebih utama adalah bahtera rumah tangga mas Juni dan Yuli akan selalu terjaga.


Mas Juni begitu bahagia bisa memiliki Yuli sang bidadari, meski dia janda dan punya anak dua, tapi senyum dan candanya selalu memikat jiwa.

__ADS_1


Sebaliknya Yuli juga merasa bahagia sekali, sebab bersuamikan mas Juni yang masih bujang dan penuh energi.


Kini mereka hidup berdampingan sebagai suami-istri untuk saling melengkapi, bahtera pun berlayar mengarungi samudera kehidupan untuk menggapai segala asa, cita dan cinta penuh arti.


__ADS_2