
Sekian lama mas Bagus hidup menduda, setelah ditinggal Almarhum Dina untuk selamanya-lamanya. Hidup mas Bagus kini terasa sunyi tanpa adanya Dina disisi. Cukup lama ia berpikir untuk mencari seorang pengganti, tapi yang menjadi pertimbangan mas Bagus selama ini adalah si kecil Dyah Ayu Pitaloka anaknya.
“Bila ia menikah lagi, apakah istrinya juga akan mencintai anaknya?” Pertanyaan itulah yang kerap muncul dalam benak mas Bagus, tiap kali ia berpikir perihal seorang pengganti. Sementara cerita tentang kejamnya ibu tiri juga kadang menjadi bayang-bayang yang menghantui hingga membuat ia cukup hati-hati dalam mencari seorang calon istri.
Seiring waktu berlalu, kini tuhan mempertemukan mas Bagus kembali dengan seorang janda muda yang dulu pernah menjadi kekasihnya. Yuli si janda muda adalah sosok wanita cantik yang pernah menjadi kekasihnya, tapi kesalahan yang pernah ada sempat membuat mas Bagus ragu untuk menyambung rasa dengannya. Meski mereka kini sama-sama menyandang status yang sama (Mas Bagus sebagai duda dan Yuli sebagai janda), mungkinkah Yuli mau menerima untuk menjalin kasih dengan mas Bagus seperti dulu lagi? Pertanyaan ini pula yang membuat hati mas Bagus ragu untuk berterus terang menyampaikan hasrat terpendam kepadanya.
Kini setelah mas Bagus berhasil bertemu dan berinteraksi kembali dengan Yuli Astuti, hasrat hati untuk menikah pun tumbuh dan bersemi kembali dalam dada. “Tuluskah hati Yuli memaafkan segala kesalahanku?” Pertanyaan tersebut, kembali membuat hati mas Bagus ragu untuk melangkah maju dan menyatakan cinta kepadanya. Yuli wanita cantik idaman hatinya kini berdiri menanti sebagai calon istri pilihan hati. Rasa cinta mas Bagus kepada Yuli membimbing naluri mas Bagus untuk maju, tapi bayangan jawab Yuli “Sebaiknya kita berteman saja” membuat mas Bagus ragu untuk melangkah lagi. Peluang antara diterima dan ditolaknya cinta, membuat mandek langkah, namun besarnya hasrat cinta kepada Yuli juga tak bisa membuat hati mas Bagus untuk mundur walau sejengkal langkah.
Kebekuan yang ada membuat mas Bagus harus pandai-pandai mencari celah, agar panah asmara yang dibidiknya bisa tepat mengenai sasaran yang ada. Mas Bagus tahu betul sifat dan karakter Yuli, ia memang mudah memaafkan kesalahannya, tapi untuk menerima cinta mas Bagus kembali, itu sangat tipis harapan untuk terwujudnya. Memaafkan kesalahan mas Bagus jelas sudah Yuli maafkan, tapi untuk melupakan kesalahan yang pernah ada, tentu Yuli tidak bisa. Antara maaf yang sudah Yuli nyatakan dan melupakan kesalahan yang pernah mas Bagus lakukan itu bagaikan sebuah lukisan pada sekeping uang logam yang saling berhadapan. Persoalan di depan mata itu menjadi buah simalakama yang membuat mas Bagus mentok pada sebuah tanya yang sulit untuk dijawab seperti pengalaman pahitnya di masa lalu.
Flashback
Lima tahun yang lalu, cinta mas Bagus dan Yuli pernah terjalin mesra, tapi semuanya menjadi terlarang karena Yuli terpaksa menikah dengan seorang laki-laki pilihan orang tuanya. Pernikahan Yuli dengan Budi menjadi dinding pemisah yang menghalangi cinta mereka. Masa itu jalinan kasih cinta mas Bagus kepada Yuli baru seumur jagung, atau seumpama buah jambu di atas pohon yang belum masak pada waktunya, masih terlalu hijau sehingga mas Bagus harus menunggu waktu. Mas Bagus yang baru diterima sebagai tentara belum mendapatkan izin menikah dari orang tua. Sebab orang tua mas Bagus juga memerlukan bantuan dana dari mas Bagus untuk membiayai keempat adiknya yang masih duduk di bangku sekolahnya.
Sementara usia Yuli yang sudah cukup dewasa, seumpama buah yang sudah matang di pohonnya dan sudah siap dipetik oleh pemiliknya, tapi apalah daya mas Bagus yang belum siap untuk memetik buah cintanya, sehingga buah itu pun dipetik oleh orang lain.
Perjodohan Yuli dan Budi, terpaksa membuat tali cinta Yuli dan Bagus saling terpisah. Cinta Yuli dan mas Bagus menjadi terhalang dinding pemisah setelah Yuli dan Budi benar-benar menikah.
Cinta diantara mereka yang belum putus pun terus membelenggu rasa, hingga saat mas Bagus telah siap dengan segalanya, ia sempat membujuk Yuli agar mau bercerai dengan Budi suaminya, agar mas Bagus bisa menikahi dirinya.
Tapi Yuli yang sudah memiliki buah hati hasil pernikahannya dengan mas Budi tak berani mengambil sikap. Selama ini Yuli hanya bisa pasrah dan diam dengan statusnya sebagai istri mas Budi.
Besarnya rasa cinta dan cemburu yang membelenggu hati mas Bagus dengan kerinduan, membuat mas Bagus melakukan tindakan bodoh kepada Yuli. Maksud hati agar Budi mau meninggalkan Yuli, tapi yang terjadi malah sebaliknya. Cobaan yang menimpa Yuli malah kian membuat cinta mereka kemudian tumbuh subur saja. Tindakan bodoh mas Bagus kini menimbulkan luka di hati Yuli, hingga cinta yang pernah ada berubah menjadi benci.
Next
Meski Yuli sudah lama hidup menjanda dan sudah memberikan maaf kepada mas Bagus, tapi mungkinkah Yuli yang pernah terluka hati itu mau menerima cinta dari mas Bagus kembali? Padahal, luka yang pernah Yuli terima, itu seumpama bara arang yang tak mungkin Yuli jamah lagi. Antara maaf yang sudah Yuli beri dan luka yang pernah menggores hati itu menyatu dalam benak Yuli seperti lukisan yang sulit untuk terhapuskan..
Setelah mas Bagus sadar diri, mampukah ia mengubah sekeping logam itu menjadi nilai tukar yang sepadan dengan cinta tulus mereka agar menyatu kembali? Mas Bagus terus berjuang untuk membuat Yuli mengerti, bahwa cinta tulus mereka dan mahligai yang menanti di depan mata, itu jauh lebih berarti bila dibandingkan sengketa rasa yang pernah membuat luka di hati Yuli yang kini telah menjadi memori.
__ADS_1
Seikat kembang mawar dan pendekatan telah mas Bagus lakukan, tapi untuk memuluskan maksud hatinya kepada Yuli, mas Bagus pun harus memutar otak mencari jalan dan momentum yang benar-benar tepat. Kebekuan yang melanda hati, membuat mas Bagus memutuskan untuk curhat kepada sahabatnya. Toh ada baiknya juga bila ia berkunjung dulu ke rumah mas Joko sahabatnya. Siapa tahu, nanti sahabatnya bisa memberi saran dan petunjuk untuk memecah kebekuan hati yang sedang mas Bagus hadapi.
Sore itu mas Bagus langsung meluncur dengan sepeda motornya menuju ke rumah mas Joko. Tiga puluh menit kemudian, setelah mas Bagus menempuh perjalanan cukup panjang dan berliku, akhirnya ia sampai juga di komplek perumahan Puri Asri. Sebelum menemui mas Joko di rumahnya, sejenak mas Bagus singgah dulu di rumah orang tuanya Yuli untuk memberikan bingkisan parcel aneka buah segar kepada mereka.
“Eh nak Bagus, kok tumben sore-sore begini datang kesini sendirian?” sambut ibunya Yuli kepada mas Bagus yang datang.
“Iya bu, saya ingin tahu perkembangan kondisi kesehatan bapak sepulang dari rumah sakit.” Jawab mas Bagus sambil menyerahkan buah tangan kepada ibu calon mertua.
“Alhamdulillah, bapak sekarang sudah sehat nak Bagus.” jawab ibu seiring senyum merekah di bibirnya. “Ayo silahkan duduk nak Bagus.” lanjut ibu kepadanya.
Sebentar kemudian, mas Bagus dan bapak, kini sudah berbincang-bincang di ruang tamu ditemani ibu yang baru menyuguhkan secangkir teh diatas meja. Orang tua Yuli sangat gembira atas kedatangan mas Bagus ke rumah mereka. Mereka juga bercerita kalau selama dua hari di rumah, sepulangnya mereka dari rumah sakit, Yuli selalu menemani mereka. “Jadi selama dua hari Yuli tinggal disini, yang masak, nyuci, nyapu dan lain-lain itu ya Yuli semua yang melakukan.” ucap ibu bercerita.
Mas Bagus sesekali tersenyum saat mendengar cerita tentang Yuli dari ibu di hadapannya. “Jadi Yuli itu termasuk tipe anak yang rajin ya Bu?” tanya mas Bagus kemudian.
“Ya tidak mas, cuma dari kecil itu memang ibu yang selalu menyuruh dia untuk nyapu, nyuci, bantu-bantu ibu memasak di dapur dan lain-lain. Sebab kalau ibu tidak teriak-teriak nyuruh Yuli untuk nyapu dan lain-lain, ya dia maunya bermain saja dengan teman-temannya.” jawab ibu lagi.
“Ya sudah pak, bu, saya pamit dulu, soalnya saya mau mampir juga ke rumah mas Joko.” pamit mas Bagus kepada mereka. “Salam saya buat dek Yuli bu.” lanjutnya.
“Ya terimakasih banyak ya nak Bagus atas kunjungannya, nanti salam dari mas Bagus, akan ibu sampaikan kepada Yuli.” jawab ibu sambil tersenyum saat melepas kepergian mas Bagus yang hendak menuju ke rumah mas Joko sahabatnya.
Lima menit kemudian, setibanya mas Bagus di rumah mas Joko sahabatnya. Mas Joko menyambut baik kedatangan mas Bagus sahabatnya, secangkir kopi dan makanan ringan pun ia suguhkan di atas meja. Kali ini mas Bagus sengaja tidak menceritakan perihal kunjungannya ke rumah orang tuanya Yuli sepuluh menit yang lalu, dan biarlah cerita tersebut ia simpan menjadi rahasianya.
Setelah mereka berbincang-bincang cukup lama, lalu mas Bagus menyampaikan perihal kemelut jiwa yang sedang dihadapi kepada mas Joko dan Nana. “Wah kalau soal itu, ya jelas Nana yang cukup tahu, kan dia teman akrabnya Yuli.” ucap Joko setengah bercanda.
“Iya mbak Nana, apakah ada peluang seandainya nanti saya menyatakan maksud hati ini kepada Yuli?” tanya mas Bagus kemudian.
Nana yang cukup tahu tentang seputar kabar sahabatnya (Yuli), lalu menarik nafas panjang.
Nana diam sejenak, teringat akan respon dari Yuli yang pernah ia singgung saat ia berkunjung ke tempat Yuli beberapa waktu yang lalu.
__ADS_1
Nana yang pernah bertanya soal mas Bagus yang mungkin akan kembali kepadanya (Yuli), lalu bercerita tentang respon dari Yuli yang pernah disampaikan kepada Nana beberapa minggu yang lalu. “Begini mas Bagus, kalau menurut saya, Yuli itu ya masih suka dengan mas Bagus, tapi saat saya bercanda tentang mas Bagus kepada Yuli, kok responnya beda dengan apa yang saya perkirakan mas.” ucap Nana kepada mas Bagus.
“Maksud mbak Nana?” tanya mas Bagus penasaran.
“Meski Yuli sudah memaafkan segala kesalahan mas Bagus, tapi untuk menjalin kasih asmara seperti dulu lagi, rasanya Yuli harus berpikir dua kali mas.” ucap Nana kepada mas Bagus.
“Yuli sepertinya masih trauma mas, sehingga ia seolah tak bersemangat untuk menerima cinta mas Bagus lagi.” lanjutnya.
“Dia cuma berkata ingin membesarkan anaknya (Putri Kusuma Aprilia) agar menjadi anak yang sholehah dan berguna bagi Nusa dan Bangsa.” terang Nana.
Mas Bagus menarik nafas panjang, setelah ia mendengar penjelasan dari Nana, mas Bagus pun tak bisa untuk berbuat lebih banyak lagi. Penjelasan dari Nana membuat harapan di hati mas Bagus seolah putus mendadak. Mas Bagus diam seribu bahasa akan kemelut jiwa yang begitu sulit dicari jalan keluarnya. Disaat cintanya sudah bulat seperti bola sepak, ia pun tak bisa melakukan tendangan bebasnya ke arah gawang cinta yang sedang dibidiknya. Jawaban Yuli yang pernah tersampaikan lewat Nana, mengenai kemungkinan dirinya akan kembali kepada Yuli, itu seperti skakmat atau kartu merah yang dijatuhkan wasit atas kesalahan fatal yang pernah ada.
“Tapi ya jangan putus asa dulu mas Bagus, toh tidak ada salahnya juga, bila mas Bagus coba langsung datang ke rumah Yuli untuk menyatakan semua yang ada. Siapa tahu nasib mas Bagus nanti malah mujur, kemudian Yuli mau membuka hatinya untuk mas Bagus, kan Alhamdulillah sih mas.” saran Nana kepada mas Bagus.
“Alah kok jadi halu begitu sih mas Bagus, sudah nanti kita datangi saja rumah Yuli, sekarang mari kita nikmati saja dulu kopi yang ada.” ucap mas Joko mencairkan suasana.
“Begitu ya mas Joko,” ucap mas Bagus datar, ia pun lalu tersenyum berat.
“Iya dong mas Bagus, yang penting nanti kita datangi saja itu Yuli, kemudian kamu nyatakan itu cinta, soal diterima atau ditolaknya cinta, itu kan nomor dua puluh tujuh sih mas.” canda mas Joko lagi.
Mendengar canda dari mas Joko, Nana dan mas Bagus pun jadi ikut tertawa juga. Seiring sisa tawa yang masih ada, mas Bagus lalu menyeruput lagi kopi hitam di atas meja, ia kemudian mengambil sebatang rokok lagi untuk dihisapnya. Nikmat secangkir kopi dan sebatang rokok yang mas Bagus nikmati, ternyata mampu mengusir kebekuan yang ada.
“Oh iya mas, minggu depan tanggal 14, kan Yuli ulang tahun, bagaimana kalau kita nanti rayakan bersama kemudian mas Bagus nyatakan cinta kepadanya, wah romantis itu mas!” kesiap Nana kepada mas Bagus.
“Wah masukan saran yang sangat bagus itu mbak Nana,” jawab mas Bagus seiring senyum ceria.
Mereka lalu menyusun rencana untuk membuat surprise kepada Yuli di hari ulang tahunnya sekaligus untuk nyatakan cinta.
Setelah berkunjung ke rumah mas Joko sahabatnya, sore itu mas Bagus akhirnya bisa kembali ke rumahnya dengan perasaan cukup lega. Sebuah rencana yang akan menjadi rambatan solusi kebekuan cintanya kini berdiri menanti. mas Bagus tersenyum lagi, bambu lanjaran cinta yang ia dapat, kini menopang diri di ketinggian rasa. Seperti sepasang sayap camar yang mengepak terbang di udara menikmati indahnya samudra biru diatas dahsyat deburnya ombak.
__ADS_1