Cinta Merah Jambu

Cinta Merah Jambu
Basah-basah Seluruh Tubuh


__ADS_3

Satu minggu lamanya mas Bagus tinggal di rumah mertua, diri dan istrinya yang setiap subuh selalu mandi basah, lama-lama akhirnya sungkan juga dengan kedua mertuanya. Mas Bagus lalu minta izin kepada kedua mertuanya untuk memboyong Yuli ke rumahnya. Meski awalnya mereka berat untuk melepas Yuli, tapi demi kebahagiaan Yuli yang telah membina rumah tangga barunya, akhirnya kedua orang tua Yuli pun rela melepas kepergian Yuli ke rumah mas Bagus suaminya.


Pagi itu, Dewi telah tiba di rumah pak Nuri untuk mengantarkan mobil milik mas Bagus kakaknya. Setelah tiga puluh menit mang Ali dan bik Wati membantu mereka mengemasi semua barang bawaan mereka ke dalam mobil. Sepuluh menit kemudian, mereka yang sudah pamit kepada kedua mertuanya, lalu berangkat menuju ke rumah mas Bagus yang berjarak sekitar 7 km jauhnya. Yuli yang memangku putri kecilnya kini duduk tenang di disamping mas Bagus yang sedang menyetir laju mobilnya. Sementara Dewi duduk tenang di kursi tengah sambil mencandai Putri Kusuma Aprilia dalam pangkuan Yuli ibunya. Sementara tak juah di belakang mobil mereka yang terus melaju di atas jalan raya, tampak mang Ali dan bik Wati istrinya selalu setia mengawal mereka dengan sepeda tuanya. Tiga puluh menit kemudian, mereka akhirnya sampai juga di rumah mas Bagus yang cukup asri dan sederhana. Mas Bagus yang dibantu mang Ali dan bik Wati lalu mengemasi semua barang bawaan mereka di mobil ke dalam rumahnya.


Mang Ali dan bik Wati kini sedang menunggu nasib kelanjutan mereka setelah satu minggu lamanya warung sate sederhana Yuli tutup untuk sementara. Mereka seperti bingung dengan dengan kelanjutan masa depan mereka, apalagi Yuli bosnya kini sudah menikah dengan mas Bagus yang sudah mapan ekonominya. Ditengah kebingungan yang melanda mang Ali dan bik Wati, tiba-tiba Yuli datang menghampiri mereka.


“Ini uang tolong mang Ali dan bik Wati kelola untuk modal warung kita, agar roda ekonomi yang sudah ada bisa berjalan lagi seperti semula.” ucap Yuli kepada kedua pembantunya.


“Untuk sementara waktu saya belum bisa mendampingi mang Ali dan bik Wati di warung, dan untuk selanjutnya setiap tiga hari atau satu minggu sekali, saya akan datang ke warung untuk mengecek perkembangan penjualan di warung kita,” lanjut Yuli.


Mang Ali dan bik Wati mulanya keberatan menerima amanah besar tersebut, tapi setelah mereka dikasih pengertian dan pertimbangan demi masa depan yang ada, akhirnya mereka bersedia juga untuk menerima amanat dari Yuli.

__ADS_1


Dengan kepindahan Yuli ke rumah mas Bagus suaminya, maka beban bik Wati kian bertambah, sebab selain bekerja di warung, ia juga harus menemani neneknya almarhum mas Budi (mantan suami mbak Yuli) yang tinggal seorang diri di rumahnya.


Namun mang Ali dan bik Wati selalu setia dan semangat menerima dan menjalani amanah yang telah dipercayakan Yuli kepada mereka berdua.


Seiring waktu berjalan, hidup Yuli kian bermakna mendampingi mas Bagus sang suami tercinta. Selain kasih dan sayang yang begitu melimpah, Yuli juga mendapat banyak pengetahuan tentang arti dari seorang abdi negara. “Hidup adalah pengabdian, jadi kita harus siap menghadapi segala hal yang mungkin menghadang demi keamanan dan keberlangsungan sebuah negara.” ucap mas Bagus kepada Yuli.


Yuli yang merasa begitu sempurna setelah menikah dengan mas Bagus sebagai pujaannya kian merasa tersanjung saja dengan kehidupan yang ada. Arjuna kekarnya ternyata seorang yang abdi negara yang memiliki kasih sayang dan pengetahuan cukup luas mengenai sektor negara yang menjadi tanggung jawabnya. “Mas, bagaimana kalau putri mas Bagus (Dyah Ayu Fitaloka) di ajak saja pindah ke sini untuk hidup bersama kita.” ucap Yuli kepada mas Bagus suaminya.


“Insya Allah mampu mas, kan ada mas Bagus,” jawab Yuli manja.


“Kelihatannya neneknya ‘Dyah Ayu Pitaloka’ yang begitu menyayangi dia, akan keberatan bila cucunya kita boyong kesini.” jawab mas Bagus sambil menerawang memandangi langit-langit di rumahnya.

__ADS_1


“Ya kita butuh beberapa saat waktu lagi, agar neneknya nanti bisa rela hati untuk melepas Dyah Ayu Pitaloka agar tinggal disini dan hidup bersama kita.” lanjut mas Bagus lagi.


Di rumah mas Bagus yang cukup asri nan sederhana ini dua pasangan suami istri yang dulu pernah merasakan indahnya cinta di masa remaja, kini bersatu kembali. Setiap pagi dan sore Yuli kian semangat dalam melayani suami dengan suguhan nasi panas dan sayur buatan sendiri untuk suami tercinta.


Sementara kesegaran Yuli di pagi hari kerap mengundang mas Bagus untuk selalu memanjakan Yuli dengan kata sanjung dan sentuhan lembutnya. Sentuhan dan kecupan mas Bagus setiap hendak berangkat kerja selalu membuat hati Yuli berbunga-bunga, hingga setiap hari, yang ada hanya kerinduan yang selalu menemani Yuli hingga mas Bagus benar-benar pulang usai seharian berdinas di kantornya. Tak ada kebahagiaan lain di hati Yuli selain adanya suami yang hadir menemani dirinya. Hidup Yuli seumpama di sorga loka yang dipenuhi dengan keindahan yang ada.


Tiga bulan kemudian, perut Yuli terasa mual, seolah ingin muntah saja. Melihat Yuli kerap muntah di kamar mandi firasat mas Bagus pun menebak “Yuli hamil,” batinnya. Setelah mas Bagus membawa Yuli ke dokter, ternyata prediksinya benar juga. “Selamat pak Bagus, istri anda sekarang sedang hamil dua bulan,” ucap bu dokter kepada mas Bagus.


“Alhamdulillah,” ucap mas Bagus seraya mengangkat kedua tangan sebagai wujud syukur kepada tuhan yang maha kuasa.


Kehamilan Yuli kian melengkapi kebahagiaan mereka, mas Bagus dan Yuli kian bersyukur dengan mendekatkan diri kepada tuhan atas segala anugerah yang telah mereka terima.

__ADS_1


__ADS_2