
Setibanya Yuli di rumah setelah seharian ia berbelanja sayur dan bumbu untuk keperluan dapur di pasar tradisional, tiba-tiba ia dikagetkan dengan adanya paket seikat bunga mawar merah yang tergeletak di meja beranda rumahnya. “Siapakah gerangan orangnya yang telah mengirimkan seikat kembang untukku?” batin Yuli sambil melangkah mendekati meja.
Yuli ambil itu kembang di atas meja, ia lalu membaca nama dari pengirim bunga mawar merah itu untuknya. “Bagus Saputra, mohon dimaafkan segala kesalahan saya,” batin Yuli membaca tulisan di kertas yang terselip di tengah seikat bunga mawar tersebut.
“Oh… dari mas Bagus rupanya,” batin Yuli menerawang ke sosok wajah lama yang dulu pernah singgah di hatinya.
Tanpa senyum, Yuli lalu meletakan seikat bunga mawar merah segar wangi itu di tempat sampah yang tergeletak di sudut dapur rumahnya. Karena trauma akibat terlalu dalam luka di dada, Yuli pun seakan tidak bergairah untuk menoleh lagi ke mas Bagus yang pernah membuat lara hatinya.
Sejak perempuan cantik yang bernama Yuli itu hidup menjanda, memang banyak pria yang ingin meminangnya, tapi hati Yuli seakan beku, tak ada keinginan untuk menerima rayu pria hidung belang yang kerap datang mengganggu dirinya. Terlalu indah kenangan semasa hidup bersama dengan Almarhum mas Budi, sehingga sulit untuk dilupakan.
Yuli terus semangat mengelola warung sate kambing sederhana peninggalan Almarhum mas Budi suaminya. Yuli ingin membesarkan dan mendidik Putri Kusuma Aprilia, putri semata wayangnya agar menjadi anak yang sukses dan berguna bagi sesama.
Dikala sepi, kadang sosok pria yang kerap menggoda Yuli, sesekali bayang wajah mereka melintas juga di benaknya. Diantara sekian pria yang simpati kepadanya, hanya mas Bagus lah yang istimewa di hatinya. Ketampanan mas Bagus tak mungkin bisa ia lupa. Sebagai seorang wanita, Yuli akui bisa dekat dengannya merupakan kebanggaan bagi setiap wanita.
Tapi mimpi yang dulu pernah Yuli alami dan terbukti nyata, menjadikan hati Yuli ragu untuk melangkah dan merajut kembali benang cinta yang pernah ada diantara mereka. Bayang-bayang mimpi yang pernah ia alami, akan pohon duri yang tumbuh di balik dada mas Bagus yang tampan, membuat Yuli takut untuk menerima mas Bagus lagi.
__ADS_1
“Adakah kau masih mencintaiku mas Bagus, ataukah hanya sekedar ingin minta maaf saja lewat seikat bunga yang kau kirim itu?” batin Yuli.
“Hai… ko melamun lagi, ngomong-ngomong kapan nih buka warung makan sederhana lagi?” tanya Nana kepada Yuli.
“Wah kamu Nana, bikin kaget orang saja.” jawab Yuli kepada Nana yang datang tiba-tiba.
“Mungkin besok lusa, warung makan sederhana itu akan saya buka lagi, kebetulan hari ini masih persiapan bikin bumbu gulai dan bumbu-bumbu lainnya.” lanjut Yuli kepada Nana.
“Wah top banget deh kamu Yuli, hidupnya selalu semangat terus, aku jadi senang melihat kamu selalu semangat menjalani hidup.” sambung Nana.
“Ya harus semangat dong Nana, kan hanya warung makan sederhana itu yang menjadi satu-satunya tempat usaha dagangku agar aku dapat mengumpulkan uang untuk melunasi cicilan bank setelah Almarhum mas Budi kalah dalam pemilu kepala desa kemarin.” ucap Yuli.
“Jangan hanya besok lusa Nana, hari ini kamu juga mesti ikut bantuin saya untuk membuat bumbu di dapur.” ucap Yuli sambil melangkah ke dapur.
“Siap!” ucap Nana sambil mengekor Yuli menuju ke dapur.
__ADS_1
Setibanya mereka di dapur, Nana kesiap saat matanya melihat paket seikat bunga mawar merah segar yang tergeletak di tempat sampah.
“Yuli, itu kembang?” ucap Nana sambil jari telunjuknya mengarah ke tong sampah yang ada di sudut dapur.
“Oh itu kembang dari mas Bagus,” jawab Yuli singkat.
“Kok dibuang di tong sampah Yuli, kan sayang bunga seindah itu kau buang begitu saja?” tanya Nana.
“Biarin Nana, aku ingin mengubur kenangan lama,”sahut Yuli.
Nana pun tak berani untuk bertanya lagi soal kembang dari mas Bagus yang Yuli buang begitu saja. Siang itu Nana fokus membantu Yuli mengupas 2 kg bawang merah, 1 kg bawang putih, kunir dan bumbu dapur lainnya yang akan digiling menjadi satu menjadi bumbu siap saji.
Selesai mang Ali menggiling bumbu, bik Wati lalu menyangrai bumbu tersebut dengan wajan besar di atas tungku bara api. Bik Wati cukup cekatan menyangrai bumbu di atas wajan hingga menebarkan aroma sedap ke seantero lingkungan sekitar. Mang Ali dan Bik Wati yang sudah lama bekerja di rumah makan milik Yuli, memang paling ahli soal bakar-bakar sate dan masak-memasak gulai kambing muda. Sejak dulu, banyak pelanggan yang betah di warung makan sederhana milik Yuli, karena masakan bik Wati yang terkenal enak dan sedap.
“Oke Yuli… kalau begitu saya pulang dulu, sampai ketemu lusa nanti.” pamit Nana.
__ADS_1
“Ya terima kasih banyak atas bantuan mbak Nana siang ini.” ucap Yulil sambil mencantolkan nasi bungkus di setir sepeda motor mbak Nana sahabat karibnya.
“Sama-sama.” ucapnya. Seiring senyum, mbak Nana pun kemudian melesat dengan sepeda motor yang ia kendarai untuk kembali ke rumahnya.