
Di mata warga, Yuli adalah sosok wanita sederhana yang memiliki kecantikan sempurna. Pancaran sinar mata indah Yuli menyimpan keteduhan dan kedamaian. Senyum manis Yuli yang selalu mengembang kala bicara, membiaskan luasnya kesabaran. Sikapnya yang ramah dan sopan, membuat Yuli selalu disenangi oleh warga dimanapun ia berada. Jadi wajar saja, bila banyak kaum pria yang kerap mencuit kata “Dialah the next calon kepala desa kita”.
Yuli hanya bisa tersenyum mendengar cuitan mereka dari jarak. Toh baik dan buruknya Yuli menurut nalar dan penilaian mereka, Yuli tetaplah Yuli yang selalu bersikap seperti biasa dan apa adanya. Bergerak (bekerja) dan menebar kebaikan semampu Yuli terhadap sesama, tak akan surut Yuli lakukan sepanjang hayatnya. Sebab, hanya itu yang bisa Yuli lakukan sebagai wujud syukur kepada tuhan.
Bila nama almarhum mas Bagus, kini telah terukir indah sebagai kusuma bangsa, Yuli pun ingin bisa seperti almarhum mas Bagus suaminya.
Dulu, semasa mas Bagus masih hidup, beliau kerap mengingatkan Yuli dengan sebuah kata mutiara “Sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”.
Kata-kata mutiara itu meresap dalam benak Yuli menjadi laku dalam hidup, Yuli kian merasa senang bila dirinya bisa membantu antar sesama warga yang membutuhkan pertolongannya.
Seiring putaran waktu yang terus berlalu menambah usia, wawasan Yuli juga kian terbuka. Pengetahuan yang Yuli dapat dari Galih tentang seputar Badan Usaha Milik Desa sebagai program unggulan pemerintah pusat untuk membangun ekonomi di desa, membuat naluri Yuli mulai tergugah juga.
Jiwa nasionalisme yang ditempa almarhum mas Bagus kepada Yuli, kini meresap dalam sikap Yuli dalam kehidupannya. Meski almarhum mas Bagus kini telah tiada, tapi nilai dan ajaran patriotisme dan nasionalisme yang disampaikan oleh almarhum mas Bagus kepada Yuli, kini tetap hidup dalam sanubarinya. Mas Bagus kini telah tenang di alam sana sebagai kusuma bangsa. Jiwa seorang patriot nasionalis almarhum mas Bagus, kini Yuli dan juga anak-anaknya yang harus terus melanjutkan.
Pertemuan Yuli dengan mas Galih beberapa bulan yang lalu, membuka cakrawala baru mengenai pentingnya sosok pemimpin yang memiliki jiwa progresif dalam membangun desa.
Yuli yang selama ini terinspirasi sikap tegas Bapak Presiden Joko Widodo yang selalu komitmen dalam tugas sebagai Kepala Negara, kini merasa terpanggil untuk maju sebagai pemimpin di tingkat desa. Meski selama ini ada sebagian netizen yang meragukan kepemimpinan bapak Joko Widodo, tapi semboyan kerja dan kerja!, menjadi bukti dan keberhasilan bapak Joko Widodo dalam membangun NKRI di segala lini.
__ADS_1
Selain Bapak Jokowi yang menjadi sosok tokoh idola Yuli, Yuli juga menemukan sosok teman baru yang sejalan dengan pemikiran pak Jokowi. Dia adalah Galih yang selama ini terpinggirkan dari kepengurusan Bumdes oleh pak Seno selaku kades.
Sebenarnya, Galih merupakan sosok orang yang bisa dijadikan partner oleh bapak kepala desa untuk membangun ekonomi di desa dan mensejahterakan ekonomi warga. Tapi, karena kelicikan pak Seno sebagai kepala desa yang selalu mementingkan diri, membuat Galih akhirnya mengundurkan diri sebagai ketua Bumdes. Bumdes kini tinggal nama, kemajuan desa dan kesejahteraan ekonomi bagi warga yang menjadi program pemerintah pusat, kini kian jauh dari panggang.
Desa merupakan elemen penting dalam menopang ketahanan pangan sebuah negara. Bila sektor pertanian, peternakan dan ekonomi di desa tidak segera diberdayakan, maka bukan tidak mungkin, kedepannya Negara Indonesia yang terkenal subur, makmur loh jinawi ini, akan menjadi negara yang selalu bergantung kepada impor dalam memenuhi kebutuhan pangan bagi warganya.
Untuk mengantisipasi kemungkinan seperti di atas, sikap dan cara kepemimpinan Pak Jokowi inilah yang akan Yuli tiru dalam memimpin masyarakat di tingkat desa nanti. Bukan hanya Yuli, tapi setiap pemuda sebagai generasi bangsa, juga bisa meniru dan mengikuti cara kepemimpinan pak Jokowi ini. Baik dalam menjalankan roda kepemimpinan di tingkat desa ataupun di segala lini organisasi yang ada. Sebab kesederhanaan, kejujuran, komitmen dan kerja keras merupakan unsur penting yang harus dimiliki oleh setiap generasi bangsa dalam mambangun dan menjaga keutuhan NKRI.
Tiga bulan menjelang turunnya pak Seno dari kursi kepemimpinan kepala desa, kini pandangan dan wacana sosok calon kepala desa berikutnya mulai bermunculan di khalayak masyarakat desa Sumber Balong.
Dari empat pedukuhan di desa Sumber Balong, tiga pedukuhan sudah mencuat nama-nama calon yang akan maju sebagai the next kepala desa.
Tiga nama calon yang muncul dari pedukuhan Rejo, yakni: 1. Pak Seno (incumbent), 2. Pak Asrori (mantan kades sebelum pak Seno), 3. Indra (mantan anggota BPD).
Dua orang dari pedukuhan Balong, yakni: 1. Pak Amin (pendatang baru), 2. Pak Bakti (anak dari pak kades pada masa zaman orde baru)
Dari pedukuhan Turi: Yuli, dan dari pedukuhan Cenang, kosong (tidak ada warga yang mau maju sebagai calon kades).
__ADS_1
Dari sekian calon kepala desa yang muncul di khalayak masyarakat desa Sumber Balong, ada banyak alasan yang menyebabkan mereka begitu bersemangat untuk tampil/maju sebagai calon kepala desa. Salah satunya adalah : Biaya Pendaftaran untuk maju sebagai calon kepala desa itu gratis alias ditanggung oleh pemerintah.
Kedua: Pada masa pemerintahan pak Asrori sebagai kepala desa (sebelum masa kepemimpinan pak Seno selaku kepala desa selama dua periode), belum ada bantuan dana desa dari pemerintah pusat.
“Jadi bila pada masa pemerintahan pak Seno, desa bisa membangun jalan dan gang-gang jalan desa, itu wajar adanya.” ucap pak Asrori.
Ketiga: Menurut peraturan dan undang-undang desa, setiap kepala desa boleh menjabat sebagai kepala desa selama tiga periode. Jadi di periode ketiga ini, Pak Seno pun maju mencalonkan diri lagi.
Yuli hanya tersenyum melihat kesemangatan mereka untuk maju mencalonkan diri sebagai kepala desa. Namun bila melihat peta politik yang ada, hanya pak Seno lah yang memiliki pendidikan cukup tinggi diantara sekian calon yang ada.
Yuli dan pak Seno sama-sama lulusan dari SMA, sementara yang lain hanya ikut ijazah persamaan saja (sekolah kejar paket C).
Persaingan perolehan suara di pedukuhan Rejo tentu sangat ketat, sebab dari pedukuhan Rejo tersebut ada tiga orang yang mau maju sebagai calon kepala desa.
Di pedukuhan Balong juga ada dua orang yang siap maju sebagai calon kepala desa, jadi persaingan perolehan suaranya bisa ketat juga.
Sementara dari pedukuhan Turi, Yuli memang belum menyatakan sikapnya untuk maju sebagai calon kepala desa, tapi suara-suara sebagian warga lebih dulu mencuat ke permukaan khalayak menyebut nama Yuli sebagai calon kepala desa mereka.
__ADS_1
Dukungan warga, sedikit demi sedikit mulai menggugah naluri Yuli untuk mengatur sebuah strategi.
Bila dihitung secara ilmu matematik, selain suara dari hak pilih para warga di pedukuhan Turi sebagai basis pendukungnya, Yuli juga mesti melirik ke warga di pedukuhan Cenang untuk mendulang perolehan akumulasi suara dalam pemilu nanti.