Cinta Merah Jambu

Cinta Merah Jambu
Berkawan Dalam Duka


__ADS_3

Empat puluh hari sudah jiwa Yuli terguncang menjalani masa berkabung setelah mas Budi meninggal. Tak mudah untuk menerima kenyataan yang ada, Yuli seakan masih belum percaya dengan meninggalnya mas Budi yang begitu tiba-tiba. Yuli merasa sedih hidup seorang diri tanpa adanya mas Budi di sisi.


Hari-hari menjadi sepi tak ada lagi canda tawa mas Budi yang dulu selalu menemani. Malam hari mata Yuli sulit terpejam karena bayang mas Budi selalu terkenang, hingga ia kerap terjaga di keheningan malam. Begitu berat beban yang ia rasa dari ratapan hati yang sedang dirundung duka.


“Hai cantik… coba lihat apa yang Tante bawa?” ucap Nana kepada Putri Kusuma Aprilia, putri semata wayang Yuli.


“Wah! cantik sekali tante, Terima kasih tante.” ucap Putri tersenyum ceria sambil memeluk boneka Barbie pemberian dari tante Nana.


Lili tersenyum melihat senyum merekah di bibir si kecil Putri, Ia lalu melangkah ke meja tamu untuk meletakan parcel aneka jenis buah segar yang ia bawa ke atas meja.


“Wah, pakai repot-repot segala bawain aneka oleh-oleh buat kita.” sambut Yuli sambil tersenyum kepada kedua sahabatnya yang datang berkunjung.


“Oh tidak Yuli, cuma buah saja kok.” ucap Lili sambil tersenyum.


“Monggo Silahkan duduk.” ucap Yuli kepada sahabatnya, ia lalu melangkah ke dapur untuk membuatkan teh hangat dan kopi buat mas Irfan dan Joko.


Sebentar kemudian, “Ayo silahkan diminum dulu.” ucap Yuli sambil meletakan secangkir kopi dan teh hangat di meja tamu.


“Bagaimana kabarnya Yuli?” tanya Nana kemudian.


“Alhamdulillah kabarnya baik.” jawab Yuli yang wajahnya masih tampak sayu.


Sore itu mereka berbincang cukup lama, hingga senyum Yuli kerap mengembang karena Nana kerap bercanda seperti masa sekolah dulu. Lili dan Nana masih seperti yang dulu, mereka suka bercanda dan selalu jenaka mencairkan suasana.


“Coba kamu tebak Nana, ucap Lili kepada sahabatnya, Nana mendongak memandangi wajah Lili sahabatnya. Ada sepuluh burung di atas dahan pohon, terus ditembak satu, tinggal berapa Nana?” lanjut Lili.


“Wah gampang Lili, ya jelas tinggal sembilan dong.” jawab Nana


“Salah.” ucap Lili sambil nyengir.

__ADS_1


“Terus tinggal berapa dong?” tanya Nana penasaran.


“Ya tinggal satu dong, kan kesembilan burung lainnya terbang semu.” terang Lili sambil tertawa merasa menang.


“Oke… aku kalah, sekarang gantian aku yang ngasih tebakan.” ucap Nana kepada Lili.


“Yang kecil diinjak-injak… dan yang besar dielus-elus… silahkan tebak… apakah itu?” lanjut Nana kepada Lili.


Lili tengak-tengok tak mengerti akan jawaban, “Nyerah deh.” jawab Lili sambil nyengir.


“Jawabannya adalah anak tangga." ucap Nana.


"Coba kalau kamu naik anak tangga yang terbuat dari pohon bambu, yang kecil diinjak-injak dan yang besar dielus-elus.” terang Nana.


Mereka semua jadi tertawa mendengar tebakan-tebakan dari mbak Lili dan Nana yang jenaka. Kehadiran Lili dan Nana mampu membuat senyum Yuli mengembang lagi seolah hilang duka lara dalam benaknya.


Melihat Irfan dan Joko tertawa atas canda istri mereka, membuat Yuli teringat sosok teman mereka yang dulu pernah menghiasi hatinya, dia adalah mas Bagus.


“Oh ya Mbak Yuli… ada titipan salam dari mas Bagus, beliau ikut berbela sungkawa yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya mas Budi suami mbak Yuli.” ucap Joko membuyarkan tegun Yuli.


Yuli hanya tersenyum kecut mendengar nama mas Bagus disebut oleh mas Joko.


“Iya Yuli, sebenarnya mas Bagus ingin sekali ikut serta bersama kami untuk datang kesini, tapi dia urung diri, ia merasa kesalahannya yang pernah ada, masih belum termaafkan oleh Yuli.” ucap Nana.


“Maka dari itu dia hanya titip salam sekaligus minta maaf yang sedalam-dalamnya atas kekhilafan yang pernah ia lakukan.” lanjut Nana.


Yuli hanya diam mendengar penuturan Nana, kesalahan mas Bagus, sulit rasanya untuk ia maafkan begitu saja.


Yuli terkenang lagi wajah mas Bagus yang tampan, seandainya hari ini mas Bagus ikut serta datang bersama mereka dan meminta maaf kepada Yuli, rasanya hati Yuli juga tak bisa untuk menolak permintaan maafnya. Batin Yuli.

__ADS_1


“Saya juga minta maaf Yuli, sebenarnya boneka dan parcel yang kami bawa ini adalah titipan dari mas Bagus untuk Yuli dan Ayu.” ucap Nana.


“Sebenarnya kami sudah menolak ketika mas Bagus menitipkan paket ini buat Yuli, kami sudah menyarankan agar mas Bagus menyerahkan paket ini sendiri kepada kamu, tapi mas Bagus tidak mau, karena dia tahu kalau Yuli masih belum bisa memaafkan kesalahannya.” lanjut Joko yang duduk di samping mas Irfan.


“Betul sekali mbak Yuli, sudah lama mas Bagus memikirkan bagaimana caranya agar kekhilafannya dulu bisa Yuli maafkan, tapi Bagus merasa kesalahan yang dulu begitu fatal, sehingga ia merasa tak mampu lagi untuk datang untuk menemui Yuli.” ucap Irfan kepada Yuli.


Yuli masih diam, tawa yang tadi sempat mengembang kini berubah menjadi mendung kembali.


“Oalah… kok suasananya berubah jadi melow gini, sudah-sudah jangan kau lanjutkan cerita lama itu lagi.” pura-pura Lili kepada Nana.


“Jadi kasihan dong Yuli… sedang berduka malah ditambah cerita kelam masa lalu.” lanjutnya.


“Ya maaf deh Lili, atas benang merah cemburu buta mas Bagus, sehingga membuat ia lupa diri.” timpal Joko yang sedang bermain sandiwara agar Yuli mau memaafkan mas Bagus temannya.


“Seandainya aku yang ada di posisi Bagus saat itu, mungkin aku lebih memilih membawa kabur Yuli.” ucap Joko mengenang pada saat-saat pernikahan Yuli dulu.


“Hush!!!” dengus Nana sambil mencubit tangan Joko suaminya.


“Aduh… Bagus maksudnya aku dek… bukan aku, begitu saja pahamnya salah.” ucap Joko kepada Nana istrinya.


“Salah paham, bukan pahamnya yang salah.” ucap Irfan meluruskan perkataan Joko.


“Lah iya maksud aku ya itu salah paham.” jawab Joko sambil tertawa.


Mereka pun jadi tertawa lagi mendengar ucapan Joko yang memang sengaja dibuat untuk mencairkan suasana.


“Sudah ya, Yuli kami pamit pulang dulu sudah sore soalnya.” ucap Lili menyudahi kunjungan mereka.


“Ya, terima kasih banyak atas kedatangan kalian.” jawab Yuli di sela sisa senyum yang masih mengembang.

__ADS_1


__ADS_2