Cinta Merah Jambu

Cinta Merah Jambu
Menyelam Sambil Minum Air


__ADS_3

Kharisma dan kecantikan Yuli memang tak terbantahkan oleh siapa saja. Bahkan sebagian pria muda, sudah mafhum akan kecantikan Yuli yang memang sangat mempesona. Sementara pertemanan Yuli dan Galih, kian akrab saja dalam mengisi hari dengan canda dan diskusi. Bahkan Yuli berpikir, Galih adalah salah satu sosok orang yang bisa membantu dirinya dalam melangkah untuk maju menjadi kepala desa.


Keakraban Galih dan Yuli, rupanya menarik simpati mas Juni untuk ikut mengenal Yuli lebih dekat lagi. Mas Juni adalah sahabat sekaligus senior nya mas Galih di sekolah tempat mereka mengajar sebagai guru MI. Saat Yuli sudah menjadi janda, hasrat dan harapan ingin hidup bersama Yuli kini tumbuh subur di hati mas Juni bak bunga yang segar karena disiram air murni. Mas Juni tak mau diam menunggu, tapi dia bergerak cepat mencari sempat sebab khawatir nanti Yuli cepat berlalu. Sebab kalau Yuli keburu disunting orang lain, kemana lagi mas Juni akan mencari sosok bidadari seperti Yuli. Bergerak adalah solusi agar mas Juni tidak mengalami penyesalan berkepanjangan nanti. "Siapa cepat, dia dapat!" Batin mas Juni optimis.


Flashback


Setelah lulus kuliah, Mas Juni kemudian melanglang buana ke kota Jakarta untuk mencari kerja. Mungkin sudah menjadi suratan takdir juga, sehingga jalan hidupnya penuh liku-liku.


Setelah sekian tahun mas Juni bolak-balik merantau ke Jakarta, tapi kerja yang didambakan tak ia dapati pula. Jalan akhirnya adalah mas Juni pun kembali ke desa dan menjadi guru mengamalkan ilmu untuk murid-murid di sekolah.


Mas Juni termasuk perjaka tua, bila dibandingkan dengan pemuda-pemuda desa lainnya yang sudah pada menikah pada usia muda. Bukan karena kurang ganteng atau apa sehingga mas Juni menjadi perjaka cukup tua di desa. Tapi sebab mencari kerja yang diimpikannya, hingga tanpa disadari ternyata usianya sudah menginjak kepala tiga.


Ketika mas Juni sudah kembali ke desa dan mengabdikan diri sebagai guru MI, kiprah mas Juni kian tampak dan bertambah luas saja. Kegiatan pemuda di desa, baik dalam rangka memperingati Hari jadi Kemerdekaan Indonesia setiap tahun atau akhirussanah sekolah MI, mas Juni lah yang menjadi motor penggerak para pemuda.


Mas Juni selalu tampil di muka panggung dalam tiap kegiatan apa saja di desa, kecakapannya dalam berpidato sebagai ketua panitia peringatan hari kemerdekaan 17 Agustus (Agustusan) dan akhirussanah sekolah (Madrasah Ibtidaiyah) MI, kian menunjukan keluasan pengetahuannya.


Mas Juni juga membentuk grup musik di desa, kepandaian mas Juni dalam memainkan alat musik gitar dan juga piano, menjadikan mas Juni sebagai salah satu pemuda paling brilian di desanya. Selain ganteng dan memiliki banyak talenta, Mas Juni yang sudah sangat matang usianya juga cukup disegani warga.

__ADS_1


Next


Dengan perantara Galih, mas Juni kini akhirnya mulai berteman dengan Yuli. Dan Seiring waktu, kedekatan mas Juni dengan Yuli, kini mulai menimbulkan bisik-bisik tetangga.


Meski Yuli dan Juni tampak serasi bak pinang dibelah dua, sebab selisih usia mereka juga hanya terpaut tiga tahun saja. Tapi kedekatan mas Juni dan Yuli yang berstatus sebagai janda muda, tak luput dari gunjingan warga.


“Ah, paling untuk menopang masa depan mas Juni saja, sehingga mas Juni mendekati Yuli si Janda kaya.” bisik-bisik para tetangga.


Biarlah bisik-bisik tetangga itu menggema, tapi Juni dan Yuli yang sudah matang usianya, tahu betul jalan terbaik untuk mereka berdua.


Setelah Juni dan Yuli berteman cukup lama, mereka menemukan banyak kesamaan dalam hal pikir dan cara pandang terhadap kehidupan sosial masyarakat di desa. Semakin lama mereka berteman, Yuli semakin merasakan kedamaian ketika ia dekat dengan mas Juni di setiap kesempatan yang ada. Wawasan dan cara pandang mas Juni terhadap suatu isu/berita yang tengah menghangat di lingkungan masyarakat, selalu ia tanggapi dengan cara sederhana. Tapi ide sederhana mas Juni tersebut, mampu memberi solusi terbaik dari setiap kebuntuan musyawarah baik di keluarga maupun di desa.


Tiap kali Galih (mantan ketua Bumdes) dan Juni (Ketua Badan Permusyawaratan Desa/BPD) berkunjung ke rumah Yuli, pasti selalu tercipta obrolan yang cukup menyenangkan. Sebab selera humor mas Galih dan mas Juni memang cukup lumayan, sehingga kerap membuat Yuli tertawa penuh keceriaan.


Baru saja mas Juni menyeruput secangkir kopi panas di atas meja, seketika itu juga, ia langsung berkeler dengan candaan yang membuat Yuli kerap tersanjung tidak karuan.


“Loh..!” ucap mas Juni setelah menyeruput secangkir kopi panas di hadapan.

__ADS_1


“Kenapa mas, panas ya!” tanya Yuli exited.


“Rasa kopinya kok manis? seperti senyum mbak Yuli.” jawab mas Juni.


“Oalah, mas Juni ini bisa saja.” ucap Yuli seiring tawa kecil di bibirnya.


“Rasa kuenya juga enak dan sedap loh mas Jun,” ucap Galih di sampingnya.


“Masa?!” ucap mas Juni, dan ia pun lalu mencicipi kue diatas meja. Sebentar kemudian, “Iya mas, kuenya memang enak dan sedap, sesedap wajah mbak Yuli bila dipandang mata.” ucap mas Juni lagi.


Yuli kian terpingkal-pingkal penuh sanjung mendengar celoteh mas Juni yang membuat hatinya gembira bak ditaburi ribuan bunga.


Tak mau menyia-nyiakan kesempatan pertemanan yang baru beberapa minggu tercipta, Mas Juni lalu memberanikan diri untuk menyatakan perasaan cintanya kepada Yuli.


Bak gayung bersambut, Yuli yang diam-diam cukup mengagumi dan mencintai mas Juni, akhirnya menerima cintanya.


Tanpa kabar dan juga undangan pernikahan, Yuli dan Juni akhirnya menikah tanpa sebuah selebrasi seperti layaknya para muda-mudi. Juni dan Yuli kini menjadi pasangan yang cukup serasi dalam hidupnya. Bagi Yuli, ini merupakan pernikahannya yang ketiga setelah sebelumnya ia menikah dengan mas Budi dan mas Bagus yang kini telah tiada.

__ADS_1


Setelah Juni dan Yuli menikah secara resmi di Kantor Urusan Agama (KUA), mereka lalu mengundang warga sekitar untuk merayakan pernikahan mereka dengan walimahan sebagai wujud syukur kepada tuhan.


__ADS_2