Cinta Merah Jambu

Cinta Merah Jambu
Istana Kecil


__ADS_3

Di sudut desa, rumah tinggal keluarga Budi dan Yuli berdiri sahaja bak istana kecil sejajar dengan rumah-rumah milik tetangga. Hidup dan tinggal di desa memang terasa lebih damai dan tenteram, air mengalir jernih segar dan tanaman-tanaman pun tumbuh subur. Rumah sederhana milik Budi di ujung dusun menggunakan sumber mata air yang selalu mengalirkan air jernihnya tanpa mengenal musim. Mata air tersebut merupakan salah satu sumber kehidupan bagi petani desa untuk mengairi tanaman padi di sawah mereka.


Suburnya tanaman pohon pisang, kelapa, kopi dan bambu di pekarangan warga menjadikan pemandangan desa kian indah saja. Gemerincing suara udara mengalir indah mendamaikan suasana hati siapa pun yang singgah dan duduk sejenak menikmati alam desa Sumber Balong di bawah bukit sana. Di rumah sederhana inilah Putri Kusuma Aprilia anak pertama keluarga Budi dan Yuli dilahirkan.Di atas ranjang sederhana buah tangan Budi bapaknya.


Bila siang suasana desa menentramkan, tapi bila malam suasana desa cukup gelap dan mencekam. Seorang anak mungil laksana malaikat kecil yang peka akan segala hal yang terjadi di sekitar rumah. Bila malam hari, putri kecil kadang-kadang terbangun dari tidur dan menangis. Dengan asi dari Yuli sang bunda, maka si kecil pun akan berhenti menangis dan kembali pulas dalam tidurnya.


Tiap malam suasana kadang tak sama. Meski sudah di kasih asi, tapi si kecil masih terus menangis dan seolah tak mau berhenti. Bila si kecil rewel dan menangis, maka Budi pun segera keluar dari rumahnya, dengan lampu senter di tangan ia berjalan keliling mengitari rumahnya. Gelap terasa mencekam, hanya temaram sinar rembulan yang mengintip dari balik daun kelapa dan bambu yang menutupi perkebunan. Suara gemerincing air kali yang mengalir di malam yang mencekam teras hening di telinga bagai suara dzikir alam di kesunyian. Budi terus saja melangkah menyisir suasana di sekeliling rumahnya yang gelap mencekam di payung pepohonan di sekitar perkebunan. Di ujung kali tampak bayangan hitam duduk tenang seorang, Budi mengarahkan senter lampunya ke bayangan hitam yang duduk di tepi kali.


"Siapa itu!" tanya Budi kepada salah satu pemuda yang sedang duduk sambil memancing ikan di kali seorang diri di malam sunyi.


"Saya... Karim." jawab pemuda berkerudung sarung sebagai pelindung dari serangan nyamuk malam.


"Eh... kamu toh Karim... saya kira siapa?" ucap Budi lega.


"Iya... saya Karim." jawabnya mengulang sambil tersenyum.


Budi hanya tersenyum sambil menggeleng kepala "Kok ya berani betul itu si Karim malam-malam begini memancing ikan di kali sendirian." batin Budi sambil melanjutkan lagi langkah kaki untuk mengitari rumahnya.


Sebuah hobi kadang sulit untuk dinalar dengan akal, hal menantang dan menakutkan pun mereka jalani dengan senang hati. Di malam yang sepi mencekam hanya disinari temaram sang rembulan, Karim tenang saja menjalani hobi memancingnya tanpa rasa takut akan hantu yang mungkin datang dan menampakkan diri di malam yang sunyi.


Suatu hari Budi pernah bertanya kepada Karim, "Hai Karim, apa kamu tidak takut hantu, bila malam hari kamu memancing di kali seorang diri?".


"Alah takut apa sih, yang penting saya tidak mengganggu mereka dan mereka juga tidak akan mengganggu saya." jawab karim sambil tersenyum karena sudah biasa melihat penampakan hantu saat ia memancing ikan di kali pada malam hari.

__ADS_1


Meski ada sesosok yang menampakkan diri di ujung kali pada malam yang sunyi, si pemancing pun biasa saja tanpa takut menjalankan hobi memancingnya. Mereka seperti teman yang sibuk sendiri tanpa ada komunikasi. Karim tetap asyik memancing ikan-ikan di kali, sementara penampakan seorang nenek sedang mencuci kain di kali, juga sibuk dengan bekerja tanpa peduli.


Budi kembali masuk ke dalam rumah setelah selesai mengelilingi rumahnya di malam sepi. Si kecil yang tadi terus menangis, kini sudah tenang dalam gendongan Yuli yang tampak tertidur mengantuk seorang diri. Budi membawa putri kecilnya di malam sunyi, ia membaca lagi ayat kursi sebagai pelindung diri.


Hari-hari berlalu, kebahagiaan keluarga Budi dan Yuli serasa senada seirama menghasilkan harmonis indah dalam rumah tangga yang baru ia bina. Yuli yang cantik dan penakut menjadikan suami sebagai tempat berlindung diri di kala malam sunyi sepi mencekam mengganggu ketenangan diri.


Sikap penakut Yuli menjadikan Budi seakan menjadi suami yang utuh sebagai kepala rumah tangga. Bila malam untuk sekedar ke kamar mandi saja, Yuli selalu minta diantar suami untuk menemani.


Malam jumat malam kali ini terasa lebih mencekam dan menakutkan, suasana desa cukup sepi dan penduduk pun seolah enggan untuk keluar dari rumah mereka. Setelah shalat maghrib warga di kampung biasa membaca surat Yasin dan kirim doa untuk kakek, nenek dan kerabat keluarga yang telah pergi mendahului mereka ke alam baka.


Selepas Isya penduduk lebih memilih berdiam diri tidur di dalam rumahnya. Malam ini hujan turun begitu deras, putri kecil Yuli tidur lelap berselimut tebal dan bantal guling di kedua sisinya ditemani Budi di sampingnya. Yuli coba untuk memejamkan mata tapi kantuk tak jua datang menghampiri dirinya yang lagi gundah. Mas Bagus lewat suratnya menghendaki Yuli agar mau berpisah dengan mas Budi sang suami. Besarnya rasa cinta mas Bagus kepada Yuli membuat mas Bagus seakan menjadi buta hati. Cinta memang kejam, demi cinta bersemi yang masih terpendam, Bagus pun siap menceraikan Dina demi dapat menikahi Yuli. Bagus tak bisa melangkah mewujudkan impian lama bila status Yuli masih menjadi istri orang. Hujan masih belum berhenti padahal sudah tiga jam berlalu, seiring Yuli larut dalam lamunan.


"Loh kok belum tidur Dek?" ucap mas Budi membuyarkan lamunan Yuli.


"Ah ya itu, akibat kebanyakan nonton film hantu di televisi." ucap Budi sambil bangkit menuju ke kamar mandi.


Terlepas dari kamar mandi, Budi memeriksa lemari meja makan. Ternyata hanya ada nasi saja, tak ada lauk untuk ia makan. Lapar yang datang membuat Budi bangkit untuk keluar membeli instan di warung toko tengah dusun.


"Mau kemana Mas?" tanya Yuli.


"Mau beli mi instan Dek, bangun tidur tiba-tiba perut Mas terasa lapar." jawab Budi seiring langkahnya pelan.


"Jangan lama-lama loh Mas." Yuli takut kalau ditinggal mas Budi sendiri.

__ADS_1


"Iya Dek, cuma sebentar kok." ucap Budi sambil membuka pintu depan.


Diluar tampak hujan masih turun rintik-rintik, suasana desa sepi mencekam hanya lampu-lampu kecil di teras warga sebagai penerang. Budi menutup pintu rumahnya, kemudian melangkah menuju warung di tengah dusun sana. Genangan sisa air hujan yang menutupi pelataran dan jalan-jalan, membuat Budi menarik dan melipat celana setinggi lutut. Budi kian hati-hati kala menapak di jalan dusun di tepi dua balong/kolam ikan sebagai ikon sejarah dusunnya. Besarnya hujan yang turun, membuat air di balong meluap hingga menutupi jalan dusun yang ia lewati.


Jalan dusun berubah seperti parit karena dipenuhi air hujan. Saat melangkah konsentrasi Budi hanya fokus pada jalan yang sedang ia lewati, agar kaki tak menyentuh lubang. Budi berhenti sejenak di tepi balong yang di payung pohon beringin sangat besar, ia lalu mendongak ke arah warung sekitar lima puluh meter jauhnya di depan sana. Budi kesiap kaget, warung yang ia tuju ternyata sudah tutup rapat pintunya. Budi tengak-tengok kemana-mana, suasana dusun malam ini memang begitu mencekam, hingga warung pun tutup lebih awal.


Budi lalu memutar badan balik kanan untuk melangkah kembali, baru saja ia memutar badan, tiba-tiba mata Budi menangkap sesosok putih berdiri di pojok pekarangan. Budi terkesiap lagi untuk yang kedua kali, dalam tegun berdiri Budi mengungkapkan makhluk putih itu dari jarak. Makhluk itu seolah membocorkan ke arah Budi yang masih tegun berdiri, "Ayo kuat mana sama aku." batin Budi yang mengungkapkan tajam ke sosok makhluk putih yang berdiri di tengah bayangan. Semakin lama Budi mengungkapkan makhluk itu, seakan mahluk itu kian tajam menatap dirinya. "Wah dia ternyata lebih berani menatap diriku." batin Budi sambil melanjutkan langkahnya untuk kembali. Budi terus melangkah menyusuri jalan dusun ke arah selatan, sebentar kemudian ia sudah belok kiri menyusuri jalan. Budi berhenti sejenak di tengah jalan, ia kembali menatap ke arah utara menerobos pekarangan. Sosok putih itu masih berdiri di tempat seperti semula, seakan matanya masih menatap dirinya. Bulu kuduk masih berdiri merinding, Budi pun belok kanan lagi melangkah ke rumahnya yang tinggal dua puluh meter di sudut sana.


"Mana mi goreng instan nya Mas?" tanya Yuli.


"Wah Dek... Mas keliru... seharusnya Mas kan melihat warung itu dulu dari kejauhan, tapi akibat konsentrasi Mas saat berjalan, untuk menghindari celana agar tidak basah terkena air genangan di jalan, eh begitu sudah dekat, ternyata warung itu sudah tutup." tutur mas Budi.


Yuli hanya tersenyum menimpali, ia kemudian menggoreng nasi itu untuk suami. Malam itu Yuli dan Budi makan nasi goreng buatan sendiri. Jarum jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam.


"Ayo Dek kita ibadah sunnah?" ajak Budi kepada istri.


"Sudah malam loh Mas... bisa-bisa besok pagi Mas Budi malah ngantuk nanti di tempat kerja." jawab Yuli.


"Ya tidak lah Dek." ucap Budi sambil meraih tangan Yuli ke ranjang kamarnya. Malam itu suami istri itu mengembara lagi ke kayangan, indahnya surga dunia membuat Yuli lupa akan sedu yang tadi sore menghinggapi dirinya. Malam itu akhirnya mereka bisa tidur lelap melewati malam. Subuh menjelang Yuli dan Budi sudah terjaga dari tidurnya.


Setelah mandi dan shalat Subuh, Budi melangkah ke balong untuk memeriksa bayangan putih semalam. Di tepi jalan, Budi tersenyum merasa konyol dengan diri sendiri, bayangan putih semalam ternyata hanya anak pohon pisang yang sengaja ditutup karung warna putih sebagai selubung agar pohon anak pisang tersebut tidak di cucuk ayam-ayam liar milik warga yang diumbar.


"Wah... buset dah." bisik Budi seiring senyum konyol akibat naluri takutnya semalam.

__ADS_1


__ADS_2