
Dua hari sebelum hari ‘H’ ulang tahunnya Yuli, sore itu Nana sengaja datang menemui Yuli di rumahnya untuk mengatur rencana memuluskan misi rahasia. Setibanya di rumah Yuli, Nana langsung disambut oleh sahabatnya dengan senyum ceria. “Tumben sore-sore begini datang ke rumah saya?” tanya Yuli kepada Nana yang baru tiba. “Oalah kok ya repot-repot segala pakai bawa aneka kue juga toh mbak Nana?” lanjutnya.
“Iya nih mbak Yuli, kebetulan tadi pagi aku lagi pengen nyoba resep kue brownies, setelah aku praktek, Alhamdulillah berhasil juga dan ini hasilnya.” ucap Nana sambil menyodorkan kotak berisi kue brownies kepada Yuli.
“Oh begitu ceritanya, ayo silahkan masuk dulu mbak Nana.” ucap Yuli mempersilahkan tamunya.
Mereka lalu masuk ke dalam rumah Yuli yang sedari tadi pintunya sengaja dibiarkan terbuka, “Monggo silahkan duduk mbak Nana. Sebentar ya, saya tinggal dulu ke belakang.” pamit Yuli setelah Nana duduk di sofa.
Nana hanya tersenyum kecil dan membiarkan Yuli berlalu menuju ke ruang dapurnya. “Tidak usah repot-repot loh mbak Yuli,” ucap Nana lagi.
“Oh, tidak Nana,” jawab Yuli seiring langkah kaki saat menuju ke dapur.
Sebentar kemudian, Yuli sudah datang kembali menemui Nana sambil membawa nampan berisi dua gelas *o*range juice segar. “Ayo silahkan diminum dulu mbak Nana.” ucap Yuli sambil meletakan orange juice di atas meja.
“Oalah kok pakai repot bikin minum segala mbak Yuli,” ucap Nana lagi.
“Repot apa sih mbak Nana, orang cuma bikin minum saja kok repot,” jawab Yuli sambil tersenyum kala membuka toples wafer di atas meja.
“Bagaimana kabarnya mbak Yuli?” tanya Nana setelah menyeruput orange juice yang terasa sangat segar mendinginkan suasana.
“Alhamdulillah, kabar saya baik mbak Nana,” jawabnya.
“Kamu dan keluarga di rumah bagaimana kabarnya mbak?” tanya balik Yuli.
“Sama, kabar saya dan keluarga juga baik-baik saja.” jawab Nana ceria
Yuli lalu bercerita kalau omset penjualan sate di warung sederhananya cukup lumayan laris, sehingga ia akhirnya bisa melunasi hutang-hutang yang ada.
“Alhamdulillah mbak Nana sertifikat warung yang dijadikan agunan untuk pinjam uang di bank oleh Almarhum mas Budi sebagai tambahan modal untuk mendaftar pemilu kepala desa dua tahun yang lalu, kini sudah bisa kembali.” ucap Yuli kepada Nana.
“Syukurlah kalau begitu, saya jadi ikut senang mendengarnya Yuli.” ucap Nana senang.
“Cicilan di Bank sudah lunas, usaha juga lancar, terus apa rencana kamu selanjutnya Yuli?” tanya Nana.
“Saya ingin santai dulu sejenak Nana, sambil membesarkan si kecil (Putri Kusuma Aprilia).” jawabnya.
“Kamu tidak ingin menikah lagi Yuli, kamu kan masih muda dan banyak juga pria yang ingin menikah sama kamu loh?” canda Nana.
“Soal menikah, belum kepikiran mbak Nana, lagipula putri juga masih terlalu kecil dan butuh perhatian dari saya.” jawab Yuli.
“Oh begitu Yuli,” jawab Nana sambil menganggukan kepala.
“Mbak Lili tadi sebenarnya pengen ikut bareng saya ke rumah kamu, tapi dia urung, karena Evan (anaknya) lagi sakit panas.” ucap Nana mengalihkan pembicaraan.
Yuli diam sejenak mendengar kabar sakitnya Evan, “Oh kasihan sekali adik Evan,” sahut Yuli ikut merasakan sedih.
“Terus, kabarnya Lili sendiri bagaimana mbak Nana?” tanya Yuli kepada Nana.
“Kabarnya mbak Lili, Alhamdulillah baik, dia sekarang malah sudah buka salon kecantikan di dekat persimpangan jalan arah perumahan.” terang Nana.
“Oh…, jadi Lili Salon yang ada depan jalan raya arah perumahan itu, miliknya mbak Lili toh mbak Nana!?” kesiap Yuli.
“Iya betul, itu salom miliknya mbak Lili.” ucap Nana sambil tersenyum.
“Sejak kapan mbak Lili bukan salon di tempat itu mbak?” tanya Yuli lagi.
“Baru kok mbak, ya sekitar satu bulan ini, mbak Lili membuka usaha salon kecantikan tersebut.” jawab Nana.
“Syukurlah kalau begitu, kamu sendiri bagaimana mbak Nana dengan bisnis usaha kue nya?” tanya Yuli lagi.
“Alhamdulillah, tiap bulan ada saja tetangga dan pembeli dari luar desa yang pesan kue buat acara hajatan.” jawab Nana.
Senyum Yuli melebar, merasa senang kala mendengar kedua sahabatnya itu sudah punya bisnis sampingan di sela menjalani kewajiban sebagai seorang ibu rumah tangga.
“Ngomong-ngomong, hari sabtu besok, sehabis berjualan di warung, ada acara apa tidak mbak Yuli?” tanya Nana kemudian.
“Acara apa toh mbak Nana, saya ini ya orang swasta, sehabis berjualan ya istirahat (tidur) di rumah, paginya baru berjualan lagi di warung.” jawab Yuli sambil tersenyum.
“Ada apa toh mbak Nana, kok tumben pakai tanya ada acara segala?” lanjut Yuli sambil tersenyum.
“Begini mbak Yuli, sabtu besok selepas maghrib, mbak Lili itu bilang ke saya, katanya dia pengen main ke rumah kamu, sudah lama tidak bertemu kamu, jadi kangen katanya.” jawab Nana untuk melancarkan rencana.
“Oke, saya tunggu di rumah, rumah saya itu terbuka 24 jam untuk kalian.” jawab Yuli sambil tersenyum lebar karena merasa senang.
“Baiklah kalau begitu, sabtu besok sekitar isya, saya dan mbak Lili akan datang ke rumah kamu.” jawab Nana mantap.
“Jangan lupa siapin juga sate buat kita.” lanjut Nana bercanda.
“Siap!” ucap Yuli semangat.
Setelah mendapat jalan dari rencana yang ada, Nana lalu pamit untuk kembali ke rumahnya. Seiring senyum mengembang, Yulil lalu melepas kepergian Nana untuk kembali ke rumahnya.
Dua hari kemudian
Sabtu sore selepas maghrib, mas Bagus yang sudah berpenampilan sangat rapi semerbak harum mewangi kemudian meluncur menggunakan mobilnya menuju ke rumah mas Joko sahabatnya.
Tiga puluh menit kemudian, setibanya mas Bagus di rumah mas Joko, ia langsung disambut senyum ceria oleh mas Joko, Irfan, Lili dan mbak Nana.
"Wah rapi banget penampilan kamu sore ini mas Bagus." ucap mas Joko dan Irfan sambil tertawa.
"Masa sih, perasaan penampilanku biasa saja mas," jawab mas Bagus sambil memperhatikan baju yang dikenakannya.
Sementara Nana juga ikut tersenyum juga, "Sip deh mas Bagus." Ucap Nana sambil mengacungkan jari jempol kepada mas Bagus.
"Ayo silahkan masuk dulu mas," ucap mas Joko dengan senyum yang masih tersisa di bibirnya.
“Wah, ini toh mbak Nana, kue ulang tahun pesanan saya buat dek Yuli?” tanya mas Bagus kepada mbak Nana, ketika ia mendapati kue ulang tahun di atas meja yang berukir kata ‘Selamat Ultah Yuli Astuti yang ke-25’.
“Iya mas Bagus.” Jawab Nana sambil tersenyum
__ADS_1
“Wah indah sekali bentuk kue ulang tahunnya mbak Nana, berapa ini mbak!?” tanya mas Bagus sambil tersenyum bahagia saat memandang bentuk kue ulang tahun di atas meja.
“Tidak usah mas, khusus buat mas Bagus, untuk kali ini saya kasih gratis, tapi untuk pemesanan kue berikutnya, mas Bagus harus bayar.” ucap Nana sambil tertawa.
“Wah kok gratis sih mbak, ini kan untuk misi perjuangan, jadi saya harus bayar ini kue, biar nanti perjuangan saya bisa berjalan mulus. dan sukses.” ucap mas Bagus sambil menyerahkan uang ke mbak Nana.
Nana tetap kukuh menolak uang yang disodorkan mas Bagus kepadanya, “Tidak usah mas, cuma ini yang bisa saya lakukan untuk membantu mas Bagus.” ucap Nana.
“Kalau begitu lemah teles ya mbak Nana.” ucap mas Bagus kepada Nana.
“Apa artinya?” tanya Lili yang berdiri di samping Nana.
“Lemah teles (Tuhan yang akan membalas) dengan pahala.” jawab mas Bagus sambil tertawa.
“Walah mas Bagus ini bisa saja kalau bercanda.” ucap Lili sambil tertawa juga.
Joko, Irfan, dan Nana pun tak luput dari tawa atas kelucuan mas Bagus yang pandai bercanda.
“Bagaimana, kalau kita berangkat sekarang?” tanya mas Bagus seiring tawa yang masih tersisa di bibir mereka.
“Oke,” jawab mereka kompak.
Mereka lalu naik ke dalam mobilnya mas Bagus yang terparkir di depan rumah mas Joko, sebentar kemudian mobil yang mereka tumpangi kini sudah melaju menuju ke rumah Yuli yang ada di desa.
Meski di sepanjang perjalanan menuju ke rumah Yuli, mereka kerap berbicara dan bercanda, tapi sebenarnya di balik dada mas Bagus yang sedang mengemudikan mobil tersebut, kini sedang bergemuruh kencang bak deburan ombak di samudra.
Tiga puluh menit kemudian, setelah mereka menempuh perjalan yang cukup mengesankan, akhirnya mereka sampai juga di kediaman rumah Yuli.
Yuli kesiap kaget kala melihat mobil mas Bagus yang baru tiba dan berhenti di pelataran rumahnya. Jantung Yuli mendadak berdebar kencang kala melihat mas Bagus, Joko dan Irfan turun dari mobil tersebut.
“Hai Yuli..!” ucap Nana dan Lili yang baru turun dari mobil menyapa dirinya.
“Hai,” jawab Yuli sambil melambai lalu menyalami mereka.
Yuli mencoba untuk tetap tenang, mengendalikan segala rasa dalam dada, “Ayo silahkan masuk,” ucap Yuli dengan jantung berdebar-debar kencang tak beraturan.
“Ayo silahkan duduk,” ucap Yuli kepada kelima tamunya.
Sebentar kemudian, bik Wati sudah keluar dari dapur untuk menyuguhkan aneka jajan dan minuman di atas meja untuk mereka.
“Mang Ali, tolong ajak Evan dan Bekam bermain ya,” ucap Nana kepada mang Ali.
“Baik mbak Nana,” jawab mang Ali sambil menuntun Evan dan Bekam menuju ke tempat bermain di dekat pelataran musholla.
“Ayo silahkan diminum tehnya,” ucap Yuli kepada kelima tamunya.
Meski di awal perbincangan mereka terasa agak kaku, karena jantung Yuli dan jantung mas Bagus berdebar tak menentu, tapi Yuli dan mas Bagus coba mengendalikan rasa, agar bisa mengikuti alur perbincangan yang ada.
“Suasana di desa ini ternyata lebih enak ya, terasa tenang, damai dan menentramkan hati.” ucap Irfan kepada Joko.
“Ya sudah pasti dong mas Irfan, kan masih alami dan tidak ada polusi.” jawab mas Joko
“Ya tidak lah, kan sudah terbiasa mbak Lili, lagian di rumah juga ada nenek yang menemani.” jawab Yuli.
“Oh,” ucap Lili sambil menganggukkan kepala.
“Menurut info yang saya dengar dari mbak Nana, katanya mbak Lili sekarang bukan usaha salon kecantikan di depan jalan raya dekat perumahan ya?” tanya Yuli.
“Iya betul mbak Yuli, ya hitung-hitung untuk menyalurkan hobi dan mengisi waktu buat kesibukan, lumayan toh bisa dapat cuan.” jawab Lili sambil tersenyum.
“Dapat ide dari mana mbak Lili, kok tiba-tiba saja langsung membuka usaha salon kecantikan?” tanya Yuli lagi.
“Awalnya karena saya memang suka dengan dunia fashion, terus saya beli majalah, baca-baca majalah, terus saya merasa tertarik, kemudian saya ikut kursus kecantikan selama tiga bulan, terus nekat deh buka salon sendiri,” jawab Lili penuh semangat.
“Wah hebat kamu mbak,” puji Yuli kepada mbak Lili.
“Ya hebatan kamu dan mbak Nana dong, kalian kan sudah lama terjun di dunia usaha, sedangkan saya baru saja memulai usaha.” jawab Lili.
“Usaha terbaik bagi wanita itu bukan bisnis mbak Lili,” ucap Nana sambil tersenyum.
“Terus apa dong mbak Nana?” tanya Lili penasaran.
“Usaha terbaik bagi wanita adalah merawat dan mendidik anak-anak, agar menjadi anak yang sholeh dan berguna bagi Nusa dan Bangsa.” jawab Nana sambil tertawa.
“Walah..., Mbak Nana gaya bicaranya seperti bu ustadzah saja.” ucap Yuli sambil tersenyum.
Mendengar Nana bercanda, semua yang ada di balai tamu langsung tertawa karena kelucuan mbak Nana yang pandai mencairkan suasana.
Seiring tawa yang masih tersisa di bibir mereka, mas bagus lalu bangkit dari duduknya, “Sebentar ya, saya mau ambil rokok dulu di mobil.” ucap mas Bagus sambil melangkah keluar menuju mobil yang terparkir di halaman.
Semenit kemudian, “Happy birthday to you…, Happy birthday to you…,” ucap mas Bagus yang sudah kembali sambil melangkah masuk membawa kue ulang tahun dengan kedua tangannya.
“Happy birthday, happy birthday, happy birthday to Yuli…,” sambung teman-teman kompak sambil berdiri dan bernyanyi.
Yuli seketika kesiap kaget dan haru, sambil tersenyum ia lalu menutup bibir dan hidungnya dengan kedua telapak tangannya. Kedua bola mata Yuli seketika berbinar embun bahagia berseri merasa tersanjung dan terguling-guling di atas permadani surgawi.
“Tiup lilinya, tiup lilinya, tiup lilinya sekarang juga, sekarang juga, sekarang juga…,” ucap mereka kompak, saat mas Bagus sudah berdiri di hadapan Yuli dengan kue ulang tahun dan lilin yang menyala.
Sering senyum mengembang, Yuli yang berbinar kedua bola matanya dengan embun berkaca, lalu meniup lilin yang menyala indah di atas kue ulang tahun yang dipersembahkan mas Bagus kepadanya.
“Hore…!” teriak mereka kompak seperti anak taman kanak-kanak saja.
“Potong kuenya, potong kuenya, potong kuenya sekarang juga, sekarang juga, sekarang juga…!” lanjut mereka seperti grup kur saat upacara senin pagi.
Yuli yang masih tersenyum menahan rasa haru, lalu memotong kue ulang tahun tersebut, dengan sedikit canggung dan kikuk, Yuli lalu memberikan potongan kue pertama buat mas Bagus di hadapannya.
“Hore…!” Exited mereka seiring tepuk tangan menggema.
Setelah mereka semua mendapat kue ulang tahun, tiba-tiba mas Bagus duduk jongkok di hadapan Yuli untuk mempersembahkan cincin permata biru kepadanya.
__ADS_1
“Maukah Yuli menikah denganku?” tanya mas Bagus sambil jongkok seperti seorang pangeran yang sedang menyerahkan sekuntum bunga mawar kepada putri seorang raja.
Yuli kembali terkesiap kaget untuk yang kedua kali, ia kembali menutup bibir dan hidung dengan kedua telapak tangannya, setitik air mata haru tiba-tiba menetes di pipinya.
Sementara teman-teman yang ada, tiba-tiba melongo, tertegun dan kesiap takjub seperti penonton di stadion gelora yang sedang menyaksikan tukik bola di udara menuju gawang di depan sana. Joko dan Irfan yang sudah memasukan potongan kue ulang tahun ke mulut pun seperti tak sanggup mengunyahnya, mereka diam, kesima dengan pemandangan biru di depan mereka.
Namun, Yuli yang semula begitu haru saat melihat cincin permata biru yang dipersembahkan mas Bagus kepadanya, sedetik kemudian tiba-tiba mimik wajahnya mendadak berubah beku serta sirna senyum haru dari bibir manisnya.
Ketika tangan Yuli sudah menyentuh dan memegang kotak merah tersebut, tiba-tiba ia diam sejenak, dan kaki mundur selangkah mendadak.
Yuli melepaskan lagi kotak cincin yang baru ia pegang, seiring langkah mundur ke belakang, bibirnya pun berucap.
"Maaf, saya tidak bisa menerima cincin ini." ucap Yuli kepada mas Bagus yang masih duduk tengadah mempersembahkan cincin permata biru kepadanya.
Badan mas Bagus seketika tertegun kaku, raut wajahnya mendadak pucat seperti bunga layu karena malu.
"Kalau saya menerima cincin ini, nanti Adi bisa marah kepadaku." ucap Yuli kelu.
Semua teman-teman yang menyaksikan peristiwa itu di ruang tamu pun tegun tak bergerak seperti patung yang tercipta mendadak, kue ulang tahun di mulut mereka utuh karena mulut mereka melongo tak mampu bergerak.
“Adi?” ucap mas Bagus pelan dan nyaris tak terdengar.
“Iya…,” jawab Yuli sendu.
“Adi adalah kepanjangan dari (Ayah dan ibu),” lanjut Yuli seiring senyum kecil di bibir menghilangkan beku.
Sedetik kemudian, Yuli sudah maju selangkah kedepan dan memegang kembali kotak merah berisi cincin permata biru yang mas Bagus persembahkan.
“Mau mas,” jawab Yuli seiring senyum manis mengembang.
Mendengar ucapan dari Yuli, Mas Bagus mendadak melepaskan nafas lega, sering senyum mengembang sambil menggelengkan kepala pelan.
“Wow…!” Exited penonton yang ada, seiring tepuk tangan meriah merayakan sebuah kemenangan.
Ternyata bola cinta yang mas Bagus shooting jauh ke depan, kini tepat masuk ke arah gawang yang menjadi tujuan. Bola cinta mas Bagus, kini bersarang tenang dalam gawang cinta Yuli yang berjaring sutra halus sebagai pengaman.
“Benarkan dek Yuli mau menerima cintaku?” tanya mas Bagus mengulang.
“Mau banget!” jawab Yuli mantap seiring senyum mengembang.
Angan mas Bagus kini gantian berguling-guling diatas awan, karena mendadak mendapat keberuntungan atas jawaban Yuli yang tidak disangka-sangka akan demikian. Yuli yang menjadi idaman kini menerima pinangan dari ungkapan cinta mas Bagus yang lama bersemayam.
Seiring senyum mengembang, mas Bagus lalu bangkit berdiri, dan mengambil cincin permata biru dalam kotak merah yang Yuli pegang. Mas Bagus menaruh kotak berwarna merah itu diatas meja, ia lalu memasukkan cincin permata biru ke jari manis Yuli yang sangat empuk bagai kain beludru.
Mas Bagus dan Yuli kini saling berpegangan tangan setelah mas Bagus menyematkan cincin permata biru di jari manis Yuli sang pujaan. Senyum mereka indah merekah menyapa khalayak yang ada bak bunga matahari menatap senyum sang fajar di awal pagi.
“Cium pipinya, cium pipinya, cium pipinya sekarang juga, sekarang juga, sekarang juga…!” ucap kawan-kawan kompak seiring senyum yang merekah di bibir mereka.
Yuli dan mas Bagus saling berpandangan, seiring senyum mengembang saat mendengar kawan-kawan bernyanyi dan menyuruh mas Bagus untuk mencium pipi Yuli yang baru terkena panah asmaranya.
Mas Bagus yang berdiri canggung dan kikuk karena grogi, lalu mendaratkan ciuman lembutnya di kening Yuli yang mendadak memejamkan kedua bola mata indahnya.
Ciuman lembut tersebut membuat jiwa mereka berdua kini sama-sama terguling-guling diatas awan jadinya.
Seiring tepuk tangan menggema, lalu nyanyian mereka pun mengembang lagi ke udara.
“Lamar Yulinya, lamar Yulinya, lamar Yuli-nya, sekarang juga, sekarang juga, sekarang juga…!” nyanyi kawan-kawan kompak.
Mas Bagus dan Yuli kembali tersanjung dengan kelucuan dan kekompakan sahabat-sahabat di hadapan mereka. Support dari kawan-kawan, langsung membangkitkan adrenalin mas Bagus sebagai seorang kesatria. Mas Bagus yang masih berdiri dan menggandeng tangan Yuli sang bidadari hening sejenak, seiring lirik pandang ke wajah cantik Yuli, mas Bagus lalu berucap:
“Terima kasih banyak atas bantuan dan dukungan dari sahabat-sahabat, kalau tidak ada halangan dan tuhan mengizinkan, insya allah minggu depan, saya akan datang ke rumah orang tuanya dek Yuli untuk melamar dek Yuli sebagai calon istri dunia-akhirat.” ucap mas Bagus mantap.
Yuli kembali begitu terharu saat mendengar ikrar mas Bagus di depan khalayak yang begitu cepat dan kembali mengikat begitu kuat rasa cinta dan rindu yang sudah bertahun-tahun tersemat dalam benak. Seiring embun kaca di mata yang tersirat, Yuli pun melirik wajah tampan mas Bagus yang begitu memikat. Dan seketika itu juga genggaman tangan mas Bagus pun kian erat melekat seakan menopang kuat jiwa Yuli yang haru biru hingga ia pun tidak jadi pingsan mendadak.
Mendengar info sekaligus pengumuman dari mas Bagus yang begitu mantap dan menggetarkan jagat, teman-teman pun langsung bertepuk tangan kompak menyambut kata sepakat yang baru mas Bagus ucap dengan penuh hikmat.
“Ayo silahkan duduk,” ucap Yuli kepada para sahabat yang masih berdiri membiaskan arus bahagia dalam benak lewat sisa senyum mereka yang masih melekat.
“Agar acara ini mendapatkan ridho dari tuhan, saya minta mas Irfan atau mas Joko untuk memimpin doa.” ucap mas Bagus kepada kedua sahabatnya.
Sedetik kemudian, mas Irfan lalu memberikan isyarat dengan tangan kepada mas Joko untuk memimpin doa.
Mas Joko lalu mengangkat kedua tangan seraya khusyuk berdoa dan diamini oleh mereka semua yang ada di balai tamu rumah Yuli yang cukup sederhana.
Selesai mas Joko berdoa, Yuli lalu bangkit dan melangkah masuk menuju ke dapur, sebentar kemudian Yuli dan Bik Wati sudah datang kembali ke balai tamu sambil menyuguhkan nasi panas, gulai lezat dan sate nikmat diatas meja.
“Ayo silahkan mbak yu dan kang mas sekalian, silahkan dinikmati hidangan yang ada ini.” ucap Yuli kepada mereka.
Yuli lalu menciduk nasi diatas piring, untuk mas Bagus calon suaminya, disusul Nana dan Lili menyuguhkan nasi untuk suami mereka.
Malam itu mereka menikmati makan malam bersama, nikmatnya gulai dan sate lezat yang ada, terasa lebih nikmat seiring kebersamaan yang tercipta.
Sebentar kemudian mang Ali datang bersama Evan dan Bekam yang baru saja selesai bermain di pelataran dekat mushola. Sini sayang, ucap Lili dan Nana kepada anak mereka untuk disuapin nasi saat mereka makan bersama. Sementara mas Bagus yang baru selesai makan, lalu mendekati putri anaknya Yuli yang sedang dipangku bi Wati. Sini sayang sama bapak ucap mas Bagus penuh kasih sayang, Putri lalu melangkah dan duduk diam dalam pangkuan mas Bagus bak anak dan orang tua kandung saja. Melihat putri duduk diam dalam pangkuan mas Bagus, Yuli pun kian terharu dan bahagia, karena mas Bagus juga ternyata sayang kepada putrinya.
“Jadi, selain mengharapkan ridho dari tuhan, agar tali kasih mas Bagus dan mbak Yuli bisa kekal abadi sampai tua nanti, dia juga harus minta ridho kepada Adi (ayah dan ibu) dari mbak Yuli.” ucap mas Joko
Mendengar kata ‘Adi’ yang mas Joko ucap, sontak semua orang yang ada di balai tamu langsung tertawa ngakak bersama.
“Alah mas Joko ini, bisa saja kalau bercanda,” ucap Nana kepada mas Joko suaminya.
Selesai menikmati hidangan yang ada, mereka lalu pamit undur diri untuk kembali ke rumah mereka. Meski mbak Yuli dan mas Bagus baru saja mengikat tali kasihnya, tapi saat mas Bagus hendak kembali ke rumahnya, Yuli seakan begitu berat melepas kepergian mas Bagus kekasih lamanya yang kini telah menghias kembali dengan tinta cinta yang lebih indah warnanya.
“Tit tiiit…!” bunyi suara klakson mobil yang mas Bagus pencet sebagai isyarat pamit, ketika mereka hendak berlalu meninggalkan Yuli yang masih berdiri di teras rumahnya.
“Oke, kami pulang dulu ya mbak Yuli.” ucap mbak Nana dan mbak Lili ketika mobil yang mereka tumpangi sudah melaju pelan meninggalkan Yuli yang masih berdiri dengan seluas senyum mengembang.
“Ya mbak, hati-hati di jalan!” jawab Yuli kepada mereka.
Mobil yang mereka tumpangi kini telah jauh pergi meninggalkan Yuli yang masih berdiri di teras rumahnya. Seiring bias kenangan indah yang masih melekat dalam benak, Yuli pun tersenyum, ia lalu melangkah pelan untuk masuk ke dalam rumahnya.
__ADS_1
Malam ini terasa lebih indah, sebab di hari ulang tahun Yuli yang ke-25, ia kembali mendapat cinta dari sang Arjuna idaman hatinya. Malam semakin larut, seiring hangat bantal guling dalam pelukan, Yuli lalu berbisik mesra "I love you mas Bagus," ucapnya. Yuli kemudian memejamkan mata dan lelap dalam tidurnya.