Cinta Merah Jambu

Cinta Merah Jambu
Pertemuan


__ADS_3

Pernikahan antara mas Juni dan mbak Yuli merupakan suatu momen yang cukup langka. Sebab pernikahan tersebut mempertemukan antara bujang dan wanita yang sudah dua kali menjadi janda. Cinta memang tak memandang usia dan status yang ada, ketika mereka sudah saling mencinta, gula jawa pun bak rasa coklat, pokoknya endah aja dah!


Wanita secantik dan sepintar Yuli, seolah wajar adanya, bila dirinya yang sudah dua kali hidup menjanda akhirnya menikah dengan mas Juni yang tampan. Mas Juni dan mbak Yuli kini menjalani masa-masa indah sebuah pernikahan baru. Mas Juni yang sudah lama menaruh hati kepada Yuli kini siap mencicipi bulan madu dengan bidadari nan ayu. Meski mas Juni juga pernah menjalin tali kasih dengan Rini teman satu kampusnya kala kuliah dulu, tapi kasihnya kini berlabuh di hati Yuli.


***Flashback ***


Lima tahun silam, semasa mas Juni masih kuliah di universitas swasta di Jawa Timur, mas Juni sempat menjalin kasih dengan Rini teman mahasiswi di kampus. Setelah mas Juni wisuda dan pulang ke kampung, cinta Rini dan mas Juni pun terpisahkan oleh jarak sedemikian jauhnya. Sepucuk surat cinta mereka, menjadi pelepas dahaga yang lara. Antara Tegal dan Surabaya, cinta mereka terbelenggu rindu. Sekian lama mereka menjalani cinta jarak jauh, dan Rini selalu setia menanti kedatangan mas Juni sampai kapanpun ia mau kembali.


Sekian tahun mas Juni mencari kerja di kota Jakarta untuk bekal masa depan mereka, tapi kerja yang didambakan tak didapatinya. Waktu terus berputar, hari, bulan dan tahun terus berganti, sementara kesuksesan yang diimpikan mas Juni hanya sebatas mimpi.


Usia semakin bertambah tapi karir masa depan masih menjadi tanya, mas Juni tak ingin membiarkan Rini menunggu dirinya terlalu lama. Apalagi orang tua mas Juni juga menghendaki agar dirinya menikah dengan orang terdekat di kampungnya saja. Jalan akhirnya, mas Juni pun berkirim surat kepada Rini, agar dia menikah lebih dulu saja dengan pemuda lainnya.


Setelah tiga tahun menjalani cinta jarak jauh, Juni dan Rini pun akhirnya berpisah. Berat memang bagi Rini untuk melupakan mas Juni yang telah lama mengisi hari-harinya menjelang kelulusan mereka. Rini terpaksa menikah lebih dulu dengan teman guru yang mengajar di sekolah yang sama.


Meski merana, mas Juni terus saja mencari peruntungan kerja di kota Jakarta. Dua tahun kemudian, mas Juni memutuskan untuk kembali ke kampungnya dan mengabdikan diri sebagai guru MI.

__ADS_1


Setahun yang lalu, saat meninggalnya suami Yuli dalam musibah kapal Selam 402, mas Juni dan warga masyarakat hanya bisa turut berbelasungkawa dan mengelus dada melihat kesedihan Yuli dan keluarganya yang sedang dilanda musibah.


Seiring waktu berlalu, mas Juni kini akhirnya bertemu dan menikah dengan Yuli janda muda yang sudah memiliki dua orang  anak.


Next


Pertemuan mas Juni dan Yuli yang dulu hanya sebatas angan, kini menjadi kenyataan. Malam ini adalah malam bulan madu, dimana mas Juni akan nyucup madu sebuah pernikahan. Malam semakin dingin dan sepi, tapi di peraduan sepasang pengantin baru itu, mas Juni dan Yuli merasakan  kehangatan yang sangat berarti.


Malam itu Yuli kembali merasakan kenikmatan bulan madu untuk kesekian kalinya sebagai pengantin baru. Sementara, bagi mas Juni, ini adalah kali pertamanya ia menikmati indahnya surga dunia. Mas Juni sangat bahagia bisa memiliki dan memanjakan Yuli di malam pengantinnya. Bagi mas Juni, Yuli adalah bidadari langka yang sulit ditemukan oleh setiap pria. Yuli bak sebutir permata di antara hamparan batu-batu biasa, sehingga pancaran dan pesona Yuli tak lekang dimakan usia.


Menjelang subuh mereka terbangun dari tidur\, setelah melewati pengembaraan semalam yang penuh kebahagiaan. Suara gemerincing air mengalir\, terdengar syahdu di pagi yang masih sepi. Sebelum mandi\, mas Juni lalu membaca doa sebelum siram ***‘Nawaitu Husla Lirof’il Hadatsil Akbari\, Fardhol Lillahi Ta'ala’***(Saya niat mandi junub untuk menghilangkan hadast besar\, karena Allah ta'ala) byur! Suara air disiramkan ke badan untuk menghilangkan hadas besar setelah semalam berhubungan badan. Setelah berkali-kali menyiramkan air ke badan dan membersihkan dengan tangan\, mas Juni lalu keramas dan membersihkan badan dengan sabun wangi. Usai mas Juni mandi\, kini badan mas Juni pun segar dan bugar kembali.


Mas Juni kini tersenyum bahagia, setelah semalam saling bermanja penuh mesra dengan Yuli sang bidadari. Setelah sekian lama mempertahankan harkat diri dengan hidup membujang, akhirnya mas Juni menuai kenikmatan bulan madu dengan Yuli sang istri tersayang.


Jodoh memang penuh misteri, disaat ia menjalin kasih dengan Rini, karir sebagai bekal masa depan, masih menjadi tanda tanya, belum lagi restu dari orang tua yang tak mengizinkan dirinya menikah dengan wanita di luar daerahnya. Padahal kalau dia menikah dengan Rini yang masih perawan dan menawan mungkin lain cerita. Sebab Rini masih muda masih segelan, belum disentuh orang, belum berpengalaman.

__ADS_1


Setelah mas Juni pulang kampung dan menetap di desa dengan karir sederhana sebagai guru swasta dan ketua Badan Permusyawaratan Desa. Mas Juni akhirnya bertemu dengan Yuli sebagai jodoh dalam hidupnya. Biar mendapat janda, di bulan madu pertamanya, mas Juni pun merasa bahagia tak terkira. Yuli memang seorang janda, tapi ia lebih dewasa dan gurih empuk rasanya.


Hidup membujang, memang penuh godaan dan tantangan, bila tak kuat iman bisa saja mas Juni tergiur akan godaan yang kerap datang. Kini setelah mas Juni menikah, ia baru merasakan indahnya pernikahan.


Padahal ketika masih bujang dan merantau di kota Jakarta, demi dapat bertahan lama hidup di kota dalam misi mencari kerja, mas Juni ikut juga kerja serabutan sebagai kuli bangunan bersama teman-teman. Uang hasil kerja serabutan memang cukup buat makan, bahkan mas Juni bisa menyisihkan (menabung) sebagian uang untuk di bawa pulang.


Mas Juni kerap merasa heran dengan sebagian teman-teman di kontrakan yang suka jajan. Meski mereka sudah punya istri di kampung, tapi mereka mudah tergoda oleh wanita malam. Sedikit uang bayaran dari hasil kerja sebagai kuli bangunan yang berhasil mereka kumpulkan, kadang mereka habiskan buat jajan. Pantas saja ketika mereka pulang kampung, jarang sekali membawa uang, dengan alasan di kota lagi sepi pekerjaan.


Yang membuat mas Juni merasa lebih heran lagi, mereka juga tidak takut dengan penyakit kelamin yang sangat membahayakan. Sebab yang ada, hanya kesenagan sesaat saja, sehinga mereka lupa akan azab dari tuhan.


Mas Juni bersyukur karena dirinya selamat dari bermacam-macam godaan selama hidup di perantauan. Bekal ilmu dan iman adalah perisai dalam menjalani bahtera hidup yang penuh tantangan.


Semoga setelah mas Juni menikah dan membina rumah tangga dengan Yuli, selalu mendapatkan keluarga yang tenang penuh kasih sayang, tenteram dan bahagia sepanjang masa.


Bersama Yuli sang bidadari, malam berikutnya mas Juni pun mereguk kembali madu mongso yang penuh keberkahan. Yuli tersenyum manis menyambut setiap peluk mesra sang kesatria muda penuh gairah kesemangatan cinta dan cita akan masa depan.

__ADS_1


__ADS_2