
Setelah dua bulan lamanya mereka berjuang keras kampanye, mereka kini menuai hasil yang sangat melegakan dada. Sebab, Mbak Yuli akhirnya terpilih menjadi kepala desa dengan mengalahkan empat orang rivalnya dalam pemilu kades yang berlangsung cukup seru dan menegangkan dada.
Kediaman Yuli, kini banyak didatangi oleh warga yang ingin mengucapkan selamat kepada Yuli yang telah terpilih menjadi kepala desa. Bukan hanya tim sukses dan warga pendukung Yuli saja yang datang merayakan kemenangan, tapi warga selain pendukung Yuli pun banyak juga yang ikut hadir mengucapkan selamat kepadanya.
Pilihan boleh beda, tapi ketika Yuli terpilih menjadi kepala desa, maka Yuli adalah kepala desa (pemimpin) bagi semua warga masyarakat desa Sumber Balong tanpa terkecuali.
Yuli dan pendukungnya bisa tersenyum bahagia, sementara keempat orang rivalnya kini merasakan sesak di dada dan derita akibat kekalahan mereka dalam pemilu kades yang cukup menguras tenaga, pikiran dan biaya.
Derita kekalahan pak Seno dan pak Asro dalam pemilu kades, tentu tidak sama dengan derita yang dialami oleh pendatang baru lainnya yakni Mas Indra dan mas Bakti.
Sebagai mantan kepala desa, Pak Asro dan pak Seno mungkin bisa memaklumi akan kekalahannya. Sebab secara sadar, hati kecil mereka juga mengakui akan beberapa kesalahan mereka selama menjabat sebagai kepala desa.
Namun bagi Indra dan Bakti yang belum memiliki dosa politik kepada warga masyarakat desa, kekalahan mereka jelas lebih membuatnya terpuruk jiwa dan batinnya.
Ambisi terpendam dalam dada Indra yang telah lama ingin menjadi kepala desa, kini pupus sudah adanya. Kenekatan Indra untuk mencalonkan diri menjadi kepala desa, kini terjawab sudah setelah dirinya hanya mendapat dukungan sedikit suara dari warga.
Sementara, mas Bakti yang didorong sebagian warga untuk maju dalam pemilu kades di desa, kini merasa tertipu oleh sebagian warga yang hanya mau sembako saja. Sekian banyak modal politik yang telah mas Bakti keluarkan, ternyata hanya mampu mendongkrak perolehan suara mas Bakti di urutan ketiga.
__ADS_1
Mas Bakti kini merasakan kekecewaan begitu mendalam di dalam batinnya. Sekian warga yang datang kepadanya menjelang pemilu kades di desa, ternyata hanya memanfaatkan momen untuk mendapatkan sembako saja.
Keempat lawan politik Yuli yakni Pak Seno, Asro, Indra dan Mas Bakti yang dulu dielu-elukan sebagian warga akan menjadi kepala desa, kini harus menanggung malu setelah mereka melihat fakta kekalahan yang ada.
Kekalahan mereka dalam pemilu kades, membuat keempat orang rival Yuli dan tim suksesnya segan untuk keluar dari rumah mereka. Derita kekalahan tersebut seumpama kotoran yang dicipratkan ke muka mereka. Mereka merasakan malu, semalu-malunya, sehingga membuat mereka enggan untuk menampakkan wajah mereka ke khalayak warga.
Tak ada lagi warga yang mau mendekat dan menyapa mereka setelah mereka kalah dalam pemilihan umum kepala desa. Semua terasa asing di mata mereka, sebab hanya istri, kerabat keluarga dan teman-teman dekat saja yang mau peduli dan menghibur dikala mereka sedang menderita.
Mereka kini seolah sadar, kalau politik itu memang kejam, bahkan tetangga dan kerabat jauh yang pernah berselisih paham dengan mereka, malah banyak yang sengaja menyalurkan aspirasi politik mereka kepada lawan politiknya.
Disinilah pentingnya berbuat baik terhadap sesama, kapan dan dimana saja mereka berada. Kebaikan yang tulus terhadap sesama, akan berdampak baik untuk kedepannya. Sebab kebaikan atau tebar pesona mereka kepada warga menjelang pemilu kades di desa, ternyata hanya membuat mereka kecewa.
Sepintas rasa, derita kekalahan mereka adalah akibat kecurangan sebagian pendukung naif mereka yang hanya mau sembako saja. Tapi bila direnungkan lebih dalam lagi, mungkin ini adalah cara tuhan membuat mereka untuk mau beramal terhadap sesama meski lewat tebar pesona agar diri mereka terpilih menjadi kepala desa.
Putaran waktu yang mengganti hari, membimbing pribadi akan hikmah dari segala duka lara yang menimpa mereka. Meski putaran masa itu tak mudah dilewati seumpama membalikan tangan, tapi mereka harus tetap kuat dan sabar. Meski tempaan rasa melewati waktu dengan sejuta rasa malu akibat derita kekalahan mereka terus berkecamuk dalam dada, mereka harus kuat menjalaninya. Sebab yang namanya roda kehidupan, toh akan terus berjalan menggilas masa.
Akibat dari derita kalah dalam pemilu kades tersebut, Indra kemudian memboyong istrinya kembali ke desanya, sekitar 5 km dari desa Sumber Balong tersebut.
__ADS_1
Sementara mas Bakti, lebih memilih berdiam diri di Bengkel tempat kerjanya yang ada di perempatan jalan dekat area sawah sekitar 1,5 km dari rumahnya. Ms Bakti lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bekerja di bengkel dan jarang sekali pulang ke rumahnya. Kekalahan yang menimpa dirinya, membuat dia merasa malu dan enggan untuk menampakan diri seperti biasanya. Hanya sebagian warga desa yang menservice sepeda motor mereka yang kerap berjumpa dengan mas Bakti di bengkel.
“Yang sudah, ya sudah, siapapun yang menjadi lurah, kita sebagai warga, ya harus tetap bekerja untuk menafkahi hidup keluarga, bukan begitu mas Bakti?” ucap Sidik
“Ya iyalah, siapapun kadesnya, ya kita tentu harus tetap bekerja sendiri, masa kita mau minta sama kades, ya gak mungkin toh?” timpal mas Bakti sambil nyengir.
“Ini sepeda motor, apanya yang rusak?” tanya mas Bakti.
“Karburatornya mungkin yang kotor, sebab businya sudah saya ganti, tapi motornya tetap saja sering mogok.” jawab Sidik.
“Mungkin minta ganti beli sepeda motor yang baru kali, biar terus lancar jalannya?” Canda mas Bakti.
“Halah yang lama saja masih bisa dipakai kok, ngapain beli sepeda motor yang baru. Daripada beli sepeda motor baru, mending uangnya buat beli kambing, kan nanti bisa beranak pinak.” jawab Sidik.
“Wah, itu baru yang namanya berpikiran maju.” timpal mas Bakti sambil nyengir.
Hari itu suasana di bengkel cukup ramai dari pelanggan, mas Bakti dan dua anak buahnya yakni Yoga dan Untung cukup cekatan dalam menservice sepeda motor pelanggannya.
__ADS_1
Mas Bakti, Yoga dan Untung selalu bekerja dengan sepenuh hati, sehingga banyak pelanggan yang kembali menservice motor mereka ke bengkelnya.