
Senin pagi mas Bagus izin tidak masuk dinas ke korps batalyon-nya, sebab hari itu mas Bagus meski segera mengurus surat izin dari desa dan juga kantor urusan agama sebagai persyaratan untuk melengkapi surat administrasi pernikahannya.
Setelah seharian mengurus surat ke desa dan juga kantor urusan agama hingga ke pengadilan agama untuk mendapat surat keterangan duda, akhirnya mas Bagus bisa bernafas dengan lega. Surat keterangan dari kantor kepala desa setempat dan dari pengadilan agama sudah ia dapati semua, kini mas Bagus tinggal menunggu hari hingga saatnya tiba.
Sementara Dewi yang dibantu kedua anak buahnya di butik yang ia kelola, juga ikut sibuk juga mempersiapkan segala perlengkapan hantaran yang akan dibawa oleh mas Bagus sebagai syarat untuk pernikahan. Selain aneka kue, Dewi juga membungkus kado berisi seperangkat alat sholat, baju, dan perlengkapan lainnya.
Hari-hari mas Bagus dan Yuli terasa lebih indah sebab hari pernikahan mereka sebentar lagi akan segera tiba. Cinta mereka memang banyak liku-likunya, tapi takdir tuhan akhirnya mempertemukan mereka kembali untuk hidup bersama membina rumah tangga.
Mas Bagus kini siap mengucapkan ikrar janji suci kepada Yuli di depan penghulu dan para saksi pernikahan mereka yang tinggal beberapa hari lagi. Cinta mereka kini seakan abadi bagaikan cinta Qais dan Laila yang melegenda hingga akhir masa. Meski cobaan dan rintangan dalam liku-liku cinta yang pernah mereka alami terasa pahit, tapi semua kepahitan yang pernah ada, kini seakan hilang dengan pertemuan kembali yang tak mereka sangka-sangkakan sebelumnya.
Menjelang malam tiba mas Bagus kembali menyebut nama Yuli Astuti kekasihnya agar dia bisa hadir dan menjelma dalam mimpinya. Di keheningan malam berpeluk kangen dan rindu beberapa bait syair untuk Yuli sang bidadari berhasil ia rangkai kembali sebagai pelepas kerinduan yang tiada bertepi.
Malam semakin larut, namun mata mas Bagus seakan sulit untuk terpejam, sementara pikiran dan angannya kian melayang tidak karuan membayangkan sosok Yuli sang pujaan. Selama 2 tahun hidup seorang diri sebagai duda memang tak enak bagai burung yang patah sayap.
Kini saat mas Bagus dilanda rindu akan sosok Yuli sang calon istri, bantal guling sebagai teman tidurnya pun ia peluk erat kembali. "I love you Yuli," bisik mas Bagus sambil mencium bantal guling dalam pelukan.
Hanya wajah cantik Yuli yang selalu bermain dalam khayal mas Bagus, hingga ia sulit tidur di malam hari. Di tepian malam akhirnya ngantuk menghampiri, membuat mata mas Bagus lelap dalam tidur di sela bayang-bayang Yuli yang selalu menemani.
Menjelang subuh mas Bagus terbagun dari tidur, sementara nama Yuli yang ia sebut semalam tak hadir juga dalam mimpi sehingga membuat ia semakin rindu saja kepadanya.
Kamis pagi mas Bagus berangkat berdinas lagi di satuan batalyon-nya, hari itu ia juga mengajukan izin cuti ke kantor dinasnya untuk jangka waktu selama beberapa hari untuk pernikahan dan bulan madunya.
Komandan dan kawan-kawan dalam satuan stafnya tersenyum gembira dan memberikan kata selamat kepadanya. “Selamat menempuh hidup baru mas Bagus, semoga bahagia selalu.” ucap mereka seiring senyum yang mengembang di bibir komandan dan kawan-kawan yang ada.
“Terima kasih atas doa dari pak komandan dan kawan-kawan semua,” jawab mas Bagus seiring senyum juga di akhir jam kerja ketika ia hendak kembali ke rumahnya.
__ADS_1
Meski mas Bagus sudah pernah menikah dan mengucapkan ijab dan qabul dengan mantan istrinya (almarhum Dina) dulu, kini menjelang pernikahannya dengan Yuli, ia pun menghafalkan kembali kalimat ijab dan qabul tersebut, agar saat pernikahannya nanti ia bisa melafalkannya dengan lancar di depan penghulu dan para saksi.
Dua hari kemudian, hari yang mereka tunggu-tunggu kini telah tiba, sudah tiba saatnya mas Bagus mengucapkan ikrar janji suci pernikahan mereka di depan kerabat dua keluarga yang akan menyaksikan berlangsungnya pernikahan dirinya dengan Yuli sang bidadari.
Sabtu pagi, mas Bagus dan keluarga sudah berangkat menuju ke rumah orang tuanya Yuli dengan membawa perlengkapan surat administrasi dan mas kawin juga hantaran pernikahan mereka. Pukul sembilan pagi kini mas Bagus dan Yuli duduk bersama di hadapan penghulu dan para saksi dan juga kerabat keluarga.
Mas Joko dan mas Irfan juga mang Ali dan kang Dori kini telah siap untuk menjadi saksi pernikahan mereka. Setelah orang tua Yuli (pak Zaenuri) selaku wali nikah menyerahkan kepada pak penghulu untuk menikahkan Yuli dengan mas Bagus, maka acara sakral pernikahan mereka pun dimulai.
Seperti pernikahan sepasang pengantin pada umumnya, sebelum ijab dan qabul dimulai, terlebih dulu pak penghulu membimbing latihan calon pengantin pria dengan kalimat ijab dan qabul yang ada, agar mas Bagus nanti bisa lancar mengucapkan ikrar ijab dan qabul dalam pernikahannya.
Suasana di balai rumah Yuli tempat akan dilangsungkannya ijab dan qabul terasa begitu tegang, hati dua kerabat keluarga itu dag-dig-dug ketika akan dimulainya acara ijab dan qabul yang sebentar lagi akan mereka saksikan.
Setelah mas Bagus dua kali latihan memperagakan ijab dan qabul, pak penghulu kemudian memulai ijab dan qabul tersebut. Pak penghulu membacakan kalimat pengantar nikah hingga sampai pada kalimat inti “Saya nikahkan anak saya yang bernama Yuli Astuti binti bapak Zainuri dengan Bagus Saputra bin bapak Adam dengan mas kawin berupa uang sebesar tiga juta rupiah dan seperangkat alat sholat dibayar tunai, Saya terima nikahnya Yuli Astuti binti bapak Zainuri untuk saya dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!” jawab mas Bagus tegas sekali.
“Sah.” jawab keempat saksi tersebut dengan suara yang cukup nyaring dan kompak.
Kedua mata Yuli berbinar penuh bahagia, seiring jantung berdebar dan senyum manis yang mengembang, ia lalu mencium tangan mas Bagus sang suami idaman. Dewi dan juru photo yang ada lalu mengabadikan momen tersebut dengan sebuah kamera.
Di pagi yang indah itu, mas Bagus akhirnya benar-benar mengucapkan sumpah janji suci kepada Yuli di depan penghulu dan para saksi pernikahan mereka.
“Alhamdulillah, dengan ijab dan qabul yang telah kita dengar dan saksikan bersama pagi ini, maka mulai hari ini, mbak Yuli Astuti kini resmi menjadi istri sah untuk mas Bagus saputra." ucap pak penghulu.
Semua hadirin yang ada di balai rumah Yuli yang semula tegang, kini setelah mereka menyaksikan mas Bagus mengucapkan ikrar ijab dan qabul dengan lancar, mereka pun kembali menarik nafas lega karena lancar dan suksesnya pernikahan yang telah mereka saksikan bersama.
“Untuk doa pernikahan, saya serahkan kepada pak mudin desa selaku kaur kesra desa.” ucap pak penghulu kepada pak mudin desa setempat.
__ADS_1
Pak mudin lalu mengangkat kedua tangan seraya khusyu berdoa yang diamini seluruh hadirin yang ada.
Selesai berdoa, juru photo dengan kamera di tangannya kembali melanjutkan mengabadikan momen pernikahan mereka dengan kerabat keluarga dan sahabat-sahabat yang ada.
Acara berlanjut ke ramah tamah dan menikmati hidangan lezat yang disuguhkan tuan rumah kepada semua hadirin yang ada.
Satu jam kemudian, hadirin dan kerabat keluarga pamit undur diri untuk kembali ke rumah mereka. Dewi kini yang menyetir mobil milik mas Bagus untuk mengantar kembali kedua orang tua dan kerabat keluarganya kembali ke desa. Sebab untuk sementara waktu mas Bagus tetap tinggal di rumah orang tua Yuli untuk selama beberapa hari. Ditemani Mas Joko dan mas Irfan juga sahabat lainnya, mas Bagus pun cukup nyaman menikmati suasana kebersamaan yang ada.
Sementara Bik Wati, mang Ali dan kerabat terdekat keluarga orang tua Yuli tampak masih sibuk di dapur untuk mempersiapkan segala keperluan hidangan untuk syukuran pernikahan mereka nanti malam.
Mas Irfan dan mas Joko sebenarnya ingin pamit undur diri untuk kembali ke rumah mereka, tapi mas Bagus mencegahnya "Nanti sajalah pulangnya, toh rumah kalian kan dekat juga dari tempat ini." ucap mas Bagus kepada mereka.
"Kamu tidak ingin belah duren mas, toh kalian kan sudah resmi menikah." batin mas Joko.
“Kalau kita terlalu lama disini, apa nanti tidak mengganggu waktu istirahatnya mas Bagus?” tanya mas Joko sambil nyengir untuk mengalihkan bayang menggelitik dalam angannya.
Mas Bagus, mas Irfan dan teman-teman lainnya hanya bisa tersenyum kala mendengar pertanyaan dari mas Joko yang disertai tawa kecilnya.
“Jangan ngaco ah mas Joko, siang-siang begini masa pengantinnya mau kikuk-kikuk,” ucap mas Irfan yang disambut tawa oleh mereka.
Waktu terus berjalan seiring canda tawa mereka, hingga akhirnya mas Joko dan mas Irfan pun akhirnya pamit undur diri untuk kembali ke rumah mereka.
“Jangan lupa nanti malam setelah isya kesini lagi ya mas Joko dan mas Irfan untuk mengikuti acara syukuran pernikahan kita.” ucap mas Bagus kepada kedua sahabatnya.
“Oke siap,” jawab mereka kompak.
__ADS_1