Cinta Merah Jambu

Cinta Merah Jambu
Cincin Permata Biru


__ADS_3

Sepulang kerja, mas Bagus sengaja mampir ke toko perhiasan Srikandi di dekat jalan raya area arah pasar lama. Setibanya ms Bagus di toko perhiasan tersebut, ia perhatikan sejenak serentetan perhiasan yang ada di lemari kaca toko Srikandi yang cukup megah itu. Sementara lima orang gadis cantik pelayan toko, langsung terkesima memandang wajah tampan mas Bagus yang baru tiba. Kelima gadis cantik yang ada di dalam toko itu seperti terhipnotis dengan ketampanan mas Bagus yang begitu sempurna memikat siapa saja yang memandangnya. Kelima penjaga toko emas itu klepek-klepek dibuatnya seperti sekelompok burung dara dalam sangkarnya yang ingin keluar dan terbang bebas ke udara.


Tak ubahnya seperti Zulaikha yang sedang menguji puluhan dayang-dayangnya lewat lomba mengupas dan mengiris buah timun di atas meja, yang kini menjadi legenda.


Saat dayang-dayang tersebut berlomba mengupas dan memotong buah timun yang ada, Zulaikha lalu menyuruh Yusuf untuk melewati dan melintasi gang yang ada diantar puluhan deret meja dalam aula istana tempat berlangsungnya lomba.


Saat Yusuf berjalan melintasi jalan di tengah gedung aula istana, puluhan dayang-dayang yang sedang berlomba mengupas dan mengiris buah timun di tangannya pun langsung terpesona dengan ketampanan Yusuf yang luar biasa. Tiap mata dayang-dayang itu kesima memandang ketampanan Yusuf yang lebih indah melebihi indahnya pancaran sinar purnama, sehingga membuat mereka semua lupa kalau timun di tangannya sudah habis tak tersisa, hingga mereka tak sadar kalau dirinya sedang mengiris jari tangan merek sendiri.


Saat Zulaikha menyaksikan puluhan dayang-dayang tersebut mengiris jari tangan mereka sendiri, lalu Zulaikha menyuruh Yusuf kembali masuk ke dalam istananya. Ketika Yusuf meninggalkan tempat lomba dan masuk ke dalam istana, puluhan dayang-dayang langsung teriak histeris merasakan sakit dan perih luar biasa akibat tangannya teriris oleh pisau di tangannya. Mereka seperti tersadar dari mimpi, ternyata bukan timun yang diiris tapi tangan mereka sendiri yang sedang diiris dengan pisau di tangan mereka.


Siti Zulaikha (istri dari sang raja) yang dulu sempat tercemar namanya dan menjadi gunjingan orang-orang di seantero istana gara-gara berita dirinya mengejar-ngejar Yusuf, kini tersenyum merasa mendapat pembelaan dari peristiwa yang ada atas khilaf yang pernah ia lakukan kepada Yusuf.


Mudahnya semua orang mencibir dan menggunjing Zulaikha atas khilafnya mengejar Yusuf, tapi fakta puluhan dayang-dayang yang mengiris tangan mereka sendiri gara-gara terpesona ketampanan Yusuf, kini jadi penawar cemar nama Zulaikha atas gunjingan yang pernah ada.


Bukan hanya Zulaikha yang kepincut akan ketampanan Yusuf yang begitu sempurna, sehingga membuat Zulaikha khilaf dan mengejar-ngejar Yusuf agar mau melayani dirinya.


Yusuf yang dijebak Zulaikha dalam kamarnya merasa begitu takut kalau perbuatannya nanti diketahui oleh sang raja. Yusup lalu berlari dan menghindar dari kejaran Zulaikha, tapi Zulaikha berhasil mengejar dan meraih baju yang dikenakan Yusuf. Yusuf terus meronta dan berlari untuk menghindari terkaman Zulaikha, sehingga baju yang dikenakan Yusuf pun robek bagian punggungnya.


Saat tragedi kejar-mengejar terjadi, tiba-tiba Sang Raja masuk ke dalam kamar dan menangkap basah Zulaikha yang sedang mengejar Yusuf di dalam kamarnya. Namun sebagai seorang permaisuri raja, Zulaikha ternyata cukup pandai membalikan fakta. Zulaikha lalu menghampiri sang Raja, dengan santainya ia berkata “Wahai Sang Raja, hukuman apa yang pantas bagi seorang yang akan memperkosa seorang permaisuri raja?” ucapnya.


Sebenarnya Sang Raja tahu, kalau Yusuf tidak bersalah, berhubung para ponggawa-ponggawa istana dan dayang-dayang yang ada tiba-tiba hadir dan menyaksikan peristiwa tertangkapnya mereka, sontak berita itu cepat menyebar ke seantero jagat raya.


Yusuf pun di sidang dan diadili di dalam istana, untuk menjaga wibawa dan nama baik kerajaan, Hakim akhirnya memutuskan Yusuf bersalah. Hakim menjatuhkan sanksi dan hukuman penjara kepada Yusuf. Yusuf terpaksa menjalani hukuman atas perbuatan yang sama sekali tidak pernah ia lakukan. Fitnah itu memang kejam, sehingga Yusuf yang benar pun menjadi korban karena dianggap salah oleh mereka yang sedang berkuasa.


Namun seiring waktu berlalu, kebenaran Yusuf mulai mencuat di permukaan khalayak istana. Gunjingan orang-orang di sekitar istana kalau Yusuf itu ada di pihak yang benar dan Zulaikha yang bersalah karena merayu dan mengejar-ngejar Yusuf untuk berbuat mesum, itu terus menyebar tiada henti-hentinya. Zulaikha seperti mendulang air terpercik ke muka sendiri, meski ia berhasil memenjarakan Yusuf, tapi berita yang beredar malah membela Yusuf dan menyudutkan dirinya.


Untuk menutupi malu yang ada, Zulaikha pun mengadakan sayembara lomba mengupas dan memotong timun di aula istana. Semua wanita yang ada dan dayang-dayang yang selama ini menggunjing dirinya, kini dikumpulkan di dalam aula untuk mengikuti lomba. Hasil dari lomba yang ada, kini semua wanita dan dayang-dayang yang dulu kerap menggunjing dirinya kini terdiam memaklumi kekhilafan Zulaikha.

__ADS_1


Mereka semua kini diam dan malu, sebab menggunjing Zulaikha junjungannya. Bukan hanya Zulaikha yang terpesona dengan Yusuf yang begitu tampan sehingga membuat Zulaikha gelap mata ingin melakukan mesum dengannya. Para wanita dan dayang-dayang istana kini bisa merasakan sendiri, akibat terpesona dengan ketampanan Yusuf yang luar biasa, tangan mereka kini luka, akibat teriris sendiri oleh pisau di tangannya saat mereka mengikuti lomba di aula istana.


Next


“Maaf ada yang bisa kami bantu?” tanya pelayan toko kepada mas Bagus.


“Anu mbak, mau cari cincin buat hadiah ulang tahun.” jawabnya.


“Untuk wanita usia berapa tahun bapak?” tanya ramah pelayan tersebut.


Mas Bagus mendongakkan kepala sejenak memandang langit-langit toko perhiasan tersebut, “Untuk wanita usia 25 tahun mbak.” jawab mas Bagus.


“Baik bapak, mari silahkan,” ucapan pelayan toko perhiasan tersebut sambil melangkah ke lemari kaca di sebelah selatan toko itu. Mas Bagus lalu geser lima langkah menuju lemari kaca di sebelah kanan toko tersebut. Pelayan toko lalu menunjukan deretan perhiasan cincin emas permata yang ada di lemari kaca tersebut.


“Silahkan bapak,” ucap pelayan tersebut kepada mas Bagus.


“Yang ini saja mbak,” ucap mas Bagus sambil jarinya mengarah ke cincin permata biru yang ada di lemari kaca.


Pelayan toko lalu mengambil cincin permata biru seberat 4 gram tersebut dan memberikan kepada mas Bagus. Mas Bagus lalu memperhatikan dan menimang-nimang sebentar cincin tersebut di tangannya. “Ya sudah, ini saja mbak,” ucap mas Bagus mantap.


Pelayan toko lalu memasukan cincin tersebut ke dalam kotak kecil berwarna merah dan memasukan ke dalam tas plastik yang tersedia.


Setelah membayar cincin permata biru pilihannya, mas Bagus lalu memasukan cincin tersebut ke dalam tas ransel yang tergantung di atas bahu nya.


“Terimakasih mbak,” pamit mas Bagus kepada pelayan tersebut.


“Ya, sama-sama bapak,” jawab pelayan tersebut.

__ADS_1


Sedetik kemudian setelah mas Bagus berlalu pergi meninggalkan toko perhiasan tersebut “Uuuh... ganteng banget sih tentara itu!” kesiap ucap pelayan toko tadi kepada keempat teman sekerja yang ada di dalam toko.


“Kenapa Tanti… kamu naksir ya?” canda teman-teman lain yang sebenarnya juga sama terpesonanya dengan mas Bagus yang sudah pergi dari hadapan mereka.


“Wah jelas naksir banget, siapa sih yang tidak naksir dengan tentara setampan itu!?” jawab Tanti seiring senyum gembira.


“Sudah ganteng, romantis pula!” ucap Sari sambil tersenyum juga.


“Tau darimana kalau tentara itu romantis?” tanya Siti seiring senyum mengembang kala bertanya kepada Sari.


“Tau dong, buktinya dia beli cincin permata buat hadiah ulang tahun.” jawab Sari sambil senyum.


“Oh, iya ya...!” ucap keempat pelayan toko kompak.


“Walah, cewek-cewek ini ramainya kok kalau ada pembeli yang berwajah tampan saja.” ucap bos mereka sambil ikut tersenyum juga.


“Iya dong Ci, kan kita jadi bisa ikut cuci mata.” jawab Sari bercanda


Seiring senyum yang masih tersisa, Bos tionghoa mereka pun hanya menggeleng-gelengkan kepala, ikut senang dengan keceriaan anak buahnya.


Tiga puluh menit kemudian, setibanya mas Bagus di rumah.


Mas Bagus duduk tenang di sofa sambil menimang-nimang kembali cincin permata biru yang baru dibelinya di toko Srikandi beberapa saat yang lalu. “Semoga saja nanti Yuli senang dengan hadiah cincin ini.” batin mas Bagus.


Seiring senyum, saat mas Bagus menimang-nimang cincin tersebut, bayang wajah cantik Yuli pun kembali tersirat dalam benaknya. “Semoga juga cincin ini nanti pas dan cocok dengan jari lentik Yuli.” ucap mas Bagus sambil memasukan cincin tersebut ke dalam kotaknya kembali, ia lalu bangkit untuk menyimpan cincin itu ke dalam lemari.


Mas Bagus juga berkali-kali memperagakan diri cara mempersembahkan cincin tersebut kepada Yuli di depan cermin kaca lemari. Beberapa kalimat apik, juga berhasil ia rangkai untuk menyatakan isi hatinya kepada Yuli lusa nanti.

__ADS_1


“Yuli, maukah kau menikah dengan ku?” ucap mas Bagus sambil memperagakan diri di depan lemari kaca yang ada di balai rumahnya.


__ADS_2