
Empat puluh hari kemudian, Yuli menggelar acara doa bersama untuk almarhum suaminya. Yuli dan kerabat keluarga juga warga masyarakat sekitar kini berkumpul memadati balai rumahnya. Selepas isya, acara pembacaan Surat Yasin dan tahlil dalam rangka kirim doa untuk almarhum suami pun berjalan cukup hikmat.
Antusiasme warga yang hadir dalam rangka kirim doa untuk almarhum mas Bagus, laksana obat bagi Yuli yang masih dirundung duka. Gema suara warga membaca surat Yasin dan tahlil untuk mendoakan mas Bagus yang telah meninggal dunia, meresap syahdu dalam hati Yuli. Semoga almarhum mas Bagus diampuni segala dosanya, dan dimasukkan ke dalam surganya. Amin
Baru kemarin rasanya mas Bagus mewarnai hidup Yuli dengan kebahagiaan, tapi bak kedipan mata, kini mas Bagus telah kembali ke alam keabadian. Suara, senyum, canda dan tawa almarhum mas Bagus masih melekat erat dalam benak dan tak mungkin bisa Yuli lupa.
Empat puluh hari sudah berlalu semenjak Yuli, Lili dan Nana ditinggal suaminya meninggal dalam musibah kapal selam Nanggala 402. Tiga sekawan itu dirundung sedih karena musibah yang sama. Yuli, Lili dan Nana kini merana dan layu karena tak ada lagi suami yang selalu memanjakan dia dalam cumbu rayu yang dulu pernah mengisi hari-hari mereka.
Hari-hari yang mereka lalui tanpa adanya suami disisi, membuat mereka goyah tanpa pegangan. Hidup yang mereka jalani, terasa timpang seperti burung yang patah sayapnya, sedih dan duka yang mereka alami seakan tak bertepi dalam kesendirian. Di malam hari, bulan dan bintang pun seakan ikut berduka dalam kesedihan mereka.
Hari dan bulan terus berganti, sementara kenangan bersama suami yang penuh canda tawa ria terus membimbing kerinduan mereka hingga air mata pun kerap menetes di pipi. Anak-anak mereka yang masih kecil, menjadi harapan Lili dan Nana untuk tetap optimis dalam menjalani hidup dan masa depan yang ada. Wajah anak-anak mereka yang masih imut, lucu dan tak berdosa itu, menjadi penguat Lili dan Nana untuk bangkit dan sembuh dari segala duka dan kesedihan yang kerap datang melanda jiwa.
Sebagai wanita, Lili dan Nana tak bisa menepis kesedihan yang kerap menghampiri, bila ia melihat anaknya yang masih sekecil itu kini harus hidup tanpa seorang ayah disisi. Lili dan Nana hanya bisa mengelus dada dan meneteskan air mata bila melihat wajah si kecil yang masih membutuhkan bimbingan seorang ayah, kini menjadi yatim adanya.
__ADS_1
Namun keceriaan mereka dalam bermain bersama anak tetangga lainnya, kadang membuat senyum Lili dan Nana kerap mengembang juga. Anak-anak mereka yang masih kecil dan belum tahu apa-apa itu, tetap tersenyum dan selalu ceria bak mentari yang tak pernah bosan menerangi alam jagat raya ini.
Selama ini kerabat keluarga dan handai tolan saling menguatkan mereka untuk menerima segala kenyataan yang ada. Tujuh bulan sudah berlalu, wajah Yuli, Lili dan Nana kini mulai bersinar lagi. Tiga Srikandi itu mulai bangkit dalam menapaki hari, derita dan duka yang dulu singgah, kini mulai sembuh seiring putaran roda kehidupan yang terus berganti. Mendidik dan membesarkan anak-anak agar menjadi generasi yang sukses di masa depan, menjadi cita-cita mereka.
Sementara Yuli yang kini sudah kembali ke kampung, juga sudah mulai terbiasa menjalani hidup yang ia jalani. Tiga bulan setelah meninggalnya almarhum mas Bagus, Yuli yang kerap teringat dengan nenek dari almarhum mas Budi (suami pertamanya), akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumah nenek nya di kampung. Usia nenek yang semakin tua, membuat Yuli terpanggil untuk merawatnya.
Empat bulan kemudian, Yuli kemudian melahirkan bayi mungil hasil pernikahannya dengan almarhum mas Bagus dulu. Dengan lahirnya putri mungil tersebut, Yuli kini semakin ceria menatap masa depan yang ada. Sesuai pesan dari almarhum mas Bagus dulu, bayi berjenis kelamin perempuan tersebut, ia beri nama ‘Najwa Dwi Anjeli’.
Lahirnya putri kedua Yuli ke dunia, mampu menyibak kesedihan Yuli yang mendadak berubah menjadi bahagia tak bertepi. Bak malam mengganti hari, sejuk pagi dan semilir udara segar seiring senyum mentari menampakkan diri, senyum ceria Yuli pun kini merekah lagi.
Mang Ali dan bik Wati juga berjingkrak ikut merasakan bahagia, karena Yuli (majikannya), kini menatap hari dengan penuh optimis lagi. Berkat jasa Yuli pula, mang Ali dan bik Wati yang selama ini bekerja di warung sate sederhana milik Yuli, mereka bisa menyekolahkan kedua anak mereka.
Demikian pula Yuli, ia merasa sangat beruntung sekali karena kepercayaan yang telah ia berikan kepada mang Ali dan bik Wati untuk mengelola usaha warung sate kambing muda lezat-nya, mereka laksanakan dengan baik sekali. Usaha dagang tersebut, kian eksis dan tetap jaya sampai kini.
__ADS_1
Saat libur sekolah, Aris (adiknya Yuli) memang selalu membantu mang Ali dan bik Wati berjualan di warung sate sederhana tersebut. Tapi kejujuran mang Ali dan bik Wati memang selalu dapat dipercaya, baik dibantu oleh Aris atau pun tidak, mereka selalu melaporkan hasil penjualan satenya secara terbuka setiap hari.
Mang Ali dan bik Wati bukan hanya memiliki kepandaian dalam memasak saja, tapi keluguan dan kejujuran mereka pula yang menjadi salah satu sebab warung sederhana tersebut tetap eksis sampai kini. Meski di sekitar lokasi pasar tradisional tersebut ada beberapa warung yang menjual menu sate yang sama, tapi omset penjualan warung sederhana Yuli tetap selalu terjaga.
Bagi mang Ali dan bik Wati, kejujuran adalah mata uang yang paling berharga. Biar hidup sederhana, asal bisa makan dengan hasil kerja halal, hal tersebut merupakan sebuah anugerah terbesar dari tuhannya. Mang Ali dan bik Wati yang diberi kepercayaan oleh Yuli untuk mengelola warung sate sederhana, selalu teguh memegang amanah dari majikannya. Mereka tak berani mengambil se rupiah, dua rupiah uang majikannya, bila mereka terjepit akan kebutuhan uang untuk keluarganya, maka mang Ali dan bik Wati, lebih memilih untuk berterus terang meminjam kepada majikannya.
Mang Ali selalu ingat akan kehidupan di alam keabadian kelak, bila ia mau mencuri serupiah dua rupiah uang dari majikannya, bagaimana cara ia mengembalikan uang tersebut kelak pada hari yaumul hisab dan hari perhitungan amal nanti di alam mahsyar? Padahal semua amal perbuatan manusia selama hidup di dunia ini, sebutir debu kebaikan dan keburukan setiap amal perbuatan, itu tidak akan bisa lepas dari perhitungan di hari yaumul hisab dan yaumul mizan (hari pertimbangan amal) kelak di alam mahsyar. Hal inilah yang membuat mang Ali dan bik Wati selalu setia dan jujur dalam bekerja.
Putri pertama Yuli (Putri Kusuma Aprilia) juga begitu senang dengan kehadiran Anjeli adik kecilnya. Yuli dengan penuh cinta kasih tetap fokus merawat kedua anaknya yang masih kecil tersebut. Selama Yuli mengasuh anak dan juga neneknya, tak lepas dari bantuan bik Wati yang selalu mengerti.
Selama ini Yuli memang selalu menganggap bik Wati dan mang Ali sebagai keluarga, sehingga dalam hal apapun juga mereka selalu ringan untuk saling membantu antar sesama. Yuli juga tak segan untuk membantu kesulitan bik Wati dan mang Ali dalam merenovasi rumah mereka yang sudah cukup tua.
Kesederhanaan dan kejujuran sepasang suami istri (mang Ali dan bik Wati) yang selalu taat menjalankan shalat lima waktu tersebut, terlihat selalu bahagia dalam menjalani hidup mereka. Yuli merasa begitu salut dengan kesederhanaan kedua pembantu setianya tersebut. Kedua anak mereka yang masih duduk di bangku sekolah SD dan SMP juga begitu patuh dan penurut kepada kedua orang tua mereka. Kesederhanaan mereka yang selalu hidup apa adanya, membuat Yuli menjadi mengerti, kalau harta yang paling berharga dalam hidup adalah keluarga.
__ADS_1