Cinta Merah Jambu

Cinta Merah Jambu
Tumbuh Kembang


__ADS_3

Najwa Dwi Anjeli, kian tumbuh besar, ia semakin lincah bergerak kesana-kemari bermain di atas tikar yang Yuli gelar. Wajah mungil Anjeli sangat cantik dan menggemaskan siapa saja yang memandang. Kerabat dan para tetangga, juga selalu senang menggendong Anjeli kecil yang lucu, cantik, imut dan selalu mengundang kerinduan. Dengan penuh kasih sayang Yuli merawat Anjeli yang kian tumbuh kembang bak kuncup bunga yang selalu disenangi puluhan kumbang.


Seiring waktu terus berputar, setiap seminggu sekali, Yuli selalu menyempatkan diri untuk datang ke warung sate sederhana miliknya di dekat pasar tradisional. Walau hanya sebentar mengunjungi warung miliknya, Yuli tampak puas dengan keadaan warung sederhananya yang tetap rapi dan bersih seperti saat ia masih aktif berjualan. “Mang Ali dan bik Wati memang sosok orang yang sangat rajin.” batin Yuli.


Mang Ali dan bik Wati bukan hanya sekali dua kali mendengar ceramah agama dari para dai yang menerangkan sebuah hadis yang berbunyi ‘Annadhofatu minal iman’ (kebersihan itu adalah sebagian dari iman), tapi kebiasaan mereka yang selalu rajin dalam bekerja dan selalu menjaga kebersihan, seolah sudah melekat dalam jiwa mereka. Tanpa mereka sadari, kebiasaan, jujur dan rajin dalam bekerja tersebut merupakan wujud dari pengamalan iman yang sudah menjadi laku hidup dalam keseharian mereka.


Waktu terus berputar, kini Yuli mulai menatap masa depan dengan penuh senyuman, kedua sahabatnya yakni Lili dan Nana, kini sudah move on juga. Setelah meninggalnya suami mereka dalam musibah kapal selam Nanggala 402, mereka juga mendapat santunan dari pemerintah.


Bapak Ir. Joko Widodo selaku Presiden Republik Indonesia menyatakan, bahwa pemerintah, akan memberikan santunan kepada seluruh istri dari 53 awak Nanggala yang telah menjadi kusuma bangsa. Seluruh prajurit awak nanggala 402 yang telah meninggal, dinaikkan pangkatnya satu tingkat lebih tinggi dan santunan berupa rumah dan biaya pendidikan bagi anak-anak mereka hingga sampai ke jenjang S1. Menteri Sosial Tri Rismaharini juga siap menempatkan anak-anak dari awak nanggala 402 yang telah lulus dari perguruan tinggi (S1), untuk ditempatkan dan bekerja di Instansi Dinas Kementerian Sosial.


Diantara sekian srikandi dari 53 awak nanggala 402 yang kini telah menjadi janda, Yuli, Lili dan Nana tidak hanya mau berpangku tangan dengan keadaan yang ada. Meski mereka sudah mendapatkan santunan dari pemerintah dan juga rumah serta biaya pendidikan untuk anak-anak mereka, Yuli, Lili dan Nana tetap bergerak dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari mereka. Lili terus mengembangkan usaha salon miliknya, dan Nana juga membuka cabang baru usaha kuenya di kota.


Tiga sekawan itu (Yuli, Lili dan Nana) tidak dapat mengelak akan kenyataan yang harus mereka terima. Kalau boleh memilih, saat suami mereka berangkat bertugas, mereka ingin suami mereka kembali ke pangkuannya, namun takdir berkehendak lain, sebab suami mereka berpatroli hingga di keabadian dalam menjaga Kedaulatan Negara Indonesia.


Meski kesedihan masih melanda, tapi untuk memenuhi kebutuhan hidup yang ada, mereka harus tetap bergerak dan bekerja. Lili sudah memiliki cabang salon kecantikan baru dengan tiga karyawati yang terampil dan terlatih dalam manicure, pedicure dan make up, yang selalu siap mempercantik penampilan setiap klien yang datang ke salon kecantikannya. Sementara Nana juga sudah memiliki gerai bakery baru yang siap menerima pesanan dan delivery order setiap pembeli dan pelanggan lainnya.

__ADS_1


Yuli kini menikmati masa bahagia bersama Putri Kusuma Aprilia dan si kecil Najwa Dwi Anjeli anaknya, baginya waktu yang sangat berharga adalah bersama keluarga, merawat dan mendampingi kedua anaknya juga neneknya.


Sejak Yuli menjadi janda, memang banyak sekali mata para laki-laki yang melirik dan memandang Yuli dari sekian jarak. Yuli yang cantik tinggi semampai bak dewi dari kayangan memang selalu menjadi perhatian siapapun juga yang melihatnya. Bila Yuli melintas di jalan raya dengan sepeda motornya, tak jarang dari sekian kaum pria yang ada, kerap berkata “Nah ini dia, the next kepala desa kita.” ucap mereka.


Warga masyarakat desa memang cukup kecewa dengan kepemimpinan pak Seno selaku kepala desa yang telah mereka perjuangkan hingga menjadi kepala desa. Pak Seno yang menjabat kepala desa untuk kali kedua di desa mereka, kini bersikap apatis dan lebih banyak memperkaya diri saja.


Sore itu, semilir udara bergerak cukup pelan, membuat suasana desa terasa sangat tentram. Dan entah ada angin apa, hingga sore itu tiba-tiba pak Seno datang mengunjungi Yuli yang cantik dan rupawan. Setelah berbasa basi sejenak, pak Seno kemudian meminta kesedian Yuli untuk ikut andil dalam menjalankan roda pemerintahan di desa. Kekosongan pengurus baru di periode kedua Badan Usaha Milik Desa (BUMdes), membuat pak Seno kemudian melirik Yuli, agar bersedia menjadi pengurus BUMdes. Namun kesibukan Yuli dalam mengurus kedua anaknya yang masih kecil, menjadi alasan Yuli untuk menolak tawaran pak Seno tersebut.


“Baiklah, kalau memang itu yang menjadi alasan mbak Yuli menolak tawaran kami, harapan kami, kalau anak-anak mbak Yuli sudah besar nanti, mbak Yuli akan bersedia menjadi pengurus BUMdes.” ucap pak Seno di akhir kunjungannya.


“Apakah karena almarhum mas Budi (suami pertama Yuli), dulu kalah bersaing dalam pemilu kepala desa dengan pak Seno, hingga membuat pak Seno meminta Yuli untuk ikut andil di pemerintahan desa?” Yuli pun tak tahu, akan tanya yang tiba-tiba muncul di dalam benaknya.


Yuli yang tidak tahu menahu tentang urusan pemerintah desa apalagi soal BUMdes, merasa cukup heran dengan kehadiran pak Seno yang tiba-tiba datang ke rumah dan meminta kesediaan dirinya untuk menjadi pengurus BUMdes. Seiring angin berlalu, Yuli pun cepat melupakan kehadiran pak Seno beberapa hari yang lalu.


Tiga bulan kemudian, pak Seno datang lagi ke rumah Yuli. “Begini mbak Yuli, kedatangan saya kesini, yang pertama adalah untuk bersilaturahmi. Dan yang kedua, kebetulan BUMdes sedang membutuhkan pengurus baru untuk masa kepengurusan tiga tahun ke depan. Sehubungan dengan kesuksesan mbak Yuli dengan usaha warung sate kambing muda lezatnya, maka saya selaku kepala desa, meminta kesediaan mbak Yuli untuk membantu BUMdes.” ucap pak Seno.

__ADS_1


Yuli tersenyum sejenak, “Kalau saya dibilang sukses? kayaknya belum lah pak kades, cuma kebetulan saja, usaha warung sate saya itu sudah cukup lama, jadi ya alhamdulillah sudah banyak pelanggannya. Tapi kalau soal menjadi pengurus Bumdes, terus terang saja, saya belum tahu peraturan dan mekanismenya itu seperti apa, pak kades?”.


“Itu soal gampang mbak Yuli, Bumdes itu Badan Usaha Milik Desa, yang menangani berbagai macam usaha-usaha yang ada di desa, seperti Simpan-pinjam, Persewaan, Perdagangan, Peternakan, Wisata Desa dan lain-lain. Dan 50 persen modal usaha Bumdes itu dari pemerintah desa, dan untuk kewajiban pengurus Bumdes adalah melaporkan hasil usaha Bumdes tersebut kepada pemerintah desa setiap satu tahun sekali. Soal kepengurusan dan lain-lain, nanti bisa mbak Yuli tanyakan kepada saya atau sekretaris desa.” terang pak Kades.


“Lah pengurus BUMdes yang lama kemana toh pak kades?” tanya Yuli.


“Pengurus Bumdes yang lama yaitu mas Galih sebagai ketua Bumdes, mbak Fitri sebagai sekretaris dan Rico sebagai bendahara. Mereka bertiga sudah selesai masa jabatannya, dan entah mengapa mas Galih sebagai ketua Bumdesnya tidak mau melanjutkan masa kepengurusan Bumdes pada periode kedua ini. Sementara Rico dan mbak Fitri sebagai bendahara dan sekretaris Bumdes, ketika saya tunjuk untuk naik menjadi ketua Bumdes, mereka menjawab belum siap secara mental bila harus menjadi ketua.” jawab pak Kades.


“Apa tidak ada orang lain selain saya pak kades?” tanya Yuli.


“Tidak ada mbak Yuli, mbak Yuli tahu sendiri kan, warga masyarakat disini, mereka rata-rata lebih senang hidup merantau di kota.” jawab pak Kades.


Yuli diam sejenak mendengar jawaban pak kades, “Baiklah pak kades, kalau memang tidak ada orang lain yang bersedia menjadi pengurus Bumdes, minggu depan saya akan coba ke kantor desa untuk menanyakan hal-hal lain mengenai Bumdes agar saya lebih paham lagi.”.


“Terima kasih atas kesedian mbak Yuli, yang akan datang ke kantor desa nanti, harapan kami, mbak Yuli nanti bersedia untuk menjadi pengurus Bumdes, sebab Bumdes butuh orang-orang yang sudah cukup berpengalaman dalam bidang usaha seperti mbak Yuli ini.” ucap pak Kades saat pamit.

__ADS_1


“Insya allah, akan saya coba pak,” jawab Yuli sambil tersenyum saat melepas kepergian pak Seno.


__ADS_2