Cinta Tak Bersuara

Cinta Tak Bersuara
Chapter 1


__ADS_3

“Kapan Mas mau menikahiku?” Layla membuka suaranya pada sosok kekasihnya yang kini tengah memegang kedua tangannya.


Bayu melepaskan tangannya dari Layla, ia merasa belum siap untuk melangkah ke hubungan yang lebih serius. “Kamu nggak capek apa? Setiap ketemu nanya itu mulu.” Bibir Bayu manyun menahan kesalnya kepada Layla.


“Aduh … Mas. Aku ini cuma sendiri, tidak ada orang tuaku yang perlu Mas pikirkan akan restu mereka. Mas menikah denganku juga tidak akan menambah beban Mas. Aku juga kerja untuk kebutuhan sendiri,” ungkap Layla akan keinginannya.


“Tapi aku belum siap, La.” Bayu mengelak, “ini bukan masalah uang, tapi ini masalah karirku di kantor. Ini sudah peraturan kantor untuk karyawan di posisiku sekarang belum boleh menikah. Tunggu dulu aku naik jabatan, baru kita bisa menikah.”


“Iya! tapi sampai kapan aku menunggu, Mas? Aku butuh Mas setiap hari menemaniku, aku sudah bosan hidup sendiri kayak gini sejak keluar dari panti.” Layla menundukkan kepala, ia raih jus jeruk yang ia pesan di kafe tempat mereka duduk sekarang.


Bayu mengusap pelipis matanya, ia tatap wajah tirus Layla yang telah menjadi kekasihnya hampir 2 tahun ini. Gadis itu berbeda dari mantan-mantannya yang dulu. Setia, tidak banyak bicara, tidak banyak minta, dan yang paling ia sukai cantik dan tidak matre. Tapi belakangan Layla semakin sewot meminta segera dinikahi. Gadis yatim piatu itu mengaku bosan hidup sendiri dan ingin segera mendapatkan pendamping untuk hidupnya.


Sementara Bayu masih belum siap untuk itu. Ia baru bekerja 3 bulan di kantor barunya, dan peraturannya, ia dilarang menikah selama belum mendapatkan status karyawan tetap di perusahaan yang bergerak di bidang otomotif tempatnya bekerja. Selama statusnya masih karyawan kontrak, Bayu dilarang untuk menikah. Hal tersebut diatur perusahaan agar kemampuan Bayu dapat dieksplore dengan maksimal sebelum dijadikan karyawan tetap.


Bayu masih menatap lekat wajah Layla, gadis itu masih manyun seperti menahan kesal kepadanya. “Kamu yang sabar ya, La. Nanti setelah aku naik jabatan aku akan langsung menikahimu, itu janjiku, La.” Bayu menatap Layla penuh kesungguhan. Namun wajah gadis itu tetap kesal kepada Bayu.


Setelah selesai menghabiskan waktu bersama di kafe, Bayu dan Layla meninggalkan kafe dengan mobil hitam milik Bayu. Jalanan tidak terlalu macet, sehingga Bayu bisa memacu mobilnya lebih cepat memecah jalanan kota.


“Kita mau kemana lagi, La? Kamu punya ide tempat untuk kita kunjungi?” Bayu membuka suara, ia raih tangan Layla dan ia genggam dengan erat.


“Hmm … aku bingung mau kemana, Mas. Terserah Mas aja mau kemana,” jawab Layla, ia bersandar di sandaran kursi dan memejamkan matanya sejenak.


Bayu menoleh, ia tersenyum tipis melihat wajah cantik kekasihnya. Ia kemudian melepaskan tangan Layla yang ia pegang. Kemudian ia mengusap ubun-ubun Layla dan mengacak-acak rambut kekasihnya itu dengan gemas.

__ADS_1


“Kamu lucu amat sih, La.” Bayu memelas manja pada Layla.


“Ihh! Mas! Rusak rambutku.” Layla dengan kesal menggerutu karena tingkah Bayu.


Bayu menoleh lagi pada Layla yang tengah mermperbaiki rambutnya yang kusut karena ulahnya tadi. Ia seperti memiliki ide untuk menghabiskan malam minggu mereka. Tapi ini masih sore, ia bisa mengajak Layla untuk ke pantai lebih dulu.


“Kita ke pantai dulu ya, La. sore-sore gini lihat sunset kan lumayan. Romantis seperti para penikmat senja,” gurau Bayu setengah tertawa.


“Boleh, Mas. Aku juga ingin menikmati kelapa muda sore ini.” tutur Layla dengan semangat.


Mobil Bayu melaju cepat menuju sebuah pantai. Jalannya terlihat sedikit padat karena banyak pasangan muda mudi yang juga ke pantai menghabiskan waktu sore mereka. Bayu memilih lokasi yang sedikit sepi dan memarkir mobilnya di pinggir jalan. Mereka kemudian turun dari mobil.


Bayu berjalan ke tepi pantai sementara Layla menuju pedagang kelapa muda yang ada di pinggir jalan. Layla memesan 2 es kelapa muda. Sembari menunggu pesanannya siap, Layla memandang punggung Bayu dengan tersenyum. Laki-laki berkaos putih dengan celana denim selutut, tampak gagah dengan tubuhnya yang tinggi.


Sudah hampir 6 tahun Layla keluar dari panti dan bekerja mandiri, hidup seorang diri melawan kerasnya dunia. Usianya juga sudah menginjak 26 tahun. Sudah cukup matang untuk menikah, tapi Bayu masih saja mengelak dengan alasan pekerjaan.


“Ini dek! Udah siap.” Suara ibu-ibu pedagang kelapa muda mengagetkan lamunan  Layla.


“Eh! Iya bu. Berapa harganya?” Layla mengambil kelapa muda dari tangan pedagang tersebut.


Setelah membayarnya, lekas Layla berjalan menghampiri Bayu yang masih berdiri di tepi pantai. Suara deburan ombak terdengar jelas di telinga Layla, menambah suasana romantis mereka dibawah langit jingga.


“Ini kelapa muda buat, Mas.” Layla memberikan kelapa muda kepada laki-laki itu.

__ADS_1


“Makasih sayangku. Aduh ... tambah cantik saja sore-sore gini.” tutur Bayu dengan manja, ungkapan laki-laki itu membuat Layla bersemu merah di pipinya yang kuning langsat.


“Jangan gombal gitu, Mas.” Layla berbalik badan menahan rasa malunya.


Bayu tertawa tipis melihat tingkah Layla. Ia menarik Layla dan memeluk kekasihnya itu. Namun lekas Layla melepaskan dirinya. “Jangan coba-coba, Mas! Nikahi aku dulu, baru minta lebih.“ Layla menoleh dengan mata menyipit kesal dengan Bayu.


“Kita udah jalan 2 tahun lo La, kamu masih saja kayak gini. Kayak pacaran anak smp aja.” Bayu duduk di pasir, nada suaranya mengejek sikap Layla.


“Mas itu! Hargai dikit arti pernikahan apa salahnya sih.” Bibir Layla mengerucut kesal dengan Bayu.


“Iya-iya. Ayo duduk, langitnya sudah memerah tuh.” Bayu menarik tangan Layla untuk duduk disampingnya.


“Layla menurut, ia duduk di samping Bayu, mereka memperhatikan langit senja yang mulai gelap, meninggalkan cahaya terang siang berganti jingga yang memerah.


Mata Layla berbinar, melihat keindahan di depan matanya. Ia bahkan tidak sadar jika tangan Bayu sudah berkalung di pinggangnya dari belakang. Bayu menyandarkan kepalanya di bahu Layla. Telinga mereka menikmati deburan ombak yang terdengar indah bak simponi musik. Mata mereka dimanjakan oleh burung-burung yang beterbangan dengan latar senja. Apakah ini yang selalu dirasakan para penikmat senja?


Ahh! romantis sekali. Tangan Bayu perlahan bergerak mengusap pinggang Layla, kemudian perlahan naik mengusap lembut punggung Layla yang masih menikmati cahaya jingga di langit. Saat tangan Bayu bergerak nakal hendak mengusap perut Layla dengan tangannya yang tadi mengusap punggung Layla. Layla tersadar dengan keadaan, ia merasa geli pada area tubuhnya yang belum pernah disentuh orang lain.


“Mas!” Suara Layla menderu penuh kemarahan, kepalanya berputar, menoleh kepada Bayu.


Deg!


Jantung Layla berdetak cepat melihat wajah Bayu yang begitu dekat dengan wajahnya, deru hangat nafas Bayu bahkan terasa menghempa kulit pipinya. Perlahan Bayu semakin mendekatkan wajahnya. “Aku mencintai, La.” Bayu bertutur lembut, ia pejamkan matanya menikmati apa yang selama ini ingin ia rasakan dari Layla.

__ADS_1


__ADS_2