Cinta Tak Bersuara

Cinta Tak Bersuara
Chapter 9


__ADS_3

Dinan baru saja sampai di rumah ayahnya dengan mengendarai mobil seorang diri. Pintu gerbang langsung dibuka untuknya. Dan Dinan lekas melajukan mobilnya untuk diparkirkan di teras rumah, tepat disamping mobil Tuan Marc. Sejenak Dinan menarik nafas panjang, ia masih belum tahu apa maksud sang ayah menyuruhnya untuk pulang hari itu.


Lekas Dinan turun dari mobil, ia berjalan cepat masuk ke dalam rumah, melewati ruang tamu dan menuju ke ruang tengah. Mata Dinan tersenyum melihat adik kecilnya yang tengah duduk menonton tv seraya memeluk boneka beruang berwarna coklat. Ibu tirinya, Bu Eva menemani adiknya itu seraya membelai rambut gadis cilik yang imut itu.


"Risa ...." Dinan memanggil adiknya.


Risa dan Bu Eva menoleh kepada Dinan. Senyuman seketika mengembang di bibir Risa yang senang melihat kepulangan kakaknya.


"Kakak ...." Risa turun dari sofa dan berlari mengejar Dinan.


Lekas Dinan berjongkok menyambut tubuh adiknya yang memeluknya untuk melepas rindu.


"Semakin cantik aja adik kakak ini." Dinan membelai rambut adiknya dan menciumnya berkali-kali.


"Risa rindu sekali sama kakak. Kakak kok jarang sih pulang ke sini?" Risa memeluk erat tubuh Dinan yang kekar dengan tubuhnya yang mungil.


"Pekerjaan kakak lagi banyak, Sayang." Dinan berkilah, ia tutup jauh-jauh luka yang sebenarnya membuat dirinya seperti itu.


Mata Dinan mengedar, ia melihat sosok Layla yang tengah duduk di dekat meja kolam renang bersama ayahnya. Pikiran Dinan berputar, kenapa gadis itu ada disana? Ada hubungan apa gadis itu dengan ayahnya?


Lekas Dinan menggendong tubuh adiknya dan mengantarkannya ke sofa tempat Risa duduk tadi. "Risa duduk sama Bunda disini, ya! Kakak mau bicara sama ayah dulu."


"Kakak nggak beliin Risa es krim? Biasanya kakak selalu beli es krim jika kesini," ucap bocah perempuan itu dengan memanyunkan bibirnya.


Ahh! Dinan lupa untuk hal yang satu itu, ia tadi terlalu terburu-buru karena disuruh bergegas ke sana oleh Tuan Marc. Sehingga hal yang selalu ia bawa untuk adiknya itu sampai lupa ia belikan.


Tangan Dinan membelai lagi rambut adiknya yang masih manyun dengan melipat tangan di depan dada. "Nanti kakak belikan ya, Sayang. Kakak harus ketemu ayah dulu."


"Udah Dinan! Kamu temui saja ayah sana, jangan terlalu dituruti keinginan Risa, nanti dia jadi manja." Bu Eva menyahuti Dinan, karena sadar Tuan Marc tengah menunggu putranya itu.


"Baik, Bun!" jawab Dinan dengan nada rendah, ia kemudian berdiri dan berjalan menuju kolam renang.


Dinan melangkah cepat, ia mendorong pintu kaca dan lekas menarik kursi di samping Layla yang tampak kaku melihat kedatangannya. Dinan dengan cepat mengambil teh hangat Layla dan meminumnya hingga habis. Membuat Tuan Marc memandangnya dengan mata menyipit geram.


"Itu minuman Layla, kenapa malah kamu yang meminumnya?" Tuan Marcnbersuara kesal kepada anaknya.

__ADS_1


"Dia tidak akan meminumnya," jawab Dinan dengan ketus. "Jadi ada perlu apa Ayah menyuruhku kesini?"


Tuan Marc melepas nafas panjang, ia semakin kesal dengan Dinan.


"Layla! Jadi apa jawabanmu? Mau atau tidak?" suara Tuan Marc bergema penuh ketegasan, mengintimidasi Layla yang merasa terpojok sekarang.


Sekarang Dinan pun juga ikut menyorot Layla dengan tajam. "Sa-saya ...." Layla bingung, ia tidak mungkin menjawab iya, tapi tidak mungkin juga menolak permintaan Tuan Marc. Pikirannya melayang mengingat sosok Bayu yang sekarang ia harapkan ada disana untuk membela dirinya.


Suasana hening sesaat, Dinan dan Tuan Marc masih menunggu jawaban Layla. Namun gadis itu tak kunjung bersuara lagi.


"Aku tidak punya banyak waktu, Yah! Katakan saja ada perlu apa? Lalu kenapa perempuan ini ada disini?" Suara Dinan menekan Layla yang semakin membatu, untuk bergerak sedikit saja ia takut.


"Layla!" Tuan Marc bergumam keras.


"Sa-saya patuh sama Tuan." Layla menjawabnya dengan penuh rasa tertekan. Tak apa ia berkorban menjadi istri seorang Dinan yang dinilainya tempramen, suka memerintah, sok berkuasa, dan tak punya hati sama sekali. Asalkan adik-adiknya di panti tidak terusir dan hidup menggelandang di jalanan.


Tuan Marc tersenyum senang mendengar jawaban Layla. Cukup mudah ternyata membuat Layla menurut patuh. Gadis itu tertunduk lemah, berusaha menguatkan dirinya untuk berkorban demi panti asuhan yang sangat berjasa dalam hidupnya.


"Ayah! aku tidak ada keperluan apapun dengan dia, sekarang katakan saja apa maksud ayah menyuruhku kesini." Dinan berbicara tegas.


"Dia sudah menerimamu sebagai suaminya. Sekarang kita bisa atur pernikahanmu." Tuan Marc berseru senang. Ia kemudian memperbaiki posisi duduknya dan menatap Dinan yang tampak kaget dengan ucapannya barusan.


"Iya! Sebagai gantinya panti asuhan yang Ayah bilang kemarin tidak boleh kamu gusur," jawab Tuan Marc.


"Ayah gila ya! Ayah sama saja membeli perempuan ini untuk menikah denganku. Dan Ayah tahu, cuma perempuan malam yang bisa dibeli."


"Dinan!" Tuan Marc berteriak tegas. "Jaga mulutmu! Layla ini perempuan baik-baik."


"Semua perempuan sama saja, Yah! Matre, mata duitan, apa lagi yang bisa dibeli. Jika Ayah mau cucu dariku, aku bisa berikan untuk Ayah. Beri aku waktu untuk itu." Tukas Dinan dengan tegas.


Layla terpaku mendengar penghinaan Dinan, ingin ia berteriak dan memaki mulut laki-laki itu. Tapi apalah dayanya, ia hanya bisa diam, jika ia melawan, habis sudah karir dan panti asuhannya. Tak tega Layla melihat adik-adiknya hidup di jalanan. Anak-anak yang bernasib sama dengan dia.


"Cukup, Dinan! Ayah tidak hanya ingin cucu, ayah ingin seorang perempuan terbaik untuk merawat dan menjagamu, serta merawat dan mendidik cucu ayah," jawab Tuan Marc.


Dinan menggertakkan giginya dengan kesal. Ia berdiri dan pergi tanpa berbicara apapun lagi. Meninggalkan Tuan Marc dan Layla yang terdiam melihat kepergiannya.

__ADS_1


Langkah Dinan sejenak terhenti di ruangan tengah, ia melihat Bu Eva yang membawa segelas susu coklat untuknya dari dapur.


"Kamu mau kemana, Nan? Bunda baru membuatkanmu susu," tutur Bu Eva.


Dinan tak menanggapinya, ia berjalan menuju sofa dan mengusap rambut adiknya. Risa yang tengah asyik menonton tv seketika menoleh kepadanya. Bocah cantik itu tersenyum memandang Dinan.


"Kakak kenapa? Kok wajah kakak gitu?" ucap Risa dengan polos.


Dinan tersenyum getir, ia kecup kening adiknya dengan lembut. Cuma Risa satu-satunya perempuan yang ia sayangi dan ia percaya di dalam hidupnya. Bocah polos yang tak mengenal apa itu pengkhianatan.


"Kakak nggak apa-apa, Sayang. Kakak pergi dulu ya. Nanti kalau kakak ke sini lagi, kakak akan bawakan Risa es krim yang gede." bujuk Dinan untuk adiknya.


"Es krim gede, kak?" tanya Risa yang terlihat semangat mendengarnya.


Dinan mengangguk pelan dan mengecup kening adiknya lagi.


"Nan! Kamu ....."


"Udah Bun!" potong Dinan. Ia kemudian mengusap lagi rambut Risa. "Kakak pergi dulu ya, nanti ke sini lagi."


Dinan kemudian pergi tanpa mendengar apa yang ingin diucapkan Bu Eva kepadanya. Bu Eva kemudian menoleh kepada Tuan Marc yang memperhatikan dirinya ia kemudian menggeleng.


Tuan Marc melepas nafas berat. "Kamu jangan masukan ke hati ucapan Dinan tadi, Layla. Seperti yang aku bilang, dia memiliki trauma kepada perempuan, sehingga sikapnya keras seperti itu kepadamu."


"Ta-tapi Pak Dinan merendahkan diriku, Tuan."


"Layla!" gumam Tuan Marc. "Aku sudah bilang jika ia mengalami trauma, aku sudah mencari tahu siapa kamu dan bagaimana dirimu. Aku percaya sama kamu, sekarang kamu nggak perlu khawatir, Dinan urusanku, persiapan saja dirimu dengan baik untuk menjadi istri Dinan.'


"Tuan, saya-"


"Kamu sudah menjawab iya, Layla! Tak ada alasan lagi untuk membantah. Saya sudah mencari calon istri untuk Dinan, dan sekarang saya merasa kamu sangat cocok dengan karakter Dinan." Tegas Tuan Marc.


"Benar, La." suara Bu Eva terdengar mendukung pendapat suaminya. Istri Tuan Marc itu menaruh segelas susu coklat di depan Layla.


"Dinan itu anak baik, buktinya ia memberikan susunya ini untukmu," lanjut Bu Eva.

__ADS_1


Layla terpaku, ia membisu tak tahu bicara apalagi, apa dia sudah salah menjawab atas permintaan Tuan Marc tadi. Jika ia menikah dengan Dinan, apa dia akan bahagia? sekaya dan setampan apapun Dinan, itu bukanlah jaminan kebahagiaan.


Apalagi Dinan orangnya tempramen, bagaimana jika nanti Dinan melakukan KDRT kepadanya? Bagaimana jika Dinan sebenarnya tidak ada trauma dengan perempuan? Lalu selingkuh dan menyakiti dirinya? Bagaimana nanti dengan Bayu? Apa dia bisa melupakan cintanya kepada Bayu?


__ADS_2