Cinta Tak Bersuara

Cinta Tak Bersuara
Chapter 11


__ADS_3

Pagi segera menjelang, Dinan baru saja bangun dan memeluk erat Risa yang tidur di sampingnya, gadis imut dan lucu itu tampak sangat menikmati kehangatan pelukan Dinan. Membuat Dinan tersenyum memandang pipi chubby adiknya. Dinan mengecup lembut dahi dan pipi Risa. Membuat gadis kecil itu sedikit menggeliat dalam nyenyak tidurnya.


Lekas Dinan berdiri, ia berjalan menuju kamar mandi kamarnya, kamar yang sudah sangat lama tidak ia tempati lagi. Setelah selesai mandi, Dinan mengeluarkan ponselnya dan menyuruh Richard mengantarkan pakaian kerjanya ke rumah Tuan Marc.


“Halo, Pak! Tumben menelfon saya pagi-pagi kayak gini.” tutur Richard saat mengangkat panggilan Dinan.


“Kamu ambil pakaian kerjaku di apartemen, lalu antar ke rumah ayah. Aku semalam tidur di rumah ayah.” Dinan memberi perintah.


“Kenapa Bapak bisa ada di rumah Tuan Marc?” tanya Richard yang merasa aneh dengan sikap Dinan. Ia tahu betul seperti apa masalah Tuan Marc dan Dinan selama ini.


“Jangan banyak tanya, antar saja ke sini. Jangan sampai telat!” Dinan mematikan ponselnya dan kemudian lekas kembali naik ke ranjang. Memandangi lagi wajah Risa yang tidur miring ke kanan dengan tangan kanan yang menopang pipi chubbynya. Dinan tersenyum tipis. “Sa, kamu harus jadi perempuan berbeda ya, jangan seperti perempuan-perempuan pengkhianat dan tidak tahu diri itu.” Dinan bergumam.


***


Siang yang terasa panas dengan sinar matahari yang sangat terik, namun di dalam ruangan kerja marketing manager Marc property suhu terasa sedikit lebih sejuk dengan bantuan  pendingin ruangan. Tapi bagi Layla,


suhu di bawah ac ruangan itu masih terasa panas seperti di luar gedung. Ia tengah sibuk merangkum laporan anak perusahaan untuk dilaporkan kepada Pak Denis nanti sore.


Yang membuat Layla gelisah adalah tentang Dinan. Apa Dinan menyetujui pernikahan itu? Semoga saja tidak, dan Tuan Marc mau membantu pantinya tanpa imbalan apapun darinya. Namun semuanya itu terasa mustahil saja, karena panggilan itu sudah datang dari Pak Denis.


“Layla!” Pak Denis mendekati meja Layla dengan wajah gelisah.


“I—iya, Pak!” jawab Layla yang juga gelisah, ia menoleh dan melihat Pak Denis yang sama gelisahnya dengan dia.


“Kamu tidak jadi mendapatkan dokumen itu dari Tuan Marc kemarin?” tanya Pak Denis.


Layla melepas nafas berat, kemudian menggeleng dengan lesu. “Ahh! Kamu ini! Aku butuh kamu bekerja disini, tapi kamu malah melakukan kesalahan seperti ini,” ucap Pak Denis yang seketika menarik perhatian Emma.


“Ma—maaf, Pak! Saya tak seharusnya meminta itu kepada Tuan Marc dan Pak Dinan, saya hanya ingin panti saya tidak digusur Pak,” aku Layla dengan lemah.

__ADS_1


“Sekarang kamu ke ruangan Pak Dinan, Pak Richard bilang kalau Pak Dinan ingin menemuimu,” jawab Pak Denis. Pak Denis kemudian kembali masuk ke ruangannya, meninggalkan Layla yang mengusap wajahnya karena rasa frustrasi. Ke ruang Pak Dinan? hati Layla bergetar, apa dia benar-benar akan menikah? Atau Dinan mau memecatnya hari itu?


“SStttt! Layla!” Emma memanggil Layla dengan setengah berbisik.


Layla mengangkat kepalanya dan menoleh melihat Emma, ia memaksakan dirinya untuk tersenyum tipis menjawab panggilan sahabatnya itu.


“Belum selesai masalah kemarin?” tanya Emma.


Lagi. Layla hanya bisa melepas nafas berat. Ia menggeleng dan kemudian berdiri. Meninggalkan meja kerjanya, menyusuri lorong lantai tersebut dan berbelok menuju pintu lift. Meninggalkan Emma yang menatap kepergiannya penuh rasa prihatin.


Layla menunggu pintu lift terbuka, terdapar 2 lift disana, yang saling bergerak bergantian, kadang satu naik, dan yang satu turun, dan begitu sebaliknya. Kesibukan di kantor itu memaksa perusahaan menyediakan layanan 2 lift agar pekerjaan jauh lebih efektif.


“Mau kemana?” suara seorang laki-laki mengangetkan Layla. Layla menoleh, ia melihat sosok Leo, kepala bagian di bidang personalia.


“Pak Leo!” tutur Layla yang kaget melihat sosok itu. “Siang, Pak!”


“Siang juga, kamu ini suka sekali memanggil aku, Pak. Panggil saja Leo, itu jauh lebih akrab, lagi pula umur kita hanya beda satu tahun,” tukas laki-laki yang berambut pendek dan berkulit putih itu. Tinggi Layla hanya sebahunya, membuat Layla harus menengadah melihat Leo.


"Tapi dasarnya posisi kita sama, La. Kamu itu staff marketing manager. secara hirarkinya posisi kita sama,” tukas Leo. Laki-laki itu sudah tahu banyak hal tentang kepribadian Layla, karena dialah yang memeriksa semua berkas Layla saat gadis itu melamat kerja di Marc property. Bahkan Leo memiliki andil besar membuat Layla menjadi karyawan di perusahaan itu.


“Sekarang kamu mau kemana? Inikan masih jam kerja.” Leo kembali bertanya kepada Layla.


Tiingg!


Suara Lift terbuka, Layla menunduk hormat, “Saya mau ke lantai 7, Pak.” Layla kemudian pamit dan masuk ke dalam lift, meninggalkan Leo yang melepas nafas berat.


“Lantai 7? Aku kira dia mau ke bawah, kan bisa barengan di dalam lift.” Leo bergumam, namun ia juga sedikit penasaran, mau apa Layla ke lantai 7? Itu adalah lantai khusus pimpinan perusahaan, mulai dari direktur utama hingga ruangan beberapa direksi perusahaan.


Layla berjalan cepat menuju meja Richard, laki-laki berwajah dingin itu terlihat sangat sibuk. Bahkan saat Layla menyapa, laki-laki itu tak menjawab sama sekali.

__ADS_1


“Siang, Pak! Kata Pak Denis, Pak Dinan memanggil saya,” tutur Layla dengan sopan, ia menunduk memberi hormat kepada Richards.


Richard hanya berdiri dan masuk ke dalam ruangan Dinan untuk melapor. Membuat Layla berdecak kesal, apa staff seperti dia harus diperlakukan seperti itu? Bahkan posisinya cukup tinggi daripada OB, OG, Satpam, atau staff yang berada di bawah kepala bagian, seperti staff-staff Leo. Tapi sikap Richard malah melihatnya seperti staff rendahan saja.


Layla menggerutu tak jelas, terkadang menderu dengan memukul pelan meja Richard di depannya, kadangnya juga bersahut pendek mengeluarkan makian. Membuat bulir keringat ikut keluar dari dahinya.


Namun rasa kesal itu tak berlangsung lama, karena perasaan Layla langsung berganti gugup dan penuh rasa ketakutan saat pintu ruangan Dinan kembali terbuka. Richard dengan santai duduk kembali di meja kerjanya.


“Masuk! Pak Dinan sudah menunggu,” ucap laki-laki itu dengan nada penuh intimidasi.


Luruh sudah rasa kesal Layla, sekarang tubuhnya terasa kaku, kuduknya meremang, bergidik menahan takut. Apa yang akan disampaikan Dinan? Apa laki-laki itu akan memarahinya lagi seperti kemarin?


Layla melangkah masuk ke dalam ruangan Dinan dengan pelan, ia menggigit bibirnya, menguatkan hatinya untuk menerima apapun nasibnya saat itu. Saat mendorong pintu tersebut dan masuk, ia melihat Dinan tengah berdiri melihat jauh keluar dinding kaca ruangannya. Gedung-gedung tinggi terlihat jelas dari sana.


“Permisi, Pak!” Sapa Layla, ia menutup pintu dan melangkah mendekati Dinan yang tak memperdulikan dirinya.


Layla berjalan dan berdiri di dekat meja kerja Dinan, menunggu Dinan berbalik badan dan duduk di kursi kerjanya untuk mereka bicara. Namun ternyata Dinan masih berdiri disana, membuat dahi Layla berkerut bingung di tengah rasa takutnya. Apa Dinan benar-benar memanggilnya?


Hampir 5 menit mereka sunyi tak bersuara, hingga akhirnya Dinan beranjak dari posisinya dan berjalan menuju sofa yang ada di ruangannya. Ia duduk dan menyesap kopi hitam yang telah disiapkan untuknya.


“Duduk!” perintah Dinan seraya mengusap bibirnya yang basah dengan tisu.


“Ba—baik, Pak!” Layla menurut patuh, ia duduk di depan Dinan dengan sikap hormat menunduk.


“Aku sudah berbicara dengan ayah, tapi itu soal berbeda, aku mau bicara soal pantimu dulu,” tukas Dinan.


Layla mengangkat kepalanya sejenak dan kemudian mengangguk.


“Panti itu akan tetap digusur, ini demi keuntungan perusahaan beberapa tahun ke depan. Tadi pagi aku sudah bicara dengan ayah di rumah, pantimu akan di pindahkan dengan biaya perusahaan.”

__ADS_1


Layla melenguh panjang mendengarnya, ia sedikit kecewa, karena ia tidak ingin panti bersejarah dalam hidupnya itu digusur. Tapi ia juga tidak bisa melawan, itu sudah jauh lebih baik, karena panti akan mendapatkan tempat baru.


“Untuk pernikahan kita, aku sudah menyetujuinya, tapi dengan kesepakatan yang tidak ada orang lain yang tahu selain kita.” Suara Dinan meninggi, mengintimidasi Layla yang nafasnya terasa tercekat. Apa itu berarti Dinan akan menjadi suaminya?


__ADS_2