Cinta Tak Bersuara

Cinta Tak Bersuara
Chapter 52


__ADS_3

Layla menekan password apartemennya dengan tergesa-gesa. Gadis itu melangkah masuk ke dalam dengan mata jeli memperhatikan keadaan. Ia segera melangkah menuju lantai dua, masuk ke dalam kamar. Di sana Dinan terlihat tengah tidur dengan pulas. Layla mengembuskan nafas panjang. Ia jalan mendekat dan duduk di sisi ranjang.


Gadis itu melihat wajah Dinan yang tidur dengan tenang. Ada sesuatu yang mengganjal di perasaan Layla. Entah apa, ia pun tidak mengerti. Yang Layla tahu, hatinya saat ini hanya ingin selalu berada di sisi Dinan. Entah sampai kapan, Layla pun tidak tahu. Mungkin sampai hatinya merasa lelah dan mengalah dengan keadaan. Membiarkan Dinan mencampakkannya dan ia pergi dari kehidupan laki-laki itu.


“Pak, apa tadi Bapak bertemu dengan perempuan itu? apa dia mengajak Bapak menikah lagi seperti kemarin?” tanya Layla dengan lirih, “Pak, apa tidak cukup saya saja untuk Bapak? Apa Bapak memang tidak menginginkan perempuan seperti saya? Saya memang tidak ada apa-apanya dibandingkan perempuan lain, apalagi dia, tapi saya benar-benar ingin mendampingi Bapak dan berada di sisi Bapak selamanya. Saya takut Bapak membuang saya, dan membuat saya hidup sendiri lagi, tidak punya siapa-siapa yang bisa dipercaya.”


Layla hanya bisa bertanya seperti itu disaat Dinan tertidur, jika laki-laki itu terjaga, sudah pasti dia tidak akan punya muka untuk bertanya hal tersebut. Layla bangkit dari ranjang. Ia harus bersih-bersih rumah, mandi dan menyiapkan makan malam. Sementara Dinan masih terlelap dalam tidurnya.


Selang beberapa jam kemudian, mereka sudah duduk di meja makan, menikmati  kepiting saos bikinan Layla yang menggugah selera. Seperti biasa, Layla amat senang melihat Dinan menikmati apa yang Ia masak. Itu sudah jauh lebih dari cukup untuknya, Dinan benar-benar membuatnya merasa amat dihargai. Bahkan lahapnya Dinan sudah seperti pujian bagi Layla.


“Kamu tidak ikut makan? Kenapa kamu tidak menyentuh nasimu sama sekali?” tanya Dinan saat melihat Nasi di piring Layla belum disentuh sedikitpun oleh gadis itu.


Layla tersadar akan keadaan, ia mulai menyuap nasi dengan mata masih memperhatikan Dinan. “Bapak tadi kenapa pulang cepat?” ucap Layla bertanya.


“Lagi mumet di kantor, jadi aku pulang,” jawab Dinan dengan singkat.


“Apa karena perempuan tadi?” tanya Layla yang berharap itulah alasannya.


Dinan melihat kepada Layla, “Perempuan siapa?” tanyanya dengan bingung.


“Itu, dia masuk ke ruangan Bapak lagi, kan?” tanya Layla memastikan.


Dinan memilih untuk melanjutkan makan malamnya. “Aku tidak bertemu perempuan lain selain Bunda dan Risa,” jawab Dinan.


“Loh, Bapak bertemu Bunda dan Risa? emangnya Bapak pergi dari kantor jam berapa?” tanya Layla lebih lanjut.


“Kamu ini kenapa? ngapain tanya begitu?” tanya Dinan yang bingung dengan sikap Layla.


Layla bingung sendiri sekarang, “Nggak, nggak apa-apa,” ucap Layla yang memilih tak bertanya lagi. Semoga saja Dinan jujur bahwa tidak bertemu orang lain selain Bu Eva dan Risa.


Mulut Dinan masih mengunyah nasi, matanya juga masih memperhatikan Layla. Ia dapat menduga kalau Jenny pasti datang ke kantor setelah menemui ayahnya. Untungnya perempuan itu tidak tahu alamat apartemennya tersebut.

__ADS_1


***


Layla tengah sibuk membersihkan meja makan. Satu hal yang membuat Layla selalu senang berada di sisi Dinan, setiap yang ia masak tidak pernah bersisa. Pasti habis sehingga tidak ada makanan yang terbuang. Satu ekor kepiting besar yang ia masak tadi sore sudah habis, sisa cangkangnya saja yang keras.


Ketika Layla hendak mencuci piring, tiba-tiba saja bel apartemen berbunyi. Layla mengernyitkan dahi. “Siapa yang datang malam-malam begini?” tanya Layla. Gadis itu segera mengelap tangan dan berjalan cepat menuju pintu depan.


Layla membuka pintu, ia melihat Richard berdiri di sana. “Bapak mau apa malam-malam ke sini?” tanya Layla menyelidik.


“Ada perlu, aku mau ke ruangan Dinan,” jawab Richard dengan singkat. Ia melangkah masuk, namun Layla merentangkan tangannya untuk menghentikan laki-laki itu.


“Eh, main masuk rumah orang sembarangan,” ucap Layla menantang laki-laki itu.


Richard menyipitkan mata, “kamu pikir kamu siapa? berani menghalangiku seperti ini,” bentak Richard dengan kesal.


“Ini rumah saya, Bapak yang sopan dong kalau bertamu,” ucap Layla balik menantang.


“Jangan main-main, aku mau mengurus hal penting,” ucap Richard menahan kesal. Ia melewati Layla, namun perempuan itu menarik tangannya.


Richard mendesis kesal, tingkah Layla membuatnya geram.


“Tidak, kamu puas?” ucap Richard dengan nada sedikit meninggi.


Layla tersenyum senang. Ia melepaskan tangan Richard dan laki-laki itu pergi ke ruangan Dinan. Sementara Layla kembali ke dapur untuk melanjutkan pekerjaannya. Perasaannya sudah lega, Dinan tidak bertemu dengan perempuan itu, membuat Layla lebih tenang.


Sementara Richard yang baru masuk ke dalam ruangan Dinan, langsung duduk di depan laki-laki yang tengah sibuk membaca email di laptop. Richard mengeluh ringan disana, melihat meja Dinan yang hanya ada segelas air putih.


“Apa istrimu sudah gila? dia seperti kesurupan karena Jenny tadi datang ke kantor,” keluh Richard kepada Dinan.


“Dia memang sudah gila,” jawab Dinan dengan singkat.


“Apa dia cemburu karena Jenny mengajakmu menikah? karena itu dia terlihat sangat kacau karena Jenny datang?”

__ADS_1


Dinan tak menyahut.


“Layla benar-benar ingin menjadi istrimu, Nan? Makanya dia tidak mau ada perempuan lain yang mengganggumu,” tutur Richard lagi.


“Jenny bicara apa tadi siang?” tanya Dinan yang tidak ingin membahas Layla.


“Ah, dia bahkan tidak menyiapkan kopi atau teh untukmu, malah air putih saja yang ada di mejamu sekarang,” ucap Richard yang masih kesal dengan tingkah Layla lagi.


“Ini aku yang bawa sendiri, aku tidak minta dia membuatkanku minuman, jadi jangan tanya lagi tentang hal yang tidak penting.” Dinan kali ini merasa kesal dengan ucapan Richard, “katakan, Jenny bicara apa kepadamu?”


 Richard memperbaiki posisi duduknya. Ia menatap Dinan dengan lekat. “Dia tahu kamu sudah menikah, Nan.”


“Dia tahu tentang Layla?” tanya Dinan menyelidik.


Richard menggeleng.


“Dia tahu dari Ayah. Sekarang sembunyikan tentang aku dan Layla dari siapapun. Aku tidak ingin pernikahan ini diketahui orang lain,” perintah Dinan.


Richard bersandar di kursinya, “Sepertinya ayahmu hanya ingin Layla menjadi pelayan saja untukmu, Nan. Bukan sebagai istri, yang penting dia mengurusmu dengan baik, itu sudah cukup untuknya.”


Mata Dinan seketika menyipit mendengar ucapan Richard. “Maksudmu apa, Chard?”


“Ayahmu hanya diam meskipun Layla bertemu laki-laki lain di belakangmu. Dia pasti tahu hal itu, tapi dia tidak mengambil tindakan. Menurutmu apa yang diinginkan ayahmu dari Layla kalau bukan untuk mengurusmu di sini? jadi pembantumu.”


“Aku tidak peduli dengan hal itu,” ucap Dinan dengan ketus.


“Dan Layla berharap lebih dari itu," sergah Richard, "ia benar-benar ingin kamu anggap istri. Tapi baik kamu ataupun ayahmu tidak menginginkan ke arah sana. Dia benar-benar malang, dia berharap masih punya laki-laki itu untuk kembali saat kamu membuangnya, untuk itu dia menjaga laki-laki itu untuk tetap ada di dekatnya. Tapi jika Layla masih bertingkah dengan laki-laki itu, aku rasa ayahmu akan menunjukkan sisi kejamnya kepada Layla tanpa memberi peringatan apapun. Layla benar-benar malang, maju kena, mundur kena, mengadu ke siapapun dia tidak bisa. Karena posisinya sudah terjebak dalam permainan ayahmu,” terang Richard panjang lebar.


Dinan berdesis kesal, ia tidak suka Richard membahas masalah itu, namun di sisi lain ia melihat titik lemahnya dari pendapat Richard tadi.


“Sekarang menurutmu aku harus gimana? apa Layla tidak bisa kugunakan untuk melawan ayah?” tanya Dinan dengan emosi.

__ADS_1


__ADS_2