
Layla membuka sabuk pengamannya dan ikut keluar dari mobil. Mereka berhenti tepat di tengah sebuah jembatan. Layla merapikan rambutnya yang diterpa angin malam. Ia menghampiri Dinan yang berdiri menghadap ke sungai yang gelap. Hanya sebagian sungai yang terang karena diterpa lampu rumah masyarakat yang tinggal di bibir sungai.
“Pak!” panggil Layla dengan cemas, ia takut Dinan marah kepadanya.
“Maaf, aku yang salah dan membuatmu ada di posisi ini,” ucap Dinan dengan pelan.
“Pak, bukan itu maksud saya.”
“Aku selalu memecat setiap karyawan yang berbuat kesalahan di kantor. Mungkin aku memang harus dipecat juga, karena aku berbuat kesalahan fatal,” ucap Dinan yang membuat Layla menelan ludah, “aku berusaha menyelamatkan posisiku, dan menyalahkanmu atas kesalahanku sendiri. Aku harus fair untuk hal ini, jika orang lain kupecat karena kesalahan, komisaris dan pemegang saham pun berhak menurunkanku karena sebuah kesalahan.”
“Pak, bukan itu maksud saya,” ucap Layla lagi.
“Mungkin aku memang tidak akan pernah mengalahkan ayah.”
“Cukup, Pak!” ucap Layla dengan mata berkaca-kaca.
Dinan mengusap kasar wajahnya. Dia sadar akan satu hal, setiap orang bisa dengan mudah menghakimi kesalahan orang lain dan memecat mereka. Sementara saat diri sendiri melakukan kesalahan, maka dia akan berusaha mati-matian untuk menutupi kesalahan itu, sekalipun itu akan menjatuhkan orang lain yang tak bersalah. Seperti dirinya yang mengorbankan Layla dalam kasus ini.
“Bapak direktur di perusahaan, apa yang Bapak lakukan adalah untuk kebaikan perusahaan. Tidak akan ada yang menyangkal dan menyalahkan Bapak untuk itu,” ucap Layla lagi.
“Kita pulang, La. Aku malu bertemu dengan ayah,” ucap Dinan yang memilih masuk ke dalam mobil. Ucapan Layla tadi membuatnya merasa amat kacau sekarang.
Sementara Layla mengeluh dengan keadaan, Dinan benar-benar keras kepala. Bahkan setiap ucapan Layla tidak pernah didengarkan olehnya. Mereka akhirnya batal ke rumah Tuan Marc. Ah, padahal Dinan ingin bertemu Risa untuk menenangkan hatinya yang tidak karuan. Sekarang Layla malah membuat dirinya semakin tidak karuan. Sepanjang jalan pulang tidak ada di antara mereka yang bersuara. Layla takut jika ia berbicara lagi, itu hanya akan membuat dirinya emosi sendiri karena sikap Dinan.
Sesampai di apartemen, Layla kembali menyiapkan masakannya ke meja makan. Ia menyiapkan piring dan gelas untuk Dinan. Gadis itu berdecak kesal, makanannya sudah dingin, pasti rasanya tidak seenak ketika hangat. Coba saja Dinan tadi tidak mengajaknya pergi, pasti mereka sudah makan malam dan tidak membuat perut Layla kelaparan.
Mata Layla melirik ke arah ruang kerja Dinan. Sejak sampai di apartemen, Dinan langsung masuk ke ruangannya tanpa berkata apapun. Waktu berlalu, Layla masih duduk di meja makan menunggu Dinan. Laki-laki itu tak kunjung keluar.
__ADS_1
Layla berdecis, “apa dia tidak lapar? ini sudah jam berapa coba?” kesal Layla.
Gadis itu menunggu lagi, namun Dinan tak kunjung keluar dari ruangannya. Layla akhirnya berdiri, ia melangkah kesal menuju ruangan Dinan. Tanpa mengetuk pintu itu, Layla masuk ke dalam dan mendapati Dinan tengah melamun di kursi kerjanya.
“Bapak sedang apa? apa Bapak nggak mau makan malam?” tanya Layla yang sudah sedari tadi menahan lapar. Jam sudah hampir menunjukkan pukul sepuluh malam.
Dinan mengangkat kepala, “makanlah dulu, kemudian tidur, aku masih ingin disini,” sahut Dinan dengan lemah.
Layla mendekat kepada Dinan, “ayo makan, saya tidak ingin mengurus orang sakit,” tutur Layla dengan geram.
Hembusan nafas kasar keluar dari mulut Dinan, “aku tidak perlu kamu urus, keluarlah,” pinta laki-laki itu.
“Pak, jangan terlalu dipikirkan kata-kata saya tadi, itu hanya emosi sesaat,” seru Layla.
“Emosi atau tidak, aku memang salah.”
“Pak, cukup, jika memang itu membebani Bapak, lebih baik dilupakan daripada memberatkan diri Bapak sendiri.”
“Saya juga sama, Pak, dari kecil saya sendiri, saya juga menanggung beban saya sendiri. Sekarang ayo makan, saya sudah lapar,” ucap Layla yang masih merasa kesal.
Melihat Dinan tidak bergerak, Layla menarik lengan laki-laki itu sekuat tenaganya untuk berdiri, “ayo, Pak, apa perlu saya suapan biar mau makan?”
Dinan mengalah, Layla juga keras kepala rupanya. Jika keinginan gadis itu tidak dipenuhi, gadis itu pasti akan melakukan segala cara untuk mewujudkannya. Bahkan gadis itu berani meminta ayahnya untuk menyelamatkan panti asuhannya dulu.
Mereka berjalan menuju meja makan. Layla menarik tangan Dinan hingga mereka sampai di dapur. Sesaat kemudian Layla sadar bahwa ia memegang tangan Dinan. Gadis itu terdiam dan menoleh kepada Dinan. Wajah mereka cukup dekat, membuat Layla gugup melihat sorot mata Dinan yang tenang. Ia melepaskan tangan Dinan yang dipegangnya. Lalu membuang muka.
“Duduk, Pak, biar saya ambilkan nasi,” ucap Layla.
__ADS_1
Dinan tiba-tiba menarik Layla, ia menarik dagu gadis itu hingga mereka saling bertatapan lagi. “Ke-kenapa, Pak?” tanya Layla dengan gugup.
Dinan mendekatkan wajahnya ke wajah Layla. Hembusan nafasnya terasa menerpa wajah gadis itu. Layla semakin gugup melihat wajah Dinan yang semakin dekat. Gadis itu memejamkan mata, pasrah dengan apa yang hendak suaminya lakukan.
Namun tiba-tiba Dinan melepaskan tangannya dari Layla. “Ayo makan!” ucap Dinan. Ia menarik kursi dan duduk menuangkan nasi ke piring.
Layla berkali-kali membuang nafas panjang. Dadanya tiba-tiba merasa sesak. Apa Dinan memang tidak ingin menyentuhnya? menjadikannya istri yang sesungguhnya bagi laki-laki itu? Layla memutar badan dan ikut menarik kursi. Ia menuangkan nasi seraya melihat Dinan yang lahap menikmati masakannya.
“Masakanmu enak, La,” puji Dinan yang membuat Layla seketika menoleh. Gadis itu tersenyum tipis.
“Akhirnya Bapak mengakui masakan saya ini enak,” gumam Layla.
“Masakanmu memang enak, karena itu aku tidak makan di luar lagi, kecuali siang di kantor,” tutur Dinan.
“Jika Bapak mau, saya bisa siapkan bekal untuk Bapak ke kantor,” tawar Layla dengan senang hati.
“Nggak perlu repot-repot, itu hanya menambah pekerjaanmu saja.”
Layla sedikit merasa kecewa, “Bapak takut jika ada orang lain tahu kalau Bapak sudah menikah, kan?” ucap Layla coba menebak.
“Itu pikiranmu saja,” jawab Dinan.
Layla kemudian hanya bisa diam. Ia tidak ingin berbicara panjang lebar, takut masalah di jalan tadi kembali menjadi muncul dan memperkeruh keadaan. Mereka menikmati makan malam berdua. Selama makan, Layla berkali-kali mencuri pandang kepada Dinan yang begitu lahap menikmati masakannya. Gadis itu merasakan sesuatu di hatinya, atas apa yang terjadi malam itu.
Apa Dinan yang selama ini tampak begitu amat berkuasa di kantor pada kenyataannya hanya orang lemah? Juga atas apa yang terjadi barusan, Apa Layla tidak bisa menjadi istri Dinan untuk selamanya? Apa laki-laki itu tidak bernafsu sama sekali kepada dirinya? Setidaknya mereka sudah tidur seranjang lebih dari dua minggu, kenapa Dinan tidak menyentuhnya sama sekali? Apa dia sejelek itu sebagai perempuan hingga laki-laki yang tidur seranjang dengannya berhari-hari tidak bernafsu sama sekali menyentuhnya.
Layla membuang pikiran itu. Ia ingat Bayu dulu amat ingin menyentuhnya, untung saja ia masih bisa menjaga diri. Mungkin ia perlu waktu untuk meluluhkan hati Dinan agar bisa menjadi miliknya seutuhnya. Agar Dinan benar-benar menganggapnya sebagai seorang istri.
__ADS_1
Berbeda dengan Layla, Dinan sibuk memikirkan semua pekerjaannya. Juga kata-kata Layla yang membuatnya sadar akan satu hal. Ia berbuat kesalahan besar dan berusaha menutupinya untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Walaupun begitu, Dinan tidak akan mundur, ia akan berusaha mendapatkan panti itu karena sudah mengeluarkan uang banyak saat lelang.
“Pak, apa Bapak mau saya masakan setiap hari sampai kita berdua menua dan mati bersama?” tanya Layla di dalam hati.