Cinta Tak Bersuara

Cinta Tak Bersuara
Chapter 14


__ADS_3

Layla melangkah pelan memasuki  rumah Tuan Marc, mengikuti langkah perempuan yang tadi menjemputnya. Sedikit gugup ia rasakan, sedih di hati sudah berusaha ia lupakan. Tak guna terlalu berlarut, sedari kecil ia sudah hidup dengan banyak tekanan dan ketidak adilan. Dengan itu semua, ia bisa tegar menghadapi segala sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya.


Suasana rumah Tuan Marc begitu sejuk, suhu ibukota yang panas jelas jauh berbeda dengan keadaan di dalam rumah mewah tersebut. Di ujung ruang tamu, perempuan yang menjemput Layla berhenti, ia mempersilahkan Layla untuk masuk ke ruang tengah dan menuju meja makan. Layla dengan sikap tenang berjalan pelan dengan anggun, berusaha percaya diri dengan gaun yang harganya tidak seberapa itu. Bahkan harga baju Risa jauh lebih mahal dari gaunnya, anak kecil yang sekarang dilihat Layla tengah berbincang hangat dengan Dinan di meja makan.


“Tamu yang kita tunggu sudah datang,” ucap Tuan Marc ketika melihat Layla datang mendekati meja makannya.


“Hai, Tante!” sapa Risa dengan semangat, berbeda dengan Dinan yang hanya melihat Layla dengan datar.


“Hai,” sapa Layla dengan ramah kepada Risa.


“Tante mau ikut akan sama kami?” ajak Risa dengan polos.


“Iya sayang, tante Layla mau makan malam bareng kita hari ini,” sela Bu Eva kepada anaknya.


“Wah, rame dong bun makan malam kita.”


Tuan Marc tertawa tipis, pun dengan Bu Eva. Hanya Dinan yang tampak datar saja sedari tadi. “Duduklah, Layla. Anggap saja rumah sendiri,” tukas Tuan Marc mempersilahkan Layla duduk.


Layla menarik kursi tepat di depan Dinan. Ia sekarang malah merasa gugup dengan sikap Dinan, ketimbang dengan calon mertuanya.


“Kamu belum mengembalikan dokumen yang kamu ambil kemarin?” Dinan bertanya dengan datar.


“Ma-maaf, Pak. Dokumennya masih sama Tuan Marc,” jawab Layla dengan ragu.


“Jangan bahas itu, Dinan, kita mau bahas masalah pernikahan kalian,” tegas Tuan Marc.


“Itu urusan Ayah, aku hanya mau pernikahan ini digelar sederhana saja, tidak perlu acara besar-besaran, tidak perlu mengundang orang lain, cukup keluarga saja. Jangan buat aku malu  karena menikah dengan karyawan biasa dan jangan membesar-besarkan kabar pernikahan ini.”


Layla menelan ludah mendengar ucapan Dinan. Iya, benar. Dia memang hanya karyawan biasa, tidak sekelas dengan Dinan seorang direktur, bahkan jika rencana Dinan berjalan lancar, Dinan akan menjadi seorang CEO yang akan memimpin Marc Group. Bukan Direktur yang memimpin perusahaan property saja.

__ADS_1


Layla dapat tegar mendengar ucapan Dinan barusan, hanya saja sekarang ia merasa tidak pantas duduk disana mengingat gaun murahan yang ia pakai.


“Kamu ini, benar-benar keras kepala, Dinan,” ucap Tuan Marc. Ia benar-benar kehabisan cara untuk menghadapi sikap keras kepala Dinan.


“Aku perlu dokumen itu untuk mengubah rencana di lahan itu, Yah,” lanjut Dinan, “aku tidak akan membatalkan rencana penggusuran itu, tapi sebagai gantinya, aku bisa cari kawasan bagus untuk anak-anak panti tersebut. Dekat dengan kawasan pendidikan, kesehatan, dan jauh dari kawasan industri, perkantoran atau pusat perbelanjaan seperti tempatnya sekarang.”


Layla hanya terpaku mendengar penjelasan Dinan. Laki-laki itu sekarang malah terlihat tidak sekejam yang ia duga.


“Itu bagus, Nan,” timpal Bu Eva yang sibuk menaruh sambal di meja makan, “kawasan seperti itu sangat bagus untuk panti asuhan. Memudahkan anak-anak panti untuk keperluan mereka.”


“Dia hanya memikirkan bisnis, Bun,” potong Tuan Marc, “kamu sudah tahu kalau lahan itu bermasalah, kan? makanya kamu ingin segera menggusur panti itu secepatnya, agar bisa dibangun dengan aset perusahaan.”


Dinan mengembuskan nafas panjang. “Yayasan lama mereka yang bermasalah, Yah. Aku memenangkan lelang lahan itu dengan fair, pihak Bank sudah clear masalah lahan itu. Hanya saja yayasan itu bermain curang,” jelas Dinan.


Layla masih terdiam, ia sungguh tidak memahami ucapan Dinan sama sekali. Perempuan itu hanya bisa melihat Dinan dengan penuh antusias, mencari maksud kalimat laki-laki itu.


“Kamu tahu siapa orang-orang dibalik mereka, Nan?” tanya Tuan Marc memastikan.


Tuan Marc tersenyum, ia bangga dengan sikap Dinan. “Mereka memang penuh skandal, dari dulu memang seperti itu,” tutup Tuan Marc. Ia kemudian berdiri, membantu Bu Eva yang sudah selesai dengan persiapan makan malam.


Bu Eva mengambil sepiring nasi, lalu meletakkannya tepat di depan Layla, membuat perempuan itu seketika kaget. Ia berdiri melihat Bu Eva dengan perasaan tak enak.


“Bu …”


“Duduklah, La,” potong Bu Eva dengan cepat, “ini rumahmu juga, tak perlu sungkan.”


Layla menelan ludah, tak tahu harus berbuat apa. Takut lancang jika banyak bicara, juga tak enak jika diperlakukan seperti itu oleh keluarga sekaya keluarga Marc. Layla terdiam, melihat kepada Dinan yang tak memperdulikannya.


“Pernikahan kalian akan disegerakan, jadi pembahasannya harus tuntas malam ini,” lanjut Bu Eva dengan tersenyum pada Layla.

__ADS_1


“Apa tante dan Kak Dinan akan segera menikah, Bunda?” tanya Risa tiba-tiba. Setidaknya hanya itu yang ia paham dari pembicaraan panjang orang dewasa di depannya.


Layla terdiam lagi, bahkan menghadapi anak Tuan Marc yang berusia lima tahun saja  ia gugup untuk mengiyakannya. Setidaknya malam itu ia bersyukur gaun murahannya tidak dipandang rendah oleh keluarga kaya itu.


***


Benar saja ucapan Bu Eva. Tak memakan banyak waktu, dua hari berselang Dinan dan Layla menikah di kediaman keluarga Marc. Sederhana saja, hanya keluarga mereka dan beberapa orang kepercayaan yang datang, termasuk Richard yang kaget dengan kabar mendadak itu. Juga anak-anak panti yang diundang khusus oleh Tuan Marc sebagai keluarga Layla.


Semua berjalan dengan lancar. Layla tampak tegar menghadapi semuanya. Ia sudah menghabiskan waktu dua malam ini untuk bersedih akan semuanya. Pasrah dengan keadaan yang harus ia hadapi. Juga menangisi Bayu yang ia cintai. Sampai detik itu ia belum bicara apapun kepada Bayu. Ingin sekali Layla menemui Bayu, membicarakan masalah yang ia hadapi. Tapi Layla tak sanggup membuat laki-laki kecewa dan marah, pun ia tidak tahu harus berbicara apa kepada Bayu untuk menjelaskan semuanya.


“Kenapa kamu tidak bicara tentang ini semua, La?” tanya Bu Irma saat mendampingi Layla di acara pernikahannya.


“Maaf, Bu. Layla tidak mau membebani Ibu dan yang lain, Layla juga tidak tahu kalau Tuan Marc mengundang ibu dan anak-anak ke sini,” jawab Layla dengan lemah. Mereka tengah berada di sebuah ruangan tempat Layla dihias oleh orang-orang pilihan Bu Eva.


“Apa ini ada hubungannya dengan lahan panti kita, La?” tanya Bu Irma lagi. Mereka hanya berdua di ruangan itu setelah Layla selesai dirias.


“Ibu tidak usah khawatir. Pak Dinan akan memberikan tempat baru yang lebih layak untuk panti kita.”


Hembusan nafas pelan keluar dari mulut Bu Irma, wajahnya tampak sedih dengan keadaan. “Kamu tidak perlu berkorban seperti, La. Apapun masalah di panti, itu tanggung jawab ibu, karena yayasan mempercayakan panti kepada ibu.”


“Yayasan sudah habis, Bu. Jangan membebani diri ibu sendiri,” sela Layla, “lagi pula tanah itu bermasalah dan Pak Dinan tengah berusaha untuk mengatasinya.”


“Dari awal memang begitu, La.” Bu Irma mengusap rambut Layla dengan pelan, mereka berdua duduk di dekat jendela ruangan, menatap ke halaman belakang rumah mewah itu, disana terlihat beberapa orang yang menikmati hidangan, termasuk anak-anak panti yang tampak amat bahagia berada di rumah semewah kediaman keluarga Marc tersebut.


“Maksud ibu? apa ibu tahu masalah tanah panti itu?”


Bu Irma mengembuskan nafas panjang. “Kamu cantik sayang, benar-benar cantik,” ucap Bu Irma yang mengalihkan pembicaraan mereka. “Ibu bangga melihatmu seperti ini, La.”


Layla tampak begitu cantik dalam balutan gaun putih panjang yang anggun. Juga riasan di wajahnya yang natural namun menampilkan kecantikannya yang selama ini terpendam.

__ADS_1


Layla melihat Bu Irma dengan lekat, ia tak peduli dengan riasannya, Bu Irma tampak tidak ingin membuka tentang masalah di panti itu.


__ADS_2